Jumat, 19 Maret 2010

“Bahavior-isme Ayam dan Wanita”

(Catatan lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Jenis-jenis ilmu sangat beragam. Ada ilmu yang membahas tentang tubuh manusia, hubungan antar manusia, kesehatan manusia, alam semesta, komunikasi antara individu, tumbuhan, binatang, spiritual, dan lain-lain. Kesemuanya memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Dalam ilmu psikologi sendiri sudah pasti mempelajari ilmu perilaku (behavior).

Menariknya adalah kaitan yang erat antara ilmu tentang perilaku hewan (animal behavior) dan perilaku manusia (human behavior). Karena di dalam diri manusia ada sifat-sifat hewan yang kerap muncul. Kita pasti sering mendegar istilah-istilah perilaku manusia yang dikaitkan dengan hewan. Misalnya, “Jinak-Jinak Merpati” bermakna orang yang jatuh cinta tapi menunjukkan sikap malu-malu. Ada juga istilah untuk lelaki penggoda wanita dengan sikap gombalnya, yaitu “Buaya Darat”.

Bahkan pernah ada hasil penelitian, bahwa, harimau untuk membatasi area kekuasaannya dengan cara mengencingi area tersebut. Ternyata cara seperti itu juga sama yang dilakukan para gangster di perkotaan. Hanya bedanya, para gangster tidak dengan mengencingi, tapi dengan mencoret-coret dinding di sekitarnya (graffiti).

Istilah tak kalah sangat popular adalah bagi orang-orang yang sangat rakus. Mereka digambarkan seperti “Monyet”. Sedangkan bagi para pengutil, koruptor, dan sejenisnya disamakan dengan “Tikus”. Banyak istilah-istilah lain dari sikap manusia yang disamakan dengan binatang. Ini menjukkan kalau dalam diri manusia memiliki “nafsu” hewani.

Wah, jadi serius nih nulisnya. Padahal ingin nulis sederhana-sederhana saja. Nah, ada lagi istilah yang sangat menarik. Yaitu “Ayam”. Biasanya istilah ini dikhususkan bagi ‘perempuan-perempuan nakal’. Bisa diboking, pereks, dan sejenisnya. Kenapa ya? Saya kurang bisa menjelaskan secara rinci.

Tapi saya jadi teringat ketika masih kecil, saat di kampung. Sangat hobi memelihara ayam. Saking senangnya, setiap hari memperhatikan perilaku-perilakunya. Ada perilaku yang menarik. Sering sekali apabila ayam mau berhubungan seks, si jantan selalu mengejar si betina. Saat itu saya berpikir “kok maksa sekali”. Bahkan, tak jarang saya pukul si jantan karena kasihan si betina seperti mau diperkosa saja. Eh….ternyata pikiran saya meleset jauh.

Buktinya, setelah kejar-kejaran pasti si betina lari ke semak-semak atau ke tempat sepi. Setelah menemukan tempat yang nyaman si betina langsung nungging dengan pasrahnya. “Busyet” pikirku. Ternyata lari bukan tidak mau, tapi mencari tempat sepi.

Setelah banyak membaca buku-buku psikologi saya bisa mengkajinya. Hipotesa saat ini, berarti perempuan saat mengatakan “tidak” kepada laki-laki untuk diajak kencan, bukan berarti “kata mati”. Bisa saja karena belum menemukan tempat yang cocok. Si laki-laki berarti harus mengerti untuk berusaha menggiring ke tempat-tempat romantis. Setelah tempatnya cocok, sepertinya tidak usah bersusah payah lagi, tunggu saja reaksi si wanita. (Maaf saya tidak berani mengatakan si wanita akan nungging).

Hipotesa ini sangat beralasan. Sudah banyak kasus-kasus perselingkuhan. Bahkan, dilakukan terang-terangan kepada mereka yang sudah berkeluarga. Wah…sangat banyak kasus, panjang ceritanya jika diulas di sini. Apakah karena itu ‘perempuan nakal’ diistilahkan “Ayam”? Pastinya, jika tidak ingin disebut “Ayam” jaga kemuliaan diri.




Selanjutnya......

Kamis, 18 Maret 2010

Syair Hati - Mahmud Syaltut Usfa

“Sang Pemuji Cinta”

Mata hati terus menatap langit-langit pikiranku
Resah bila cinta berlalu tanpa kata
Rindu ini berjalan tanpa suara
Hanya detak langkah mendekat ke hulu gelisah

Di sisi hati cinta berdiri begitu angkuh
Bagai nafsu menerjang kelelakianku

Aku bukanlah Qais yang mampu menjadikanmu Laila
Aku bukanlah Romeo yang sanggup mewujudkanmu Juliet
Namun, hati ini setahta dengan sang legenda cinta itu

Ambillah hati ini dengan senyummu
Sekalipun cinta tak terukir di hatimu
………..Sayat-sayatlah hati ini dengan senyummu
………..Mataku akan terus menatap dengan keihlasan

Hati ini sudah kuserahkan pada pemilik-Nya
Cinta ini sudah kulebur dengan kekasih-Nya

Rasa benci hambar merapat pada keindahan
Rasa duka menyebar terangkai senyuman

Cinta adalah sejarah
Tersusun indah dalam prosa hati
………..Bentangkan layar kehidupan
………..Agar sejarah cinta terus ada di nafas zaman




Selanjutnya......

Senin, 15 Maret 2010

Rasulullah Saja Sahabatnya Empat

(Catatan Ringan Mahmud Syaltut Usfa)

Kira-kira setahun lalu seorang anak kecil yang masih duduk di kelas I SD bertanya pada saya “Berapa temannya di facebook?”. Saya jawab, hanya sedikit gak sampai 30. “Hah….sedikit sekali, saya saja punya teman lebih seratus.” Jawabnya dengan nada polos.

Saya berpikir sejenak…”Apa susahnya cari teman di facebook, jangankan ratusan, ribuan juga gampang saya dapat.” Pikirku dalam hati sambil senyum-senyum. Tapi apalah artinya ribuan teman jika semuanya hanya dari kuantitas. Di facebook kan lebih banyak teman nempel daripada yang benar-benar berisi secara kualitas. Ya…itu hanya sekadar analogi ringan saja. Toh kenyataannya teman-teman di luar yang tidak tercatat di facebook lebih banyak.

Tentu kuantitas teman di facebook tidak bisa disamakan dengan sisi kualitas teman di pergaulan sehari-hari. Artinya, bukan berarti yang memiliki teman sedikit di facebook tidak pandai bergaul sehingga relasinya sedikit. Contoh ringan saja, dari sekian banyak saudara kandung, keponakan, sepupu, hanya sekitar 8 saja yang suka main facebook.

Pernah ada teman tanya juga sama saya “Sahabatmu pasti banyak, kan pergaulanmu luas.” Jujur saja, saya bingung menjawabnya. Dengan kata lain, saya tidak memiliki sahabat. Tapi kalau teman-teman berjubel. Mereka sangat baik, tidak pernah ada masalah serius. Teman-teman saya hampir dari berbagai lapisan masyarakat. Itu pun wajar-wajar saja karena saya pernah jadi jurnalis. Begitu juga kegiatan sehari-hari yang beragam membuat saya banyak kenalan. Mulai aktifitas di praktisi pendidikan, psikologi, musik, menulis, LSM dan lain-lain. Saya rasa semua orang juga sama, bahkan lebih, kecuali yang memang malas berinteraksi.

Kembali ke persoalan sahabat. Sempat membuat saya mikir-mikir “siapa ya sahabat saya? Pacar saja belum seratus persen bisa dijadikan sahabat.” Begitu pikiran saya saat itu. Tapi setelah dipikir-pikir Rasulullah saja yang begitu dicintai ummatnya, bahkan disegani musuh-musuhnya karena ahlaknya sangat luar biasa, ternyata sahabatnya hanya empat orang. Yakni, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Tentu saja sahabat-sahabat lainnya yang tidak sering kita dengar juga banyak. Begitu juga tokoh-tokoh dunia yang banyak ‘dikerumuni’ para relasi, ternyata sahabatnya juga bisa dihitung jari. Pimikiran itu yang membuat saya tenang.

Memang benar kata orang-orang, sahabat tidak sama dengan teman. Mencari teman sangat gampang apalagi saat kita senang dan sedang dibutuhkan. Tapi begitu kita susah, terpuruk, teman pada menghindar. Dalam perspektif psikologi sendiri dikatakan cinta sejati itu ada apabila sudah sampai kepada titik persahabatan. Suami istri belum mencapai cinta sejati jika belum sampai ke ruang cinta persahabatan.

Carilah teman sebanyak-banyaknya. Belajarlah terus memahami dengan cara menjadi pendengar yang baik. Jangan menoleh ke belakang saat berbuat baik agar keihlasan selalu menemani. Berusahalah untuk menjadi pemaaf dan pemberi maaf.

Dalam pergaulan merupakan hal yang lumrah jika terjadi perselisihan. Kata pepatah Melayu “Sepandai-pandainya lidah menguyah akan tergigit juga”. Redam sekuat-kuatnya jika terbesit rasa dendam. Teman selalu berarti. Kenanglah kebaikannya, buanglah prasangka negatif agar hati selalu lapang menerima segala fenomena pertemanan. Insya Allah kita bisa menemukan sahabat. Hal terberat yang saya rasakan, jika harus kehilangan teman di saat hati gelisah menunggu jawaban.





Selanjutnya......

Sabtu, 13 Maret 2010

Syair Lara - Mahmud Syaltut Usfa

KESAKSIAN HATI

Aku mendengar suara jiwa yang terluka
Menjerit syahdu di antara celah-celah pengharapan
Batinnya mulai galau menatap kebenaran

Luka…
Luka…
Ada lagi tentang luka..


Aku..
Mencoba memanah rembulan
Ketika matahari tersungkur di kelopak mata bumi

Ada sangsi yang harus dibangunkan
Di saat hati masih menunggu bening

Dia…
Hati beningnya harus keruh menunggu gelisah berlalu

Aku..
Terpanah menatap mata batinnya yang begitu kokoh
Kucoba mengumpulkan serpihan lara
Biarlah air mata menjadi perekat di hening hati
Agar duka tersingkir berganti rangkaian prosa hati

Kebenaran harus dikabarkan
Agar hati menjadi saksi
Sampai rembulan berjalan terang menuju ufuk hati




Selanjutnya......

Cantik Seharusnya Praktis

(Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Bung Karno adalah sosok yang selalu terang-terangan mengagumi kecantikan wanita. Jika lagi sakit, dirinya minta dirawat oleh perawat yang berwajah cantik. Alasannya, mensugesti dirinya cepat sembuh. Dia tidak hanya mengagumi kecantikan wanita dari segi lahir saja, namun juga dari sisi batin. Kagum di sini karena Bung Karno memandang perempuan sebagai sosok sempurna. Tak heran kalau akhirnya dia menulis buku Sarinah yang diambil dari figur pembantunya.

Jadi teringat cerita dosen saya. Ketika itu dia masih kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM). Pada saat acara peresmian UGM, langsung dipimpin oleh Bung Karno. Ketika mau menggunting pita, Bung Karno melihat wanita cantik (dosen) yang juga panitia di situ. Bung Karno berhenti sejenak dan memandang wanita tersebut. Kemudian dia bertanya “Siapa wanita itu?”. Tentu saja para panitia dan tamu di situ merasa kikuk, khususnya si wanita cantik itu.

Kamudian rektornya menjelaskan ke Bung Karno kalau wanita cantik itu adalah dosen di UGM dan suaminya juga dosen di situ. “Wah kebetulan, mana suaminya?” kata Bung Karno. Suami wanita itu langsung memperkenalkan diri ke Bung Karno. “Maaf, bolehkah saya berbicara sebentar dengan istri Anda?” tanyanya minta izin. “Baik pak presiden silahkan.” Jawab suaminya. Setelah mendapat izin, langsung Bung Karno menghampiri wanita cantik itu. Ternyata Bung Karno hanya berbicara sebentar dan bertanya biasa-biasa saja. Setelah itu dia merasa senang dan langsung melanjutkan pengguntingan pita.

Lain lagi dengan WS. Rendra. Dia sangat terinspirasi menulis puisi ketika melihat wanita cantik. Hal ini juga diakui mantan istrinya, Rr. Sito Resmi Prabuningrat. “Kalau melihat wanita cantik dia sangat terinspirasi menulis puisi, istri-istri dia semua dapat puisi, kecuali saya.” Ujar perempuan cantik itu saat wawancara dengan Metro TV ketika WS. Rendra meninggal.

Kalau Anda bertanya pada saya “apakah saya suka wanita cantik? “ Jawabnya sudah pasti tahu semua “Iya”. “Apakah perempuan cantik mampu mensugesti saya layaknya yang dialami Bung Karno?” Saya juga akan menjawab “Iya”. Apakah puisi-puisi saya juga terinspirasi oleh wanita-wanita cantik, seperti WS. Rendra?”. Jujur, dengan tegas saya katakan “Iya”.

Mungkin, saya memiliki sudut pandang berbeda dengan dua tokoh yang saya kagumi itu. Pandangan saya, perempuan cantik itu “praktis”. Orang cantik seharusnya praktis !!. Karena, sekali pun bangun tidur terus cuci muka, pakai daster, pergi ke pasar akan tetap cantik. Tidak perlu repot-repot wajahnya dipoles make up. Seharusnya begitu. Bahkan, tidak perlu repot-repot memakai pakaian mahal. Karena memakai pakaian seadanya juga akan tetap cantik kok.

Tapi, ada juga perempuan cantik malah tidak praktis? Nah, perempuan cantik jenis itu sangat kasihan. Seharusnya hidupnya praktis malah berubah menjadi rumit. Coba saja bayangkan, bangun tidur langsung bercermin, mau mandi bercermin dulu, saat mandi juga masih sempat bercermin, setelah mandi (apalagi) langsung menyodorkan wajahnya ke cermin, mau keluar rumah lagi-lagi harus bercermin. Ah…rumit sekali, padahal wajahnya itu-itu juga !!.

Belum lagi harus dandan, wajahnya dipoles mak up sana-sini dengan berbagai aneka corak dan merk. Huh…sangat rumit !! Masih ditambah balutan pakaian di tubuhnya. Memakai yang serasi dengan dandanan make up-nya. Memilih pakaian masih harus “cerewet”, alasannya menserasikan dengan bentuk tubuhnya. Aduh…rumit sekali !!. Seharusnya yang rumit itu bagi wanita yang kurang beruntung punya wajah cantik.

Sama halnya dengan orang kaya. Sebenarnya kekayaan untuk membuat hidupnya lebih praktis. Iya, orang kaya seharusnya hidupnya praktis. Mau jalan-jalan tinggal pesan tiket saja langsung berangkat. Keluar rumah tidak khawatir kepanasan dan kehujanan karena ada mobil. Jika ingin makan enak juga tinggal pesan bisa langsung diantar. Mau shoping tinggal tunjuk saja sesuai selera. Dan seabrek kepraktisan lainnya.

Malah yang kasihan itu jika ada orang kaya tapi hidupnya tidak praktis!! Mau makan enak saja harus rumit karena terlalu banyak hitung-hitungan. Punya mobil mewah tapi merasa sayang dipakai kuatir kotor. Tidur harus nahan-nahan kepanasan karena kalau pakai AC takut rekening listrik membengkak. Wah…mendingan gak usah kaya kalau hidupnya harus rumit. Hidup praktis bukan berarti harus boros, tapi justru memudahkan dari kelebihan yang kita miliki.

Begitu juga jika kita diberi kelebihan kepandaian atau ilmu pengetahuan. Juga seharusnya membuat praktis dalam menjalani kehidupan. Sangat kasihan jika orang pandai justru membuat hidupnya rumit. Semoga kita mampu menikmati kehidupan dengan segala kelebihannya secara praktis. Kalau bisa dibuat praktis kenapa harus menjadi rumit.





Selanjutnya......

Kejujuran Kunci Ketenangan Hidup

Opini Batam Pos, 5 Maret 2010

(Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW)
Oleh: Mahmud Syaltut Usfa S.Psi
(Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Bulan Februari ini bertepatan dengan bulan kelahiran Rasulullah (Maulid Nabi). Seluruh Ummat Islam menyambut suka cita. Bukan sekadar disambut dengan aktifitas seremonial. Melainkan sebagai refleksi akan kemuliaan ahlak, sifat, pribadi, dan ajarannya sebagai rahmatan lil- alamin.

Salah satu gelar terbesar Nabi Muhammad SAW adalah Al-Amin. Kenapa Nabiyullah bergelar Al-Amin? Sosok yang sangat tepercaya. Nabi Muhammad diberi predikat al-amin jauh sebelum diangkat sebagai Rasul, ketika berhasil mempersatukan elite dan kabilah Quraisy yang berselisih tatkala membangun Ka'bah. Putra Abdullah bin Abdul Muthalib itu telah menjadi figur baru yang memberikan harapan cerah bagi masyarakat Arab. Kendati sebelumnya harus berhadapan dengannya karena membawa agama baru, Islam.

Sejarah akhirnya mencatat, dengan sifat al-amin dan risalah kenabiannya, Muhammad berhasil membebaskan dan mencerahkan seluruh masyarakat di jazirah Arabia, sekaligus menjadi sosok panutan seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Nabi kekasih Tuhan ini benar-benar menjadi pribadi dan pemimpin dunia yang memancarkan uswah hasanah. Lebih dari itu, Muhammad SAW bahkan telah menorehkan Islam sebagai agama rahmatan lil-'alamin. Pembawa agama rahmat bagi semesta alam.

Kita akan menjadi sosok dipercaya apabila “berani” jujur. Maaf, sengaja ditegaskan dengan kata “berani”. Karena pada kenyataannya, banyak di antara kita yang takut jujur. Jujur kerap disalah artikan sebagai sosok yang lugu. Dan orang lugu cendrung dipresentasikan gampang ditipu. Padahal, lahirnya suatu kepercayaan dikarenakan adanya kejujuran yang ditunjukkan secara konsisten dan terus menerus.

“Aduh, kalau jujur susah cari kerja” kalimat itu sering terdengar di sekeliling kita. Padahal, justru perusahaan dan instansi banyak yang bingung mencari orang jujur untuk dijadikan karyawan. Lebih miris lagi memasyarakatnya istilah “Kalau jujur susah cari makan”. Sangat terlalu mengada-ada!!

Hiruk pikuk lingkungan dan budaya yang penuh kepalsuan, kedustaan, kemunafikan membuat orang menjadi berat menjadi jujur. Padahal kejujuran tidak hanya mencerminkan integritas kepribadian seseorang, tetapi juga menjadi pesona bagi sesama dan mengundang datangnya ketenangan bagi pelakunya.

Kejujuran adalah kunci keberhasilan. Tidak hanya itu, kejujuran merupakan kunci tetenangan hidup !! Salah satu dari sekian sifat dan moral utama seorang manusia adalah kejujuran. Karena kejujuran merupakan dasar fundamental dalam membangun pribadi dan jati diri yang kokoh.

Kejujuran yang dicontohkan Rasulullah bukan sekadar jujur secara situasional. Sudah jelas berbohong adalah dosa. Melainkan juga bagaimana memiliki mental jujur total dari berbagai aspek kehidupan yang dihadapi. Baik pada masa lalu, saat ini, dan yang akan datang.

Jika hanya kejujuran situasional rasanya gampang dilakukan selagi tidak berbuat kesalahan. Misalnya, ketika seorang pejabat ditanya megapa berambisi menjadi pejabat. Bisa saja dia berdalih “Karena ingin mengabdi untuk rakyat”. Anggap saja dia jujur, tapi apakah pada saat tidak memegang jabatan kelak bisakah jujur menerima keadaannya?.

Ketidak siapan mental tersebut yang membuat orang tidak berani jujur. Sehingga muncul kondisi-kondisi psikologis, seperti kecemasan, pos power sindrom, deperesi, stress dan sebagainya. Orang yang takut jujur tidak akan siap menerima transformasi mental. Terkait dengan hal tersebut Rasulullah mengingatkan secara tak langsung. Tak perlu terjerumus pada love of power apalagi ta'bid 'an siyasiyah: cinta kuasa dan menghambakan diri pada hasrat kuasa melebihi takaran. Bila perlu minimalisasi dan nihilkan hasrat kuasa itu hingga ke titik zero.

Tidak berani jujur membuat kehidupan orang rumit. Mentalnya merasa dihantui perasaan takut. Contoh sepele, banyak pemimpin yang merasa takut karena anak buahnya dinilai lebih pandai. Padahal, apa susahnya jujur mengatakan “Maaf, Anda dalam hal ini lebih paham dari saya”. Karena takut jujur, akhirnya sibuk jaga imej, mencari kesalahan anak buah, bahkan, niat untuk menyingkirkan. Sikap seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi.

Ada orang yang berani jujur secara situasional, tapi justru takut jujur secara mental. Misalnya tentang masa lalunya, kondisi keluarganya, dan sebagainya. Selagi tidak berani jujur, maka perasaan tersebut akan terus dibawa ke mana pun. Pikirannya selalu tidak tenang dan mental pun akan tersiksa, akibatnya akan menutup diri.

Kondisi sederhana, kita juga sering bertemu dengan orang-orang yang takut jujur dengan usianya. Ketika ditanya berapa usianya, jawabannya malah “diplomatis”. “Ah…masa gak bisa ngira-ngira, kurang lebih 30-an lah”. Lho, bukankah tanggal, bulan, tahun, bahkan detik kalahiran sudah pasti? kenapa harus menjadi rumit? Jelas karena mentalnya tidak berani jujur. Bagi yang takut jujur, siaplah-siaplah tidak tenang.

Saat kita berbohong gampang diketahui orang lain. Tetapi tidak berani jujur dengan diri sendiri, Anda lah yang lebih tahu. Dalam sebuah hadis ditegaskan: Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan, akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab). (H.R. Bukhari).

Dalam siratan hadits-hadits Rasulullah SAW akan kita dapatkan petuah tentang betapa berartinya makna sebuah kejujuran. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk meninggalkan apa yang kita ragukan dan mengerjakan apa yang kita yakini. Dan bahwasanya kejujuran itu akan menimbulkan ketenangan jiwa sedangkan dusta selalu saja membuat jiwa pelakunya bimbang dan goncang.

Maka tidak aneh bila kita sering menjumpai orang yang memiliki harta benda; kekayaan yang melimpah namun sangat disayang ia tidak pernah menemui kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Hal ini boleh jadi dikarenakan harta benda yang melimpah ruah itu dihasilkan dari jalan yang tidak benar atau dari hasil ketidak-jujurannya.

Ada satu akhlaq yang sangat mendasar di dalam Islam yaitu As Siddqi (jujur), lawannya adalah al kadzibu (dusta atau bohong). Akhlaq dasar yang paling minimal yang kita miliki yang mengatakan aku beriman kepada Allah adalah jujur.

Munculnya Ego Divent Mekanisme (Pembelaan Ego) lahir dari rasa cemas. Sedangkan kecemasan itu sendiri disebabkan takut jujur pada dirinya sendiri. Rasulullah mengajarkan jujur secara total. Melalui kemuliaan ahlaknya beliau membangun nilai-niali kejujuran kepada umat manusia.

Jujur secara total bermakna menemukan titik keihlasan dari segala kondisi diri selama perjalanan hidupnya. Semoga Allah selalu membukaan pintu keihlasan dalam menerima segala perkara diri kita. Rasulullah melalui tuntutan ahlaknya membentuk kita menjadi pribadi yang jujur. ***






Selanjutnya......

Sekadar Mengusir Gelisah

WAJAH INDONESIA

Wahai jiwa-jiwa Indonesia berkumpullah
Bangsa kita sedang sekarat
Kocar-kacir diseret ambisi
Harga diri dipancung

Nasionalisme tai kucing
Kebangsaan air kencing
Demokrasi komat-kamit
Reformasi amit-amit

Berlarilah mencari kemerdekaan jiwa
Karena kemerdekaan adalah hak segala jiwa
Indonesia hanya tumpukan batu karang
Tak cocok bagi jiwa-jiwa lembut seperti kita



BUKAN PENYAIR

Para birokrat asyik bercengkrama di pentas rakyat
Pikirannya angin
Kata-katanya debu
Menebar pesona fatamorgana

Jilat saja kalimat-kalimat itu
Kami tidak butuh rangkaian kata-kata
Buanglah bersama sampah kemunafikan






Selanjutnya......