Kamis, 03 Juni 2010

Sukses karena Sukses dari Tantangan

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa

Tak seorang pun bisa menjalani hidup ini dengan mulus bebas hambatan. Dalam perjalanannya pasti ada kerikil-kerikil sebagai tantangan. Bagi orang-orang yang bijak, tantangan itu dipandang sebagai motivasi. Sebaliknya, bagi mereka yang berpikir kerdil, justru dipandang sebagai kesulitan.

“Pandanglah tantangan hidup di depan kita sebagai batu loncatan, bukan sebagai tembok penghalang..!!

Tak heran, jika banyak dari mereka yang suskes karena bijak dalam menghadapi tantangan hidup. Menyerah sama halnya menyia-nyiakan kesempatan untuk sukses. Bahkan, banyak dari mereka yang harus jatuh bangun dari keterpurukan, namun akhirnya bisa bangkit dan sukses. Semakin berat tantangan, itu sebagai pertanda keberhasilannya juga akan tinggi. Ada hukum sebab akibat dari keduanya.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman “Aku tidak akan memberi beban di luar kemampuan hambaku”. Allah sudah menjamin, bahwa segala tantangan bukan sebagai kesulitan. Tak mungkin Allah berbohong!! Allah tahu betul takarannya, tantangan seperti apa yang ‘layak’ diujikan kepada hambanya.

“Di saat menghadapi ujian hidup, tidak perlu berdo'a agar ujian itu berlalu, tapi berdo'alah agar diberi kekuatan untuk menghadapi dan melaluinya. Karena ujian itu pertanda kita memiliki kualitas yang akan Allah tingkatkan derajatnya.”

Peristiwa demi peristiwa sudah menjadi catatan rutin dalam lembar kehidupan kita. Tak ada yang bersih. Pasti penuh dengan coretan. Jika kita mampu memaknai coretan itu, maka kita akan menjadi pribadi yang tenang. Karena di balik semua itu pasti ada hikmah.

“Orang yang mampu membaca hikmah akan memandang segala kejadian ibarat melihat mutiara, dipandang dari sudut mana pun akan tetap bening.”

Sudah sangat banyak kisah orang-orang sukses di sekitar kita karena mereka tangguh menghadapi tantangan hidup. Kesabaran, ketenangan, keuletan, akhirnya berbuah keberhasilan. Ada orang yang dulunya banyak dicibir tetangganya. Tapi karena menyikapi kondisi itu dengan bijak, akhirnya menjadi orang sukses.

Bahkan, tak jarang banyak dari mereka pada masa lalunya kerap dihina, dikucilkan, difitnah, diremehkan, tapi masa depannya justru berubah drastis. Orang-orang yang dulunya usil malah menjadi segan, bahkan minta bantuan karena hidupnya tidak sukses.

“Ingat !! Bukan peristiwanya yang penting, tapi respon terhadap peristiwa itulah yang dapat memunculkan intisari pemaknaan hidup yang sesungguhnya.”

Sangat baik jika kita berkaca pada orang-orang sukses dunia. Sebut saja Thomas Alva Edison. Laboratorium ilmuan hebat itu pernah terbakar. Tanpa peristiwa itu mungkin saat ini kita masih hidup dalam kegelapan.

Begitu juga dengan Kolonel Sanders. Bos Kentucky Fried Chicken itu pun pernah jatuh bangun bertubi-tubi berupa penolakan. Tapi dirinya tidak sedikit pun frustasi. Hingga sekarang kita bisa menikmati gurihnya Kentucky Fried Chicken karena kegigihan dia bangkit dari keterpurukan. Bahkan Galileo Galilei harus dihukum mati sekadar untuk membuktikan bahwa bumi ini bulat.

Mudah-mudah tulisan ini sedikit bisa memberi motivasi bagi kita, khususnya diri saya untuk selalu berpikir bijak dari segala tantangan hidup. Semakin hebat tantangan, makan akan semakin hebat keberhasilan menyongsong kita. Kecuali kita merasa lemah dan takut untuk bangkit, bersiap-siaplah menjadi orang yang terpuruk dalam keabadian, nauzubillahminzaliq !!


Selanjutnya......

Syair Sufistik - Mahmud Syaltut Usfa

Beratnya Mengikat Nafsu

Ikatlah segala nafas di tubuhku
Agar nafsu tak mampu menuntun langkahku
Dosa-dosa ini terlalu liar berjalan
Segenap penjuru mata tubuhku telah dibutakan

Haruskah tubuh lemahku diipanggang di neraka?

Langkah ini sudah begitu penat
Mengambara di ruang relegi
Tanpa tahu nasib badan ketika bersaksi kelak

Seluruh langkahku akan berkata lugu
Roh hanya tertegun menanti keadilan
Hanya ada dua kata
Ke surga atau neraka

Begitu kerdilkah tuhan menakar nasib abadi hambanya?

Aku hanya tahu tuhan itu baik sama kita
Aku hanya mendengar tuhan itu maha pengasih dan penyayang
Aku hanya dapat merasakan tuhan itu adil dan bijaksana

Wahai para malaikat malam
Ikutlah sejenak menyelam di qalbuku
Agar bisa merasakan beratnya menjaga nafsu

Kabarkan ke seluruh penghuni langit
Aku tak mampu lagi mengegnggam wahyu sang rasul
Jika pintu surga dan neraka hanya hitam putih

Aku tak peduli lagi apakah surga dan neraka itu ada
Sebaiknya mata batin kubutakan saja
Agar di setiap sujudku tak mengharapkannya

Jika terbesit rasa pengharapan,
Itulah manusia
Merasa malu menginjak pintu surga
Tapi pengecut melangkah ke neraka

Selanjutnya......

Tali Jam Tangan dan Rambut Panjang Sang Ibu

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa

Kita sudah sangat sering mendengar cerita anak yang durhaka kepada ibunya. Sebut saja kisah si Malin Kundang. Atau kisah-kisah lainnya yang sering didramatisir. Juga, sangat beragam kita baca dan mendengar kisah ibu yang bersikap kejam ke anaknya.

Padahal, di realitas sangat banyak kisah ibu yang hebat hingga mendidik anaknya dengan pengorbanan dan kerja keras. Kasih sayang ibu sangat luar biasa, karena ibu adalah pribadi yang hebat. Juga, sangat banyak anak-anak yang selalu menunjukkan kasih sayang luar biasa kepada ibunya.

Saya memiliki cerita menarik yang mungkin bisa dijadikan tauladan bagi kita.

Di sebuah perkampungan ada seorang ibu yang hidup bersama anak gadisnya . Ibu tersebut sudah lama menjanda karena suaminya meninggal akibat penyakit. Semenjak suaminya meninggal, secara otomatis kondisi ekonominya sangat pas-pasan. Sang ibu hanya bekerja jualan kue di pasar. Selebihnya bekerja serabutan. Seperti mencuci pakaian, setrika pakaian milik tetangga.

Anak gadisnya baru berusia 16 tahun, atau duduk di bangku kelas I SMA. Ketika ayahnya meninggal, dia masih duduk di bangku kelas II SMP. Dia gadis yang dewasa. Pulang sekolah langsung membantu pekerjaan ibunya. Namun demikian, prestasi sekolahnya selalu menonjol.

Ayahnya tidak memberikan warisan berupa harta melimpah. Salah satu pemberian ayahnya hanyalah jam tangan yang tidak begitu mahal. Tapi, si gadis itu selalu memakainya. Ibunya selalu menasihati agar rajin belajar dan menjaga ahlaknya. “Jaga aurat dan ahlak ya nak, karena hanya itu harga diri keluarga kita bisa terjaga.” Demikian nasihat yang selalu ibunya sampaikan.

Sang ibu walau berusia setengah baya namun masih kelihatan cantik dan segar. Salah satu yang sangat dibanggakan adalah rambutnya yang indah dan panjang hingga melewati punggungnya. Banyak para tetangga memuji rambut indahnya. Sang ibu tersebut setiap hari selalu merawat dengan senang hati.

Pulang dari pasar, sang ibu heran karena putri semata wayangnya tidak pernah lagi memakai jam tangan. “Kenapa jam tangannya tidak dipakai lagi nak?” Tanya ibunya bijak. Dengan wajah sedikit sayu si anak menjawab, “Tali jamnya putus bu, tapi saya selalu membawanya ke mana pun pergi.” Jawabnya bijak. “Sabar ya nak, kalau sudah ada duit pasti ibu belikan.” Ucapnya sambil memandang wajah manis putrinya.

Walau hidup dengan ekonomi pas-pasan, sang ibu tidak pernah terlihat mengeluh. Begitu juga dengan anak gadisnya, tidak pernah minta macam-macam kepada ibunya. Tahu betul dengan kondisi ibunya yang harus banting tulang untuk kebutuhan sehari-harinya. Keduanya hidup dengan sangat-sangat sederhana.

Sang ibu selalu memikirkan tali jam tangan anaknya yang putus. Sudah berusaha mengumpulkan duit, tapi masih belum bisa juga membelikan. Karena terbentur dengan kebutuhan lainnya. Setiap hari ibunya memikirkan. “Kasihan anakku tak bisa memakai jam tangan pemberian ayahnya, gak ada yang bisa saya jual.”ucapnya dalam hati dengan lirih.

Karena pikiran itu terus membayangi, akhirnya dia berpikiran nekat. “Saya harus menjual rambut panjangku agar anakku bisa memakai jam tangannya kembali.” ucapnya dalam hati. Pikirannya makin gelisah antara iya dan tidak. “Apa nanti kata anakku.” Bisik perasaannya makin gelisah. “Ah…ini harus kulakukan asal anakku bahagia, kan nanti bisa panjang lagi.”tekadnya makin bulat.

Akhirnya hari itu sang ibu memangkas rambutnya dan menjualnya. Uang yang didapat langsung dibelikan tali jam tangan. Sangat senang hatinya mendapat tali jam tangan. “Anakku pasti senang !!” ucapnya dengan senyum mengembang.

Pada hari itu juga, secara bersamaan si anak pulang sekolah saat melewati toko melihat ikat rambut yang sangat bagus. Si anak langsung teringat dengan rambut indah ibunya. “Alangkah cantiknya ibuku jika memakai ikat rambut itu.” Pikirnya. Tapi dia bingung karena tidak punya uang untuk membelinya. Demi untuk membahagiakan sang ibu, dia langsung teringat dengan jam tangannya yang tidak ada talinya lagi. “Sebaiknya jam tangan ini saya jual saja agar bisa membeli ikat rambut itu.” Begitu pikiran yang terlintas. “Tapi, apa kata ibuku nanti.” Lagi-lagi pikirannya gelisah antara iya dan tidak.

“Akan saya jual saja agar ibuku senang, ibuku pasti bahagia memakai ikat rambut itu.” Ucapnya makin mantap menjualnya. Saat itu juga si anak langsung menjual jam tangannya dan membeli ikat rambut untuk ibunya. Dia pulang dengan senang hati dan senyum mengembang.

Di rumah, sang ibu menunggu anaknya pulang dengan tak sabar. Ingin sekali melihat anaknya senang dengan tali jam yang baru saja dibelinya. Tali jam itu terus dipegangnya. Sebaliknya, si anak di jalan ingin cepat sampai di rumah hanya ingin memberi ikat rambut yang baru saja dibelinya. Si anak berlari hingga sampai di depan rumahnya dia setengah berteriak, “Ibu….saya membelikan ikat rambut yang indah untuk ibu, pasti ibu makin cantik memakainya.” Kata si anak girang. Mendengar sayup-sayup suara anaknya, sang ibu makin tak sabar dan langsung membuka pintu keluar sambil memegang tali jam tangan.

Betapa terjkejut si anak begitu melihat rambut panjang ibunya sudah dipotong. Si anak memeluk ibunya sambil menangis sedih. “Ibu, kenapa rambut ibu dipotong?” Tanya anaknya dengan suara tangis terisak. Sambil mengelus-elus kepala anaknya, ibunya dengan suara parau karena menagis berujar. “Anakku, tadi ibu menjualnya karena ibu ingin sekali membelikan tali jam tangan.” Mendengar penjelasan seperti itu si anak makin menjadi menangis. Dengan bijak sang ibu berusaha menenangkan. “Sudahlah nak, tak perlu menangis seperti itu, ibu janji ketika panjang nanti tidak akan menjualnya lagi, ayo masuk dulu dan sekarang pasang tali jam tangan ini agar bisa dipakai lagi.” Ucapnya sambil menuntun anaknya ke dalam rumah.

Dengan kesedihan mendalam, si anak menjelaskan ke ibunya sambil masih menangis. “Ibu, maafkan saya, karena jam tangan itu sudah saya jual untuk membelikan ikat rambut untuk ibu.” Jelas si anak sambil memeluk tubuh ibunya erat-erat. Mendengar penjelasan dari anaknya, sang ibu kembali menangis sambil makin erat memeluk tubuh anaknya. Dia pun berucap, “Ibu bangga denganmu nak, ibu sangat memaafkan, ayahmu pasti bangga dengan kemuliaan ahlakmu dan kesih sayangmu kepada ibu.” Sahutnya dengan suara lirih sambil mengelus-elus punggung anaknya.

Cerita ini hanya imajinasi saya saja. Maafkan jika ada pendramatisiran cerita. Namun, bentuk kasih sayang antara ibu dan anak seperti itu masih sering kita jumpai. Walau tidak sama persis dengan cerita tersebut, tapi nilai pengabdian dan pengorbanannya sama hebatnya.

Selanjutnya......

Minggu, 30 Mei 2010

Syair Hening - Mahmud Syaltut Usfa

Untuk Suara Hati

Biarkan suara hati itu pergi bersama desiran galau
Aku hanya mampu melihat jejak-jejak tatapannya
Di setiap jengkal tapak jiwanya adalah harapan

Wajah itu terlalu lama bersetubuh dengan kehampaan
Mencampakkan kejujuran di lorong-lorong masa

Merataplah pada kebisuan malam
Agar jiwa langit bergetar menyaksikan kepiluan tubuhmu

Garis takdir kadang memang memilukan
Tak seindah rajutan imajinasi

Berteriaklah pada kelembutan angin malam
Agar gelisahmu mampu menjaring rembulan

Kegelisahan hanyalah debu pengingkaran hati
Akan terhapus oleh putihnya kejujuran



Zikir Kepasrahan

Silahkan halau mimpi gelap itu
Keindahan hanyalah milik realitas
Kebahagiaan bukan tak berpijak pada hati

Jika tak mampu berkata jujur
Berbaringlah dengan para malaikat malam
Alunkan zikir kepasrahan
Agar do’a menyambut di keheningan subuh



Selanjutnya......

Air Mata Wanita - Menangislah Jika Anda Ingin Menangis

Catatan Ringan Mahmud Syaltut Usfa

Dalam minggu-minggu ini saya menghadapi beberapa wanita yang menangis di depan saya. Entah seperti apa gejolak perasaannya. Padahal hanya ngobrol biasa. Dan sikap saya hanya menjadi pendengar yang baik, manggut-manggut sambil menatap wajahnya. Hanya sesekali saja saya memberi pemahaman secara psikologis.

Lima hari lalu ada perempuan cantik mengobrol dengan saya. Sedang asyik-asyiknya cerita sambil santai dan sesekali diringi canda, disaat saya menjelaskan sesuatu tiba-tiba air matanya menetes. “Lho, kenapa kok menangis?” tanyaku heran. Sambil mengusap air matanya, dia hanya senyum-senyum dengan menundukkan wajahnya.

Sebelumnya juga pernah ada seorang ibu yang menelpon sambil nangis-nangis. Katanya sangat tersentuh membaca tulisan saya yang dimuat di Harian Batam Pos. Wow...sampai segitunya!!

Wanita, gampang sekali meneteskan air mata. Menangis bukanlah pertanda cengeng. Ibuku sangat gampang meneteskan air mata karena perasaannya mudah tersentuh. Bahkan, Siti Aisyah sering menangis melihat keteladanan ahlaq Rasulullah. Air mata wanita bukan lambang kelemahan, melainkan air mata kehidupan.

Saya memiliki cerita tentang air mata wanita yang sangat menarik disimak.

Suatu hari, seorang anak bertanya kepada ibunya, "Ibu, mengapa ibu menangis?"

Ibunya menjawab, "Sebab ibu adalah perempuan, nak." "Saya tidak mengerti ibu," kata si anak. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kau memang tak akan mengerti…"

Kemudian si anak bertanya kepada ayahnya. "Ayah, mengapa ibu menangis?" "Ibumu menangis tanpa sebab yang jelas," sang ayah menjawab. "Semua perempuan memang sering menangis tanpa alasan."

Si anak makin besar hingga menjadi remaja, dan dia tetap terus bertanya-tanya, mengapa perempuan menangis? Hingga pada suatu malam, dia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, "Ya Allah, mengapa perempuan mudah menangis?" Dalam mimpinya dia merasa seolah-olah mendengar jawabannya:

"Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walau pun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

"Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali menerima cerca dari si bayi ketika dia telah besar kelak.

"Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.

"Kuberikan kesabaran jiwa untuk merawat keluarganya walau dia sendiri letih, walau sakit, walau penat, tanpa berkeluh kesah.

"Kuberikan wanita perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam keadaan dan situasi apa pun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada anak- anak yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

"Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melewati masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.

"Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tidak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.

"Dan akhirnya, Kuberikan wanita air mata, agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kepada wanita, agar dapat dia gunakan setiap waktu yang dia inginkan. Ini bukan kelemahan bagi wanita, karena sebenarnya air mata ini adalah "air mata kehidupan."

Saya gak tahu pasti, apakah para wanita yang membaca tulisan ini juga akan menangis. Jika ingin menangis, menangislah. Saya sangat merasakan apa yang Anda rasakan.


Selanjutnya......

Ketika Harus Berpaling dari Cinta Lama

Catatan Hati Mahmud Syaltut Usfa

“Cinta bukan menemukan seseorang untuk hidup bersama, tetapi cinta adalah menemukan seseorang yang kamu tidak dapat hidup tanpanya”.

Hah…haruskah cinta diungkapkan sedahsyat itu? Nyatanya, kalimat indah kadang hanya berjalan sekejap rasa. Banyak dari mereka yang awalnya berikrar sehidup semati, tapi akhirnya tumbang juga. Hanya tinggal kekecewaan yang tersisa. Kalimat indah bak pujangga tergolek menjadi sampah.

“Mendekatlah padaku atas nama cinta
Biarkan tangan jiwa ini menyentuh hatimu
Tak kan kubiarkan hembusan angin memeluk gelisahmu
Engkau anugerah terindah yang hadir seiring kesucian takdir”
Harus kujaga hingga hatimu meleleh dalam dekapan syahdu”

Kenapa cinta tak seindah saat pertama bertemu? Jawabannya sederhana saja. Namanya saja bertemu sesuatu yang baru. Getaran cinta pertama mengundang sejuta rasa. Segenap tali jiwa berkembang dalam lingkaran silaturrahmi rasa. Hati merasakan getaran yang teramat dahsyat. Menjalar ke seluruh tubuh. Hingga mampu menggetarkan tubuh. Lidah terasa keluh berkata walau sepatah kata. Namun, lamban laun memudar juga seiring perjalanan waktu.

Saat cinta hadir pertama kali, berjuta ilusi menghampiri. Semua yang tampak di pribadi sang kekasih adalah keindahan. Jangankan yang betul-betul positif, sifat-sifat buruknya saja terlihat indah di mata jiwa.

Banyak orang mengatakan bahwa kadar cinta kekasihnya sudah berubah. Padahal, dulunya baik betul. “Wah…..sekarang dia sudah berubah.” Kalimat itu sering terdengar ketika cinta sudah mulai berjalan jauh. Sebenarnya dia tidak berubah sedrastis yang Anda pikirkan. Pribadi sang kekasih masih seperti dulu. Justru yang berubah adalah perasaan Anda. Ketika cinta pertama hadir, ilusi sangat begitu kental mempengaruhi. Namun, seiring perjalanan waktu, ilusi sudah mulai luntur bahkan hilang ditelan realitas.

“Cinta tak perlu pergi bersama sayap-sayang angin
Jadilah embun yang selalu menyapa di keabadaian pagi
Cinta hadir dalam kesucian rasa
Bening, mengalir melintas di keheningan hati
Cinta tak patut bersanding dengan manisnya fatamorgana”

Dalam ketulusan cinta kerap dibasahi tetesan air mata. Tak perlu dirisaukan. Cinta mencapai tahta tertinggi jika diwarnai air mata dalam perjalanannya. Tersenyumlah dengan pahit getirnya cinta. Filsafatnya akan terus bersenandung dengan lirih-lirih kehidupan.

Hari ini aku hanya bisa berkata:

"Sandarkan tubuhmu di pundakku
Akan aku ceritakan bagaimana pengalaman terindah selama hidupku
Serta akan aku ceritakan pengalaman terpahit dalam hidupku
Karena dalam kedua cerita tersebut ada nafasmu yang memberi warna selama aku menjalaninya,
hingga mata batinku terpejam tak sanggup menatapnya lagi..."


Selanjutnya......

Sabtu, 22 Mei 2010

Syair Hati - Mahmud Syaltut Usfa

Hanya Ingin Kembali Bersih

Duhai hati yang membisu
Tak perlu bercengkrama dengan teka-teki
Singkirkan prasangka di kebisingan logika
Kebaikan bukanlah cinta
Walau cinta selalu bersenandung kebaikan

Bayangan ini tidak akan menepi pada hati yang pongah
Harga diri terlalu nista diruntuhkan penghambaan cinta

Hati ini hanyalah sepotong batu
Bukan bintang gemintang
Akan tetap redup sekali pun langit terluka

Aku hanya takut menusuk takdir dalam lipatan mimpi
Aku hanya gemetar nyawa akan tercabut saat tali jiwa terputus

Air mata ini terus menjerit memeluk hati
Ingin pulang ke pangkuan fitrah
Bersih seperti jiwa kita belum dipertemukan



Pikiran yang Membisu

Telah kubiarkan pikiran ini berjalan membisu
Terbuang di lorong-lorong waktu
Terbang bersama bisikan angin
Tanpa kata, tanpa suara, tanpa rasa

Aku takkan memungutnya
Hingga tulang-tulang jiwa ini remuk

Hati terlalu sibuk bercengkrama dengan cinta
Waktu begitu cepat menyeret harapan
Hingga mata tak sanggup menatap fakta

Wahai waktu….
Serahkan dari seribu detik yang tersisa
Akan kupungut satu persatu di sepanjang malam
Agar pikiran tak lagi membisu bersanding dengan kehidupan


Selanjutnya......

Rel Kereta Api dan Kegagalan Keluarga Berencana

Catatan Ringan Mahmud Syaltut Usfa

Pemerintah terus berupaya mensukseskan program Keluarga Berencana (KB). Dulu ada semboyan KB yang sangat terkenal ‘Dua Anak Cukup’. Tapi belakangan, motto promosi tersebut berubah ‘Dua Anak Lebih Baik’. Ini merupakan upaya pemerintah menyadarkan masyarakat akan pentingnya keluarga berencana.

Berbagai alasan disampaikan. Semasa orde baru KB sempat menjadi pro kontra. Bahkan, ada yang berpandangan radikal kalau KB merupakan wujud jahiliah modern. Alasannya, membunuh calon anak manusia. Namun, seiring dengan waktu dan sosialisasi dari pemerintah akhirnya pandangan seperti itu bisa diminimalisir. Dan sampai sekarang sudah tidak terdengar adanya perdebatan lagi.

Sosialiasi hingga kini terus dilakukan. Tidak hanya di perkotaan. Di desa-desa juga terus dilakukan penyuluhan secara intens. Tapi sayang, upaya pemerintah tersebut tidak semua berjalan mulus. Bahkan, di beberapa daerah di pedesaan gagal total. Karena mereka tidak mau dipusingkan dengan KB. Katanya ribet, mau ‘ngeseks’ aja harus pakai kondom, spiral, minum obat. “Orang sudah kebelet kok diatur-atur dengan prosedur segala, keburu croot.’ Begitu kira-kira komentar mereka.

Saya memiliki cerita. Tidak usah terlalu dipikir apakah ini kisah nyata atau tidak. Nikmati saja, paling tidak sebagai hiburan.

Di satu daerah ada dua desa yang sangat berdekatan. Sebut saja desa A dan desa B. Di desa A program Keluarga Berencana berjalan sangat sukses. Angka kelahiran bisa ditekan hingga 50% dari sebelumnya. Sehingga di desa A tersebut masyarakatnya tertata dan kesejahteraannya meningkat tajam.

Berbeda dengan desa B. Program Keluarga Berencana bisa dibilang gagal total. Padahal, penyuluhan demi penyuluhan terus dilakukan secara intens. Bahkan, lebih sering dibanding desa A. Para petugas lapangan sampai-sampai kebingungan menemukan akar permasalahannya.

Para penyuluh lapangan akhirnya melapor ke atasannya. Setelah dilakukan meeting, maka diputuskan akan menggandeng kalangan kampus (para dosen dan mahasiswa) untuk mencari solusinya. Dari kalangan kampus meminta melakukan observasi di lapangan. Setelah disekapati waktunya, akhirnya tim kampus dengan penyuluh KB berangkat ke lokasi.

“Lihat, desa ini sama dengan desa A, pendidikan dan tingkat ekonomi mereka sama, mereka sama-sama petani.” Jelas penyuluh KB kepada tim kampus.

Namun, tim kampus tidak puas begitu saja. Mereka terus berkeliling di desa tersebut dan sesekali melakukan wawancara ke warganya. Tak sengaja, tim kampus melihat lintasan kerteta api yang membentang di tengah-tengah desa A. Secara reflex, analogi ilmiahnya muncul. “Pasti ini yang menjadi biang keladinya.” Ujar tim kampus ke penyuluh KB. “Hah…!! Maksud bapak apa?’. Sergahnya dengan nada heran. “Mari kita buktikan dengan melakukan wawancara ke seluruh warga.” Ujar tim kampus menjawab penuh optimis.

Setelah dilakukan wawancara ke seluruh warga desa A ternyata betul sekali. Lintasan rel kereta api di desa itu menjadi kendala utama gagalnya program Keluarga Berencana. Dari hasil wawancara, jawaban warga rata-rata sama.

Mereka menjawab, “Setiap pukul 3 malam kereta api melintas di desa ini pak, saya dan istri pasti terbangun karena suaranya keras. Kami mau tidur lagi sudah tidak bisa. Dan lagian, kalau tidur lagi kuatir telat pergi ke ladang. Karena jam 4 kami harus ke ladang. Dari pada nganggur menunggu jam 4, lebih baik kami melakukan hubungan intim dulu.” Begitu rata-rata jawaban dari penduduk desa tersebut.


Selanjutnya......

Kita Bukan Bangsa Pemalas

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa

Masih banyak sebagian orang yang menilai kalau bangsa kita adalah pemalas. Sepertinya penilaian tersebut harus dikoreksi total. Gak masuk akalnya, pandangan seperti itu dilandasi dari ukuran ekonomi. Mereka yang hidup kurang sejahtera dipandang karena malas bekerja. Ah…ada-ada saja!!

Saya akan membuka sedikit fakta yang gampang ditemui di sekitar kita.

Ketika masih tinggal di Surabaya. Saya banyak menemui tempat-tempat di mana mereka melakukan aktifitas usaha (jualan) dimulai tengah malam. Mereka baru pulang sekitar pukul 09.00 WIB pagi. Sebut saja di daerah tanjung perak misalnya. Sekitar pukul 11.00 WIB malam para pedagang mulai menggelar dagangannya. Ada penjual buah, makanan, minuman, dan sejenisnya.

Biasanya sambil menunggu kapal datang. Baik kapal Pelni maupun kapal jenis lain. Atau juga berharap dari para pekerja pelabuhan yang membelinya. Bisa dibayangkan, berarti para pedagang itu telah mempersiapkan dagangannya dari sore hari, atau mungkin dari siang. Luar biasa kerja keras mereka. Apakah orang-orang seperti itu pantas disebut pemalas? !!

Masih di Surabaya. Ada kawasan namanya Pabean. Tempat tersebut sangat hidup ketika tengah malam. Di situ rata-rata penjual makanan (warung tenda). Pernah pada tengah malam selepas ziarah ke makam para wali di Gresik dan Lamongan. Saya dan teman-teman kampus bersama ustadz satu mobil. Karena lapar, teman saya (ustadz) asal Sidoarjo itu ngajak mampir ke Pabean. “Aku belikan roti canai yang sangat enak di Surabaya.” Ujarnya sambil menyetir mobilnya.

Benar sekali. Roti canainya sangat enak dengan dicampur kuah kare ayam lengkap dengan sate ampela hati. Hingga menjelang subuh kami baru pulang. Untung besoknya gak ada kuliah pagi. Kawasan Pabean memang banyak diisi pedagang asal Madura. Mereka sudah biasa mempersiapkan dagangannya mulai malam hingga pagi. Apakah mereka pemalas?!!

Dari Pebean kita beralih ke kawasan pelacuran ternama di Surabaya, yaitu, Doli dan Jarak. Para wanita tuna susila sudah harus melayani tamu dari sore hari. Bahkan, tak jarang siang hari juga harus ‘dikerjai’ para lelaki hidung belang. Pada sore hari sekitar jam 16.00 WIB, sudah harus berdandan cantik. Dan pada malamnya harus ‘memajang’ diri di ruang berkaca melayani tamu-tamu. Mereka harus bekerja keras (Saya tak tahu apa bekerja keras atau bekerja lunak) hingga pagi-pagi subuh. Malaskah mereka?!!

Begitu juga dengan para pedagang di Kota Malang. Di kota dingin tersebut ada kawasan namanya kota lama. Merupakan kawasan di jantung kota. Tidak berbeda dengan para pedagang di Surabaya. Mereka berdagang di dekat lintasan kereta api. Bisa dikatakan 24 jam stand by di warung tendanya. Karena pasar pagi, justru setelah subuh rame-ramenya pembeli. Sekitar jam 11.00 WIB malam mereka sudah mempersiapkan dagangannya. Mulai pedagang sayur, buah-buahan, makanan, dan lain-lain. Apakah mereka pantas disebut pemalas?!!

Selanjutnya beralih ke Batam. Ada kawasan namanya Jodoh. Tepatnya pasar pagi, dekat dengan pusat perbelanjaan Ramayana. Di daerah itu, terkenal dengan pasar sayur, ikan dan buah-buahan murah. Tentu saja beraneka pedagang lainnya berbaur di situ. Termasuk penjual barang-barang second. Tahukah Anda, para penjual sayur, buah, ikan, makanan dan minuman mulai menggelar dagangannya sekitar pukul 11.00 WIB malam.

Pada pukul 02.00 WIB tengah malam sedang sibuknya-sibuknya mengatur dagangannya. Hingga subuh terus melayani pembeli yang semakin banyak. Mereka mengemas dagangannya sekitar pukul 10.00 WIB pagi. Luar biasa, apakah orang-orang itu pantas disebut pemalas?!!

Tentunya di kawasan lainnya juga banyak orang-orang pekerja keras seperti itu. Tidak hanya di Surabaya, Malang, Batam, tapi di kota-kota lainnya. Juga tidak hanya orang-orang di kota. Mereka yang tinggal di pegunungan, desa-desa, dusun-dusun, juga banyak yang terbiasa melakukan aktifitas seperti itu. Pun, bukan hanya pedagang. Tapi para karyawan juga sangat banyak yang harus bekerja di saat orang-orang pada terlelap.

Coba pikir lagi dalam-dalam, jika di benak kita masih terlintas penilaian bangsa kita pemalas mohon dikoreksi total. Paling tidak, bagi mereka di atas mohon dikecualikan. Kalau pun mereka masih hidup di garis kemiskinan, bukan berarti pemalas. Melainkan kesempatan untuk menjadi orang kaya masih sangat terbatas. Semoga tulisan ini bisa dijadikan koreksi di saat kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional di tahun 2010 ini.


Selanjutnya......

Kamis, 20 Mei 2010

Perubahan Besar Dimulai dari Diri Sendiri

Opini Batam Pos, Ditulis oleh Mahmud Syaltut Usfa S.Psi, Rabu, 19 May 2010

Hidup harus dinamis. Kita bisa dinamis apabila ada keinginan kuat untuk berubah ke arah lebih baik. Perubahan laksana gerak air di sungai. Selalu mengalami pergerakan ke arah perubahan. Bahkan, di dalam kehidupan ini tidak ada yang abadi, kecuali perubahan. Sekarang ini banyak pemimpin atau calon pemimpin mengikuti berbagai pelatihan kepemimpinan. Salah satu harapannya bisa melakukan perubahan terhadap bawahannya. Dan akhirnya berdampak perubahan pada instansi atau perusahaan.

Seorang yang berambisi menjadi pemimpin kerap terlalu berlebihan megampanyekan diri. Isu yang selalu diusung adalah perubahan. Terkadang terlalu kelakar, ingin merubah ini dan itu, sampai-sampai yang sudah benar juga ingin dirubahnya. Silahkan saja, itu memang hukum dalam kampanye. Asal, jangan terlalu bermimpi untuk merubah orang lain tanpa mau merubah diri sendiri. Apalagi dalam skala besar. Perlu diingat, perubahan sosial takkan terjadi tanpa perubahan dalam kepribadian.

Melakukan perubahan dibutuhkan motivasi kuat serta konsistensi tinggi terhadap diri sendiri. Mustahil mampu merubah orang lain jika tak sanggup merubah diri sendiri. Di sinilah perlunya inferiority, yaitu menantang dirinya untuk maju, membentuk kembali, bahkan mengubah hidupnya. Biasanya saat muncul motivasi tersebut, maka akan lahir trigger. Trigger (pemicu) ini memiliki peran penting sebagai pemberi semangat melangkah menuju perubahan. Misalnya dengan terus berpikir positif

”Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak,” Muncul kepercayaan tinggi kalau dirinya pasti bisa berubah, ”Saya pasti bisa!! Semangat!!” Dan berbagai kalimat-kalimat pemicu lainnya.

Saya jadi teringat tulisan di sebuah pemakaman di Inggris, kalimat yang sangat dalam maknanya. Kalau diartikan secara bebas begini artinya:

”Saya pernah memiliki cita-cita menjadi presiden, agar bisa melakukan perubahan di negeriku. Tapi, ternyata negeriku sudah mengalami kerusakan sangat parah. Tak mungkin mampu dilakukan perubahan. Akhirnya kuturunkan cita-citaku menjadi gubernur. Dengan harapan bisa melakukan perubahan di provinsi. Sayang sekali, aku rasanya tak mungkin mampu karena di provinsi juga mengalami kerusakan parah.

Terpaksa cita-citaku kuturunkan ingin menjadi wali kota. Harapannya bisa segera merubah kotaku yang makin tak tertata. Lagi-lagi kotaku sangat parah kerusakannya. Aku takkan mungkin sanggup merubahnya. Akhirnya citaku-citaku kuturunkan lagi untuk melakukan perubahan di keluargaku. Sama juga, keluargaku sangat berantakan. Sulit bagiku melakukan perubahan. Dengan terpaksa kuturunkan lagi cita-citaku. Aku hanya bercita-cita melakukan perubahan pada diri sendiri.

Akhirnya aku berpikir, andai saja dari dulu bercita-cita merubah diri sendiri, pasti bisa melakukan perubahan di keluargaku. Dan akhirnya bukan tidak mungkin aku mampu merubah kotaku. Juga sangat mungkin aku bisa merubah provinsi. Bahkan, bukan sesuatu yang mustahil pada akhirnya aku juga bisa merubah negeriku”.

Luar biasa kalimat tersebut. Jika kita betul-betul berniat melakukan perubahan ternyata sangat mudah sekali. Tidak perlu menunggu memiliki jabatan. Cukup dimulai dari sendiri. Sederhana sekali bukan? Melakukan perubahan harus dilandasi sebagai kebutuhan. Bukan sekadar keinginan. Apalagi hanya sebagai pemanis belaka. Kebutuhan menjadi satu dimensi penting dari kepribadian. Kebutuhan dapat digolongkan, bisa agresif, pasif atau dipelihara. Kebutuhan yang digerakkan termasuk kebutuhan untuk berprestasi, untuk mencapai otonomi dan untuk memelihara tatanan.

Kebutuhan menjadi suatu dimensi penting dalam kepribadian seseorang terhadap kemampuan melakukan perubahan. Paling tidak, memiliki kepribadian yang inovatif. Dengan ciri, muncul kebutuhan sangat besar terhadap otonomi dan keteraturan, pemahaman sendiri yang memungkinkannya tegas terhadap orang lain, kebutuhan yang sangat besar untuk memelihara dan memikirkan kesejahteraan orang lain maupun kesejahteran dirinya sendiri.

Hal ini sangat berbeda dengan kepribadian otoriter. Kepribadian otoriter membayangkan lingkungan sosialnya kurang teratur dibandingkan dengan dirinya sendiri. Ia tak yakin bahwa ia dinilai oleh lingkungan sosialnya. Ia membayangkan kekuasaan lebih sebagai fungsi dari posisi yang diduduki seseorang, ketimbang sebagai fungsi prestasi yang dicapai seseorang.

Kuncinya adalah mengkoordiner suatu keinginan kuat sehingga membentuk suatu sikap ke arah lebih baik. Sekarang ini banyak pemimpin dengan cemerlang melakukan perubahan terhadap bawahannya. Namun, tak mampu merubah mental dirinya sendiri. Akibatnya, muncul kasus korupsi, skandal perselingkuhan, dan sebagainya. Bahkan, tak mampu melakukan transformasi mental saat jabatannya harus merosot. Ini akibat perubahan tidak dilakukan secara sistematis terkait kebutuhan pribadinya. Kesadaran triggernya begitu lemah.

Pada intinya, jika kita menginginkan suatu perubahan harus dilakukan secara kesadaran penuh. Sehingga menjadi kebutuhan pribadi sendiri. Kalau hanya sibuk menuntut orang lain berubah, maka akan membuang kesempatan bagi diri sendiri. Apalagi perubahan hanya sebatas serimonial belaka, sangat mustahil bisa melakukan perubahan secara besar.

Salah satu gagalnya melakukan perubahan pada diri sendiri disebabkan terlalu sibuk menuntut orang lain berubah. Kesibukan tersebut akhirnya mengantarkan pada sikap atoriter, dan anarki absolut. Sikap seperti itu membuat seseorang terlalu toleran terhadap kesalahan dirinya sendiri, namun menuntut lebih dari orang lain.

Semoga kita termasuk orang yang terus memiliki semangat melakukan perubahan pada diri sendiri. Dengan memulai dari hal terkecil dan sederhana, bukan mustahil akan mendapatkan manfaat besar. Menjelang pilkada gubernur ini, kita berharap memiliki pemimpin yang mampu melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Bukan sebatas pengakuan kata-kata selama kampanye. Karena keberhasilan merubah dirinya akan menjadi tolak ukur dalam melakukan perubahan pada orang lain. Insya Allah. ***

*Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam



Selanjutnya......

Syair Sendu Mahmud Syaltut Usfa

Suara Gelisah

Aku mendengar suara lirih dari lorong-lorong angin
Jerit sang perawan memanah hati
Berhembus manja memekik kegelisahan
Memasung kejujuran hingga ke dasar hati

Mata beningnya terus menatap mimpi
Didekap erat agar kejujuran tak membangunkannya

Air matanya mengalir ke hilir sunyi
Tak mampu berkata-kata
Hatinya terus dipeluk
Takut rasa cinta terbuang ke sampah keihlasan



Keheningan Cinta

Jiwa-jiwa bertakbir
Menyambut hati yang menepi
Cinta itu begitu suci
Lahir dari beningnya embun pagi

Bangunkan jiwaku saat kejujuran tiba
Air mata ini merindukannya
Bercengkarama dengan kebeningan cinta



Tak Sebatas Mimpi

Hah……
Cinta itu berdiri dengan fatamorgana
Bayangan diri terus berjalan lesuh

Percuma saja….
Hatiku sudah melangkah ke batas mimpi

Maaf….
Cinta tidak berpijak di alas hayal


Selanjutnya......

Rabu, 19 Mei 2010

Sibuk Mengurus Hati

Catatan Ringan Mahmud Syaltut Usfa

Dalam kehidupan ini, kita mendapat jatah waktu 24 jam. Berbagai tetek-bengek urusan harus diselesaikan dalam waktu itu juga. Jika tidak, sudah pasti akan tertunda di 24 jam ke depan. Banyak orang yang bisa memanfaatkan waktu tersebut. Namun, juga sangat banyak yang kelabakan.

Dari berbagai kesibukan selama 24 jam, sebenarnya yang membuat kita sangat-sangat capek disebabkan terlalu sibuk mengurus hal-hal kecil. Sehingga hati tidak terurus. Lalulintas dalam hati kita sungguh sangat padat. Entah muncul rasa jengkel, salah paham, dan seabrek perasaan menyakitkan hati lainnya. Capek !! Padahal selama kita hidup tidak akan lepas dari gesekan persoalan.

Selagi kita tidak mampu mengurus hati, mustahil bisa menaklukkan waktu 24 jam dengan tenang. Padahal, jika kita mampu, niscaya Allah akan menaklukkan alam semesta kepada Anda. Hati kita menjadi tidak tanang, wasa-was, karena terlalu sibuk mengurus bisikan-bisikan tidak penting. Sehingga, kita bukan disibukkan manata hati diri sendiri, melainkan sibuk mengurus orang lain.

Bisa dibayangkan, betapa capeknya hati jika kita sibuk mengurus orang lain. Bahkan kita akan dilanda kecemasan, ketakutan, dan depresi.

Saya memilikii kisah menarik tentang seorang sufi.

Suatu ketika, seorang Arab datang ingin berguru kepada Abu Said Abul Khair, seorang tokoh sufi yang terkenal karena karamahnya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian-pengajian. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir.

Ketika orang itu tiba, Abul Khair sedang memimpin majlis simaan (acara mendengarkan orang membaca doa) di tengah para pengikutnya. Waktu itu Abul Khair membaca Al-Fatihah. Ia tiba pada ayat: ghairil maghdubi alaihim, wa laz zalim. Orang Arab itu berfikir, '' Bagaimana mungkin aku bisa berguru kepadanya. Baca Al-Quran saja, ia tidak bisa?. Orang itu mengurungkan niatnya untuk belajar kepada Abul Khair.

Begitu orang itu keluar, ia dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas. Ia mundur tetapi di belakangnya ada seekor singa lain yang menghalanginya. Lelaki Arab itu menjerit keras karena ketakutan.

Mendengar teriakannya, Abul Khair turun keluar meninggalkan majlisnya. Ia menatap kedua ekor singa itu dan menegur mereka, Bukankah sudah kubilang jangan ganggu para tamuku!? Kedua singa itu lalu bersimpuh di hadapan Abul Khair.

Sang sufi lalu mengelus telinga keduanya dan menyuruhnya pergi. Lelaki Arab itu merasa heran, Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar? Abul Khair menjawab, Aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Untuk kesibukanku memperhatikan hati ini, Tuhan menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Sedangkan kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah, karena itu kamu takut kepada seluruh alam semesta.

Semoga kita mampu menjadi orang yang selalu sibuk mengurus hati. Insya Allah kita akan menjadi orang yang tenang. Karena Allah akan memberi alam semesta untuk Anda miliki.


Selanjutnya......

Kamis, 13 Mei 2010

Sajak Langit Mahmud Syaltut Usfa

Keangkuhan Do’a

Kata-kata itu terasa merdu menyentuh jiwa langit
Bercengkrama dengan pengharapan
Mengoyak keheningan takdir
Membisu tak berdaya di antara seribu permintaan

Do’a begitu angkuh menuntut tuhan
Membungkus keluh kesah dengan kekhusuan
Tuhan telah diperintah kata-kata iba
Tuhan telah diajari oleh lidah kemunafikan
Tuhan telah dituntun lumuran hati para pendosa

Lelehan air mata bukan hempasan rasa cinta padaNya
Tapi rasa takut sang do’a tak terkabul
Ratapan jiwa bukanlah rasa kepasrahan syukur
Namun rasa gusar sang do’a tak terwujud

Tuhan hanya ada saat tubuh butuh sandaran
Dengan panggilan sendu atas nama do’a
Saat jiwa terbang dengan kepakan sayap bahagia
Tuhan hanya terselip di celah-celah kuku makrifat




Kebisuan Cinta


Biarkan cinta ini membisu sejenak
Berkabung dengan tarian lara
Bernyanyi lirih seirama tetesan gelisah

Aku hanya ingin cinta sederhana
Seperti angin yang tak sempat berkata apa pun saat membelai samudera
Seperti api yang tak sanggup berucap sepatah kata pun saat melebur bara

Cintamu begitu dahsyat hingga melemparkan jiwaku ke lidah langit
Menjadikan hati ini tercecer di pangkuan ayat-ayat keteduhan

Tak perlu risau menanyakan jejak-jejaknya
Aku telah mengukirnya di celah cahaya rembulan dan matahari pagi

Tak perlu risau memikirkan perjalanannya
Hatiku masih berdiri kokoh dengan busur di sayapnya
Siap memanah rembulan hingga kebenaran tak membisu lagi

Selanjutnya......

Syair Lirih Mahmud Syaltut UsfaBagikan

Tubuh yang Gelisah

Kepada tubuh yang gelisah
Biarkan roh ini pergi sejenak
Mengembara mencari hati yang terbuang
Aku merasakan puing-puingnya masih berdiri kokoh

Kegelisahan terus berteriak lantang
Bertakbir di antara berhala-berhala hedonisme

Wajah jiwa ini masih bercengkrama dengan rembulan
Sambil terus bercermin pada kebeningan air mata
Tak perlu menyentuh hatinya
Karena sedang mendekap luka
Tak berdaya menatap serpihan nostalgia

Cinta ini begitu dahsyat meremukkan hati
Padahal kisahnya sudah terlempar bersama imanjinasi

Rohku hanya mampu menatap kebenaran dari sudut akal
Tak sanggup lagi mengembara di jagad nurani

Wahai perempuan jalang….
Tubuh yang nista
Jiwa yang renta
Berbaringlah dengan para pelacur jalanan
Juallah harga diri itu dengan kefanaan cinta

Aku di sini menunggu kabar dari sayap-sayap angin
Sampai rohku datang menghapus gelisah


Selanjutnya......

Rabu, 05 Mei 2010

Pacaran Islami, Apaan Tuh..!!

(Catatan lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Dulu, dalam suatu diskusi psikologi di kampus, ketika itu saya jadi pembicara, ada pertanyaan menarik dari audien. “Bagaimana pacaran yang islami itu?”. Saat itu saya kaget “Hah….kayak apa tuh..?!!” Kalau memang ada pacaran islami, jangan-jangan juga ada zina islami.

Apalagi gaya pacaran anak sekarang sudah di luar batas. Alasannya karena komitmen. Bahkan, banyak perempuan yang terlalu ‘ihlas’ menyerahkan tubuhnya ‘diobok-obok’ oleh cowoknya karena takut diputus, wow…!! Walaupun dalil tersebut tidak bisa dibenarkan seratus persen. Bisa saja karena dilandasi suka sama suka.

Nah, ngomong-ngomong soal pacaran, ternyata sampai sekarang masih muncul tentang pacaran islami. Entahlah, mungkin cuma upaya melegalkan aktivitas baku syahwat itu? Atau para remaja Islam merasa takut tidak bebas ‘mengekspresikan gaya pacaran’. Malah disinyalir, katanya banyak pula yang melakukannya adalah anak masjid. Artinya mereka itu ingin Islam, tapi ingin pacaran juga. Ah, ada-ada saja!!!

Mau anak masjid, pesantren, jilbaban, rajin puasa senin-kamis, kalau mempraktekkan gaya pacaran bak gaya selebriti tetap saja mendekatkan zina. Bukan sok alim sih, tapi hendaknya gaya pacaran pada umumnya sekarang ini harus dipisahkan dengan embel-embel islami. Karena dalam Islam tidak ada istilah pacaran. Pacaran-pacaran saja, zina ya zina saja !!

Lantas kenapa dorongan melakukan maksiat begitu tinggi ketika pacaran? Faktor pertama pasti karena keduanya memiliki nafsu. Manusia normal mana yang tidak ingin melakukan hubungan intim dan romantik dengan pasangannya?

Secara psikologis ada tiga hal sehingga pasangan yang sedang berpacaran terdorong melakukan hubungan intim. Pertama, cinta lahir karena atas naluri intimacy. Adanya perasaan kecocokan, dari hal-hal sederhana sampai yang serius. Misalnya, pasangannya cocok diajak curhat, nyambung diajak ngobrol, kecendrungan seleranya banyak sama. Baik sikap, sifat, kegemaran, dan sebagainya.

Kedua, adanya unsur passion. Kondisi ini sudah melangkah kepada keinginan lebih jauh untuk merasakan kenikmatan berhubungan secara fisik. Misalnya, saling berpegangan tangan, menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya, saling membelai, bahkan keinginan berhubungan intim.

Ketiga, sudah memutuskan untuk commitment. Yaitu kesediaan untuk benar-benar terikat satu dengan yang lain. Commitment ini memliki kekuatan sangat dahsyat untuk menarik intimacy dan passion. Biasanya, jika sudah terbentuk commitment maka ada kecendrungan melakukan hubungan pacaran secara total. Bisa dibayangkan, betapa keduanya sangat leluasa mewujudkan keinginan-keinginan libidonya. Karena menurut mereka, milikmu adalah milikku dan sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan sepak terjang teman-teman remaja yang terlanjur menganggap aktivitas baku syahwatnya sebagai pacaran islami? Jawabannya ya dosa! Iya dong. Soalnya siapa saja yang melakukan kemaksiatan jelas dosa sebagai ganjarannya. Apalagi anak masjid, berjilbab, ahli dalam agama.

Coba simak QS. An-Nuur : 30, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kehormatannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Kemudian QS. An-Nuur : 31, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kehormatannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…”

Jadi bagaimana dong? Dalam Islam tetap tidak ada yang namanya pacaran islami. Lalu kenapa istilah itu bisa muncul sampai sekarang? Boleh jadi para remaja hanya punya semangat keislaman tapi minus tsaqafah ‘pengetahuan’ Islamnya. Kayaknya saya juga perlu instrospeksi nih, ayo semangat bertobat!!!


Selanjutnya......

Minggu, 02 Mei 2010

Sajak-sajak Sufistik Mahmud Syaltut Usfa

Batam Pos, Minggu 2 Mei 2010
(Penulis dan Penyair kelahiran Pulau Bawean Jawa Timur bermukim di Batam)

Sampah Kata-kata

Telah kubuang logika semu ke ujung zaman
Hingga mata batin tak menatapnya lagi
Kini, pikiran itu bertelanjang
Menunggu nurani mendekapnya

Lihat itu….!!
Pikiran-pikiran angin menari di ujung pena
Semua disalahkan oleh pikirannya
Tersenyum bagai pahlawan
Membalik kata di simpang gelisah

Aku berdiri di antara kata yang terbuang
Tidak segagah sang penyair, budayawan, dan intelektual

Pikiranku masih bertelanjang
Tetap bertahan menunggu nurani mendekapnya
Sambil tersenyum memungut sampah kata-kata



Sang Pelayan

Jiwa yang hakiki, keluarlah sejenak dari tubuh tuanmu
Lihatlah tarian kemunafikan
Menjijikkan bukan…?
Di situlah selama ini engkau melayaninya




Mentuhankan Nafsu

Tubuh ini berjalan tertatih di setiap jengkal nafas
Berat menahan gelisah di sepanjang ruang hidup
Lidah nafsu begitu liar
Bercengkrama di lorong-lorong hati

Jenguklah nafsu itu
Mungkin saja sudah pergi
Tak perlu diikat dengan kata-kata
Agar tak mengundang keinginan

Nafsu bisa menjelma bagai tuhan
Segala jiwa bersujud lusuh padanya
Anehnya,
Tubuh merasa riang membungkuk sebagai budak
Menjilat rakus hempaskan harga diri

Nafsu dituhankan
Tuhan diburamkan nafsu
Kecuali engkau berjalan di garis tauhid
Di situlah hatimu mampu menatap tuhan yang hakiki



Kebisingan Hati

Betapa akal terus tersiksa menyanggah kebisingan hati
Hati terus menyeret nafsu berbicara kefanaan dunia
“Diamlah..!! Aku malu menatap tubuh ini.” Sergah akal

Hati terdiam dalam belenggu detik
Namun tak lama menyeret nafsu kembali

Akal hanya mampu berkata dalam hening:
Diamlah..!!
Diam..!!
Dia..!!
Aku malu menatap tubuh ini..!!



Cepat Kejar Sang Waktu

Cepat pergi ke ujung waktu
Berlari saja hingga mampu menyambutmu
Dia akan mengembalikan separuh tubuhmu

Peluklah dengan erat saat bertemu
Hempaskan rasa rindu masa lalumu
Sebelum masa lalu terhapus oleh zaman

Bicarakanlah tentang hari ini
Sebelum berganti menjadi masa lalu

Sadarkah kamu,
Sang waktu akan terus berdiri kokoh
Hingga separuh tubuhmu tak bisa dikembalikan lagi



(Terima kasih Batam Pos yang telah mempercayakan syair-syair saya untuk dimuat di halaman minggu koran ini)


Selanjutnya......

Kamis, 29 April 2010

Syair Ibu - Mahmud Syaltut Usfa

(Bukan serimonial hari ibu)
Hati berdetak saat cinta berhembus dari sudut langit
Para malaikat di atas kepalaku hening dengan zikir
Gema cinta itu begitu dahsyat mengalir di urat nadi
Membuat para bidadari tersenyum mengelus rohku

Cinta ibu….
Mengalir tiada henti ke hulu nurani sekalipun roh itu berbaring damai
Aku hanya mampu menatap dari mata batin saat engkau tersenyum
Tapi aku merasakan engkau terus mendekap erat menjaga keteduhan qalbu

Saat rindu tertegun, cinta itu hadir bagai dihantar para malaikat
Saat gelisah terbangun, rasa sayang itu mengalir bagai sentuhan bidadari

Aku mampu berdiri kokoh dari tiang-tiang kasih sayang ibu
Aku mengenal cinta sejak dalam dekapan rahim ibu
Hingga saat ini keduanya terus mengalir di nadi jiwa
Walau aku tak bisa menatapnya lagi

Para bidadari…
Engkau pemilik nurani keibuan
Bertemanlah atas nama kaum hawa
Kasih sayang ibu secantik parasmu
Engkau hanya memiliki paras cantik
Namun, tak memiliki cinta dan sayang setulus ibu
Belajarlah dari ibuku sebelum engkau menemani lelaki


Selanjutnya......

Sabtu, 24 April 2010

Menempatkan Konsisten di Jalan Bijak

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa

“Seorang pemimpin harus konsisten.” Kalimat seperti itu sering kita dengar. Sebab katanya, pemimpin yang tidak konsisten berarti plin-plan. Apa benar? Terus terang kalimat itu malah mengusik pemikiran saya. Karena konsisten kerap disalah artikan, sehingga penerapannya malah kaku. Bahkan membuat situasi menjadi kacau.


Coba kita pikir, Nabi Adam dikeluarkan dari surga bukan karena tidak konsisten. Tapi disebabkan tidak mampu bersikap bijak kepada istrinya, Hawa. Ketika Adam merasa kesepian, dia meminta teman. Kemudian Allah menciptakan Hawa yang diambil dari tulang rusuknya. Ini sebagai isyarat bagi Adam agar dirinya bijak kepada wanita. Atau dengan kata lain, menjadi pemimpin itu harus bijak.

Kala itu, Adam konsisten dengan pendiriannya untuk tidak makan buah khuldi. Tapi di sisi lain Hawa juga konsisten ingin memakannya. Karena Adam tidak bijak, maka terjadilah pelanggaran.

Begitu juga dengan setan. Diusir dari surga bukan karena tidak konsisten kepada Allah, melainkan disebabkan tidak bijak kepada Allah. Sehingga dirinya termakan kesombongan. Ketika disuruh sujud kepada Adam, setan berkata “Pantaskah aku sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah? Aku lebih baik dari Adam, karena aku diciptakan dari api dan dia dari tanah.” Betapa tidak bijaknya setan sehingga mengeluarkan kata-kata sombong seperti itu. Sampai sekarang setan konsisten, karena dia tidak bisa bijak. Akibatnya, kita malah jadi korban konsistennya setan.

Lain lagi dengan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Ketika Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih putranya (hanya lewat mimpi) dia bersikap sangat bijak. Disampaikan dengan cara dialog kepada Ismail. Di situlah bapak dan anak ini kecerdasan emosionalnya sangat matang. Ismail begitu bijak menyikapi perintah Allah. Bijak, telah mengantarkan sikap konsisten keduanya. Triggernya adalah keimanan.

Konsisten jika tidak diikuti dengan jalan bijak akan membuat situasi morat-marit, kaku, bahkan menjadi lelucon. Saya jadi teringat dengan ponaan yang masih berumur dua tahun. Jika ditanya, “Berapa usianya?” dengan tegas dia bilang “Ua (Dua)” jawabnya dengan lidah cedal. Tentu dia tidak tahu dari mana angka ‘dua’ didapat. Saya jadi berpikir, kalau dia konsisten sampai tahun depan bisa-bisa menjadi lelucon.

Sama seperti cerita seorang sufi bernama Nasruddin, ketika ditanya, “Berapa usia kamu sekarang?” Dengan tegas Nasruddin menjawab, “Usiaku 40 tahun.” Si penanya malah bingung, “Lho tahun kemarin kamu menjawab 40 tahun, kok sekarang tetap sama?” tanyanya heran. Nasruddin malah menjawab “Iya, sebab aku konsisten.” Ujarnya enteng.

Dalam menempatkan konsisten yang menjadi pengendalinya adalah ‘bijak’. Tanamkan rasa bijak terlebih dahulu, baru terapkan secara konsisten. Dengan ‘bijak’ maka konsisten bisa berjalan lentur. Seorang atasan yang hanya berbekal konsisten namun tidak bijak, hanya akan membuat anak buahnya kendor motivasinya. Bisa dirasakan, betapa ‘sumpeknya’ anak buah jika melihat atasan marah-marah karena alasan konsisten dengan keputusannya.

Lantas, bijak itu seperti apa? Saya tidak akan mendefinisikan. Pasti Anda lebih tahu jawabannya. Tapi, saya jadi teringat ketika masih kecil, sering melihat ibuku yang membuat dodol. Saat itu, ibuku tidak mau beranjak dari dapur karena harus menunggui dodol yang dimasak di tungku api.

“Lho, kenapa gak ditinggal saja?” pikirku saat itu. Saya sampai kasihan dengan ibuku jika mengingatnya. Karena sebentar mengaduk, sebentar dibiarkan. Hal itu terus dilakukan sampai dodol matang. Ternyata, setelah saya dewasa baru tahu kalau membuat dodol itu harus ‘bijak’. Karena jika terus diaduk, maka dodol akan lengket menyatu seperti bubur. Tapi apabila kurang ngaduknya, pasti dodol akan banyak tutul-tutulnya karena kurang matang.

Saya jadi berpikir, coba saja saat itu ibuku konsisten mengaduknya, pasti dodolnya menjadi bubur. Tapi sebaliknya, jika konsisten dibiarkan, pasti dodolnya berkerak. Mudah-mudan saya bisa menempatkan konsisten di atas jalan bijak.

Selanjutnya......

Silaturahmi Malaikat

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa

Pada Hari Senin, 26 Des 2009 lalu teman saya di tempat kerja ada yang resign. Pada Hari Senin, 4 Januari 2010 diadakan perpisahan. Sebagai teman, tentu saya ingin memberi kenang-kenangan seperti teman-teman lainnya. Karena perempuan, maka dipilihnya buku sebagai kado perpisahan kepada temanku itu. Buku yang saya pilih tentu yang berhubungan dengan perempuan. Saya cari ke toko buku, maka didapat buku yang menurut saya bagus sebagai kenang-kenangan. Judulnya 'Menjadi Wanita Paling Bahagia'.

Buku itu bersama La Tahzan merupakan buku Best Seller di berbagai negara. Di Indonesia, buku itu telah terjual ratusan ribu eksemplar. Tak mengherankan, jika karya fenomenal tersebut melambungkan nama penulisnya, Dr. 'Aidh al-Qarni.

Saat itu saya sangat penasaran ingin membacanya. Tapi tidak mungkin saya buka bungkus plastiknya. Sempat juga ingin membelinya, tapi rasanya kurang cocok karena buku tersebut lebih khusus untuk perempuan. Apalagi waktu itu stoknya tinggal satu. Setelah dibungkus rapi, hari itu juga saya kasih ke temanku.

Namun, saya masih diliputi penasaran akan isi buku itu. Kok sepertinya menarik. Daripada penasaran, besoknya saya ke toko buku Gramedia, bermaksud ingin membacanya saja tapi tidak untuk membeli. “Untuk apa membeli, kan buku itu untuk perempuan.” Begitu yang terlintas di pikiran.

Begitu sampai di Gramedia langsung ke sasaran. “Stoknya baru datang, dan ini edisi terbaru” Jawab penjaga toko ketika saya tanya judul buku yang dicari. Benar, bukunya baru semua. Tentu saja masih dibungkus plastik. Dan tak mungkin bisa dibaca isinya. Akhirnya saya pulang dengan rasa penasaran.

Setiap ke toko buku selalu menyempatkan melihat buku tersebut. Siapa tahu sudah ada yang terbuka plastiknya. Tapi ternyata gak ada. Lama-lama capek sendiri dan rasa penasaran juga hilang pergi bersama keihlasan. Saya sudah tidak memikirkan lagi.

Tapi rupanya takdir tidak sejalan dengan pikiran saya. Setelah sekian lama, dan ketika itu saya baru selesai menyelesaikan tugas di luar. Seperti biasa, bermaksud istirahat di kantin untuk sekadar minum. Ternyata, di meja yang saya tempati, tepat di depan mata ada buku “Menjadi Wanita Paling Bahagia” punya teman yang sedang diletakkan di meja usai dibacanya. Alhamdulillah, begitu gampangnya terjadi kalau sudah takdirnya.

Subhanallah, do’a dari mana sehingga keinginan dikabulkan semudah itu. Padahal sudah tidak ada komunikasi lagi dengan teman saya. Mungkin jawaban paling tepat dari pertanyaan itu adalah “Silaturahmi Malaikat”. Bisa saja karena keihlasan rasa terima kasih dari teman saya, walau dengan kalimat sederhana “Trims bukunya pak! Jazakallah khairal jaza!”. Atau mungkin dari keihlasan memberi. Sehingga mampu menjembatani silaturahmi antar malaikat.

Karena, ketika kita menjalin silaturahmi dengan orang lain, maka akan mempertemukan dua mailakat yang akan saling mendo’akan. Insya Allah !! Di antara golongan orang yang berbahagia dengan permohonan ampun dan do'a para malaikat adalah orang yang dido'akan saudaranya dari kejauhan. Begitu pun dengan orang yang mendo'akannya.

Diantara dalilnya:
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ibnu 'Abdillah bin Shofwan, ia mengatakan, "aku pergi ke negeri Syam dan mengunjungi Abu Darda' di kediamannya, namun ia tidak berada di rumahnya. Hanya Ummu Darda' yang ada, ia berkata, "Apakah tahun ini engkau akan pergi haji?", "ya" jawabku.

Dia kembali berkata, "Do'akanlah kebaikan bagi kami, sebab Nabi SAW bersabda, "Do'a seorang muslim bagi saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido'akannya adalah do'a yang terkabul. Di atas kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo'a bagi saudaranya dengan satu kebaikan, maka malaikat tersebut mengucapkan: 'Aamin dan engkau pun mendapatkan apa yang diperolehnya' " (shahih muslim).

Al-Qodhi 'Iyadh mengatakan: "Apabila generasi salaf hendak berdo'a untuk dirinya sendiri, mereka pun berdo'a bagi saudaranya sesama muslim. Sebab, do'a tersebut adalah do'a yang terkabul dan ia pun akan mendapatkan apa yang didapatkan oleh saudaranya sesama muslim".

Al-hafizh Adzdzahabi mengisahkan dari Ummu Darda' bahwasannya Abu Darda' mempunyai 360 orang yang dia cintai di jalan Allah yang selalu dia do'akan dalam sholatnya. Ketika Ummu Darda' mempertanyakan hal itu, ia pun menjawab: "Apakah aku tidak boleh senang apabila para malaikat mendo'akan diriku?" (siyar a'laamin nubalaa').

Merekalah orang-orang yang gigih dalam meraih shalawat para malaikat. Mereka semua sangat bersemangat dalam mendo'akan saudara-saudara mereka sesama muslim tanpa sepengetahuan saudara yang dido'akannya itu, dan perkara ini senantiasa ada.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta'ala menjadikan kita semua golongan mereka dengan karunia dan keutamaan dariNya...Amiin, yaa dza Jalaali wal Ikroom....

Teman-teman di facebook yang membaca ini jangan lupakan aku dalam do'amu. Baik engkau yang mengenalku maupun tidak.

Selanjutnya......

Otak-Otak dari Langit

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa

Beberapa minggu lalu salah satu teman di tempat kerja mau pulang ke kampung halamannya di Kijang, Pulau Bintan. Kijang sangat terkenal dengan otak-otaknya. Otak-otak adalah suatu jenis makanan yang terbuat dengan komposisi tepung, ikan laut, cabai dan bumbu-bumbu yang akan menambah kelezatan otak-otak tersebut.

Otak-otak made in Kijang rasanya sangat beda dengan yang dijual di Tanjungpinang dan daerah lainnya, termasuk di Batam. Kalau di tempat lain komposisi bahannya lebih banyak tepungnya dibanding ikannya. Padahal, kunci kenikmatan otak-otak terletak pada proporsi ikannya.

Ada beberapa teman yang pesan. Saya dengan bercanda juga ikut-ikutan pesan. Bahkan dengan kalimat bercanda saya tulis di facebook dia, isinya gini: “Horreeee....titip otak2 spesial dgn harga spesial yg satu biji harga Rp.500, pesan 100 bungkus, sy tunggu paling lambat Hari Sabtu, tgl 3 April 2010 pukul 08.00 sebelum berangkat ke Ocarina, komisi bisa diatur.” Pesan ini ditulis pada Hari Kamis, 1 April 2010.

Namanya saja bercanda, pastinya saya gak mengharap apa-apa. Tapi rupanya takdir berkata lain. Besoknya pada Hari Jum’at sore, 2 April 2010 kakak saya yang tinggal di Tanjungpinang, P. Bintan beserta keluarganya datang ke Batam. Mereka membawa oleh-oleh otak-otak ikan special asli beli di Kijang. Jumlahnya juga gak tanggung-tanggung sebanyak satu kantong kresek penuh.

Saya berpikir, kenapa do’a yang serius kadang susah dikabulkan. Tapi yang bercanda begini malah cepat terkabul. Padahal ketika itu posisi saya bukan sedang dizalimi. Apakah karena hanya otak-otak, sehingga Tuhan gampang mengabulkan?. “Ah..Tuhan kan maha kaya, mana mungkin bisa dilogikakan seperti itu !!”

Dari kejadian tersebut, saya jadi teringat kisah Nasruddin (seorang sufi yang konon beraliran sesat). Pada suatu hari Nasruddin kebelet ingin buang air besar. Karena sedang bepergian ke kota dia bingung mencari WC. Akhirnya dia menemukan jamban tua (WC umum) yang terbuat dari kayu seadanya.

Begitu selesai buang air besar, Nasruddin bingung karena sedang tidak membawa uang. Sekali menggunakan jamban harus membayar Rp.100. Dalam situasi kepepet dia berdoa “Tuhan, aku tidak punya uang untuk membayar jamban ini, tolong kirimkan aku uang Rp.100. Atau kalau tidak, robohkan saja jamban ini agar aku tidak perlu membayarnya.” Begitu do’a Nasruddin di dalam jamban.

Setelah do’nya selesai, tiba-tiba jamban tua tersebut roboh. Tapi Nasruddin malah kebingungan dan berpikir “Ternyata Tuhan sangat miskin, uang Rp.100 saja tidak punya sehingga harus merobohkan jamban ini.” Pikirnya sambil bengong. Silahkan kaji sendiri makna sufistik dari kisah Nasruddin ini.

Namun yang pasti, Allah maha tahu akan kebutuhan hambanya. Kadang Dia tidak memberi yang kita inginkan tapi mengambulkan apa yang kita butuhkan. Kata Allah, "Berdo'alah padaKu, akan Kukabulkan semua permohonanmu."

Di sisi lain, "Jika ada hambaKu bertanya padamu tentang Aku, katakanlah (hai Muhammad) Aku ini dekat." Dan, "bahwasanya jika Allah menghendaki sesuatu, cukuplah dengan firmanNya; jadilah! maka terwujudlah sesuatu itu."

Dari itu semua, mengapa pula ada kesan tentang do'a yang tidak pernah terkabul? adakah Allah telah menyalahi janji atau Allah tak mampu? Kata Rasulullah, "Allah mengabulkan do'a hambaNya melalui tiga kategori; dipercepat pengabulannya, ditunda sampai waktu yang tepat, atau diganti dengan yang lebih baik."

Di sisi lain Allah berfirman," Boleh jadi kalian membenci sesuatu tapi sesuatu itu baik bagi kalian. Boleh jadi kalian mencintai sesuatu tapi itu buruk bagi kalian. Allah Maha Tahu, sedang kalian tidak!"

Kewajiban hamba adalah berdo'a dan hak hamba adalah dikabulkanNya do'a. Tapi haruskah semuanya mutlak sama dengan yang kita mau? tidak! pemahaman kita terlalu kerdil untuk menerima yang Allah berikan.

Misteri do'a sangat dalam, jika ternyata Allah hendak menunjukkan kasihNya dengan memberi alternatif lain, selain menuruti ketergesaan kita, kenapa kita harus menolak? Jika ternyata setelah kegelisahan kita malah lebih dekat denganNya, kenapa kita harus sungkan dan memilih kufur dengan cara mengumpat-ngumpat kedunguan? Nauzubillah


Selanjutnya......