Kamis, 20 Mei 2010

Perubahan Besar Dimulai dari Diri Sendiri

Opini Batam Pos, Ditulis oleh Mahmud Syaltut Usfa S.Psi, Rabu, 19 May 2010

Hidup harus dinamis. Kita bisa dinamis apabila ada keinginan kuat untuk berubah ke arah lebih baik. Perubahan laksana gerak air di sungai. Selalu mengalami pergerakan ke arah perubahan. Bahkan, di dalam kehidupan ini tidak ada yang abadi, kecuali perubahan. Sekarang ini banyak pemimpin atau calon pemimpin mengikuti berbagai pelatihan kepemimpinan. Salah satu harapannya bisa melakukan perubahan terhadap bawahannya. Dan akhirnya berdampak perubahan pada instansi atau perusahaan.

Seorang yang berambisi menjadi pemimpin kerap terlalu berlebihan megampanyekan diri. Isu yang selalu diusung adalah perubahan. Terkadang terlalu kelakar, ingin merubah ini dan itu, sampai-sampai yang sudah benar juga ingin dirubahnya. Silahkan saja, itu memang hukum dalam kampanye. Asal, jangan terlalu bermimpi untuk merubah orang lain tanpa mau merubah diri sendiri. Apalagi dalam skala besar. Perlu diingat, perubahan sosial takkan terjadi tanpa perubahan dalam kepribadian.

Melakukan perubahan dibutuhkan motivasi kuat serta konsistensi tinggi terhadap diri sendiri. Mustahil mampu merubah orang lain jika tak sanggup merubah diri sendiri. Di sinilah perlunya inferiority, yaitu menantang dirinya untuk maju, membentuk kembali, bahkan mengubah hidupnya. Biasanya saat muncul motivasi tersebut, maka akan lahir trigger. Trigger (pemicu) ini memiliki peran penting sebagai pemberi semangat melangkah menuju perubahan. Misalnya dengan terus berpikir positif

”Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak,” Muncul kepercayaan tinggi kalau dirinya pasti bisa berubah, ”Saya pasti bisa!! Semangat!!” Dan berbagai kalimat-kalimat pemicu lainnya.

Saya jadi teringat tulisan di sebuah pemakaman di Inggris, kalimat yang sangat dalam maknanya. Kalau diartikan secara bebas begini artinya:

”Saya pernah memiliki cita-cita menjadi presiden, agar bisa melakukan perubahan di negeriku. Tapi, ternyata negeriku sudah mengalami kerusakan sangat parah. Tak mungkin mampu dilakukan perubahan. Akhirnya kuturunkan cita-citaku menjadi gubernur. Dengan harapan bisa melakukan perubahan di provinsi. Sayang sekali, aku rasanya tak mungkin mampu karena di provinsi juga mengalami kerusakan parah.

Terpaksa cita-citaku kuturunkan ingin menjadi wali kota. Harapannya bisa segera merubah kotaku yang makin tak tertata. Lagi-lagi kotaku sangat parah kerusakannya. Aku takkan mungkin sanggup merubahnya. Akhirnya citaku-citaku kuturunkan lagi untuk melakukan perubahan di keluargaku. Sama juga, keluargaku sangat berantakan. Sulit bagiku melakukan perubahan. Dengan terpaksa kuturunkan lagi cita-citaku. Aku hanya bercita-cita melakukan perubahan pada diri sendiri.

Akhirnya aku berpikir, andai saja dari dulu bercita-cita merubah diri sendiri, pasti bisa melakukan perubahan di keluargaku. Dan akhirnya bukan tidak mungkin aku mampu merubah kotaku. Juga sangat mungkin aku bisa merubah provinsi. Bahkan, bukan sesuatu yang mustahil pada akhirnya aku juga bisa merubah negeriku”.

Luar biasa kalimat tersebut. Jika kita betul-betul berniat melakukan perubahan ternyata sangat mudah sekali. Tidak perlu menunggu memiliki jabatan. Cukup dimulai dari sendiri. Sederhana sekali bukan? Melakukan perubahan harus dilandasi sebagai kebutuhan. Bukan sekadar keinginan. Apalagi hanya sebagai pemanis belaka. Kebutuhan menjadi satu dimensi penting dari kepribadian. Kebutuhan dapat digolongkan, bisa agresif, pasif atau dipelihara. Kebutuhan yang digerakkan termasuk kebutuhan untuk berprestasi, untuk mencapai otonomi dan untuk memelihara tatanan.

Kebutuhan menjadi suatu dimensi penting dalam kepribadian seseorang terhadap kemampuan melakukan perubahan. Paling tidak, memiliki kepribadian yang inovatif. Dengan ciri, muncul kebutuhan sangat besar terhadap otonomi dan keteraturan, pemahaman sendiri yang memungkinkannya tegas terhadap orang lain, kebutuhan yang sangat besar untuk memelihara dan memikirkan kesejahteraan orang lain maupun kesejahteran dirinya sendiri.

Hal ini sangat berbeda dengan kepribadian otoriter. Kepribadian otoriter membayangkan lingkungan sosialnya kurang teratur dibandingkan dengan dirinya sendiri. Ia tak yakin bahwa ia dinilai oleh lingkungan sosialnya. Ia membayangkan kekuasaan lebih sebagai fungsi dari posisi yang diduduki seseorang, ketimbang sebagai fungsi prestasi yang dicapai seseorang.

Kuncinya adalah mengkoordiner suatu keinginan kuat sehingga membentuk suatu sikap ke arah lebih baik. Sekarang ini banyak pemimpin dengan cemerlang melakukan perubahan terhadap bawahannya. Namun, tak mampu merubah mental dirinya sendiri. Akibatnya, muncul kasus korupsi, skandal perselingkuhan, dan sebagainya. Bahkan, tak mampu melakukan transformasi mental saat jabatannya harus merosot. Ini akibat perubahan tidak dilakukan secara sistematis terkait kebutuhan pribadinya. Kesadaran triggernya begitu lemah.

Pada intinya, jika kita menginginkan suatu perubahan harus dilakukan secara kesadaran penuh. Sehingga menjadi kebutuhan pribadi sendiri. Kalau hanya sibuk menuntut orang lain berubah, maka akan membuang kesempatan bagi diri sendiri. Apalagi perubahan hanya sebatas serimonial belaka, sangat mustahil bisa melakukan perubahan secara besar.

Salah satu gagalnya melakukan perubahan pada diri sendiri disebabkan terlalu sibuk menuntut orang lain berubah. Kesibukan tersebut akhirnya mengantarkan pada sikap atoriter, dan anarki absolut. Sikap seperti itu membuat seseorang terlalu toleran terhadap kesalahan dirinya sendiri, namun menuntut lebih dari orang lain.

Semoga kita termasuk orang yang terus memiliki semangat melakukan perubahan pada diri sendiri. Dengan memulai dari hal terkecil dan sederhana, bukan mustahil akan mendapatkan manfaat besar. Menjelang pilkada gubernur ini, kita berharap memiliki pemimpin yang mampu melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Bukan sebatas pengakuan kata-kata selama kampanye. Karena keberhasilan merubah dirinya akan menjadi tolak ukur dalam melakukan perubahan pada orang lain. Insya Allah. ***

*Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam



Selanjutnya......

Syair Sendu Mahmud Syaltut Usfa

Suara Gelisah

Aku mendengar suara lirih dari lorong-lorong angin
Jerit sang perawan memanah hati
Berhembus manja memekik kegelisahan
Memasung kejujuran hingga ke dasar hati

Mata beningnya terus menatap mimpi
Didekap erat agar kejujuran tak membangunkannya

Air matanya mengalir ke hilir sunyi
Tak mampu berkata-kata
Hatinya terus dipeluk
Takut rasa cinta terbuang ke sampah keihlasan



Keheningan Cinta

Jiwa-jiwa bertakbir
Menyambut hati yang menepi
Cinta itu begitu suci
Lahir dari beningnya embun pagi

Bangunkan jiwaku saat kejujuran tiba
Air mata ini merindukannya
Bercengkarama dengan kebeningan cinta



Tak Sebatas Mimpi

Hah……
Cinta itu berdiri dengan fatamorgana
Bayangan diri terus berjalan lesuh

Percuma saja….
Hatiku sudah melangkah ke batas mimpi

Maaf….
Cinta tidak berpijak di alas hayal


Selanjutnya......

Rabu, 19 Mei 2010

Sibuk Mengurus Hati

Catatan Ringan Mahmud Syaltut Usfa

Dalam kehidupan ini, kita mendapat jatah waktu 24 jam. Berbagai tetek-bengek urusan harus diselesaikan dalam waktu itu juga. Jika tidak, sudah pasti akan tertunda di 24 jam ke depan. Banyak orang yang bisa memanfaatkan waktu tersebut. Namun, juga sangat banyak yang kelabakan.

Dari berbagai kesibukan selama 24 jam, sebenarnya yang membuat kita sangat-sangat capek disebabkan terlalu sibuk mengurus hal-hal kecil. Sehingga hati tidak terurus. Lalulintas dalam hati kita sungguh sangat padat. Entah muncul rasa jengkel, salah paham, dan seabrek perasaan menyakitkan hati lainnya. Capek !! Padahal selama kita hidup tidak akan lepas dari gesekan persoalan.

Selagi kita tidak mampu mengurus hati, mustahil bisa menaklukkan waktu 24 jam dengan tenang. Padahal, jika kita mampu, niscaya Allah akan menaklukkan alam semesta kepada Anda. Hati kita menjadi tidak tanang, wasa-was, karena terlalu sibuk mengurus bisikan-bisikan tidak penting. Sehingga, kita bukan disibukkan manata hati diri sendiri, melainkan sibuk mengurus orang lain.

Bisa dibayangkan, betapa capeknya hati jika kita sibuk mengurus orang lain. Bahkan kita akan dilanda kecemasan, ketakutan, dan depresi.

Saya memilikii kisah menarik tentang seorang sufi.

Suatu ketika, seorang Arab datang ingin berguru kepada Abu Said Abul Khair, seorang tokoh sufi yang terkenal karena karamahnya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian-pengajian. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir.

Ketika orang itu tiba, Abul Khair sedang memimpin majlis simaan (acara mendengarkan orang membaca doa) di tengah para pengikutnya. Waktu itu Abul Khair membaca Al-Fatihah. Ia tiba pada ayat: ghairil maghdubi alaihim, wa laz zalim. Orang Arab itu berfikir, '' Bagaimana mungkin aku bisa berguru kepadanya. Baca Al-Quran saja, ia tidak bisa?. Orang itu mengurungkan niatnya untuk belajar kepada Abul Khair.

Begitu orang itu keluar, ia dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas. Ia mundur tetapi di belakangnya ada seekor singa lain yang menghalanginya. Lelaki Arab itu menjerit keras karena ketakutan.

Mendengar teriakannya, Abul Khair turun keluar meninggalkan majlisnya. Ia menatap kedua ekor singa itu dan menegur mereka, Bukankah sudah kubilang jangan ganggu para tamuku!? Kedua singa itu lalu bersimpuh di hadapan Abul Khair.

Sang sufi lalu mengelus telinga keduanya dan menyuruhnya pergi. Lelaki Arab itu merasa heran, Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar? Abul Khair menjawab, Aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Untuk kesibukanku memperhatikan hati ini, Tuhan menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Sedangkan kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah, karena itu kamu takut kepada seluruh alam semesta.

Semoga kita mampu menjadi orang yang selalu sibuk mengurus hati. Insya Allah kita akan menjadi orang yang tenang. Karena Allah akan memberi alam semesta untuk Anda miliki.


Selanjutnya......

Kamis, 13 Mei 2010

Sajak Langit Mahmud Syaltut Usfa

Keangkuhan Do’a

Kata-kata itu terasa merdu menyentuh jiwa langit
Bercengkrama dengan pengharapan
Mengoyak keheningan takdir
Membisu tak berdaya di antara seribu permintaan

Do’a begitu angkuh menuntut tuhan
Membungkus keluh kesah dengan kekhusuan
Tuhan telah diperintah kata-kata iba
Tuhan telah diajari oleh lidah kemunafikan
Tuhan telah dituntun lumuran hati para pendosa

Lelehan air mata bukan hempasan rasa cinta padaNya
Tapi rasa takut sang do’a tak terkabul
Ratapan jiwa bukanlah rasa kepasrahan syukur
Namun rasa gusar sang do’a tak terwujud

Tuhan hanya ada saat tubuh butuh sandaran
Dengan panggilan sendu atas nama do’a
Saat jiwa terbang dengan kepakan sayap bahagia
Tuhan hanya terselip di celah-celah kuku makrifat




Kebisuan Cinta


Biarkan cinta ini membisu sejenak
Berkabung dengan tarian lara
Bernyanyi lirih seirama tetesan gelisah

Aku hanya ingin cinta sederhana
Seperti angin yang tak sempat berkata apa pun saat membelai samudera
Seperti api yang tak sanggup berucap sepatah kata pun saat melebur bara

Cintamu begitu dahsyat hingga melemparkan jiwaku ke lidah langit
Menjadikan hati ini tercecer di pangkuan ayat-ayat keteduhan

Tak perlu risau menanyakan jejak-jejaknya
Aku telah mengukirnya di celah cahaya rembulan dan matahari pagi

Tak perlu risau memikirkan perjalanannya
Hatiku masih berdiri kokoh dengan busur di sayapnya
Siap memanah rembulan hingga kebenaran tak membisu lagi

Selanjutnya......

Syair Lirih Mahmud Syaltut UsfaBagikan

Tubuh yang Gelisah

Kepada tubuh yang gelisah
Biarkan roh ini pergi sejenak
Mengembara mencari hati yang terbuang
Aku merasakan puing-puingnya masih berdiri kokoh

Kegelisahan terus berteriak lantang
Bertakbir di antara berhala-berhala hedonisme

Wajah jiwa ini masih bercengkrama dengan rembulan
Sambil terus bercermin pada kebeningan air mata
Tak perlu menyentuh hatinya
Karena sedang mendekap luka
Tak berdaya menatap serpihan nostalgia

Cinta ini begitu dahsyat meremukkan hati
Padahal kisahnya sudah terlempar bersama imanjinasi

Rohku hanya mampu menatap kebenaran dari sudut akal
Tak sanggup lagi mengembara di jagad nurani

Wahai perempuan jalang….
Tubuh yang nista
Jiwa yang renta
Berbaringlah dengan para pelacur jalanan
Juallah harga diri itu dengan kefanaan cinta

Aku di sini menunggu kabar dari sayap-sayap angin
Sampai rohku datang menghapus gelisah


Selanjutnya......

Rabu, 05 Mei 2010

Pacaran Islami, Apaan Tuh..!!

(Catatan lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Dulu, dalam suatu diskusi psikologi di kampus, ketika itu saya jadi pembicara, ada pertanyaan menarik dari audien. “Bagaimana pacaran yang islami itu?”. Saat itu saya kaget “Hah….kayak apa tuh..?!!” Kalau memang ada pacaran islami, jangan-jangan juga ada zina islami.

Apalagi gaya pacaran anak sekarang sudah di luar batas. Alasannya karena komitmen. Bahkan, banyak perempuan yang terlalu ‘ihlas’ menyerahkan tubuhnya ‘diobok-obok’ oleh cowoknya karena takut diputus, wow…!! Walaupun dalil tersebut tidak bisa dibenarkan seratus persen. Bisa saja karena dilandasi suka sama suka.

Nah, ngomong-ngomong soal pacaran, ternyata sampai sekarang masih muncul tentang pacaran islami. Entahlah, mungkin cuma upaya melegalkan aktivitas baku syahwat itu? Atau para remaja Islam merasa takut tidak bebas ‘mengekspresikan gaya pacaran’. Malah disinyalir, katanya banyak pula yang melakukannya adalah anak masjid. Artinya mereka itu ingin Islam, tapi ingin pacaran juga. Ah, ada-ada saja!!!

Mau anak masjid, pesantren, jilbaban, rajin puasa senin-kamis, kalau mempraktekkan gaya pacaran bak gaya selebriti tetap saja mendekatkan zina. Bukan sok alim sih, tapi hendaknya gaya pacaran pada umumnya sekarang ini harus dipisahkan dengan embel-embel islami. Karena dalam Islam tidak ada istilah pacaran. Pacaran-pacaran saja, zina ya zina saja !!

Lantas kenapa dorongan melakukan maksiat begitu tinggi ketika pacaran? Faktor pertama pasti karena keduanya memiliki nafsu. Manusia normal mana yang tidak ingin melakukan hubungan intim dan romantik dengan pasangannya?

Secara psikologis ada tiga hal sehingga pasangan yang sedang berpacaran terdorong melakukan hubungan intim. Pertama, cinta lahir karena atas naluri intimacy. Adanya perasaan kecocokan, dari hal-hal sederhana sampai yang serius. Misalnya, pasangannya cocok diajak curhat, nyambung diajak ngobrol, kecendrungan seleranya banyak sama. Baik sikap, sifat, kegemaran, dan sebagainya.

Kedua, adanya unsur passion. Kondisi ini sudah melangkah kepada keinginan lebih jauh untuk merasakan kenikmatan berhubungan secara fisik. Misalnya, saling berpegangan tangan, menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya, saling membelai, bahkan keinginan berhubungan intim.

Ketiga, sudah memutuskan untuk commitment. Yaitu kesediaan untuk benar-benar terikat satu dengan yang lain. Commitment ini memliki kekuatan sangat dahsyat untuk menarik intimacy dan passion. Biasanya, jika sudah terbentuk commitment maka ada kecendrungan melakukan hubungan pacaran secara total. Bisa dibayangkan, betapa keduanya sangat leluasa mewujudkan keinginan-keinginan libidonya. Karena menurut mereka, milikmu adalah milikku dan sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan sepak terjang teman-teman remaja yang terlanjur menganggap aktivitas baku syahwatnya sebagai pacaran islami? Jawabannya ya dosa! Iya dong. Soalnya siapa saja yang melakukan kemaksiatan jelas dosa sebagai ganjarannya. Apalagi anak masjid, berjilbab, ahli dalam agama.

Coba simak QS. An-Nuur : 30, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kehormatannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Kemudian QS. An-Nuur : 31, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kehormatannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…”

Jadi bagaimana dong? Dalam Islam tetap tidak ada yang namanya pacaran islami. Lalu kenapa istilah itu bisa muncul sampai sekarang? Boleh jadi para remaja hanya punya semangat keislaman tapi minus tsaqafah ‘pengetahuan’ Islamnya. Kayaknya saya juga perlu instrospeksi nih, ayo semangat bertobat!!!


Selanjutnya......

Minggu, 02 Mei 2010

Sajak-sajak Sufistik Mahmud Syaltut Usfa

Batam Pos, Minggu 2 Mei 2010
(Penulis dan Penyair kelahiran Pulau Bawean Jawa Timur bermukim di Batam)

Sampah Kata-kata

Telah kubuang logika semu ke ujung zaman
Hingga mata batin tak menatapnya lagi
Kini, pikiran itu bertelanjang
Menunggu nurani mendekapnya

Lihat itu….!!
Pikiran-pikiran angin menari di ujung pena
Semua disalahkan oleh pikirannya
Tersenyum bagai pahlawan
Membalik kata di simpang gelisah

Aku berdiri di antara kata yang terbuang
Tidak segagah sang penyair, budayawan, dan intelektual

Pikiranku masih bertelanjang
Tetap bertahan menunggu nurani mendekapnya
Sambil tersenyum memungut sampah kata-kata



Sang Pelayan

Jiwa yang hakiki, keluarlah sejenak dari tubuh tuanmu
Lihatlah tarian kemunafikan
Menjijikkan bukan…?
Di situlah selama ini engkau melayaninya




Mentuhankan Nafsu

Tubuh ini berjalan tertatih di setiap jengkal nafas
Berat menahan gelisah di sepanjang ruang hidup
Lidah nafsu begitu liar
Bercengkrama di lorong-lorong hati

Jenguklah nafsu itu
Mungkin saja sudah pergi
Tak perlu diikat dengan kata-kata
Agar tak mengundang keinginan

Nafsu bisa menjelma bagai tuhan
Segala jiwa bersujud lusuh padanya
Anehnya,
Tubuh merasa riang membungkuk sebagai budak
Menjilat rakus hempaskan harga diri

Nafsu dituhankan
Tuhan diburamkan nafsu
Kecuali engkau berjalan di garis tauhid
Di situlah hatimu mampu menatap tuhan yang hakiki



Kebisingan Hati

Betapa akal terus tersiksa menyanggah kebisingan hati
Hati terus menyeret nafsu berbicara kefanaan dunia
“Diamlah..!! Aku malu menatap tubuh ini.” Sergah akal

Hati terdiam dalam belenggu detik
Namun tak lama menyeret nafsu kembali

Akal hanya mampu berkata dalam hening:
Diamlah..!!
Diam..!!
Dia..!!
Aku malu menatap tubuh ini..!!



Cepat Kejar Sang Waktu

Cepat pergi ke ujung waktu
Berlari saja hingga mampu menyambutmu
Dia akan mengembalikan separuh tubuhmu

Peluklah dengan erat saat bertemu
Hempaskan rasa rindu masa lalumu
Sebelum masa lalu terhapus oleh zaman

Bicarakanlah tentang hari ini
Sebelum berganti menjadi masa lalu

Sadarkah kamu,
Sang waktu akan terus berdiri kokoh
Hingga separuh tubuhmu tak bisa dikembalikan lagi



(Terima kasih Batam Pos yang telah mempercayakan syair-syair saya untuk dimuat di halaman minggu koran ini)


Selanjutnya......