Rabu, 11 Februari 2009

Roh Budaya di Kota Alibaba Sindrom

Batam sebagai kota metropolis tidak disanksikan lagi perekembangan pembangunannya. Berbagai sarana dan prasarana penunjang kota metropolitan maju melesat mengikuti irama modernisasi. Denyut nadi perekonomiannya terus bergerak dinamis. Pembangunan Kota Batam menjelma sebagai kota impian.

Pesatnya pembangunan fisik Kota Batam mengingatkan pada Kota Bagdad yang terkenal dengan kisah seribu satu malam. Saking pesatnya, sampai-sampai ada kelakar kalau kota kelahiran Alibaba tersebut dibangun atas bantuan jin. Namun sayang, pesatnya pembangunan fisik tidak diimbangi dengan kualitas pembangunan mental.

Sindrom Alibaba ini menyebar di kota-kota besar dunia. Modernisasi global menjadi dalih utama. Ketidakseimbangan antara pembangunan fisik dan mental ini menyebabkan sendi-sendi budaya tidak terkontrol. Bahkan kropos dan lambat laun punah digeser arus budaya yang diciptakan karena tuntutan moderinasi dan westernisasi. Akibatnya, roh budaya dalam satu kota tersebut sangat kering. Menjadi kota yang kehilangan roh dan gersang jiwanya.

Roh, apabila diartikan secara sederhana ibarat sinyal televisi. Manakala tidak dihidupkan, maka sinyal akan berada di luar televisi. Sinyal masuk melalui energi cahaya yang dikendalikan oleh pemancar.

Kota yang sedang gersang rohnya ibarat televisi yang sedang dimatikan. Agar roh tersebut hadir ke jantung kota harus menghidupkan sendi-sendi budaya. Kota yang kering akan budaya sangat rentan menimbulkan gesekan-gesekan sosial.

Sekecil apapun budaya yang dimiliki oleh kota tersebut harus dikendalikan, dipupuk, dan disemarakkan. Sehingga cahaya-cahaya roh terus mengalir ke sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ini hanya merupakan bagian kecil dan sangat penting untuk menyeimbangkan dari pesatnya pembangunan fisik kota.

Masyarakat sangat membutuhkan itu. Kota yang tak berjiwa akan membuat gersang jiwa masyarakatnya. Jika jiwa masyarakat gersang akan gampang tersulut emosi, stress, dan rentan muncul penyakit masyarakat.

Mereka bekerja laksana mesin. Berangkat pagi pulang sore. Ada ruang kosong di hatinya yang terus mencari kesejukan untuk mengisinya. Budaya memiliki kekuatan besar untuk menyirami kegersangan roh dalam suatu daerah.

Batam membutuhkan cahaya untuk memancarkan sendi-sendi budaya agar terus masuk ke jantung roh kota. Memberdayakan budaya daerah suatu keharusan. Tidak jadi persoalan sekalipun dimulai dari persembahan serimonial.

Ibaratnya, pagelaran serimonial baik tarian, karya sastra, kompang, sampai pakaian dll merupakan cara pengumpulan serpihan-serpihan budaya yang ada. Asal terus dikembangkan dan bukan sekadar pageleran sambil lalu.

Dari situ jati diri budaya bisa eksis berdiri di antara budaya-budaya daerah lainnya. Gol yang diharapkan adalah membuat jiwa kota tidak terasa gersang. Aktivitas masyarakat tidak terasa penat karena hanya memikirkan materi. Melainkan ada kehidupan dalam jiwa kota melalui geliat budaya setempat. Di sinilah peran serta masyarakat dan pemerintah khususnya sangat dibutuhkan.

Sebenarnya, Batam sangat diuntungkan dengan keberagaman budaya daerah lain. Karena akan banyak cahaya budaya masuk ke sendi-sendi masyarakat. Sehingga budaya Melayu sebagai budaya lokal tinggal memayunginya. Tentu saja dibutuhkan power agar masyarakat Batam, khususnya generasi yang lahir di Batam merasa memiliki terhadap budaya setempat.

Kita bisa mencontohkan Jepang, begitu kuatnya eksistensi budaya di masyarakat. Sehingga arus modernisasi yang masuk sangat deras bisa disaring oleh kekuatan budayanya. Hal itu terjadi karena antara pembangunan mental dan fisik berjalan sangat seimbang.

Bahkan, pembangunan mental sudah ada dan tertanam sebelum teknologi di Jepang maju pesat. Kondisi seperti itu membuat kota-kota di Jepang tetap memiliki roh dan tidak gersang jiwa kotanya.

Tentu berbeda dengan Batam, kota yang sengaja dibuka untuk industrialisasi. Setelah industri berkembang baru kehidupan dan struktur sosial masyarakat tumbuh. Akibatnya, untuk membangun mental dibutuhkan waktu lama dan sulit mengimbangi arus industrialisasi.

Kita tidak perlu kecil hati. Karena eksistensi budaya di Batam sudah jelas. Selanjutnya, bagaimana terus membangun dan memberikan apresiasi ke masyarakat. Bisa melalui pegelaran seni budaya secara rutin, memasukkan ke kurikulum sekolah, mensosialisasikan agar menjadi pembiasaan di masayarakat.

Minimal masyarakat tidak merasa asing dengan berbagai aneka seni budaya yang ada. Dengan cara seperti itu, tidak mustahil kegersangan roh kota bisa teratasi. Apabila cahaya roh budaya masuk ke sendi-sendi kehidupan masyarakat, maka Kota Batam tidak akan seperti televisi yang sedang dimatikan.

Sebab, melalui apresiasi budaya dapat memperhalus jiwa masyarakat. Mampu memberikan motivasi untuk berpikir bijak. Serta mendorong munculnya kepedulian, keterbukaan, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Budaya mendorong orang untuk menerapkan moral yang baik dan luhur dalam kehidupan. Juga menyadarkan manusia akan tugas dan kewajibannya sebagai mahluk tuhan, mahluk sosial dan memiliki kepribadian yang luhur.

Selain melestarikan nilai-nilai peradaban bangsa juga mendorong penciptaan masyarakat modern yang beradab (masyarakat madani) dan memanusiakan manusia. Dengan budaya kita dapat memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Bukankah kita memiliki slogan ”Batam bandar dunia madani”? Semoga. (Sudah dipublikasikan di Harian Nasional Batam Pos)***


Selanjutnya......

“Saya”

(Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Coba Anda hitung berapa kali dalam sehari menyebut nama Anda dengan kata “Saya” ketika berbicara? Sekali, dua kali, sepuluh kali, beratus-ratus kali? Atau Anda lupa karena sudah tidak terhitung lagi?.

Kalau Anda bisa menghitung, bisakah untuk mengurangi menyebut-nyebut kata “Saya”?. Mungkin agak susah. Tapi percaya atau tidak dari hasil penelitian, orang sangat gampang menyebut kata “Saya” dalam setiap percakapan. Dalam sehari bisa berpuluh-puluh kali, bahkan ratusan menyebut “Saya” ketika berbicara dengan orang lain.

Kata “Saya” selalu diidentikkan dengan keegoan seseorang. Ketika sedang berbicara dengan orang lain, dirinya selalu ingin di depan. Itupun pada saat-saat yang dianggap benar. Tapi, dalam kesalahan atau kekalahan cendrung menyembunyikan “Saya” di balik ke-egoan. Dan tentunya “Saya” juga akan terus disebut walau dalam kapasitas pembelaan diri (Ego Devent Mekanism).

Kita harus sadar, salah satu kebiasaan jelek kita adalah “terlalu toleran terhadap kesalahan diri sendiri tapi terlalu berharap lebih dari orang lain”. Maaf kenapa tidak ditulis “salah satu kebiasaan saya” kok “salah satu kebiasaan kita”? Itulah gambaran betapa ego sangat reflek ketika berbicara antara ”Saya” ”Kita” ”Anda” ”Kami”. Ego bisa memilah-milah dalam menempatkan posisi agar selalu aman dari penilaian negatif.

Tak bisakah kita mengerem sejenak dengan memberi kesempatan kepada lawan bicara? Minimal bisa menyeimbangkan antara “Saya” dengan “Anda”. Ego terlalu cerdas. Sehingga sangat sulit akal sehat mengimbanginya. Hati yang begitu lembut terlalu arif memahami ego. Sehingga kata “Saya” dipandang sebagai wujud dari aktualisasi diri yang tidak perlu dipikirkan, apalagi dibahas.

Cara yang paling sederhana untuk mengerem laju ego adalah belajar menghitung. Iya…tak ada salahnya jika “Saya” “Kita” “Anda” mulai belajar menghitung. Berapa kali menyebut kata “Saya” dalam sehari?. Nah, coba setiap hari hitung. Selanjutnya dikurangi sedikit demi sedikit. Jika kata ”Saya” dipandang tidak perlu diucapkan, maka tidak usah dikeluarkan. Minimal untuk mengurangi polusi ucapan.

Terus lakukan itu setiap hari semampunya. Apakah bisa? Kalau tidak bisa tidak perlu dipaksakan. Biarlah ego mengalir apa adanya. Kan ada orang lain yang bisa menilai apakah kata ”Saya” yang diucapkan menunjukkan keegoan atau hanya sekadar kebiasaan saja.

Analoginya sangat sederhana, ketika kita menilai orang lain berarti diri kita juga sedang dinilai orang. Bahkan perkataan yang kita ucapkan merupakan bentuk penilaian terhadap diri sendiri. Orang lain tinggal melihat bahwa segala ucapannya menunjukkan pribadinya.
Kuncinya terletak pada kesadaran ketika menempatkan ego dalam diri kita. Karena setiap manusia memiliki ego yang bergerak sebagai motor aktualisasi diri. Pergerakan ego sangat dinamis. Bayangkan apabila kita tidak memiliki ego, hidupnya tak bergairah tanpa motivasi.

Belajar menghitung dengan mengurangi menyebut kata ”Saya” hanya sebagai penyeimbang saja. Karena saat berbicara ada orang lain yang perlu dipahami, posisinya sama dengan diri kita juga.

(30 Jan 2009, for my blog).





Selanjutnya......

Amplop di Majelis Taqlim

(Catatan lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Entah ada angin apa, tiba-tiba saya dapat undangan memberi ceramah di majelis taqlim. Awalnya keberatan, karena memang tidak biasa menjadi nara sumber di majelis taqlim. Tapi setelah ketua mejelis taqlim menjeleskan formatnya, akahirnya saya bersedia. Mereka menginginkan agar saya mengurai tentang masalah psikologi yang dikaitkan dengan agama. Penyajian yang ditawarkan adalah interaktif atau ada sesi dialog.

Wah, tentu saja sangat menarik. Karena saya memang sudah terbiasa menjadi nara sumber di radio. Atau moderator di acara seminar tentang psikologi. Atau juga sudah langganan diwawancara media saat ada kasus terkait psikologi. Jadi, gak masalah kalau formatnya interaktif.

Acaranya dimulai usai shalat maghrib sampai masuk waktu shalat isya’. Menjelang waktu maghrib tiba sudah berangkat. Setelah agak lama menunggu ketua majelis taqlim, akhirnya dia muncul juga. ”Assalamu’alikum ustadz.” sapanya dengan ramah. ”Hah....saya dipanggil ustadz?” pikirku dalam hati agak terkejut. ”O...iya pak wa’alaikumsalam.....” jawabku sambil bersalaman.

Akhirnya kami masuk masjid menunggu kumandang adzan. Satu persatu jamaah datang. Ruang dalam masjid dipenuhi jamaah laki-laki. Dan di teras masjid dipenuhi jamaah perempuan.

Tiba-tiba saya teringat akan panggilan ustadz. Daripada ditahan-tahan, saya berbisik kepada ketua majelis taqlim ”Pak...gak usah dipanggil ustadz lah...” bisikku. ”Ah...gak apa-apa, harus diamini lho ustadz, jangan ditolak panggilan itu.” jawabnya serius walau sambil senyum-senyum.

Saya terdiam lagi, tapi tiba-tiba terlintas dipikiran...”Kalau ustadz berarti saya nanti dapat amplop...” pikirku agak nakal. Karena sering saya lihat, ustadz selesai memberi ceramah atau berkhutbah jum’at selalu disalami amplop oleh panitia masjid.

Tapi, gimana kalau nanti dikasih amplop beneran ya....? kalau ditolak gak enak. Tapi kalau diterima....kan di masjid seharusnya cari amal gak usah mengharap amplop. Aduh...kenapa sih harus berpikir seperti itu? tanyaku dalam hati. ”Ah....mudah-mudahan gak ada amplop-amlopan lah.” pikirku tegas agar perasaan itu hilang.

Untung adzan berkumandang, sehingga pikiran itu hilang sendirinya. Ketika tiba waktunya saya memperkenalkan diri. Selanjutnya mengurai topik yang dibahas. Alhamdulillah berjalan lancar. Jamaah sangat antusias mendengarkan dan bertanya. Sehingga sesi tanya jawab betul-betul berjalan hangat, khususnya dari ibu-ibu. Sampai-sampai waktu begitu tak terasa bergulir. Terpaksa dialog harus dihentikan karena sudah masuk waktu isya’.

Usai shalat isya’ berjamaah, saya bersalaman dengan seluruh jamaah laki-laki. Sebelum pulang masih ke kamar kecil dulu. Busyet....lagi-lagi saya teringat amplop. Mau langsung nyelonong pulang gak mungkinlah. Setelah berbincang-bincang dengan beberapa pengurus masjid, saya pamitan. Terakhir salaman dengan ketua majelis taqlim.

Ketika salaman dia sambil berbisik ”Ustadz, ini ada amplop mohon diterima ya ustadz...” bisiknya. ”Wah...kejadian deh.” pikirku dalam hati. Akhirnya saya berbisik ke dia ”Pak, gak usah lah, saya ihlas dan senang diundang” kataku dengan suara lembut. ”Mohon diterima ustadz, ini sudah memang dianggarkan kok.” sahutnya dengan bijak.

Akhirnya saya terima amplop tersebut dengan perasaan ihlas. Dalam perjalanan pulang, setelah agak jauh dari majelis taqlim, saya buka pelan-pelan amplop tersebut tentunya dengan perasaan ihlas juga. Alhamdulillah isinya Rp. 200.000. Lumayan untuk mampir ke warung membeli makanan kesukaan. Tapi, lagi-lagi pikiran nakalku mulai hitung-hitungan ”Coba setiap minggu dapat undangan di majelis taqlim, lumayan untuk nambah uang saku hehehe.” pikirku sambil makan sop daging sapi.

(20 Jan 2009)






Selanjutnya......

Adil dalam Poligami

(Catatan lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Seorang laki-laki yang hidup dalam taraf ekonomi dan pendidikan kelas bawah nekat berpoligami. Istri pertamanya bernama Sapnah, sedang istri terbarunya bernama Hasanah.

Semenjak menikah lagi dengan Hasanah membuat hati Sapnah uring-uringan. Hatinya selalu terbakar dengan rasa cemburu. Setiap hari pembawaannya cemberut terus. Wajahnyapun kelihatan kusut akibat rasa cemburu bercampur tidak rela suaminya nikah lagi.

Sapnah memang berpendidikan rendah tidak tamat SD. Tidak hanya dalam pengetahuan umum saja dia sangat minim, tapi juga dalam ilmu agama. Bisa dikatakan dia itu wanita yang oon. Walaupun bisa mengerjakan shalat tapi do’a-do’a shalat banyak yang belum hafal. Dalam mengerjakan shalatpun hanya semaunya saja kalau lagi mood.

Berbeda dengan Hasanah, istri keduanya ini tergolong berpendidikan menengah. Pengetahuan agamanya juga lumayan. Shalatnya selalu dijaga. Walau tidak termasuk wanita yang alim, tapi selalu mengajak suaminya shalat berjamaah.

Karena lama-lama tak kuat menahan perasaan. Akhirnya Sapnah menyampaikan uneg-unegnya pada suaminya. ”Kenapa sih abang sangat sayang sama si Hasanah?” tanyanya dengan nada ketus. ”Kan dia istri abang juga wajar kan kalau harus disayang.” jawab suaminya enteng.

Tapi Sapnah masih tidak puas dan terus mencerca dengan pertanyaan nada sinis. ”Tapi abang rasa sayangnya berlebihan, apa karena si Hasanah cantik, masih muda jadi abang tidak suka lagi sama saya ya...?” katanya dengan suara yang sangat tidak enak didengar.

Dengan sedikit bijak, suaminya menjawab ”Bukan karena itu, yang abang suka sama Hasanah cuma satu saja, dia orangnya selalu mengajak abang shalat berjamaah.” sahutnya sambil menatap Sapnah. ”Ooo... cuma itu saja bang, kalau cuma itu saya juga bisa mengajak abang shalat berjamaah, mulai sekarang kita shalat berjamaah.” ujarnya masih dengan nada ketus.

Sapnah menepati janjinya. Saat waktu shalat tiba ketiganya melaksanakan shalat berjamaah. Mungkin dalam seumur hidup, ini merupakan shalat jamaah pertama bagi Sapnah.

Ketiganya shalat begitu khusuk. Usai shalat mereka zikir. Sebagai imam si suami membacanya dengan keras. Do’a yang dibaca juga cukup keras agar diamini kedua istrinya. Tibalah si suami membaca do’a penutup ”Rabbana atina fiddunya Hasanah wafil akhirati Hasanah wakina adzabannar”.

Mendengar do’a seperti itu Sapnah naik darah, dengan wajah kusut ditekuk dan memerah. Langsung mendamprat dengan nada melengking. ”Abang ini betul-betul keterlaluan, sudah gak sayang lagi sama saya ya, yang dido’akan si Hasanah terus, sampai-sampai namanya disebut dua kali dalam do’a Hasanah....Hasanah....” hardiknya sambil sedikit menangis.

Suaminya sedikit bingung dan berpikir sejenak. Setelah agak tenang suaminya berkata sama Sapnah. ”Baiklah abang akan berdo’a lagi”. Ucapnya. Akhirnya do’a-nya diulang dengan suara yang keras. ”Rabbana atina fiddunya Hasanah wafil akhirati Sapnah wakina adzabannar”. Mendengar namanya disebut dalam do’a hati Sapnah langsung tenang dan berkata ”Nah gitu bang kalau berpoligami itu harus adil.” ucapnya dengan perasaan legah.

(21 Jan 2009)





Selanjutnya......

Rabu, 14 Januari 2009

Sajak Sufistik

”Banang Merah di Titian Hati”
Benang merah terus terburai di sepanjang lorong hati
Tak pernah lepas terajut indah di kepakan sayap cinta
Para bidadari berdansa menikmati fatamorgana seribu hati

Sang seribu hati
Satu persatu berpetualang melanglang jagad amora
Sang seribu hati
Siap menjadi pahlawan dengan terus mengepakkan sayap cinta

Pedang di sayap hatinya tak pernah lengah dari pandangan mata jiwa
Lengah berarti hilangnya kesempatan
Apalagi sampai tercecer di sudut akal
Lebih sakit lagi jika terhempas di sayatan hati

Jiwa-jiwa tak henti-hentinya mengejar seribu hati
Padahal hanya satu yang mampu bersandar di ruangnya
Ada ruang kosong yang terus memelas pada mata jiwa
Bersimpuh luluh agar tak pernah ada jarak dengan hati

Mata hati begitu tajam memandang setiap jengkal kesempurnaan
Walau terkadang kesempurnaan harus menjadi bagian kekurangan
Cinta kadang harus kejam sebengis kematian
Sampai mata jiwa terpejam di pelukan hati yang kosong

Benang merah terus terburai.....
Mencari titik persinggahan hati....
Melanglang jagad nurani....
Menempuh perjalanan jiwa....

Terus berjalan...berlari...bersaing dengan seribu hati
Tak pernah lelah sampai sayapnya terhempas ke titian logika
Para bidadari masih terus menikmati fatamorgana hati
Hati yang terus menari menunggu ketegasan takdir

Siap-siaplah terhempas ..............
Karena cinta hanya ada saat kejujuran tersadar
Berdansalah dengan seribu bidadari ketika pedang di sayap cinta menghunus titik hati
Dan menangislah di saat benang merah harus tercecer tak mampu menyentuh hati
Cinta akan terus ada walau tanpa harus berpetualang dengan pedang di sayapnya
Sebab jiwa terlahir dari rajutan cinta



“ Jarak Hati “
Ketika waktu bergeser menuju sepertiga malam
Hati membangunkan logika untuk berdialog.

“Mengapa ketika sedang dalam keadaan marah harus berbicara dengan suara yang kuat atau berteriak.” tanya hati memulai.

Logika terdiam sejenak, kemudian menjawab “ Karena saat seperti itu telah kehilangan kesabaran.”

“Tapi...” sang hati balik bertanya .” Bukankah lawan bicara berada di dekatnya, mengapa harus berteriak? Apakah tidak bisa berbicara dengan halus?”.

Logika semakin terdiam, terus mencoba dengan seribu argumen.
Namun, tak satupun jawaban menyentuh ruang sang hati.
Terdiam lemah tak mampu bengkit dari keakuannya.

Sang hati berkata ” Ketika sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati akan menjauh walau kedua jasad begitu dekat.
Jarak kedua hati akan menjauh sampai tak tersentuh akal.
Untuk menggapainya harus terus berteriak...teriak....dan berteriak!
Aneh....semakin keras berteriak, jarak hati makin terpisah.
Dan....jarak hati makin menjauh tak mampu digapai.

Sang hati melanjutkan ” Sebaliknya, apa yang terjadi ketika sedang jatuh cinta?
Hati begitu dekat...tak berjarak!
Kedua hati hanya dibatasi ruang tipis laksana titian rambut dibelah tujuh.
Suara yang halus akan terdengar indah, tanpa harus berteriak.
Akhirnya....sepatah katapun tak perlu diucapkan.
Sekerdip pandangan mata sudah cukup memahami pesan.

Sang hati terus melanjutkan ” Ketika sedang dilanda kemarahan janganlah menciptakan jarak hati. Tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara bijaksana.”

Usai berdialog, kuhempaskan jasadku dan kusucikan jiwaku dengan air wudu’.
Sujud shalat malam, agar hati dan logikaku terus mendekat kepada Allah.
Hingga tak berjarak....luluh dalam dekapan istighfar.

Batam, 11 Des 2008 (Telah dipublikasikan di Media Nasional Harian Batam Pos)


Selanjutnya......

Kita Sudah Jadi Raja

Raja selalu diidentikkan dengan kekuasaan otoritir, kehidupan yang serba wah, serta berlimpah harta, wanita dan kesenangan.

Tapi, tahukah kalau kita sekarang sudah menjadi raja?

Dulu, sang raja ketika duduk di singgasananya selalu diapit oleh dayang-dayang yang mengipas tubuhnya sepanjang waktu agar tidak kepanasan. Tapi, sekarang kita tidak perlu itu, cukup memakai kipas angin, atau bisa memakai AC kan tinggal diremot saja, praktis bukan?!! Kalau tidak punya AC sendiri cukup nongkrong di mall dijamin kita dimanjakan dinginnya AC melebihi kipasan dayang-dayang sang raja.

Sang raja, untuk mendapatkan hiburan harus mengundang para penari atau pelaku seni yang memberi persembahan di depan singgasananya. Ah...itu, sungguh merepotkan ! Sekarang kita bisa lebih praktis lagi. Cukup duduk atau tidur-tiduran di depan televisi, silahkan tekan remot kontrol dan tinggal pilih chanel mana yang paling disuka.

Untuk bepergian, sang raja harus mempersiapkan kuda dengan keretanya. Jarak dan kecepatan yang akan ditempuh juga masih sangat terbatas. Saat ini, kita bisa melakukannya lebih praktis lagi. Bisa memakai motor, mobil ber AC. Kalau jarak tempuh jauh, kita bisa menggunakan kapal atau pesawat terbang. Bahkan, kita bisa memilih untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik.

Saat berkomunikasi jarak jauh, sang raja harus membuat surat khusus yang dikirim melalui petugas kerajaan. Kadang, pengirim surat harus dikawal pengaman kerajaan. Dan, untuk mendapatkan balasan dari koleganya harus menunggu waktu lama. Tapi, saat ini kita cukup tekan nomor lawan bicara melalui ponsel, Bisa SMS, MMS atau 3G. Kita tinggal menekannya kapan saja yang dimau!!

Konon, sang raja juga doyan mencari selir dan mengencani wanita-wanita pilihannya. Nah, biasanya tempat kencan yang dipilih harus ke hutan di pelosok desa yang jauh dari kerajaan. Ini, tentu saja agar tidak ketahuan rakyatnya. Kita, tidak perlu serepot itu !! Kencan dengan wanita tinggal pilih penginapan, losmen, atau hotel yang terjangkau. Dijamin dimanjakan dengan fasilitas menyenangkan, dan pastinya akan aman-aman saja !

Husstt...konon juga sekarang ini banyak pejabat-pejabat yang tidak mau kalah dengan sang raja dalam hal mencari selir. Kencannya juga tidak perlu pergi jauh-jauh ke hutan. Tinggal pilih hotel berbintang yang nyaman dan aman. Yang penting, ketika muncul ke publik didampingi istri resminya.

Kita tidak perlu iri lagi dengan sang raja, karena kita sudah menikmati fasilitas lebih dari apa yang pernah dinikmati sang raja. Selamat menjadi raja !!



Selanjutnya......

Si Ande-Ande Lumut

Belajar Harga Diri dari Andi-Ande-Ande Lumut
Cerita Ande-Ande Lumut sudah melegenda. Dia adalah raja tampan, kaya dan sedang membutuhkan permaisuri. Maka diumumkan kepada khalayak ramai. Langsung, wanita-wanita cantik dari penjuru negeri datang mengadu nasib. Mereka berdandan cantik agar hati Ande-Ande Lumut kepincut.

“Betapa bahagianya apabila dipersunting Ande-Ande Lumut”. Begitu pikiran yang diimpikan para wanita kala itu.

Satu persatu datang ke singgasananya. Wanita-wanita yang merasa memiliki wajah dan body pas-pasan sebaiknya tahu diri untuk tidak nekat ikut “audisi”. Pasti akan tersingkir karena saingannya berat. Seleksi berjalan sangat ketat. Kira-kira tidak jauh beda dengan audisi Indonesia Idol atau Kontes Dangdut KDI.

Di balik kisah sukses kontestan ada cerita unik dan menarik. Ada tiga gadis-gadis cantik yang berangkat dari pelosok desa untuk ikut seleksi. Tapi, gadis yang satu sangat lugu. Tidak pandai bersolek dan kelihatan sangat ”ndeso” alias kampungan.

Menurut pandangan kedua temannya, gadis lugu itu gak masuk perhitungan. ”Ah...gak gaul banget, mana mungkin sang raja mau, gak level dong..” begitu pikir kedua gadis tersebut. Mereka berangkat dengan sejuta harapan, yakin lolos seleksi. Bahkan, bukan mustahil keduanya bakal dipersunting Ande-Ande Lumut.

Perjalanan yang ditempuh sangat jauh menuju kerajaan. Make up di wajah kedua gadis itu harus terus dipoles karena luntur oleh keringat. Berbeda dengan gadis satunya, tidak ambil pusing dengan keringat di wajahnya. Karena memang tanpa polesan make up.

Tapi sial, perjalanan mereka harus terkendala. Karena harus menyeberang sungai yang airnya deras. Ketika mau menyeberang sungai mereka harus berhadapan dengan kepiting raksasa (yuyu kangkang) penunggu sungai tersebut.

”Kepiting, tolong seberangkan aku agar cepat sampai menemui Ande-Ande Lumut.” pinta salah seorang gadis tersebut. ”Berenang saja...” sahut si kepiting sambil senyum-senyum. ”Mana mungkin, kan aku sudah dandan cantik gini.” sahut kedua gadis itu hampir bersamaan. ”Baik...” sahut si kepiting sambil melanjutkan negosiasi. ”Aku mau mengantarkan kalian, asal saya boleh mencium pipi kalian bertiga.” pintanya. Mereka bertiga berpikir sejenak, dan akhirnya sepakat. ”Baik gak apa-apa kan cuma dicium kepiting aja.” pikirnya enteng.

Akhirnya kepiting mulai menyeberangkan satu gadis terlebih dahulu. Sementara dua gadis lainnya masih menunggu. Saat menunggu itu, gadis lugu yang tak pandai bersolek pikirannya mulai berontak. “Ih....aku gak mau dicium si kepiting, lebih baik berenang daripada menyerahkan pipiku untuk dicium.” pikirnya.

Akhirnya gadis tersebut punya akal. Dia mencari kotoran sapi di sekitar pinggir sungai. Dan mengoleskan kotoran sapi itu ke seluruh wajahnya. Ketika gilirannya, si kepiting menyeberangkan gadis tersebut. Begitu sampai di pinggir sungai, si kepiting tidak mau menciumnya. “Sudah kamu pergi saja, aku gak mau menciummu karena bau dan wajahmu jelek.” ujar si kepiting dengan nada ketus.

Usai diantar, gadis lugu tersebut mencuci wajahnya sampai bersih. Kecantikan alaminya terpancar. Kulitnya yang putih dan halus tampak bercahaya. Kemudian ketiganya melanjutkan perjalanan.

Singkat cerita, ketiga gadis tersebut sampai di kerajaan. Setelah melalui antrian panjang peserta, akhirnya sampai juga pada gilirannya. Audisi berlangsung sangat ketat. Semua wawancara dilakukan sendiri oleh Ande-Ande Lumut. Tidak ada komentator layaknya Simon Powel, Paula Abdul dan Randy Jackson dalam America Idol.

Juga tidak ada cerewetnya komentar seperti Ivan Gunawan (Mamamia Indosiar) yang berkaitan dengan mode pakaian. Atau kritikan pedas Beny Simanjuntak dan Ikke Nurjanah yang berkaitan dengan penampilan dan kualitas vokalnya. Semua keputusan layak atau tidaknya berada pada mulut Ande-Ande Lumut. Penentuan pemenang kontestan juga tidak berdasarkan hasil SMS dari masyarakat.

Satu persatu ketiganya diaudisi oleh sang raja. Mulai dari riwayat hidup, keluarga, sampai perjalanan akhirnya bisa sampai ke kerajaan. Ande-Ande Lumut penasaran bagaimana bisa ke kerajaan dan menyeberangi sungai yang airnya deras. Mereka menceritakan pengalamannya.

Sebenarnya Ande terpesona juga dengan kecantikan gadis-gadis tersebut. Cuma sayang sekali, Andi memutuskan dari ketiganya hanya satu si gadis lugu yang lolos audisi untuk jadi istrinya. ”Hah...gak salah tuh...!! ” tukas keduanya dengan nada heran.

”Apakah baginda gak salah pilih...?” tanya mereka lagi penasaran. ”Oo...tidak, ini sudah keputusan yang paling tepat...!! ” tegas sang raja. ”Kenapa baginda lebih memilih gadis lugu ini?” tanya mereka lagi. Sang raja dengan tanang menjawab alasannya. ”Karena kalian sudah dicium kepiting, sedangkan temanmu tidak ternoda oleh ciuman kepiting.” jawabnya bijak.

Sungguh, kedua gadis tersebut sangat terperanjat. ”Maaf baginda, kan cuma dicium kepiting, apa pengaruhnya? tidak ada yang ternoda? kami masih perawan....kalau gak percaya kami siap diaudisi keperawanan kok.” jawab keduanya senada.

Sambil tersenyum baginda menjelaskan lagi. ”Kalian harus belajar dengan harga diri dan kehormatan wanita. Bukankah seharusnya kalian bisa menjaganya walaupun hanya satu colekan dari yang bukan haknya. Yang memiliki hak untuk menyentuhmu adalah suamimu. Bukan laki-laki lain, bukan pacar, atau mahluk lain.

Kenapa kalian relakan harga diri dan kehormatanmu runtuh hanya sebuah ambisi. Jagalah kemuliaan dirimu sebagai wanita. Hati-hati dalam melangkah.” urainya dengan bijak. Selanjutnya sang raja memutuskan bahwa yang berhak menjadi istrinya adalah gadis yang dipandang lugu, ndeso. Dia sebenarnya gadis yang mulia, karena sanggup menjaga harga diri dan kemuliaan dirinya.

Wah...di zaman sekarang ini rasanya susah mencari gadis seperti itu. Sudah banyak terjadi gadis-gadis yang gonta-ganti pacar. Baru pecaran sehari saja sudah main pegang-pegangan. Berciuman, pelukan, bahkan cek in di hotel sudah biasa. Padahal, belum tentu akan menjadi suaminya.

Bahkan, betapa banyak kasus hamil di luar nikah. Tapi anehnya, hal itu dipandang wajar-wajar saja. Setiap ganti pacar selalu melakukan seperti itu lagi. Kasihan suaminya nanti karena sudah dapat bekas orang lain. Bahkan, ada pandangan salah kaprah di zaman sekarang ini kalau remaja masih perawan gak gaul. Aduh biung....berarti suaminya kelak hanya dapat barang sisa dong...!! Tapi, anehnya si laki-laki juga menganggap hal itu wajar-wajar saja.

Katanya sih, setiap orang memiliki masa lalu. Biarlah berlalu seperti apa dulunya, keperawanan gak perlu diperiksa segala. Apalagi sampai menanyakan sudah pernah dicium cowok atau belum? Ih...norak sih kalau sampai gitu. Bukankah saat pacaran pegang-pegangan, peluk-pelukan dan ciuman sudah biasa? Lantas kenapa harus dipersoalkan?!.

Zaman sekarang ini mana ada cewek yang masih suci dari sentuhan laki-laki...? Kecuali yang memang gak pernah pacaran? Iya gak? (Maaf itu pandangan orang secara umum lho, bukan bermaksud merendahkan kaum hawa). Coba deh...bandingkan dengan kisah Ande-Ande Lumut. Wow....bagaimana si gadis lugu mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sampai melulur wajah cantiknya dengan kotoran sapi.

Dan bagaimana juga sikap Ande-Ande Lumut yang begitu respek memperhatikan kehormatan kaum wanita. Ada gak ya cewek sekarang yang berani mengatakan tidak demi menjaga kemuliaannya? Atau, apa ada cowok yang seselektif Ande-Ande Lumut dalam mencari istri? Wow....susah juga tuh !! Pasti ada, hanya bergantung dari kejujurannya saja.

Globalisasi pergaulan sekarang ini memang terkadang harus memaksa para gadis-gadis rela memenuhi permintaan cowok idamannya. Begitu juga si cowok, sepertinya harus rela mendapat istri yang pernah dipegang-pegang atau dielus-elus mantan cowoknya.

Apalagi model pacaran anak sekarang sudah begitu bebas. Komitmennya begitu tinggi dan sangat jauh. Baru pacaran saja sudah totalitas layaknya suami istri dalam menjalani kehidupan. Konon, banyak gadis-gadis yang tidak bisa menolak permintaan pacaranya untuk berhubungan fisik, alasannya takut diputus. Alasan lainnya, karena ketika pacaran ingin merasakan kenikmatan-kenikmatan dalam memadu kasih. Ingin merasakan romantisme, kehangatan dengan kekasih. Dan hal tersebut dipandang wajar karena arus informasi yang biasa diterima.

Benteng harga diri, kehormatan dan menjaga kemuliaan memang menjadi hal utama. Fondasi agama yang teguh dan kokoh bisa menjadi filter dalam menjaganya. Kisah Ande-Ande Lumut memberi apresiasi bagi kaum laki-laki dan perempuan. Bukan sebagai bentuk diskriminasi, melainkan suatu komitmen dalam mengangkat harkat, martabat, kemuliaaan dan harga diri seorang wanita.

** Tulisan ini hanya sebuah ilustrasi yang dibuat secara ringan dan sedikit bumbu humor dengan tidak mengurangi inti dari dongeng Ande-Ande Lumut.






Selanjutnya......