Senin, 08 Februari 2010

Visit Batam 2010, Visit Imej Wisata

Opini Batam Pos, Rabu, 27 Januari 2010

Oleh: Mahmud Syaltut Usfa S.Psi
(Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Geliat Visit Batam 2010 makin marak. Genderang untuk mendongkrak sektor wisata terus ditabuh. Di berbagai media, spanduk, even dan publikasi lainnya tiada henti. Dinas Pariwisata Kota Batam juga bekerja maksimal tanpa lelah.

Berbicara pariwisata sangat erat hubungannya dengan psikologis. Kita pasti sepakat, bahwa tujuan pariwisata adalah untuk mendapatkan rekreasi. Namun, bukan berarti bersenang-senang, melainkan secara harfiah adalah diciptakan kembali (re-kreasi).

Dengan kata lain menciptakan kembali atau memulihkan kekuatan dirinya, baik fisik maupun spiritual. Batam banyak memiliki tempat wisata menarik. Mulai dari keindahan alam, wisata religi, shoping, sampai yang bersifat hiburan. Tentunya kondisi tersebut merupakan modal potensial dalam menggaet wisatawan.

Namun, salah satu modal terbesar dalam dunia wisata adalah adanya kekuatan area psikologis yang kuat pada daerah bersangkutan. Sehingga sangat berpengaruh terhadap perasaan, motivasi, kognisi bahkan sikap wisatawan sebelum menginjakkan kaki di daerah tujuannya.

Ambil saja contoh Jogjakarta. Sangat melekat dengan kota budaya dan pelajar. Ketika orang ingin berkunjung ke Jogja, area psikologisnya sudah terasa. Kondisi seperti itu akan berpengaruh pada sikap, bahwa kalau sampai di Jogja nanti harus santun serta bersikap terpelajar. Sasaran wisatanya pun juga jelas, yaitu berwisata budaya.

Contoh lain, Kota Malang terkenal sebagai kota dingin. Daerah wisata banyak difokuskan di puncak. Sampai-sampai sebelum berangkat ke Malang orang sudah merasakan dingin lebih dahulu. Menciptakan imej pada area psikologis ini sangat penting. Karena akan mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku wisatawan.

Ibarat orang yang akan berangkat ke tempat ibadah, pasti jiwa dan hatinya sudah muncul kepasrahan kepada Tuhan. Cara jalannya pun sudah berpengaruh. Berbeda apabila orang mau berangkat ke diskotik, pikirannya dipenuhi perasaan enjoy bahkan nafsu maksiat.

Seperti apa imej psikologis Batam? Setidaknya ada tiga yang masih melekat pada area psikologis masyarakat luar. Pertama, Batam masih dipandang sebagai kota ”surga elektronik” termasuk barang-barang seken Singapura. Ketika akan berkunjung ke Batam perasaan yang melekat adalah belanja elektronik.

Namun sayang, sekarang pada realitasnya sudah mulai bergeser. Harga barang-barang elektronik sudah hampir tidak ada bedanya dengan kota-kota lain di luar Batam. Begitu juga kawasan perdagangan barang-barang seken sudah makin menyusut seiring dengan adanya penertiban.

Imej kedua, maaf, kita tidak bisa menampik hingga saat ini imej Batam masih melekat sebagai kota hiburan dan maksiat. Sangat sedih apabila melihat orang-orang berkunjung ke Batam lebih banyak ”buang hajat” ketimbang menikmati objek wisata.

Ketiga, Batam selalu dikait-kaitkan kedekatannya (secara geografis) dengan Singapura. Pemandangan kota pulau tersebut menjadi daya tarik para pendatang. Bahkan, sekadar ”ngintip” Singapura saja sudah senang. Di posisi ini Batam hanya menjadi sebuah objek yang daya tarik terbesarnya tetap Singapura.

Pertanyaannya, apakah imej tersebut mau dirubah atau tetap dipertahankan? Imej dalam suatu daerah adalah bagian dari kepribadian. Taruhannya adalah harga diri. Membangun imej tidak semudah membangun infrastruktur. Sebagai warga Batam pasti malu jika melihat wisatawan berprilaku seenaknya. Akhirnya daerah kita tidak memiliki kewibawaan. Ini terjadi karena salah membentuk imej.

Visit Batam 2010 adalah pekerjaan rumah besar dalam membangun area psikologis wisata Batam. Tantangan ke depan tidak hanya pengembangan mutu lingkungan. Walau harus diakui dalam industri pariwisata, lingkungan itulah yang sebenarnya dijual. Karakter lingkungan akan memunculkan imej psikologis bagi para wisatawan.

Mempromosikan lokasi-lokasi wisata adalah sebagai pelengkap. Karena di daerah-daerah lain juga memiliki fasilitas yang sama, bahkan lebih. Sebut saja jembatan Barelang. Itu hanya sebuah ikon (master face). Kalau terlalu ditonjolkan malah terlihat ketinggalan jauh dibanding Jembatan Ampera di Palembang atau Jembatam Suramadu di Jawa Timur.

Daya dukung lingkungan pariwisata dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu tujuan wisatawan dan faktor lingkungan biofisik lokasi pariwisata. Dengan adanya tujuan khusus, di samping ingin mendapatkan hiburan, wisatawan tentulah mengharapkan untuk mencapai tujuan khusus. Harapan itu akan menciptakan suatu kondisi psikologi tertentu pada wisatawan.

Melihat dari kondisi yang ada, Batam sangat tepat apabila membangun imej psikologis melalui ”pelangi budaya”. Keaneka ragaman budaya dari seluruh Indonesia sudah terbentuk di Batam. Ini merupakan nilai plus yang tidak dimiliki daerah lain. Menggali dan menampakkan keberagaman seni budaya adalah cara jitu membangun emej.

Membangun imej melalui sendi-sendi budaya merupakan cara santun “mengajari” para wisatawan bersikap. Dengan keberagaman budaya daerah lain, maka akan banyak cahaya budaya masuk ke sendi-sendi masyarakat. Sehingga budaya Melayu sebagai budaya lokal tinggal memayunginya. Tentu saja dibutuhkan power agar masyarakat luar sadar dan akhirnya secara psikologis terkondisi persepsinya.

Sekecil apapun budaya yang dimiliki oleh kota tersebut harus dikendalikan, dipupuk, dan disemarakkan. Sehingga cahaya-cahaya budaya terus mengalir ke sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ini merupakan bagian sangat penting untuk menyeimbangkan dengan pembangunan tempat-tempat wisata (rekreasi).

Wisata Batam membutuhkan ”cahaya kuat” untuk memancarkan sendi-sendi budaya agar terus masuk ke jantung imej masyarakat luar. Memberdayakan budaya daerah suatu keharusan. Tidak jadi persoalan sekalipun dimulai dari persembahan serimonial. Pagelaran serimonial baik tarian, karya sastra, kompang, sampai pakaian dan lain-lain merupakan cara pengumpulan serpihan-serpihan budaya yang ada. Asal terus dikembangkan dan bukan sekadar pageleran sambil lalu.

Kita berharap Visit Batam 2010 tidak hanya membangun tempat-tempat wisata. Melainkan juga membangun suatu imej yang masuk ke area psikologis wisatawan. Dengan kerja keras pemerintahdan dukungan masyarakat, bukan mustahil kondisi tersebut bisa dicapai. Visit Batam 2010 ***






Selanjutnya......

Kamis, 28 Januari 2010

Hobi Musik Jadi Bisnis

Batam Pos, Minggu, 01 November 2009

Mahmud Syaltut Usfa, Pemilik Fazriel Music Studio
Bermula dari hobi bermusik, Mahmud Syaltut Usfa mulai berbisnis studio musik.

ANDRIANI, Wartawan Batam Pos

Di antara menjamurnya grup band di Kota Batam terselip peluang bisnis rental studio musik untuk ajang berlatih. Peluang bisnis inilah yang coba ditangkap oleh Mahmud Syaltut Usfa. Ia dan saudaranya bekerjasama mendirikan Fazriel Music Studio, rental & entertainment di Tiban Kampung 12 Oktober 2009.

Benar saja, begitu dibuka banyak anak-anak band yang mau berlatih musik di studio musik miliknya. Utamanya saat pulang sekolah hingga malam hari.

Apalagi kalau akhir pekan, anak band yang mau menyewa studio musik harus rela mengantre. Studio musik milik Syaltut berbeda dengan studio musik kebanyakan di Batam.

Studio musik Fazriel berstandar musisi. Dengan kondisi seperti ini anak-anak band yang berlatih musik bisa nyaman bermain musik. ”Saya tidak ingin menyediakan studio musik yang asal-asalan meski mereka yang main musik di studio musik kebanyakan para pemula,”kata Syaltut.

Semua alat-alat musik di sini serba baru. Tidak ada yang seken dan full AC. Selain itu ruangannya juga kedap suara dengan sangat standar. Semuanya dilapisi peredam suara. Dengan begitu suara dari luar tidak mengganggu anak band yang sedang berlatih musik. Sebaliknya, suara bising dari studio musik juga tidak terdengar oleh tetangga di kiri dan kanan studio musik.

Dengan menghadirkan studio musik berkualitas standar musisi Syaltut harus mengeluarkan modal sekitar Rp30 jutaan hanya untuk satu ruang studio musik. Ke depan Fazriel Music Studio ini akan dilengkapi dengan fasilitas rekaman.

Usaha studio musik yang dirintis Syaltut tidak terlepas dari hobinya. Pria asal Bawean, Jawa Timur ini mengaku sudah mulai bermain musik sejak kelas 4 SD. Hobinya bermain musik terus dilakoni sampai beranjak remaja hingga duduk di bangku kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, jurusan Psikologi.

Begitu pun saat kini sudah sibuk bekerja di Hang Nadim Malay School. Bermain musik sudah seperti menjadi bagian hidup yang tidak bisa dilepaskan. “Ini usaha komunitas. Saya enjoy dengan usaha seperti ini,” kata Syaltut, Pemilik Fazriel Music Studio di Tiban Kampung.

Di studio musik Fazriel, tak hanya anak remaja yang sudah jago ngeband yang jadi langganannya. Ada juga anak-anak yang datang baru belajar musik. ”Ada anak yang minta diajari main gitar, ya saya ajari, ” katanya.

Hanya saja Syaltut mengaku hanya bisa mengajari beberapa anak saja. Maklum saja saat ini Syaltut juga sibuk menahkodai Hang Nadim Malay School. Biasanya saya berada di studio musik sehabis pulang kerja, di atas jam empat sore. Meski sudah sehari bekerja Syaltut tetap semangat mengurus usahanya. ”Sudah cita-cita saya punya studio musik. Di sini saya juga bisa latihan,” katanya. ***







Selanjutnya......

Rabu, 27 Januari 2010

Visit Batam 2010, Visit Imej Wisata

Opini Batam Pos, Rabu, 27 Januari 2010

Oleh: Mahmud Syaltut Usfa S.Psi
(Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)


Geliat Visit Batam 2010 makin marak. Genderang untuk mendongkrak sektor wisata terus ditabuh. Di berbagai media, spanduk, even dan publikasi lainnya tiada henti. Dinas Pariwisata Kota Batam juga bekerja maksimal tanpa lelah.

Berbicara pariwisata sangat erat hubungannya dengan psikologis. Kita pasti sepakat, bahwa tujuan pariwisata adalah untuk mendapatkan rekreasi. Namun, bukan berarti bersenang-senang, melainkan secara harfiah adalah diciptakan kembali (re-kreasi).

Dengan kata lain menciptakan kembali atau memulihkan kekuatan dirinya, baik fisik maupun spiritual. Batam banyak memiliki tempat wisata menarik. Mulai dari keindahan alam, wisata religi, shoping, sampai yang bersifat hiburan. Tentunya kondisi tersebut merupakan modal potensial dalam menggaet wisatawan.

Namun, salah satu modal terbesar dalam dunia wisata adalah adanya kekuatan area psikologis yang kuat pada daerah bersangkutan. Sehingga sangat berpengaruh terhadap perasaan, motivasi, kognisi bahkan sikap wisatawan sebelum menginjakkan kaki di daerah tujuannya.

Ambil saja contoh Jogjakarta. Sangat melekat dengan kota budaya dan pelajar. Ketika orang ingin berkunjung ke Jogja, area psikologisnya sudah terasa. Kondisi seperti itu akan berpengaruh pada sikap, bahwa kalau sampai di Jogja nanti harus santun serta bersikap terpelajar. Sasaran wisatanya pun juga jelas, yaitu berwisata budaya.

Contoh lain, Kota Malang terkenal sebagai kota dingin. Daerah wisata banyak difokuskan di puncak. Sampai-sampai sebelum berangkat ke Malang orang sudah merasakan dingin lebih dahulu. Menciptakan imej pada area psikologis ini sangat penting. Karena akan mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku wisatawan.

Ibarat orang yang akan berangkat ke tempat ibadah, pasti jiwa dan hatinya sudah muncul kepasrahan kepada Tuhan. Cara jalannya pun sudah berpengaruh. Berbeda apabila orang mau berangkat ke diskotik, pikirannya dipenuhi perasaan enjoy bahkan nafsu maksiat.

Seperti apa imej psikologis Batam? Setidaknya ada tiga yang masih melekat pada area psikologis masyarakat luar. Pertama, Batam masih dipandang sebagai kota ”surga elektronik” termasuk barang-barang seken Singapura. Ketika akan berkunjung ke Batam perasaan yang melekat adalah belanja elektronik.

Namun sayang, sekarang pada realitasnya sudah mulai bergeser. Harga barang-barang elektronik sudah hampir tidak ada bedanya dengan kota-kota lain di luar Batam. Begitu juga kawasan perdagangan barang-barang seken sudah makin menyusut seiring dengan adanya penertiban.
Imej kedua, maaf, kita tidak bisa menampik hingga saat ini imej Batam masih melekat sebagai kota hiburan dan maksiat. Sangat sedih apabila melihat orang-orang berkunjung ke Batam lebih banyak ”buang hajat” ketimbang menikmati objek wisata.

Ketiga, Batam selalu dikait-kaitkan kedekatannya (secara geografis) dengan Singapura. Pemandangan kota pulau tersebut menjadi daya tarik para pendatang. Bahkan, sekadar ”ngintip” Singapura saja sudah senang. Di posisi ini Batam hanya menjadi sebuah objek yang daya tarik terbesarnya tetap Singapura.

Pertanyaannya, apakah imej tersebut mau dirubah atau tetap dipertahankan? Imej dalam suatu daerah adalah bagian dari kepribadian. Taruhannya adalah harga diri. Membangun imej tidak semudah membangun infrastruktur. Sebagai warga Batam pasti malu jika melihat wisatawan berprilaku seenaknya. Akhirnya daerah kita tidak memiliki kewibawaan. Ini terjadi karena salah membentuk imej.

Visit Batam 2010 adalah pekerjaan rumah besar dalam membangun area psikologis wisata Batam. Tantangan ke depan tidak hanya pengembangan mutu lingkungan. Walau harus diakui dalam industri pariwisata, lingkungan itulah yang sebenarnya dijual. Karakter lingkungan akan memunculkan imej psikologis bagi para wisatawan.

Mempromosikan lokasi-lokasi wisata adalah sebagai pelengkap. Karena di daerah-daerah lain juga memiliki fasilitas yang sama, bahkan lebih. Sebut saja jembatan Barelang. Itu hanya sebuah ikon (master face). Kalau terlalu ditonjolkan malah terlihat ketinggalan jauh dibanding Jembatan Ampera di Palembang atau Jembatam Suramadu di Jawa Timur.

Daya dukung lingkungan pariwisata dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu tujuan wisatawan dan faktor lingkungan biofisik lokasi pariwisata. Dengan adanya tujuan khusus, di samping ingin mendapatkan hiburan, wisatawan tentulah mengharapkan untuk mencapai tujuan khusus. Harapan itu akan menciptakan suatu kondisi psikologi tertentu pada wisatawan.

Melihat dari kondisi yang ada, Batam sangat tepat apabila membangun imej psikologis melalui ”pelangi budaya”. Keaneka ragaman budaya dari seluruh Indonesia sudah terbentuk di Batam. Ini merupakan nilai plus yang tidak dimiliki daerah lain. Menggali dan menampakkan keberagaman seni budaya adalah cara jitu membangun emej.

Membangun imej melalui sendi-sendi budaya merupakan cara santun “mengajari” para wisatawan bersikap. Dengan keberagaman budaya daerah lain, maka akan banyak cahaya budaya masuk ke sendi-sendi masyarakat. Sehingga budaya Melayu sebagai budaya lokal tinggal memayunginya. Tentu saja dibutuhkan power agar masyarakat luar sadar dan akhirnya secara psikologis terkondisi persepsinya.

Sekecil apapun budaya yang dimiliki oleh kota tersebut harus dikendalikan, dipupuk, dan disemarakkan. Sehingga cahaya-cahaya budaya terus mengalir ke sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ini merupakan bagian sangat penting untuk menyeimbangkan dengan pembangunan tempat-tempat wisata (rekreasi).

Wisata Batam membutuhkan ”cahaya kuat” untuk memancarkan sendi-sendi budaya agar terus masuk ke jantung imej masyarakat luar. Memberdayakan budaya daerah suatu keharusan. Tidak jadi persoalan sekalipun dimulai dari persembahan serimonial. Pagelaran serimonial baik tarian, karya sastra, kompang, sampai pakaian dan lain-lain merupakan cara pengumpulan serpihan-serpihan budaya yang ada. Asal terus dikembangkan dan bukan sekadar pageleran sambil lalu.


Kita berharap Visit Batam 2010 tidak hanya membangun tempat-tempat wisata. Melainkan juga membangun suatu imej yang masuk ke area psikologis wisatawan. Dengan kerja keras pemerintah dan dukungan masyarakat, bukan mustahil kondisi tersebut bisa dicapai. Visit Batam 2010 ***








Selanjutnya......

Sabtu, 23 Januari 2010

SAMA-SAMA SENANG

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Dalam kehidupan ini selalu diciptakan berpasang-pasangan. Ada siang-malam, suka-benci, mulia-hina, dan seterusnya. Ada orang yang melakukan perbuatan bertentangan tapi keduanya dinilai sama-sama menyenangkan. Misalnya, ada orang merasa sanang karena menikah, tapi juga ada yang merasa senang karena bercerai. Merasa senang karena keluar dari tempat kerja lama, tapi merasa senang diterima di tempat kerja baru. Ada juga yang merasa senang mendapat pacar baru, tapi juga merasa senang putus dengan pacar lamanya. Banyak contoh-contoh lain seperti di atas.

Tentu saja perasaan senang yang dimaksud adalah secara permukaannya. Bukan berkaitan dengan suasana hati atau keihlasan menerima situasi keduanya. Kalau urusan hati sangat subjektif tidak mudah dijabarkan atau dinilai.

Seperti yang dialami oleh saya. Pada Hari Kamis, 21 Januari 2010, ada seorang ibu berkonsultasi tentang anaknya yang masih duduk di kelas I SD. Sebelumnya juga sering konsultasi, tapi saat itu merasa senang karena anaknya sudah mengalami perubahan. Termasuk tetangga-tetangganya juga menilai positif perubahan anaknya. Dia bilang kalau sekarang sudah tenang termasuk menjalankan bisnisnya.

Selesai konsultasi, dia pulang tapi tak lama kemudian pembantunya menemui saya dan menyodorkan amplop (duit). “Pak, ini dari ibu.” Ujarnya sambil tersenyum. “Gak usah, sampaikan ke ibu, saya mengucapkan terima kasih.” Jawab saya dengan suara pelan. Perasaan saya ketika itu sangat senang karena bisa membantu orang tanpa mengharap materi.

Kemudian besoknya, pada Hari Jum’at, 22 Januari 2010, ada seorang bapak datang ke tempat kerja saya. Dia minta tolong karena motornya lagi mogok dan harus dibawa ke bengkel. Tapi, persoalannya dia tidak punya uang. “Saya hanya bawa uang Rp. 3000 pak, pinjam dulu sekitar bulan depan saya bayar.” Ujarnya dengan nada memohon. “Bapak butuh uang berapa?” tanyaku. Dia bilang butuh Rp. 50.000. “Maaf pak, saya hanya bisa membantu Rp. 20.000, ambil saja gak usah pinjam.” Jawab saya sambil menyodorkan uang. Ketika itu saya memang lagi pas-pasan bawa duit karena ada kebutuhan lain untuk membayar ongkos jahit pakaian.

Kedua sikap yang saya lakukan sama-sama menyenangkan walau keduanya bertentangan. Sikap yang satu menolak tapi sikap satunya memberi. Tapi, apakah saya ihlas? Insya Allah, tapi yang pasti saya sudah melakukan dua sikap bertentangan dengan satu tujun “Merasa Senang”. ***









Selanjutnya......

Jumat, 22 Januari 2010

Imam Syafii, Guru dan Ayam

(Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Menjadi guru memang harus siap dinilai. Baik oleh siswa-siswinya maupun oleh orangtua mereka. Tidak hanya pintarnya, namun juga sikap ketika mengajar. Banyak teori dikemukakan para ahli pendidikan maupun psikologi agar bisa menjadi guru hebat. Tentunya teori mereka sangat dahsyat. Namun, tahukah Anda kalau ingin menjadi guru hebat kuncinya sederhana, yaitu harus ihlas, jujur atau tidak akal-akalan memberi ilmu ke siswanya.

Apabila Anda mampu menerapkanya, dijamin akan disayang dan dikagumi murid-muridnya. Tapi sebaliknya, sehebat apapun ilmu yang Anda miliki namun tidak mampu menerapkannya, siap-siaplah ditinggal murid-muridnya.

Pernah dikisahkan, pada suatu hari Imam Syafii mencari seorang guru yang sangat termasyhur ilmunya. Saking hebatnya, Imam Syafii sampai begitu penasaran ingin menuntut ilmu kepadanya. Berangkatlah dia menuju rumah sang guru.

Ketika sudah sampai di kampung guru tersebut dia bertanya kepada penduduk setempat. “Di mana rumah guru yang sangat terkenal itu? Saya mau berguru padanya.” Tanya Imam Syafii kepada salah seorang penduduk. “O…di sana, terus saja jalan lurus tak jauh dari sini rumahnya akan kelihatan.”jawab orang itu sambil menunjukkan arah jalan dengan tangannya.

Imam Syafii langsung bergegas mengikuti arah yang ditunjuk. Benar, dari jauh dia melihat sang guru sedang memberi makan ayam. Namun, ada yang janggal sehingga membuat Imam Syafii menghentikan langkahnya. Dia terus memperhatikan sang guru saat memberi makan ayam dengan seksama dari jarak jauh. Sang guru tersebut terus memberi makan ayam-ayamnya, kemudian begitu ayam-ayam itu makan langsung ditangkap.

Melihat kejadian itu Imam Syafii jadi berpikir “Guru itu tidak ihlas dan akal-akalan memberi makan ayam-ayamnya. Kalau mau ditangkap kenapa tidak langsung saja, kenapa harus pura-pura memberi makan. Kalau dia tidak jujur kapada ayam-ayamnya, jangan-jangan nanti dia juga akal-akalan memberi ilmu ke saya. Lebih baik batal saja menuntut ilmu ke dia.” Begitu yang ada dalam pikiran Imam Syafii sambil melangkahkan kakinya pulang.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi hikmah kepada para pendidik. Saat memberi ilmu berikanlah dengan jujur. Berilah sentuhan dengan jujur, karena sentuhan yang jujur akan mampu masuk ke dalam hati nurani anak didik kita. ***







Selanjutnya......

Masih Tentang Takdir - Muhasabah-Ku

CARI YANG MURAH DIGANTI YANG MAHAL

Dulu saya ada kebiasaan membelikan pulsa buat pacar. Maklum, hubungan kami jarak jauh antara Batam-Jakarta. Jadi, tiada hari tanpa SMS. Siang hari ketika saya mau main band dia SMS kalau pulsanya sudah mepet. "Entar abang belikan, tunggu aja bentar." begitu balasan SMS yang saya kirim. Entah kenapa, kok saat itu saya hitung-hitungan banget mau beli pulsa di counter yang harganya miring. Di tempat biasa lebih mahal. Tapi kalau beli di counter HP di mall bisa lebih murah Rp.2000. "Lumayan ngirit Rp. 2000." pikirku.

Demi harga miring Rp.2000 saya bela-belain berangkat ke mall (counter HP) yang jaraknya dari rumah cukup jauh (perjalanan naik motor sekitar 15 menit). Padahal di dekat-dekat rumah banyak counter penjual pulsa. Gak biasanya begitu sih, tapi lagi-lagi demi kepuasan mendapatkan harga lebih murah yang hanya Rp. 2000.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di mall. Aku parkir motor dan langsung menuju counter. Begitu selesai ngisi pulsa terus ngasih tahu ke pacar. "Pulsa sudah dikirm, ade cek ya." isi SMS saya. Tak lama HP saya berdering dapat kiriman SMS balasan kalau pulsanya sudah diterima.

Alhamdulillah....selesai juga, rasanya lega banget. Aku pun langsung menuju ke tempat parkir ngambil motor. Astaghfirullah....helm saya hilang!! Saya cari-cari siapa tahu jatuh atau ketukar ke motor lain, ternyata tetap tidak ada.

"Aduh...gimana mau pulang nih." pikirku sambil cengar-cengir. Mau gak mau saya harus beli helm. Harga helmnya Rp. 45.000 !! Ssttt..jangan kaget, harganya memang murah tapi gara-gara mau ngirit Rp. 2000 akhirnya melayang juga Rp. 45.000. Takdir memang tidak bisa dihindari. ***




MEMANG DASAR REZEKI

Kejadian ini ketika masih kuliah. Selesai kuliah saya tidak langsung pulang tapi selalu mampir ke senat mahasiswa atau sanggar teater. Biasanya sampai sore atau malam hari baru pulang. Tapi gak tahu hari itu saya ingin sekali cepat sampai rumah. Apalagi ketika itu baru selesai memimpin diskusi di kampus, pikiran ingin sitirahat. "Siang-siang gini enak banget kalau langsung tidur." pikirku enteng. Terlebih cuaca Kota Malang saat itu terasa dingin.

Begitu sampai di ujung kampus kok saya mendengar ada teman manggil-manggil dari jarak yang lumayan jauh. Oo...ternyata teman yang sama-sama aktif di teater. Saya tunggu sebentar, dari raut wajahnya sepertinya ada keperluan sangat penting. "Ada apa mas...kok kayak penting banget." sapaku.

Ternyata dia lagi butuh duit. Untung di dompetku masih ada beberapa lembar ribuan. Setelah saya kasih dan dia mengucapkan terima kasih,,langsung saya pulang. "Aku langsung pulang mas, rasanya mata ngantuk banget." kataku dengan nada datar.

Hari itu memang gak biasanya aku pulang siang. Begitu sampai di rumah ternyata ada pesan agar saya menghubungi teman di kampung. Rupanya dia baru nelpon tapi saya sedang di kampus (saat itu belum ada HP seperti sekarang). Begitu saya telpon ternyata dia ngasih job main band, dan menyuruh besok pagi saya harus berangkat. Alhamdulillah....kebetulan duit lagi pas-pasan datang rezeki. "Untung aku cepat-cepat pulang." pikirku. Takdir memang tidak bisa dilawan.***




WARNA BAJU YANG SERING SAMA
Saya selalu yakin kalau segala sesuatu yang terjadi sudah direncanakan Allah. Sekecil apapun pasti sudah diatur oleh Allah. Tidak ada yang kebetulan. Kita mengatakan kebetulan dikarenakan ketidak mampuan membaca takdir.

Di tempat kerja, saya sering memakai baju yang warnanya sama dengan salah seorang teman perempuan. Awalnya gak memperhatikan, tetapi teman-teman sering bercanda katanya saya janjian (hehe…jadi kangen sama teman-teman). "Aduh...janjian ya kok matcing terus warna bajunya." begitu canda teman-teman yang semuanya permpuan.

Karena sudah keseringan, akhirnya saya berpikir untuk tidak memakai baju itu dulu. Entar kalau sudah agak lama baru aku pakai lagi. Padahal saya merasa enjoy dan asyik-asyik saja walau dibilang janjian.

Baju itu saya simpan baik-baik dengan rapi. Jujur saja, saya suka sekali dengan warnanya, yaitu pink. Gak sampai dua minggu ketika saya mau berangkat kerja, di lemari pakaian ternyata baju kerja lagi pada dicuci, “Wah….mau pakai baju yang mana nih.” Kataku agak lama mikir. O iya…untung masih ada satu baju warna pink. Yang tadinya gak mau dipakai dulu eh…akhirnya harus saya pakai.

Begitu sampai di tempat kerja, benar deh….teman saya itu kebetulan juga sedang memakai baju warna sama. Langsung teman-teman yang lain pada ngeledek “Janjian lagi ya pak….” Celetuk mereka sambil senyum-senyum. Hehe….takdir memang gak bisa dihindari. ***














Selanjutnya......

Sabtu, 16 Januari 2010

ULAMA SUFI DAN POHON BERDURI

(Catatan lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Seorang ulama sufi sedang berjalan dengan salah seorang muridnya. Di perjalanan mereka melewari pohon berduri yang masih kecil. Kemudian, sang sufi mencabut satu persatu pohon berduri tersebut di sepanjang perjalanan. Melihat yang dilakukan gurunya, si murid merasa heran. Kemudian bertanya kepada gurunya. “Guru, kenapa mencabut pohon-pohon yang masih kecil ini, apakah tidak kasihan.” Tanyanya dengan nada heran. “Karena pohon ini berduri.” Jawabnya singkat.

Si murid masih penasaran. “Tapi guru…bukankah pohon yang masih kecil ini tidak membahayakan?” tanyanya lagi. Dengan tenang gurunya menjawab “Pohon ini memang tidak berbahaya karena masih kecil, tapi kalau sudah besar bisa berbahaya dan mencelakakan orang-orang yang lewat, oleh karena itu harus dicabut dari sekarang, sebab apabila sudah besar sangat sulit dicabut.” Ujarnya sembari melanjutkan. “Begitu juga hati, apabila ada duri sekecil apapun harus dicabut. Jika duri tersebut dibiarkan maka akan makin besar dan sulit dibersihkan, akibatnya akan mencelakan dirinya dan orang lain.” Jelas sang guru bijak. Mendengar penjalasan gurunya membuat murid tersebut tertegun tanpa sepatah kata lagi.

Duri di badan gampang dirasakan begitu sadar ada duri langsung bisa dicabut Tapi duri di hati kadang tidak sempat dikenali. Lebih ironis lagi, sudah tahu hatinya ada duri tapi tidak mau membersihkannya Bahkan, ketika diingatkan malah membuatnya marah.

Rasa benci, sombong, iri, dengki, pemarah, tidak mau memaafkan, dan sejenisnya adalah duri-duri hati yang sangat umum. Mudah dikenali, dirasakan, dan disadari. Sekalipun disadari, tapi hati kadang senang memeliharanya. Anehnya lagi, sekalipun sudah ada peringatan, mengalami peristiwa yang disebabkan duri di hatinya, tapi tetap tidak mau mencabutnya.

Introspeksi dan menjaga kelembutan hati adalah salah satu cara bijak dalam membersihkan hati dari duri-durinya. Membersihkan sedari kecil adalah keharusan agar tidak sampai tumbuh besar. Kita adalah tempat hilaf, salah dan dosa. Tetapi dengan menyadari dan memperbaikinya terus menerus, insya Allah kita menjadi orang-orang yang memiliki hati bersih dari berbagai macam duri.














Selanjutnya......