Rabu, 14 Januari 2009
Sajak Sufistik
Benang merah terus terburai di sepanjang lorong hati
Tak pernah lepas terajut indah di kepakan sayap cinta
Para bidadari berdansa menikmati fatamorgana seribu hati
Sang seribu hati
Satu persatu berpetualang melanglang jagad amora
Sang seribu hati
Siap menjadi pahlawan dengan terus mengepakkan sayap cinta
Pedang di sayap hatinya tak pernah lengah dari pandangan mata jiwa
Lengah berarti hilangnya kesempatan
Apalagi sampai tercecer di sudut akal
Lebih sakit lagi jika terhempas di sayatan hati
Jiwa-jiwa tak henti-hentinya mengejar seribu hati
Padahal hanya satu yang mampu bersandar di ruangnya
Ada ruang kosong yang terus memelas pada mata jiwa
Bersimpuh luluh agar tak pernah ada jarak dengan hati
Mata hati begitu tajam memandang setiap jengkal kesempurnaan
Walau terkadang kesempurnaan harus menjadi bagian kekurangan
Cinta kadang harus kejam sebengis kematian
Sampai mata jiwa terpejam di pelukan hati yang kosong
Benang merah terus terburai.....
Mencari titik persinggahan hati....
Melanglang jagad nurani....
Menempuh perjalanan jiwa....
Terus berjalan...berlari...bersaing dengan seribu hati
Tak pernah lelah sampai sayapnya terhempas ke titian logika
Para bidadari masih terus menikmati fatamorgana hati
Hati yang terus menari menunggu ketegasan takdir
Siap-siaplah terhempas ..............
Karena cinta hanya ada saat kejujuran tersadar
Berdansalah dengan seribu bidadari ketika pedang di sayap cinta menghunus titik hati
Dan menangislah di saat benang merah harus tercecer tak mampu menyentuh hati
Cinta akan terus ada walau tanpa harus berpetualang dengan pedang di sayapnya
Sebab jiwa terlahir dari rajutan cinta
“ Jarak Hati “
Ketika waktu bergeser menuju sepertiga malam
Hati membangunkan logika untuk berdialog.
“Mengapa ketika sedang dalam keadaan marah harus berbicara dengan suara yang kuat atau berteriak.” tanya hati memulai.
Logika terdiam sejenak, kemudian menjawab “ Karena saat seperti itu telah kehilangan kesabaran.”
“Tapi...” sang hati balik bertanya .” Bukankah lawan bicara berada di dekatnya, mengapa harus berteriak? Apakah tidak bisa berbicara dengan halus?”.
Logika semakin terdiam, terus mencoba dengan seribu argumen.
Namun, tak satupun jawaban menyentuh ruang sang hati.
Terdiam lemah tak mampu bengkit dari keakuannya.
Sang hati berkata ” Ketika sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati akan menjauh walau kedua jasad begitu dekat.
Jarak kedua hati akan menjauh sampai tak tersentuh akal.
Untuk menggapainya harus terus berteriak...teriak....dan berteriak!
Aneh....semakin keras berteriak, jarak hati makin terpisah.
Dan....jarak hati makin menjauh tak mampu digapai.
Sang hati melanjutkan ” Sebaliknya, apa yang terjadi ketika sedang jatuh cinta?
Hati begitu dekat...tak berjarak!
Kedua hati hanya dibatasi ruang tipis laksana titian rambut dibelah tujuh.
Suara yang halus akan terdengar indah, tanpa harus berteriak.
Akhirnya....sepatah katapun tak perlu diucapkan.
Sekerdip pandangan mata sudah cukup memahami pesan.
Sang hati terus melanjutkan ” Ketika sedang dilanda kemarahan janganlah menciptakan jarak hati. Tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara bijaksana.”
Usai berdialog, kuhempaskan jasadku dan kusucikan jiwaku dengan air wudu’.
Sujud shalat malam, agar hati dan logikaku terus mendekat kepada Allah.
Hingga tak berjarak....luluh dalam dekapan istighfar.
Batam, 11 Des 2008 (Telah dipublikasikan di Media Nasional Harian Batam Pos)
Selanjutnya......
Kita Sudah Jadi Raja
Tapi, tahukah kalau kita sekarang sudah menjadi raja?
Dulu, sang raja ketika duduk di singgasananya selalu diapit oleh dayang-dayang yang mengipas tubuhnya sepanjang waktu agar tidak kepanasan. Tapi, sekarang kita tidak perlu itu, cukup memakai kipas angin, atau bisa memakai AC kan tinggal diremot saja, praktis bukan?!! Kalau tidak punya AC sendiri cukup nongkrong di mall dijamin kita dimanjakan dinginnya AC melebihi kipasan dayang-dayang sang raja.
Sang raja, untuk mendapatkan hiburan harus mengundang para penari atau pelaku seni yang memberi persembahan di depan singgasananya. Ah...itu, sungguh merepotkan ! Sekarang kita bisa lebih praktis lagi. Cukup duduk atau tidur-tiduran di depan televisi, silahkan tekan remot kontrol dan tinggal pilih chanel mana yang paling disuka.
Untuk bepergian, sang raja harus mempersiapkan kuda dengan keretanya. Jarak dan kecepatan yang akan ditempuh juga masih sangat terbatas. Saat ini, kita bisa melakukannya lebih praktis lagi. Bisa memakai motor, mobil ber AC. Kalau jarak tempuh jauh, kita bisa menggunakan kapal atau pesawat terbang. Bahkan, kita bisa memilih untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik.
Saat berkomunikasi jarak jauh, sang raja harus membuat surat khusus yang dikirim melalui petugas kerajaan. Kadang, pengirim surat harus dikawal pengaman kerajaan. Dan, untuk mendapatkan balasan dari koleganya harus menunggu waktu lama. Tapi, saat ini kita cukup tekan nomor lawan bicara melalui ponsel, Bisa SMS, MMS atau 3G. Kita tinggal menekannya kapan saja yang dimau!!
Konon, sang raja juga doyan mencari selir dan mengencani wanita-wanita pilihannya. Nah, biasanya tempat kencan yang dipilih harus ke hutan di pelosok desa yang jauh dari kerajaan. Ini, tentu saja agar tidak ketahuan rakyatnya. Kita, tidak perlu serepot itu !! Kencan dengan wanita tinggal pilih penginapan, losmen, atau hotel yang terjangkau. Dijamin dimanjakan dengan fasilitas menyenangkan, dan pastinya akan aman-aman saja !
Husstt...konon juga sekarang ini banyak pejabat-pejabat yang tidak mau kalah dengan sang raja dalam hal mencari selir. Kencannya juga tidak perlu pergi jauh-jauh ke hutan. Tinggal pilih hotel berbintang yang nyaman dan aman. Yang penting, ketika muncul ke publik didampingi istri resminya.
Kita tidak perlu iri lagi dengan sang raja, karena kita sudah menikmati fasilitas lebih dari apa yang pernah dinikmati sang raja. Selamat menjadi raja !!
Selanjutnya......
Si Ande-Ande Lumut
Belajar Harga Diri dari Andi-Ande-Ande LumutCerita Ande-Ande Lumut sudah melegenda. Dia adalah raja tampan, kaya dan sedang membutuhkan permaisuri. Maka diumumkan kepada khalayak ramai. Langsung, wanita-wanita cantik dari penjuru negeri datang mengadu nasib. Mereka berdandan cantik agar hati Ande-Ande Lumut kepincut.
“Betapa bahagianya apabila dipersunting Ande-Ande Lumut”. Begitu pikiran yang diimpikan para wanita kala itu.
Satu persatu datang ke singgasananya. Wanita-wanita yang merasa memiliki wajah dan body pas-pasan sebaiknya tahu diri untuk tidak nekat ikut “audisi”. Pasti akan tersingkir karena saingannya berat. Seleksi berjalan sangat ketat. Kira-kira tidak jauh beda dengan audisi Indonesia Idol atau Kontes Dangdut KDI.
Di balik kisah sukses kontestan ada cerita unik dan menarik. Ada tiga gadis-gadis cantik yang berangkat dari pelosok desa untuk ikut seleksi. Tapi, gadis yang satu sangat lugu. Tidak pandai bersolek dan kelihatan sangat ”ndeso” alias kampungan.
Menurut pandangan kedua temannya, gadis lugu itu gak masuk perhitungan. ”Ah...gak gaul banget, mana mungkin sang raja mau, gak level dong..” begitu pikir kedua gadis tersebut. Mereka berangkat dengan sejuta harapan, yakin lolos seleksi. Bahkan, bukan mustahil keduanya bakal dipersunting Ande-Ande Lumut.
Perjalanan yang ditempuh sangat jauh menuju kerajaan. Make up di wajah kedua gadis itu harus terus dipoles karena luntur oleh keringat. Berbeda dengan gadis satunya, tidak ambil pusing dengan keringat di wajahnya. Karena memang tanpa polesan make up.
Tapi sial, perjalanan mereka harus terkendala. Karena harus menyeberang sungai yang airnya deras. Ketika mau menyeberang sungai mereka harus berhadapan dengan kepiting raksasa (yuyu kangkang) penunggu sungai tersebut.
”Kepiting, tolong seberangkan aku agar cepat sampai menemui Ande-Ande Lumut.” pinta salah seorang gadis tersebut. ”Berenang saja...” sahut si kepiting sambil senyum-senyum. ”Mana mungkin, kan aku sudah dandan cantik gini.” sahut kedua gadis itu hampir bersamaan. ”Baik...” sahut si kepiting sambil melanjutkan negosiasi. ”Aku mau mengantarkan kalian, asal saya boleh mencium pipi kalian bertiga.” pintanya. Mereka bertiga berpikir sejenak, dan akhirnya sepakat. ”Baik gak apa-apa kan cuma dicium kepiting aja.” pikirnya enteng.
Akhirnya kepiting mulai menyeberangkan satu gadis terlebih dahulu. Sementara dua gadis lainnya masih menunggu. Saat menunggu itu, gadis lugu yang tak pandai bersolek pikirannya mulai berontak. “Ih....aku gak mau dicium si kepiting, lebih baik berenang daripada menyerahkan pipiku untuk dicium.” pikirnya.
Akhirnya gadis tersebut punya akal. Dia mencari kotoran sapi di sekitar pinggir sungai. Dan mengoleskan kotoran sapi itu ke seluruh wajahnya. Ketika gilirannya, si kepiting menyeberangkan gadis tersebut. Begitu sampai di pinggir sungai, si kepiting tidak mau menciumnya. “Sudah kamu pergi saja, aku gak mau menciummu karena bau dan wajahmu jelek.” ujar si kepiting dengan nada ketus.
Usai diantar, gadis lugu tersebut mencuci wajahnya sampai bersih. Kecantikan alaminya terpancar. Kulitnya yang putih dan halus tampak bercahaya. Kemudian ketiganya melanjutkan perjalanan.
Singkat cerita, ketiga gadis tersebut sampai di kerajaan. Setelah melalui antrian panjang peserta, akhirnya sampai juga pada gilirannya. Audisi berlangsung sangat ketat. Semua wawancara dilakukan sendiri oleh Ande-Ande Lumut. Tidak ada komentator layaknya Simon Powel, Paula Abdul dan Randy Jackson dalam America Idol.
Juga tidak ada cerewetnya komentar seperti Ivan Gunawan (Mamamia Indosiar) yang berkaitan dengan mode pakaian. Atau kritikan pedas Beny Simanjuntak dan Ikke Nurjanah yang berkaitan dengan penampilan dan kualitas vokalnya. Semua keputusan layak atau tidaknya berada pada mulut Ande-Ande Lumut. Penentuan pemenang kontestan juga tidak berdasarkan hasil SMS dari masyarakat.
Satu persatu ketiganya diaudisi oleh sang raja. Mulai dari riwayat hidup, keluarga, sampai perjalanan akhirnya bisa sampai ke kerajaan. Ande-Ande Lumut penasaran bagaimana bisa ke kerajaan dan menyeberangi sungai yang airnya deras. Mereka menceritakan pengalamannya.
Sebenarnya Ande terpesona juga dengan kecantikan gadis-gadis tersebut. Cuma sayang sekali, Andi memutuskan dari ketiganya hanya satu si gadis lugu yang lolos audisi untuk jadi istrinya. ”Hah...gak salah tuh...!! ” tukas keduanya dengan nada heran.
”Apakah baginda gak salah pilih...?” tanya mereka lagi penasaran. ”Oo...tidak, ini sudah keputusan yang paling tepat...!! ” tegas sang raja. ”Kenapa baginda lebih memilih gadis lugu ini?” tanya mereka lagi. Sang raja dengan tanang menjawab alasannya. ”Karena kalian sudah dicium kepiting, sedangkan temanmu tidak ternoda oleh ciuman kepiting.” jawabnya bijak.
Sungguh, kedua gadis tersebut sangat terperanjat. ”Maaf baginda, kan cuma dicium kepiting, apa pengaruhnya? tidak ada yang ternoda? kami masih perawan....kalau gak percaya kami siap diaudisi keperawanan kok.” jawab keduanya senada.
Sambil tersenyum baginda menjelaskan lagi. ”Kalian harus belajar dengan harga diri dan kehormatan wanita. Bukankah seharusnya kalian bisa menjaganya walaupun hanya satu colekan dari yang bukan haknya. Yang memiliki hak untuk menyentuhmu adalah suamimu. Bukan laki-laki lain, bukan pacar, atau mahluk lain.
Kenapa kalian relakan harga diri dan kehormatanmu runtuh hanya sebuah ambisi. Jagalah kemuliaan dirimu sebagai wanita. Hati-hati dalam melangkah.” urainya dengan bijak. Selanjutnya sang raja memutuskan bahwa yang berhak menjadi istrinya adalah gadis yang dipandang lugu, ndeso. Dia sebenarnya gadis yang mulia, karena sanggup menjaga harga diri dan kemuliaan dirinya.
Wah...di zaman sekarang ini rasanya susah mencari gadis seperti itu. Sudah banyak terjadi gadis-gadis yang gonta-ganti pacar. Baru pecaran sehari saja sudah main pegang-pegangan. Berciuman, pelukan, bahkan cek in di hotel sudah biasa. Padahal, belum tentu akan menjadi suaminya.
Bahkan, betapa banyak kasus hamil di luar nikah. Tapi anehnya, hal itu dipandang wajar-wajar saja. Setiap ganti pacar selalu melakukan seperti itu lagi. Kasihan suaminya nanti karena sudah dapat bekas orang lain. Bahkan, ada pandangan salah kaprah di zaman sekarang ini kalau remaja masih perawan gak gaul. Aduh biung....berarti suaminya kelak hanya dapat barang sisa dong...!! Tapi, anehnya si laki-laki juga menganggap hal itu wajar-wajar saja.
Katanya sih, setiap orang memiliki masa lalu. Biarlah berlalu seperti apa dulunya, keperawanan gak perlu diperiksa segala. Apalagi sampai menanyakan sudah pernah dicium cowok atau belum? Ih...norak sih kalau sampai gitu. Bukankah saat pacaran pegang-pegangan, peluk-pelukan dan ciuman sudah biasa? Lantas kenapa harus dipersoalkan?!.
Zaman sekarang ini mana ada cewek yang masih suci dari sentuhan laki-laki...? Kecuali yang memang gak pernah pacaran? Iya gak? (Maaf itu pandangan orang secara umum lho, bukan bermaksud merendahkan kaum hawa). Coba deh...bandingkan dengan kisah Ande-Ande Lumut. Wow....bagaimana si gadis lugu mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sampai melulur wajah cantiknya dengan kotoran sapi.
Dan bagaimana juga sikap Ande-Ande Lumut yang begitu respek memperhatikan kehormatan kaum wanita. Ada gak ya cewek sekarang yang berani mengatakan tidak demi menjaga kemuliaannya? Atau, apa ada cowok yang seselektif Ande-Ande Lumut dalam mencari istri? Wow....susah juga tuh !! Pasti ada, hanya bergantung dari kejujurannya saja.
Globalisasi pergaulan sekarang ini memang terkadang harus memaksa para gadis-gadis rela memenuhi permintaan cowok idamannya. Begitu juga si cowok, sepertinya harus rela mendapat istri yang pernah dipegang-pegang atau dielus-elus mantan cowoknya.
Apalagi model pacaran anak sekarang sudah begitu bebas. Komitmennya begitu tinggi dan sangat jauh. Baru pacaran saja sudah totalitas layaknya suami istri dalam menjalani kehidupan. Konon, banyak gadis-gadis yang tidak bisa menolak permintaan pacaranya untuk berhubungan fisik, alasannya takut diputus. Alasan lainnya, karena ketika pacaran ingin merasakan kenikmatan-kenikmatan dalam memadu kasih. Ingin merasakan romantisme, kehangatan dengan kekasih. Dan hal tersebut dipandang wajar karena arus informasi yang biasa diterima.
Benteng harga diri, kehormatan dan menjaga kemuliaan memang menjadi hal utama. Fondasi agama yang teguh dan kokoh bisa menjadi filter dalam menjaganya. Kisah Ande-Ande Lumut memberi apresiasi bagi kaum laki-laki dan perempuan. Bukan sebagai bentuk diskriminasi, melainkan suatu komitmen dalam mengangkat harkat, martabat, kemuliaaan dan harga diri seorang wanita.
** Tulisan ini hanya sebuah ilustrasi yang dibuat secara ringan dan sedikit bumbu humor dengan tidak mengurangi inti dari dongeng Ande-Ande Lumut.
Selanjutnya......
Minggu, 05 Oktober 2008
Sains dalam Al-Qur'an
Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia. Sebagai contoh ayat di bawah:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]
Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.
Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.
Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:38)
Langit yang mengembang (Expanding Universe)
Dalam Al Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51:47)
Menurut Al Qur’an langit diluaskan/mengembang. Dan inilah kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.
Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.
Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.
Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.
Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.
Gunung yang Bergerak
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” [QS 27:88]
14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak.
Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India.
Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.
Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil.
Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya.
Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan.
Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30).
Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13).
Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.
“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)
Ramalan Kemenangan Romawi atas Persia
“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (Al Qur’an, 30:1-4)
Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang.
Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium.
Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang.
Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)
Diselamatkannya Jasad Fir’aun
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu” [QS 10:92]
Maurice Bucaille dulunya adalah peneliti mumi Fir’aun di Mesir. Pada mumi Ramses II dia menemukan keganjilan, yaitu kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuhnya.
Dia baru kemudian menemukan jawabannya di Al-Quran, ternyata Ramses II ini adalah Firaun yang dulu ditenggelamkan oleh Allah swt ketika sedang mengejar Nabi Musa as.
Injil & Taurat hanya menyebutkan bahwa Ramses II tenggelam; tetapi hanya Al-Quran yang kemudian menyatakan bahwa mayatnya diselamatkan oleh Allah swt, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.
Perhatikan bahwa Nabi Muhammad saw hidup 3000 tahun setelah kejadian tersebut, dan tidak ada cara informasi tersebut (selamatnya mayat Ramses II) dapat ditemukan beliau (karena di Injil & Taurat pun tidak disebut).
Makam Fir’aun, Piramid, yang tertimbun tanah baru ditemukan oleh arkeolog Giovanni Battista Belzoni tahun 1817. Namun Al-Quran bisa menyebutkannya karena memang firman Allah swt (bukan buatan Nabi Muhammad saw).
Segala Sesuatu diciptakan Berpasang-pasangan
Al Qur’an yang berulang-ulang menyebut adanya pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan, juga menyebut adanya pasangan dalam rangka yang lebih umum, dan dengan batas-batas yang tidak ditentukan.
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa-apa yang mereka tidak ketahui.” [Yaa Siin 36:36]
Kita dapat mengadakan hipotesa sebanyak-banyaknya mengenai arti hal-hal yang manusia tidak mengetahui pada zaman Nabi Muhammad. Hal-hal yang manusia tidak mengetahui itu termasuk di dalamnya susunan atau fungsi yang berpasangan baik dalam benda yang paling kecil atau benda yang paling besar, baik dalam benda mati atau dalam benda hidup.
Yang penting adalah untuk mengingat pemikiran yang dijelaskan dalam ayat itu secara rambang dan untuk mengetahui bahwa kita tidak menemukan pertentangan dengan Sains masa ini.
Meskipun gagasan tentang “pasangan” umumnya bermakna laki-laki dan perempuan, atau jantan dan betina, ungkapan “maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” dalam ayat di atas memiliki cakupan yang lebih luas.
Kini, cakupan makna lain dari ayat tersebut telah terungkap. Ilmuwan Inggris, Paul Dirac, yang menyatakan bahwa materi diciptakan secara berpasangan, dianugerahi Hadiah Nobel di bidang fisika pada tahun 1933. Penemuan ini, yang disebut “parité”, menyatakan bahwa materi berpasangan dengan lawan jenisnya: anti-materi.
Anti-materi memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan materi. Misalnya, berbeda dengan materi, elektron anti-materi bermuatan positif, dan protonnya bermuatan negatif. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
“…setiap partikel memiliki anti-partikel dengan muatan yang berlawanan … dan hubungan ketidakpastian mengatakan kepada kita bahwa penciptaan berpasangan dan pemusnahan berpasangan terjadi di dalam vakum di setiap saat, di setiap tempat.”
Semua ini menunjukkan bahwa unsur besi tidak terbentuk di Bumi, melainkan dibawa oleh meteor-meteor melalui letupan bintang-bintang di luar angkasa, dan kemudian “dikirim ke bumi”, persis sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Jelas bahwa fakta ini tak mungkin diketahui secara ilmiah pada abad ke-7, di saat Al Qur’an diturunkan.
Sumber:
Harun Yaya
Mukjizat Al Qur’an, Prof. Dr. Quraisy Syihab
BIBEL, QUR-AN, dan Sains Modern
Dr. Maurice Bucaille
Keajaiban Angka 19 di Al-Qur'an
Pada
surat ke-74 (Al Mudatsir) ayat : 30-31, yang artinya sbb : “Yang atasnya ada sembilanbelas. …….., dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (angka 19) melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya, dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata: Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan?”.
Keajaiban angka 19 di dalam kitab AlQur’an ini pertama kali ditemukan seorang sarjana pertanian Mesir bernama Rashad Khalifa. Hasil penemuannya ini didemonstrasikan ketika diselenggarakan Pameran Islam Sedunia di London pada tahun 1976 . Berikut cuplikan dari sebagian penemuannya tersebut :
- “Bismillaahirrahmaanirraahiim” (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) sebagai pembuka setiap
surat dalam Al Qur’an ternyata terdiri dari 19 huruf (atau 19 X 1 ). - Bacaan ‘Basmalah’ terdiri dari kelompok kata : Ismi – Allah – Arrahman – Arrahim. Jumlah dari masing-masing kata tersebut dalam Quran ternyata selalu merupakan kelipatan angka 19.
| Kata dalam Al Qur’an | Jumlah | Kelipatan 19 |
| Ismi | 19 | 19 X 1 |
| Allah | 2.698 | 19 X 142 |
| Arrahman | 57 | 19 X 3 |
| Arrahim | 114 | 19 X 6 |
Apabila faktor pengalinya dijumlahkan hasilnya juga merupakan kelipatan angka 19 , yaitu 1 + 142 + 3 + 6 = 152 (atau 19 X 8).
- Jumlah total keseluruhan surat-surat dalam Quran sebanyak 114
surat (atau 19 X 6 ). - Bacaan ‘Basmalah’ dalam Quran ditemukan sebanyak 114 buah (atau 19 X 6 ), dengan perincian sbb: Sebanyak 113 buah ditemukan sebagai pembuka surat-surat kecuali surat ke-9 (At Taubah), sedangkan sebuah lagi ditemukan di
surat ke-27 ayat : 30. - Dari point 4 di atas, ditemukan hubungan yang menarik antara surat ke-9 dan ke-27. Surat ke-27 ternyata merupakan surat yang ke-19 jika dihitung dari surat ke-9. ============ surat ke : 9, 10, 11, 12, ………………., 25, 26, 27
======= urutan
surat ke : 1, 2, 3, 4, ………………., 17, 18, 19. - Surat ke-27 ayat : 30 tempat ditemukannya bacaan ‘Basmalah’. Jika nomor
surat (27) dan nomor ayatnya (30) dijumlahkan , yaitu 27 + 30 = 57. Hasilnya merupakan kelipatan angka 19(atau 19 X 3 ). - Dari point 6, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari
surat ke-9 s/d ke-27, (9+10+11+12+…+24+25+26+27) maka hasilnya adalah 342 (atau 19 X 18 ). - Wahyu pertama (Surat ke-96 ayat : 1-5 ) terdiri dari 19 kata (atau 19 X 1 ) dan 76 huruf (atau 19 X 4 )
- Wahyu kedua (Surat ke-68 ayat : 1-9 ) terdiri dari 38 kata (atau 19 X 2 ).
- Wahyu ketiga (Surat ke-73 ayat : 1-10 ) terdiri dari 57 kata (atau 19 X 3 ).
- Wahyu terakhir (Surat ke-110 ) terdiri dari 19 kata (atau 19 X 1 ), dan ayat pertama dari Surat ke-110 tersebut terdiri dari 19 huruf (19X1).
- Wahyu yang pertamakali menyatakan ke-Esaan Allah adalah wahyu ke-19 (Surat ke-112, Al Ikhlas)
- Surat ke-96 tempat terdapatnya wahyu pertama, terdiri dari 19 ayat (atau 19 X 1 ) dan 304 huruf (atau 19 X 16 ). Selain itu juga ternyata surat ke-96 tersebut merupakan surat yang ke-19 bila diurut/ dihitung mundur dari belakang Quran. =========== surat ke : 114, 113, 112, 111, ………………., 98, 97, 96
======= urutan surat ke : 1, 2, 3, 4, ………………., 17, 18, 19.Bukti-bukti di atas menunjukkan bahwa Quran tersusun dengan perhitungan sistim kunci (interlocking system), sesuai maksud dari surat ke-85 ayat : 20, yang artinya : “Allah telah mengepung/ mengunci mereka dari belakang”.
- Dari point 13, apabila bilangan surat-surat dijumlahkan mulai dari
surat ke-114 s/d ke-96, (114+113+112+111+…+98+97+96) maka hasilnya adalah 1995 (atau 19 X 105 ). - Bagian tengah-tengah Quran jatuh pada
Surat ke-18 (Al Kahfi) ayat : 19 (atau 19 X 1 ). - Penulis juga menemukan bukti bahwa surat-surat yang memiliki 8 (delapan) ayat dan 11 (sebelas) ayat ditemukan yang paling banyak dalam Quran, yakni masing-masing terdiri dari 5 (lima) buah
surat. Disusul kemudian surat-surat yang memiliki 3 (tiga), 19 (sembilan belas), 29 (dua puluh sembilan), 30 (tiga puluh), dan 52 (lima puluh dua) ayat, yang masing-masing terdiri dari 3 (tiga) buah
surat. Apabila dijumlahkan ayat-ayat tersebut sesuai dengan kelompoknya maka hasilnya merupakan kelipatan angka 19, yaitu sbb := surat ke: 94, 95, 98, 99, 102 masing-masing terdiri dari: 8 ayat
= surat ke: 62, 63, 93, 100, 101 masing-masing terdiri dari: 11 ayat
Apabila jumlah ayat-ayatnya dijumlahkan : 8+11=19, (atau 19 X 1 )== surat ke : 103, 108, 110 masing-masing terdiri dari: 3 ayat
== surat ke : 82, 87, 96 masing-masing terdiri dari: 19 ayat
== surat ke : 48, 57, 81 masing-masing terdiri dari: 29 ayat
== surat ke : 32, 67, 89 masing-masing terdiri dari: 30 ayat
== surat ke : 14, 68, 69 masing-masing terdiri dari: 52 ayat
Apabila jumlah ayat-ayatnya dijumlahkan : 3+19+29+30+52=133, (atau 19X7). - Quran merupakan satu-satunya kitab suci di dunia ini yang memiliki tanda-tanda khusus (initials) berupa huruf-huruf (code letters) atau sebagaimana disebut dalam bahasa Arab “Muqatta-‘aat” yang artinya “kata singkatan”. Di dalam Quran terdapat sebanyak 29 (dua puluh sembilan) surat-surat yang diawali dengan 14 (empat belas) macam kombinasi dari 14 (empat belas) huruf-huruf “Muqatta-‘aat”. 14 huruf-huruf itu adalah : alif, lam, mim, ra’, kaf, ha’, yaa’, ain, shad, tha’, shin, qaf, nun, dan kha’. 14 macam kombinasi huruf adalah :
1. Alif, lam, mim
2. Kha, mim
3. Alif, lam, ro’
4. Alif, lam, mim, ro’
5. Tho’, sin
6. Tho’, sin, mim
7. Ya’, sin
8. Nun
9. Kaf, kha’, ya’, ain, shod
10. Alif, lam, mim, shod
11. Shod
12. Qof
13. Ain, sin, qof
14. Tho’, ha’Ke - 29 surat-surat itu adalah : surat ke : 2, 3, 7, 10 11, 12, 13, 14, 15, 19, 20, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 36, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 50, dan 68. Jika bilangan dari banyaknya huruf (14), banyaknya kombinasi (14), dan jumlah
surat (29), maka hasilnya: 14 + 14 + 29 = 57. (atau 19 X 3 ). - Surat ke-68 diawali huruf ‘Nun’. Setelah diteliti jumlah huruf ‘Nun’ yang terdapat pada
surat tersebut merupakan kelipatan 19.
| Surat ke | Jumlah kata‘Nun’ | kelipatan 19 |
| 68 | 133 | 19 X 7 |
- Surat ke-42 dan
surat ke-50 diawali huruf ‘Qof’. Setelah diteliti huruf ‘Qof’ yang terdapat pada kedua
surat tersebut sebanyak 114 huruf (atau 19 X 6 ). Ada yang berpendapat bahwa huruf ‘Qof’ ini singkatan dari kata ‘Quran’ karena Quran terdiri dari 114 surat.
| Surat ke | Jumlah kata ‘Qof’ | kelipatan 19 |
| 42 | 57 | 19 X 3 |
| 50 | 57 | 19 X 3 |
| Jumlah | 114 | 19 X 6 |
- Surat ke-42 diawali huruf ‘Ain’, ’Sin’, dan ‘Qof’. Setelah diteliti jumlah total ketiga huruf tersebut pada
surat ke-42 merupakan kelipatan 19.
| Surat ke | ‘Ain’ | ‘Sin’ | ‘Qof’ | Total | kelipatan 19 |
| 42 | 98 | 54 | 57 | 209 | 19 X 11 |
- Surat ke-36 (Yasin) diawali huruf ‘Ya’, dan ‘Sin’. Setelah diteliti jumlah total kedua huruf tersebut pada
surat ke-36 merupakan kelipatan 19.
| Surat ke | ‘Ya’ | ‘Sin’ | Total | kelipatan 19 |
| 36 | 237 | 48 | 285 | 19 X 15 |
- Surat ke-13 diawali huruf ‘Alif’, ‘Lam’, ‘Mim’, dan ‘Ro’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada
surat ke-13 merupakan kelipatan 19.
| Surat ke | Alif’ | Lam | Mim | Ro | total | kelipatan 19 |
| 13 | 605 | 480 | 260 | 137 | 1482 | 19 X 78 |
- Surat ke-7 diawali huruf ‘Alif’, ‘Lam’, ‘Mim’, dan ‘Shod’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada
surat ke-7 merupakan kelipatan 19.
| Surat ke | Alif’ | Lam | Mim | Shod | total | kelipatan 19 |
| 7 | 2529 | 1530 | 1164 | 97 | 5320 | 19 X 280 |
- Surat ke-19 diawali huruf ‘Kaf’, ‘Kha’, ‘Ya’, Ain, dan ‘Shod’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada
surat ke-19 merupakan kelipatan 19.
| Surat ke | Kaf | Kha | Ya | Ain | Shod | total | kelipatan 19 |
| 19 | 137 | 175 | 343 | 117 | 26 | 798 | 19 X 42 |
- Surat ke-7, 19, dan 38 diawali huruf ‘Shod’. Total jumlah huruf ‘Shod’ dalam ketiga
surat tersebut ternyata merupakan kelipatan 19.
| Surat ke | Jumlah kata Shod | kelipatan 19 |
| 7 | 97 | - |
| 19 | 26 | - |
| 38 | 29 | - |
| Jumlah total | 152 | 19 X 8 |
Ada hal yang menarik, yakni pada
surat ke-7 ayat 69 ditemukan kata ‘basthatan’ (jika dieja terdiri dari huruf ba’, shod, tho’, ta’). Padahal lazimnya kata tersebut haruslah dieja dengan huruf ba’, sin, tho’, ta’ (contohnya pada
surat ke-2 ayat 247). Menurut riwayat, pada saat turunnya ayat 69 tersebut Jibril menyuruh Nabi Muhammad menuliskan kata ‘basthatan’ dengan huruf shod, namun unsur huruf ‘shod’ itu tetap harus dibaca sebagai huruf ‘sin’, dan hal ini ditandai dengan huruf sin tersebut ditempatkan sebagai huruf kecil di atas huruf ‘shod’. Tampak sekali bahwa Allah memberi tambahan huruf ‘shod’ agar jumlahnya dalam Quran menjadi berkelipatan 19, sebab jika tidak maka jumlahnya berkurang menjadi 151.
- Surat ke-40 s/d ke-46 diawali huruf ‘Kha’ dan Mim. Setelah diteliti jumlah total kedua huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19.
| Surat ke | Kha | Mim | Jumlah | kelipatan 19 |
| 40 | 64 | 380 | - | - |
| 41 | 48 | 276 | - | - |
| 42 | 53 | 300 | - | - |
| 43 | 44 | 324 | - | - |
| 44 | 16 | 150 | - | - |
| 45 | 31 | 200 | - | - |
| 46 | 36 | 225 | - | - |
| Jumlah | 292 | 1855 | 2147 | 19 X 113 |
- Surat ke-10, 11, 12, 14, dan 15 diawali huruf ‘Alif’, ‘Lam’, dan ‘Ro’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19.
| Surat ke | Alif | Lam | Ro | total | kelipatan 19 |
| 10 | 1319 | 913 | 257 | 2489 | 19 X 131 |
| 11 | 1370 | 794 | 325 | 2489 | 19 X 131 |
| 12 | 1306 | 812 | 257 | 2375 | 19 X 125 |
| 14 | 585 | 452 | 160 | 1197 | 19 X 63 |
| 15 | 493 | 323 | 96 | 912 | 19 X 48 |
- Surat ke-2, 3, 29, 30, 31, dan 32 diawali huruf ‘Alif’, ‘Lam’, dan ‘Mim’. Jumlah total huruf-huruf tersebut pada surat-surat tersebut merupakan kelipatan 19.
| Surat ke | Alif | Lam | Min | total | kelipatan 19 |
| 2 | 4502 | 3202 | 2195 | 9899 | 19 X 521 |
| 3 | 2521 | 1892 | 1249 | 5662 | 19 X 298 |
| 29 | 774 | 554 | 344 | 1672 | 19 X 88 |
| 30 | 544 | 393 | 317 | 1254 | 19 X 66 |
| 31 | 347 | 297 | 173 | 817 | 19 X 43 |
| 32 | 257 | 155 | 158 | 570 | 19 X 30 |
- Surat ke-19 diawali huruf kaf, ha’, ya’, ain, dan shod.Surat ke-20 diawali huruf tho’ dan ha’.
Surat ke-26 diawali huruf tho’, sin, dan mim.
Surat ke-27 diawali huruf tho’ dan sinSurat ke-28 diawali huruf tho’, sin, dan mim. Perhatikanlah hubungan berikut ini :
| Surat ke | Awal-an | tho | ha | sin | mim | Jumlah (kelipatan 19) |
| 19 | kaf,ha,ya,’ain,shod | x | 175 | x | x | |
| 20 | tho, ha | 28 | 251 | x | x | |
| 26 | tho, sin, mim | 33 | x | 94 | 484 | |
| 27 | tho, sin | 27 | x | 94 | x | |
| 28 | tho, sin , mim | 19 | x | 102 | 460 | |
| | Jumlah | 107 | 426 | 290 | 944 | 1767 (19X93) |
Lebih jauh tentang keistimewaan Angka 19 :
- Keistimewaan angka 19 dalam ilmu matematik dikenal sebagai salah satu ‘Bilangan Prima’ yakni bilangan yang tak habis dibagi dengan bilangan manapun kecuali dengan dirinya sendiri. Keistimewaan tersebut melambangkan bahwa sifat-Nya yang serba MAHA tidak dibagikan kepada siapapun juga kecuali bagi diri-Nya sendiri (Surat ke-112 ayat 3).
- Angka 19 terdiri dari angka 1 dan 9, dimana angka 1 merupakan bilangan pokok pertama dan angka 9 merupakan bilangan pokok terakhir dalam sistem perhitungan kita. Keistimewaan tersebut menunjukkan sifat Allah yakni ‘Maha Awal dan Maha Akhir’ (Surat ke-57 ayat : 3).
- Angka 1 melambangkan sifat-Nya yang ‘Maha Esa’ (surat ke-112 ayat 1), sedangkan angka 9 sebagai bilangan pokok terbesar melambangkan salah satu sifatnya yang ke-38 yaitu ‘Maha Besar’.
- Dalam Kalender Tahun Komariyah (Sistem Peredaran Bulan), terjadinya Tahun Kabisat terjadi pada setiap 19 tahun sekali.
- Kerangka manusia yaitu : - tulang leher ada 7 ruas, tulang punggung ada 12 ruas, jadi jumlahnya 19 ruas. (Referensi: “Atlas Anatomi”, Prof. Dr. Chr. P. Raven).
- Jumlah jari jemari anda mengandung keajaiban angka 19 ? (catatan: dengan mengabaikan ruas-ruas tulang pergelangan). Silakan anda hitung sendiri maka akan anda dapati sbb: jari kelingking ==> ada empat ruas
jari manis ==> ada empat ruas
jari tengah ==> ada empat ruas
jari telunjuk ==> ada empat ruas
jari jempol (ibu jari) ==> ada tiga ruas
———————– +
( 4 + 4 + 4 + 4 + 3 ) Total jumlah = 19 ruasWallahu a’lam bissawab.
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Quran dan Kami pulalah yang tetap menjaganya.” (15 ayat 9)
(18 ayat 27)
“Yang tidak datang kepadanya (Quran) kesalahan/kekeliruan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (41 ayat 42)
“Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman-Nya yang membedakan antara yang benar dengan yang salah.” (86 ayat 13 )
“Dan bacakanlah apa yang diwahtukan kepadamu yaitu Kitab Tuhanmu (Quran). Tidak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari pada-Nya.”