Sabtu, 13 Maret 2010

Menghitung Detik Perubahan

(Catatan Ringan Mahmud Syaltut Usfa)

“Sang waktu akan terus menyeka perjalanan detik, perjuangan adalah kisah mengisi detik kehidupan. Nikmati kebahagiaan itu sebelum detik berlalu ke ujung risau”

Dari pandangan filsafat berpendapat “Dalam kehidupan tidak ada yang abadi, kecuali perubahan”. Tepat sekali, hidup adalah gerak perubahan. Eksistensi kita akan mati tanpa adanya perubahan. Benturan masalah membuat hati kita tegar menerima perubahan. Kadang berubah maju, tapi juga bisa bergerak pada kemunduran.

Kita berdiri di tubuh dunia dalam lingkaran perubahan. Baik perubahan dalam wujud aktifitas, maupun perubahan pikiran serta perasaan. Belum lagi yang berkaitan dengan hati, sangat cepat perubahan itu datang.

“Gelisah dalam detik
Detik dalam tubuh gelisah
Merangkak meraih ketenangan
Bersimpuh menatap harapan
Meratap pada masa lalu”

Dalam kehidupan kita setiap detik hanya menghitung perubahan. Pengendalinya adalah perasaan. Pada detik ini merasa bahagia, tapi pada detik berikutunya bisa saja merasa sakit hati. Saat ini hati merasakan jatuh cinta, namun, pada saat selanjutnya cinta sudah pergi. Begitu terus berputar sampai saatnya semuanya sirna ditelan usia.

Jangan harap kita bisa menggenggam perasaan bahagia selamanya. Dalam hitungan detik perasaan sendiri yang merenggutnya. Perputaran poros bumi mengubah poros kehidupan kita. Di dalamnya ada nilai takdir mewarnainya. Terkadang takdir ada di titik posesif. Padahal, eksistensinya sudah begitu tegas dalam kendali di titik Arasy.

“Kita berdiri di lingkaran takdir
Bergerak di antara kubangan nasib

Berjalan menuju yang terhapus
Tinggalkan jejak menjemput fatamorgana baru”

Detik ini di manakah lingkaran perasaan kita berada? Suka atau duka? Biarlah berjalan seiring dengan porosnya. Hati akan lebih tenang jika menyambut dengan ihlas setiap perputaran rasa.






Selanjutnya......

Kata-Kata tak Terbelenggu

Esai Mahmud Syaltut Usfa (Telah dimuat di Batam Pos, Minggu 8 Februari 2010)

“Aku berdiri atas nama kata-kata
Berbaris di garis depan nurani
Berteriak pada hati
Memeras kegelisahan
Sekali pun tirani menyeret lidahku”

Sepenggal syair yang saya buat di atas hanyalah salah satu luapan ekspresi jiwa, betapa mendalam kata-kata memaknai suara hati.

Sungguh luar biasa kekuatan kata-kata dalam suatu syair. Lembut tapi deras mengalir bagai air, menyebar bagai debu yang siap menerjang ke seantero jagad publik. Pada zaman Orde Baru penyair masih dipandang sebagai “duri” yang banyak mengkritik pemerintah. Banyak penyair yang dibungkam karya-karyanya. Bahkan, mereka harus siap dijebloskan ke penjara. Tak heran kalau akhirnya muncul penyair-penyair idealis, berani, dan bersuara jujur dari hati nuraninya. Bagi yang tidak berani, harus ihlas mengubur karya-karyanya.

Kekuatan tulisan mereka lahir dari hati nurani, bukan sekadar berlandaskan emosional. Juga bukan lahir dari sebuah konspirasi untuk menzalimi penguasa. Idealis kokohnya bersumber pada keteguhan hati. Syair memang subjektif namun objektif dalam memotret realitas.

Penguasa yang merasa “diusik” sangat geram, karena para penyair idealis dinilai terlalu lancang dan banyak mulut. Berbagai cara dilakukan untuk membungkam “celotehan” syairnya. Misalnya menawarkan harta serta kedudukan. Jika bergaining tidak mempan, ujungnya adalah rekayasa pembunuhan.

Praktik pembunuhan kepada para panyair sering kita dengar. Misalnya, pada masa Orde Baru menimpa penyair Wiji Thukul dari Solo yang hilang tak tentu rimbanya. Almarhum WS Rendra juga langganan berurusan dengan tirani penguasa.

Teror terhadap para penulis dan penyair memperlihatkan kekuatan kata yang tidak bisa diremehkan. Kata dalam kehidupan yang oleh Napoleon Bonaparte pernah disebut sebagai lebih berbahaya daripada bedil. Tidak hanya di Indonesia, praktek begini pun juga terjadi di berbagai negara. Misalnya, penikaman di tengah siang bolong terhadap sastrawan Naguib Mahfouzdi di sebuah jalan Kairo ketika sedang kembali ke rumahnya.

Kekuatan sastra dan kata juga kembali menampakkan diri ketika misi delapan penulis ke daerah otonom ditahan oleh pemerintah Israel. Ketika pengarang Portugis, Saramago, yang turut dalam delegasi tersebut membandingkan Ramallah dengan Auschwitz, pernyataan yang kemudian dikenal dengan "Peristiwa Saramago".

Kekuatan kata dan sastra ini pun nampak dari pembunuhan Cak Durasim, pemain ludruk dari Surabaya oleh pemerintah militerisme Jepang pada masa Perang Dunia II karena ucapan seniman ludruk itu:
"pagupon umahe doro/melu nippon tambah sengsoro". (Ikut Jepang tambah sengsara)

Kejadian-kejadian di atas menunjukkan besarnya pengaruh kata dan sastra. Pada saat ini hampir tidak pernah terdengar kekuatan syair yang “menggigit kuping” pemerintah. Sejak terbukanya pintu reformasi terkesan kritikan penyair sudah tumpul. “Kalau hanya mengkritik pemerintah tak perlu suara penyair, tukang becak saja berani” begitu sindiran masyarakat saat ini.

Kelahiran reformasi membuat para penyair ibarat burung perkutut yang dilepas dari sangkarnya. Ketika masih dalam kandang suaranya dipuji habis-habisan. Sangkarnya terjaga, tubuhnya dirawat, dan makanannya diperhatikan. Tidak perlu susah-susah cari makan, hanya modal suara merdu dijamin dieluk-elukkan, dimanjakan sang majikan.

Tapi begitu pintu kebebasan dibuka lebar-lebar, suaranya sudah tak semerdu dulu lagi. Sama saja dengan burung-burung lainnya. Tidak ada yang menyanjung, tepukan gempita sudah tak terdengar lagi. Jangan harap makanan akan dihantar, silahkan cari sendiri di tengah luasnya hutan.

Sekarang rangkaian kata-kata hanya sebuah seni. Pejabat yang dulu sering dikritik, malah sekarang juga asyik membuat syair tentang keadilan. Era sudah berubah !! Begitu pandangan yang paling tepat saat ini. Para penyair perlu mengorganisasi diri, agar syair menjadi lebih efektif lagi dalam menciptakan pendapat umum yang bebas. Dari sini kita perlu melihat peranan seniman yang berdaulat di hadapan kekuasaan mana pun.

Kita tentu sangat sepakat “Syair bukan hanya soal kritik”. Namun, sebagai seniman pastinya memiliki kepakaan dalam memotret realitas kehidupan. Juga tidak hanya memotret kebijakan pemerintah yang salah kaprah, tapi juga memotret tentang cinta, jiwa, serta seluk beluk hati manusia.

Syair bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Ada kekuatan yang bersumber dari kesucian hati. Kejujuran adalah modal pokok. Syair tetaplah kata-kata dahsyat. Tidak akan lenyap dari peredaran zaman apa pun. ***







Selanjutnya......

Teguran Tanda Perhatian

(Catatan Muhasabah Mahmud Syaltut Usfa)

Setiap shalat jum’at saya memiliki kebiasaan berinfaq melalui kotak amal. Hari Jum’at kemarin (12 Februari 2010) agak berbeda. Uang di dompet paling kecil nominal Rp. 20.000. Wah, pada saat itu rasanya berat mengeluarkan nilai segitu. Karena memang lagi dibutuhkan. Tapi karena gak ada lagi, akhirnya dipaksakan ihlas.


Jujur, agak berat dalam keadaan butuh harus berinfaq dengan nila agak besar. Maunya jumlah kecil tapi ihlas. Harapannya lagi, biar kecil asal bisa ke surga. Ah…Itu sih sudah jadi lelucon basi. Karena terdesak akhirnya berlaku juga sebagi pembelaan diri saya.

Sudah dipaksakan agar ihlas ! ihlas ! dan ihlas ! Begitu kotak infaq sampai pada giliran saya langsung uang Rp. 20.000 diceburkan ‘plung !!’ “Hah…lega, toh nanti Allah akan mengganti berlipat ganda kok!!” pikirku.

Usai shalat jum’at langsung ke tempat kerja. Di situlah cikal bakal duitku harus melorot secara estafet. Pertama, begitu sampai di kantor, teman langsung menyodorkan celana Levis 501 minta tolong agar dibeli. Harganya Rp. 650.000. Gila !! untuk apa saya membeli celana harga mahal seperti itu. Apalagi saya gak begitu ‘nafsu’ pada mode. Dalam hal berpakaian saya termasuk laki-laki yang suka berpakaian simple-simple dan sederhana saja. Apa adanya, yang penting nyaman dipakai badan sudah cukup !! Tapi, karena teman minta tolong, akhirnya saya beli juga.

Pulang dari kantor, di tengah perjalanan tiba-tiba ban motor saya bocor. Dibawa ke bengkel dan ditambal. Alhamdulillah selamat bisa pulang. Tapi, selang satu hari ban motor bocor lagi. Setelah dibawa ke tambal ban ternyata yang baru ditambal kemarin bocor parah. Gara-garanya, tukang tambal di bengkel kemarin salah bahan tambalannya. Tarpaksa harus ganti ban baru. Sorenya, saya cuci motor ke tempat cucian langganan. Begitu selesai, langsung saya bayar harga biasa Rp. 6000. Ternyata harganya sudah naik menjadi Rp. 7000.

“Hah…saya kan sudah berinfaq lebih, kok ada saja yang membuat duit keluar, pasti Allah ada maksud lain untuk kebaikan saya.” Begitu yang terus menerus saya pikirkan.

Pada Hari Senin (15 Februari 2010) saya masuk kerja seperti biasa. Pakaian agak kusut karena dari siang hingga tengah malam disimpan di jok motor. Saya biasa mencuci pakain di tempat adik di Batam Center. Pakaian yang sudah kering langsung dibawa pulang. Biasanya disimpan di jok motor. Tak heran, begitu sampai di rumah menjadi kusut. Apalagi pada Malam Senin itu saya manggung (main band) mulai siang hingga malam.

Pagi-pagi pakaian tersebut harus dipakai. Benar-benar terlihat kusut. Untung teman-teman kerja sangat perhatian dan sangat baik pada saya. Mereka sudah sangat akrab, karena saya selalu berusaha tidak membuat jarak. Salah satu dari teman memanggil saya. “Pak, maaf pakaiannya kok kusut, gak disetrika ya..?” tanyanya dengan pandangan perhatian. “Oo…kusut ya? Dari siang sampai malam pakaian ini disimpan di jok motor, malam-malam baru nyampai rumah jadi gak memperhatikan.” Jawabu dengan nada berterima kasih.

Begitu sampai rumah, pakaian-pakaian yang sudah rapi saya setrika lagi. Sekarang seluruh pakaian-pakaian di lemari sangat rapi, licin, dan tidak kusut lagi. Insya Allah saya akan terus lebih memperhatikan.

Alhamdulillah, ternyata teguran teman tersebut merupakan bentuk perhatian untuk kebaikan saya. Teguran membuat makin sadar dan berubah ke arah lebih baik lagi. “Terima kasih atas perhatiannya.” Ucapku sambail senyum-senyum.

Akhirnya saya berpikir, mungkin Allah juga menegur karena merasa sayang. Agar saat berinfaq harus lebih ihlas lagi. Dengan berbagai rentetan kejadian yang harus mengeluarkan duit, bisa saja bermakna merapikan hati saya dari rasa ihlas. Siapa tahu hati saya sekarang sudah tidak kusut, sudah rapi, serta licin seperti pakaian di lamari, insya Allah.





Selanjutnya......

Ketika Sang Malam Menyandarkan Cinta

(Catatan Hati Mahmud Syaltut Usfa)

Cinta mengisahkan sejuta suka. Tapi, sejuta luka juga kerap mengiris hati. Tatapan cinta seruncing busur panah Rahwana, dan setajam pedang Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Bila kebahagiaan menghampiri membuat jiwa mabuk kepayang. Terkadang diri harus disingkirkan. Sebaliknya, ketika hati terluka, diri terasa hina bagai sampah terbuang di mata dunia.

“Datanglah untuk tidak terbuang
Malang hati di ambang sengsara
Tak elok membuang rasa saat hati teriris
Cinta memuliakan diri, bukan menistakan”

Banyak kisah cinta yang sudah melegenda di dunia. Sebut saja kisah Qais dan Laila, Sampek Engtay, Romeo & Juliet, dan seabrek kisah romantis lainnya. Belum lagi yang datang pada zaman berbeda. Semua kisahnya adalah legenda lara hati dalam perjalanannya. Sementara yang berujung bahagia kadang luput dari legenda zaman.

Cinta tak akan binasa sekalipun zaman berubah warna. Kesetiaan adalah kunci hidupnya cinta. Allah yang mendatangkan cinta sebagai mawaddah werahmah. Kita sebagai hamba wajib menjaga keluhuran cinta.

“Wahai yang Maha Pengasih
Raja Diraja Para Pecinta
Engkau yang menganugerahkan cinta
Aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja “Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa, sehingga, sekali pun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.”

Cinta adalah proses. Butuh ketegasan mengungkapkannya. Berbelit-belitnya cinta karena kuatnya unsur subjektif. Sekalipun tanda-tanda sudah sangat jelas, tetap saja hati risau mengungkapkan dengan kata tegas. Apa sih susahnya mengatakan “Aku cinta padamu”. Kita hanya menunggu jawaban “Iya” atau “Tidak” maka semua akan selesai. Karena cinta adalah kesepakatan. Tapi nyatanya tak semudah itu!! Justru prosesnya yang membuat perjalanan cinta menjadi indah, walau harus rumit.

“Saat cinta datang siapkan pedang di sayapnya agar bisa menghunus kegelisahan”

Dimulai dari rasa. Bisa pandangan, sikap, rasa simpati, pertemanan, atau bermula secara kebetulan. Bermacam latar belakang bisa melahirkan rasa cinta. Selanjutnya muncul getaran hati. Kadang mata tak melihat tapi hatinya menatap. Telinga bagai tak mendengar tapi hatinya menyimak.

“Getaran itu bukan nada hati biasa
Menjalar guncangkan rasa
Hati berdetak teramat dahsyat
Lidah membisu terkunci perasaan
Hanya hati yang berjalan menuntun gelisah”

Cinta ada manakala kejujuran tersadar. Saat hadir serahkan pada logika untuk meluruskan perasaan. Jika tidak segera diluruskan, siap-siaplah kehilangan kesempatan. Cinta butuh ketegasan, tidak bisa terus menerus menyimpannya dalam terangnya hati. Bisa-bisa semua yang terang akan kembali ke ruang gelap.

Betapa berat memulai jika perasaan terus menerus menghitung logika. Terbukalah!! tak perlu menjaga gengsi siapa yang harus memulai. Bermain kata-kata hanya akan menghambarkan perasaan cinta. Apalagi hanya berharap dari permainan kata.

“Saat kata-kata berbaring di antara tumpukan harapan
Hati tak henti-hentinya mengelus kesabaran

Syairku sudah berlabuh di ujung do’a
Mungkin saja sudah terhempas diterjang risau

Entah di mana nadanya
Mungkin saja pergi bersama gelisah”

Apalah artinya cinta itu hadir jika harus disembunyikan di ruang kegelapan. Padahal di ruang hati sangat benderang menyambut datangnya kebahagiaan. Kegelisahan dan menyembunyikan kejujuran adalah sebuah penyiksaan hati. Takdir terkadang harus disalahkan karena dipandang tak berpihak pada hati. Padahal, jika hasrat tak mampu ditundukkan hati, akan menjadikan lupa akan hakikat hidup kita sendiri.

“Pada detik ini lidahku tak mampu mengucapkan “Aku jatuh cinta padamu” tapi pada detik kemarin qalbuku berulang-ulang berucap “Aku jatuh cinta padamu”.

Aku bukan Qais yang mampu menjadikanmu Laila. Aku bukan Romeo yang sanggup mewujudkanmu Juliet. Aku hanya laki-laki yang punya hati. Cinta bisa datang dan pergi kapan saja walau tak dikehendaki. Aku bukan Qais, juga bukan Romeo, tapi perasaan cintaku setahta dengan sang legenda cinta itu.






Selanjutnya......

Senin, 08 Februari 2010

Sajak Sufistik - Mahmud Syaltut Usfa

KABAR UNTUK HATI

Apa kabar hati…?
Sudah lama aku tidak memikirkanmu
Masihkah kau gelisah seperti dulu…?
Aku sudah menemukan sang sandaranmu
Dia akan menyeka keringat kegelisahanmu
Menampa air matamu agar tak tersentuh debu

Jangan takut menerima kejujurannya
Dia berjalan di atas garis siratal mustaqim
Sekalipun seribu duri menusuk mata batinnya

Ya azza wajallah….
Letakkan takdir itu di pundakku sebagai amanat
Akan kupapah sampai ke garis lauhil mahfuz
Akan kupertanggung jawabkan hingga ke hulu Ars-Mu

Wahai hati…
Bersiaplah menyambut seribu satu kisah perjalanan takdir
Tak perlu menghitung kesempurnaan dari yang sudah sempurna
Dekaplah kebahagiaan dengan erat
Agar tak lepas direnggut perasaan risau





WAJAH ITU

Aku melihat wajah itu
Dari balik jendela hati

Masih seperti dulu
Pikirannya bercengkrama dengan angin
Detak langkahnya diusik kegelisahan
Menyimpan luka yang terus dibisukan

Takut, terus ditakuti ketakutan
Bayang menghalang terus membayang

Kebenaran tak memiliki makna benar lagi
Hanya mampu berteriak pada bayangan
Padahal kebenaran semanis senyumnya









Selanjutnya......

Visit Batam 2010, Visit Imej Wisata

Opini Batam Pos, Rabu, 27 Januari 2010

Oleh: Mahmud Syaltut Usfa S.Psi
(Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Geliat Visit Batam 2010 makin marak. Genderang untuk mendongkrak sektor wisata terus ditabuh. Di berbagai media, spanduk, even dan publikasi lainnya tiada henti. Dinas Pariwisata Kota Batam juga bekerja maksimal tanpa lelah.

Berbicara pariwisata sangat erat hubungannya dengan psikologis. Kita pasti sepakat, bahwa tujuan pariwisata adalah untuk mendapatkan rekreasi. Namun, bukan berarti bersenang-senang, melainkan secara harfiah adalah diciptakan kembali (re-kreasi).

Dengan kata lain menciptakan kembali atau memulihkan kekuatan dirinya, baik fisik maupun spiritual. Batam banyak memiliki tempat wisata menarik. Mulai dari keindahan alam, wisata religi, shoping, sampai yang bersifat hiburan. Tentunya kondisi tersebut merupakan modal potensial dalam menggaet wisatawan.

Namun, salah satu modal terbesar dalam dunia wisata adalah adanya kekuatan area psikologis yang kuat pada daerah bersangkutan. Sehingga sangat berpengaruh terhadap perasaan, motivasi, kognisi bahkan sikap wisatawan sebelum menginjakkan kaki di daerah tujuannya.

Ambil saja contoh Jogjakarta. Sangat melekat dengan kota budaya dan pelajar. Ketika orang ingin berkunjung ke Jogja, area psikologisnya sudah terasa. Kondisi seperti itu akan berpengaruh pada sikap, bahwa kalau sampai di Jogja nanti harus santun serta bersikap terpelajar. Sasaran wisatanya pun juga jelas, yaitu berwisata budaya.

Contoh lain, Kota Malang terkenal sebagai kota dingin. Daerah wisata banyak difokuskan di puncak. Sampai-sampai sebelum berangkat ke Malang orang sudah merasakan dingin lebih dahulu. Menciptakan imej pada area psikologis ini sangat penting. Karena akan mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku wisatawan.

Ibarat orang yang akan berangkat ke tempat ibadah, pasti jiwa dan hatinya sudah muncul kepasrahan kepada Tuhan. Cara jalannya pun sudah berpengaruh. Berbeda apabila orang mau berangkat ke diskotik, pikirannya dipenuhi perasaan enjoy bahkan nafsu maksiat.

Seperti apa imej psikologis Batam? Setidaknya ada tiga yang masih melekat pada area psikologis masyarakat luar. Pertama, Batam masih dipandang sebagai kota ”surga elektronik” termasuk barang-barang seken Singapura. Ketika akan berkunjung ke Batam perasaan yang melekat adalah belanja elektronik.

Namun sayang, sekarang pada realitasnya sudah mulai bergeser. Harga barang-barang elektronik sudah hampir tidak ada bedanya dengan kota-kota lain di luar Batam. Begitu juga kawasan perdagangan barang-barang seken sudah makin menyusut seiring dengan adanya penertiban.

Imej kedua, maaf, kita tidak bisa menampik hingga saat ini imej Batam masih melekat sebagai kota hiburan dan maksiat. Sangat sedih apabila melihat orang-orang berkunjung ke Batam lebih banyak ”buang hajat” ketimbang menikmati objek wisata.

Ketiga, Batam selalu dikait-kaitkan kedekatannya (secara geografis) dengan Singapura. Pemandangan kota pulau tersebut menjadi daya tarik para pendatang. Bahkan, sekadar ”ngintip” Singapura saja sudah senang. Di posisi ini Batam hanya menjadi sebuah objek yang daya tarik terbesarnya tetap Singapura.

Pertanyaannya, apakah imej tersebut mau dirubah atau tetap dipertahankan? Imej dalam suatu daerah adalah bagian dari kepribadian. Taruhannya adalah harga diri. Membangun imej tidak semudah membangun infrastruktur. Sebagai warga Batam pasti malu jika melihat wisatawan berprilaku seenaknya. Akhirnya daerah kita tidak memiliki kewibawaan. Ini terjadi karena salah membentuk imej.

Visit Batam 2010 adalah pekerjaan rumah besar dalam membangun area psikologis wisata Batam. Tantangan ke depan tidak hanya pengembangan mutu lingkungan. Walau harus diakui dalam industri pariwisata, lingkungan itulah yang sebenarnya dijual. Karakter lingkungan akan memunculkan imej psikologis bagi para wisatawan.

Mempromosikan lokasi-lokasi wisata adalah sebagai pelengkap. Karena di daerah-daerah lain juga memiliki fasilitas yang sama, bahkan lebih. Sebut saja jembatan Barelang. Itu hanya sebuah ikon (master face). Kalau terlalu ditonjolkan malah terlihat ketinggalan jauh dibanding Jembatan Ampera di Palembang atau Jembatam Suramadu di Jawa Timur.

Daya dukung lingkungan pariwisata dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu tujuan wisatawan dan faktor lingkungan biofisik lokasi pariwisata. Dengan adanya tujuan khusus, di samping ingin mendapatkan hiburan, wisatawan tentulah mengharapkan untuk mencapai tujuan khusus. Harapan itu akan menciptakan suatu kondisi psikologi tertentu pada wisatawan.

Melihat dari kondisi yang ada, Batam sangat tepat apabila membangun imej psikologis melalui ”pelangi budaya”. Keaneka ragaman budaya dari seluruh Indonesia sudah terbentuk di Batam. Ini merupakan nilai plus yang tidak dimiliki daerah lain. Menggali dan menampakkan keberagaman seni budaya adalah cara jitu membangun emej.

Membangun imej melalui sendi-sendi budaya merupakan cara santun “mengajari” para wisatawan bersikap. Dengan keberagaman budaya daerah lain, maka akan banyak cahaya budaya masuk ke sendi-sendi masyarakat. Sehingga budaya Melayu sebagai budaya lokal tinggal memayunginya. Tentu saja dibutuhkan power agar masyarakat luar sadar dan akhirnya secara psikologis terkondisi persepsinya.

Sekecil apapun budaya yang dimiliki oleh kota tersebut harus dikendalikan, dipupuk, dan disemarakkan. Sehingga cahaya-cahaya budaya terus mengalir ke sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ini merupakan bagian sangat penting untuk menyeimbangkan dengan pembangunan tempat-tempat wisata (rekreasi).

Wisata Batam membutuhkan ”cahaya kuat” untuk memancarkan sendi-sendi budaya agar terus masuk ke jantung imej masyarakat luar. Memberdayakan budaya daerah suatu keharusan. Tidak jadi persoalan sekalipun dimulai dari persembahan serimonial. Pagelaran serimonial baik tarian, karya sastra, kompang, sampai pakaian dan lain-lain merupakan cara pengumpulan serpihan-serpihan budaya yang ada. Asal terus dikembangkan dan bukan sekadar pageleran sambil lalu.

Kita berharap Visit Batam 2010 tidak hanya membangun tempat-tempat wisata. Melainkan juga membangun suatu imej yang masuk ke area psikologis wisatawan. Dengan kerja keras pemerintahdan dukungan masyarakat, bukan mustahil kondisi tersebut bisa dicapai. Visit Batam 2010 ***






Selanjutnya......

Kamis, 28 Januari 2010

Hobi Musik Jadi Bisnis

Batam Pos, Minggu, 01 November 2009

Mahmud Syaltut Usfa, Pemilik Fazriel Music Studio
Bermula dari hobi bermusik, Mahmud Syaltut Usfa mulai berbisnis studio musik.

ANDRIANI, Wartawan Batam Pos

Di antara menjamurnya grup band di Kota Batam terselip peluang bisnis rental studio musik untuk ajang berlatih. Peluang bisnis inilah yang coba ditangkap oleh Mahmud Syaltut Usfa. Ia dan saudaranya bekerjasama mendirikan Fazriel Music Studio, rental & entertainment di Tiban Kampung 12 Oktober 2009.

Benar saja, begitu dibuka banyak anak-anak band yang mau berlatih musik di studio musik miliknya. Utamanya saat pulang sekolah hingga malam hari.

Apalagi kalau akhir pekan, anak band yang mau menyewa studio musik harus rela mengantre. Studio musik milik Syaltut berbeda dengan studio musik kebanyakan di Batam.

Studio musik Fazriel berstandar musisi. Dengan kondisi seperti ini anak-anak band yang berlatih musik bisa nyaman bermain musik. ”Saya tidak ingin menyediakan studio musik yang asal-asalan meski mereka yang main musik di studio musik kebanyakan para pemula,”kata Syaltut.

Semua alat-alat musik di sini serba baru. Tidak ada yang seken dan full AC. Selain itu ruangannya juga kedap suara dengan sangat standar. Semuanya dilapisi peredam suara. Dengan begitu suara dari luar tidak mengganggu anak band yang sedang berlatih musik. Sebaliknya, suara bising dari studio musik juga tidak terdengar oleh tetangga di kiri dan kanan studio musik.

Dengan menghadirkan studio musik berkualitas standar musisi Syaltut harus mengeluarkan modal sekitar Rp30 jutaan hanya untuk satu ruang studio musik. Ke depan Fazriel Music Studio ini akan dilengkapi dengan fasilitas rekaman.

Usaha studio musik yang dirintis Syaltut tidak terlepas dari hobinya. Pria asal Bawean, Jawa Timur ini mengaku sudah mulai bermain musik sejak kelas 4 SD. Hobinya bermain musik terus dilakoni sampai beranjak remaja hingga duduk di bangku kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang, jurusan Psikologi.

Begitu pun saat kini sudah sibuk bekerja di Hang Nadim Malay School. Bermain musik sudah seperti menjadi bagian hidup yang tidak bisa dilepaskan. “Ini usaha komunitas. Saya enjoy dengan usaha seperti ini,” kata Syaltut, Pemilik Fazriel Music Studio di Tiban Kampung.

Di studio musik Fazriel, tak hanya anak remaja yang sudah jago ngeband yang jadi langganannya. Ada juga anak-anak yang datang baru belajar musik. ”Ada anak yang minta diajari main gitar, ya saya ajari, ” katanya.

Hanya saja Syaltut mengaku hanya bisa mengajari beberapa anak saja. Maklum saja saat ini Syaltut juga sibuk menahkodai Hang Nadim Malay School. Biasanya saya berada di studio musik sehabis pulang kerja, di atas jam empat sore. Meski sudah sehari bekerja Syaltut tetap semangat mengurus usahanya. ”Sudah cita-cita saya punya studio musik. Di sini saya juga bisa latihan,” katanya. ***







Selanjutnya......