Minggu, 24 Mei 2009

Tugas-Tugas Perkembangan Anak

Salah satu dasar untuk menentukan apakah seorang anak telah mengalami perkembagan dengan baik adalah memulai apa yang disebut dengan tugas-tugas perkembangan atau Development Task.

Tugas perkembangan masa anak menurut Munandar (1985) adalah belajar berjalan, belajar mengambil makanan yang padat, belajar berbicara, toilet training, belajar membedakan jenis kelamin dan dapat kerja kooperatif, belajar mencapai stabilitas fisiologis, pembentukan konsep-konsep yang sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik, belajar untuk mengembangkan diri sendiri secara emosional dengan orang tua, sanak saudara dan orang lain serta belajar membedakan baik dan buruk.

Menurut Havighurts (dalam Gunarsa, 1986) tugas-tugas perkembangan pada anak bersumber pada tiga hal, yaitu : kematangan fisik, rangsangan atau tuntutan dari masyarakat dan norma pribadi mengenai aspirasi-aspirasinya.

Tugas-tugas perkembangan tersebut adalah sebagai berikut: tugas-tugas perkembangan anak usia 0-6 tahun, meliputi belajar memfungsikan visual motoriknya secara sederhana, belajar memakan makanan padat, belajar bahasa, kontrol badan, mengenali realita sosial atau fisiknya, belajar melibatkan diri secara emosional dengan orang tua, saudara dan lainnya, belajar membedakan benar atau salah serta membentuk nurani.

Tugas-tugas perkembangan anak usia 6-12 tahun adalah menggunakan kemampuan fisiknya, belajar sosial, mengembangakan kemampuan-kemampuan dasar dalam membaca, menulis, dan menghitung, memperoleh kebebasan pribadi, bergaul, mengembangkan konsep-konsep yang dipadukan untuk hidup sehari-hari, mempersiapkan dirinya sebagai jenis kelamin tertentu, mengembangkan kata nurani dan moral, menentukan skala nilai dan mengembangkan sikap terhadap kelompok sosial atau lembaga (Havighurts dalam Gunarsa, 1986).

Menurut Havighurst (dalam Hurlock, 1980) tugas perkembangan pada masa anak-anak adalah sebagai berikut: a) Mempelajari ketrampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum. b) Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh. c) Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya d) Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat e) Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung f) Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari g) Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata dan tingkatan nilai h) Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembaga-lembaga i) Mencapai kebebasan pribadi.

Perkembangan seorang anak seperti yang telah banyak terurai di atas, tidak hanya terbatas pada perkembangan fisik saja tetapi juga pada perkembangan mental, sosial dan emosional.

Tugas-tugas pada masa setiap perkembangan adalah satu tugas yang timbul pada suatu periode tertentu dalam hidup seseorang, dimana keterbatasan dalam menyelesaikan tugas ini menimbulkan perasaan bahagia serta keberhasilan pada tugas berikutnya, sedangkan kegagalan akan menimbulkan ketidak bahagiaan dan kesulitan atau hambatan dalam menyelesaikan tugas berikutnya.

rujukan buku :
Hurluck, E. , 1990. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, Elizabeth B., 1973. Adolescent Development. Tokyo: Mc Graw-Hill Kogakusha Ltd,



Selanjutnya......

Rabu, 20 Mei 2009

Kusutnya Cinta Segitiga Antasari

Batam Pos, Senin, 18 Mei 2009

Oleh: Mahmud Syaltut Usfa S.Psi
Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam

Masyarakat Indonesia terperanjat begitu mendengar Antasari Azhar menjadi tersangka otak di balik pembunuhan Direktur PT. Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen. Bagaimana tidak, ”pendekar” pemberantas para koruptor itu harus ”terkapar” gara-gara hubungan cinta segitiga antara dirinya, Nasrudin dan Rani.

Kasus ini sudah pasti menjadi senjata empuk bagi musuh-musuh Antasari. Harus diakui, dengan keberaniannya, banyak kasus korupsi di seantero negeri ini terungkap. Para pejabat kelas kakap yang terlibat korupsi satu persatu diseret ke meja hijau, termasuk besan presiden, Aulia Pohan.

Tidak berlebihan apabila kejadian ini mengundang spekulasi sebagai jebakan bagi orang nomor satu di KPK tersebut. Lagi-lagi wanita dijadikan sebagai umpan empuk untuk menjatuhkan lawan. Sudah bukan rahasia lagi, dunia politik dan pejabat elit acap kali identik dengan perselingkuhan, seks, serta glamoria wanita-wanita cantik.

Para kaum opurtunis paham bentul, kemolekan tubuh wanita sebagai modal untuk menyuguhi para big boss dan politisi. Ini ibarat makanan pembuka siap saji yang harus disediakan oleh bawahannya.

Sudah banyak politisi elit tak berkutik saat (maaf) ”disajikan” yang satu ini. Seperti, foto yang memperlihatkan kemesraan anggota DPR Max Moein dengan asistennya yang disebut bernama Desi Firdiyanti. Terlepas dari keaslian foto-foto mesra Max Moein, anggota dewan itu akhirnya menghadapi tuduhan pelecehan seksual dari Desi Firdiyanti.

Kasus lain, Yahya Zaini, beredar video hubungan mesum dengan seorang penyanyi dangdut bernama Maria Eva. Seiring beredarnya video mesum tersebut, karier politik yang dirintisnya dari bawah akhirnya tenggelam.

Begitu juga kasus yang menimpa Al Amin Nur Nasution. Lagi-lagi seorang perempuan bernama Efielian Yonata menjadi ‘bonus’ bagi dirinya karena memuluskan rekomendasi untuk Sekda Bintan Azirwan.

Di Amerika sendiri, skandal seks para pejabat dipandang sebagai suatu aib yang menjijikkan. Sehingga, kredibilitas sang pejabat juga akan hancur. Misalnya, Gubernur New York Eliot Spitzer terpental dari kursi empuknya karena “membooking” seorang pelacur kelas elit bernama Ashley Kristen Dupree.

Masih teringat kasus yang menimpa mantan Presiden AS Bill Clinton dengan salah seorang pegawai magang di Gedung Putih, Monica Lewinski? Namun Clinton yang jadi sang presiden kala itu, mekipun banyak dihujat oleh warganya, tak sampai terpental dari kursinya. Skandal Antasari memang sedikit nyentrik.

Disinyalir dirinya terlibat cinta segitiga. Kasus ini tak ubahnya kisah roman saja. Pertemuan ketiganya dimulai di padang golf. Di Hari Minggu, Nasrudin Zulkarnain diajak oleh Antasari Azhar untuk bermain Golf di lapangan golf faforitnya. Untuk lebih meriahnya permainan, Nasrudin mengajak kekasihnya Rani Juliani.

Sesampainya di Lapangan Golf, Antasari menanyakan kepada Nasrudin tentang hubungannya dengan Rani. Karena Antasari tahu bahwa Nasrudin telah beristri, dan teman perempuan yang datang ke Lapangan Golf itu bukan istri Nasrudin. Kematian Nasrudin dikatkan dengan keterliban Antasari. Karena disinyalir dirinya ada main dengan kekasih Nasrudin tersebut.

Akhirnya, Antasari dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus penembakan berujung maut yang bermotif cinta segitiga itu.
Cinta segitiga? Benarkan ini persoalan cinta. Apakah cinta itu sebenarnya? Secara psikologi cinta sangat naluriah dan lahir dari perasaan. Hanya saja masalahnya, sebagai sebuah konsep, cinta sangat abstrak sehingga sulit untuk dicerna secara ilmiah.

Posisi seorang pria yang berada dalam cinta segitiga terdapat banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Bisa berasal dari kondisi internal dan eksternal. Adapun kondisi internal berhubungan dengan kematangan seseorang berdasar pola asuh dan perjalanan pribadinya.

Hal ini bisa dilihat dari kondisi standar yang muncul dari masa lalunya. Misalnya, mencari wanita yang mirip ibunya.Terkait dengan ini, penyebabnya semata-mata faktor kebutuhan serta keinginan. Tapi, biasanya lebih besar keinginan dibanding kebutuhan!

Munculnya perilaku seksual bisa dipicu dari karier, tingkat pendidikan, seks, dan bisa masalah keluarga.
Namun yang harus ditegaskan, seseorang yang berada dalam posisi cinta segitiga itu cendrung tidak komitmen dengan ikatan percintaan. Akibatnya rentan muncul perilaku berbohong yang terus menerus dilakukan, sehingga menjadi sebuah split personality (kepribadian ganda).

Bisa ditebak, apabila kasus ini benar-benar hubungan cinta segitiga pasti kebohongan-kebohongan akan terus bergulir. Karena untuk menutupi kebohongan harus dijawab dengan kebohongan juga.

Sangat miris, jika seorang Antasari harus melakukan ini! Apalagi dalam konfrensi pers pamer kemesraan dengan istrinya. Entah itu sebuah sikap jujur atau malah sebaliknya guna menutupi kebohongannya.

Kita lihat nanti dalam proses hukum. Tapi yang pasti, cinta ada manakala kejujuran tersadar. Menurut Sternberg, psikolog yang sangat terkenal mengupas tentang cinta, cinta adalah sebuah kisah. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan dan sebagainya.

Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orang tua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan. Sepertinya tim penyidik harus jeli melihat perjalanan pribadi Antasari, khususnya terkait dengan sisi kepribadinnya.

Hubungan cinta segitiga Antasari bukan kisah roman anak ABG lagi. Skandal ini adalah kisah cinta orang-orang tua yang seharusnya sadar diri. Kasus ini tidak hanya menyangkut moral pribadi, tapi juga pertaruhan moral bangsa. ***



Selanjutnya......

Kamis, 07 Mei 2009

Alhamdulillah dan Astaghfirullah

(Catatan lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Perjalanan nasib seseorang memang tidak bisa ditentukan. Kadang sudah berusaha keras meraih kesuksesasan, tapi kenyataannya malah biasa-biasa saja. Namun, ada yang sebaliknya usahanya biasa-biasa saja tapi malah nasib berpihak baik padanya. Begitu juga dalam karir. Ada orang yang mati-matian ingin meraih jabatan tertentu eh...malah tidak kesampaian.

Secara pandangan agama, jabatan itu adalah amanah. Tanggung jawabnya besar. Tidak hanya kepada bawahan dan atasannya, tetapi juga kepada Allah. Makanya tuh...hati-hati saat mendapat jabatan.

Sayyidinah Umar bin Khattab salah satu sahabat nabi memandang jabatan itu tidak hanya sebagai amanah tetapi juga musibah. Makanya, ketika dia dipercaya menjadi khalifah, Umar bin Khattab malah mengatakan Astaghfirullah. Hebatnya, kalimat tersebut tidak sekadar ucapan basa-basi tapi betul-betul dijaga.

Dalam kepemimpinannya beliau tidak pernah mencampur adukkan antara urusan negara dengan urusan pribadi. Boro-boro mau korupsi, menggunakan fasilitas negara saja sangat anti dilakukan. Beliau betul-betul pemimpin yang amanah dan bersahaja. Ucapan Astaghfirullah betul-betul terpantri dalam hatinya sehingga sangat sulit melakukan penyimpangan dari jabatannya.

Saat ini saya pribadi sangat bingung ketika dipercaya menjadi pimpinan. Mau mengatakan Alhamdulillah nanti dikira merasa girang karena jabatan tersebut. Tapi mau mengatakan Astaghfirullah malah kuatir dikira tidak bersyukur. Wah.....bisa-bisa bos yang memberi kepercayaan tersinggung.

Sebenarnya tidak begitu menjadi dilematis. Kita bisa saja cuek. Buktinya banyak orang yang meraih jabatan tertentu malah pakai selamatan besar-besaran, atau merayakan dengan pesta meriah.

Saya jadi teringat dengan kisah juragan kaya dengan kuda pacuannya. Suatu hari sang juragan mencari kuda pacuan yang tercepat. Berbagai perkampungan ditelusuri. Sampai ke pelosok-pelosok desa. Ketika tiba di perkampungan yang sangat jauh dari kota, akhirnya dia bertemu dengan pemilik kuda yang konon kudanya sangat cepat larinya.

”Benar Anda pemilik kuda pacu yang kata orang-orang di sini sangat cepat larinya.” tanya sang juragan. ”Betul tuan, apakah tuan bermaksud membelinya?” kata sang pemilik kuda. ”Oh tentu, berapa saja harganya akan saya bayar asalkan kudanya betul-betul hebat.” jawabnya lagi dengan nada menantang. Mendapat tantangan seperti itu, si pemillik kuda langsung mempersilahkan sang juragan mencobanya.

”Silahkan tuan coba dulu, tapi hati-hati karena kuda ini sangat kencang larinya.” ujar pemilik kuda. Kemudian dengan perasaan penasaran sang juragan mencoba kuda pacuan tersebut. Tapi, aneh...kuda jantan itu tak mau berlari dan hanya diam saja. ”Eh...ini bagaimana kok gak mau lari?” tanya sang juragan dengan nada heran dan suara keras. Tenang saja tuan, kuda ini baru akan lari kalau yang menunggang mengucapkan alhamdulillah.” jelas si pemilik kuda sambil senyum-senyum. ”Oooo....betul begitu ya?!!” sahut sang juragan masih dengan nada heran.

Langsung saja sang juragan mengucapkan ”Alhamdulillah”. Oo...ternyata betul, kudanya langsung berlari. ”Ayo tuan berteriak lagi makin kuat, makin kuat berteriak ”Alhamdulillah” kudanya akan makin kencang berlari.” teriak si pemiliki kuda kepada sang juragan. Benar, sang juragan makin kuat berteriak dan kuda itu semakin kencang juga larinya.

Tapi, ketika mau berhenti sang juragan bingung bagaimana caranya, karena kudanya tak mau berhenti. ”He...bagaimana cara menghentikan lari kuda ini.” teriak sang juragan kepada si pemilik kuda. ”Gampang tuan, cukup mengucapkan ”Astaghfirullah” pasti kuda itu berhenti.” jawabnya setengah berteriak.

Ternyata benar , begitu sang juragan mengucapkan ”Astaghfirullah” kuda tersebut langsung berhenti. ”Wah...betul-betul kuda hebat, saya langsung beli.” ucap sang juragan kepada si pemilik kuda tanpa tawar menawar harga lagi.

Singkat cerita, ketika lomba pacuan kuda sang juragan dengan bangga memamerkan kuda jagoannya. Dia sangat yakin kalau kudanya akan menang. Ketika lomba dimulai dia tenang-tenang saja. Aba-aba pun dimulai tapi sang juragan masih santai dan tak mau menyuruh kudanya lari. Padahal kuda-kuda saingannya sudah berlari duluan.

Setelah kuda-kuda lainnya berlari agak jauh baru sang juragan berteriak “Alhamdulillah”. Kuda tersebut langsung lari melesat. Sampai-sampai kuda-kuda saingannya ketinggalan jauh. Saking girangnya, sang juragan lupa mau menghentikan kudanya.

Hingga akhirnya kudanya lari melampaui arena lomba dan berada di lokasi bebukitan dan jurang. Sang juragan panik setengah mati. Untung, dia ingat cara menghentikan kudanya. Langsung dia berterika ”Astaghfirullah” dan langsung kudanya berhenti tepat di tepi jurang.

Merasa selamat dari musibah dan dengan perasaan lega pula sang juragan tak sadar mengatakan ”Alhamdulillah” sambil mengelus-ngelus dadanya. Mendengar juragannya mengatakan Alhamdulillah langsung kudanya berlari. Celaka....keduanya masuk jurang dan mati !!.

Alhamdulillah dan Astgahfirullah adalah kalimat yang bagus. Tapi apabila salah menempatkan akan membuat celaka. Sekarang bergantung Anda kapan saatnya mengatakan kalimat bersyukur dan kalimat mohon ampunan Allah tersebut. Ketika Anda dipercaya menjadi pemimpin, silahkan mau mengucapkan apa.




Selanjutnya......

Jumat, 01 Mei 2009

Musim Caleg Gugur

(Kebangkrutan Mental dan Abunawas Sindrom)

Batam Pos, Jumat, 01 Mei 2009

Oleh: Mahmud Syaltut Usfa S.Psi
Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School.

Pemilu legislatif baru saja berakhir. Para caleg yang sudah habis-habisan berkampanye sudah diketahui hasilnya. Mereka tidak hanya terkuras tenaga dan pikirannya, tetapi juga biaya serta mental.


Jika dilihat pada masa kampanye, paling tidak ada tiga golongan caleg. Pertama, caleg dengan modal kecil. Harapan lolos juga kecil seimbang dengan modal yang dikeluarkan. Apabila gagal tidak menjadi beban besar. Caleg tipe ini lebih siap kalah dibanding siap menang.

Kedua, caleg dengan modal sedang. Harapannya masih sebatas biasa-biasa saja. Lebih cendrung adu keberuntungan. Jika tidak lolos, tidak begitu berisiko pada kondisi mental. Modal tanggung depresinya juga tanggung.

Ketiga, celeg dengan modal besar. Tidak hanya berharap besar untuk lolos, tapi harapannya sudah mengarah pada ambisi. Bagaimana jika gagal? Sudah bisa ditebak! Mereka rentan stres berat, depresi berat, bahkan berisiko mengalami psikosa (sakit mental).

Para caleg gagal yang mengalami depresi berat disebabkan tidak adanya keseimbangan mental. Harapan tinggi, modal besar, begitu sadar dirinya gagal mental langsung drop. Beban mental dirasakan terlalu berat. Jika seorang caleg gagal mulai sering marah-marah, ngoceh sendiri, kemudian termenung, itu bisa jadi pertanda si caleg gagal sudah terganggu kesehatan jiwanya. Silahkan perhatikan caleg gagal di sekitar Anda !

Lihat saja beberapa kasus, mereka mengalami sakit mental disebabkan terlilit hutang. Tidak hanya mengalami kebangkrutan modal (materi), namun juga kebangkrutan mental. Manakala modal ratusan juta hingga miliaran berbuah kekalahan harapan sirna. Menjadi anggota dewan dipandang sebagai posisi terhormat. Ketika harapan itu sirna, seakan kehormatannya juga runtuh. Di sinilah sebenarnya pentingnya belajar mentransformasi mental.

Ada dua hal sederhana yang membuat orang gampang mengalami stres dan depresi. Pertama, disebabkan salah persepesi. Harapan tak sesuai dengan kenyataan. Kedua, displacement activity, perilaku salah arah tidak sama dengan pikiran. Caleg gagal sangat rentan mengalami keduanya.
Cara sederhana dalam menetralisir keduanya adalah membuat berbagai alternatif. Kemudian, terus mencari alasan untuk berpikir postif. Sehingga sampah-sampah pikiran tidak terus melekat pada pikiran yang lambat laun membusuk dalam hati.

Ego memiliki peran penting dalam mengontrol, mengendalikan serta menetralisir berbagai gelombang pikiran. Para caleg gagal tidak ada salahnya mencontoh Abunawas dalam menetralisir mental ketika egonya terusik. Kelihatannya konyol, tapi paling tidak bisa menetralisir stres dan depresi berat.

Misalnya, ketika Abunawas mengikuti shalat jenazah dengan khusuk berada di shaf depan. Tapi ada yang janggal apa yang dilakukan oleh Abunawas. Yang semestinya shalat jenazah hanya dilakukan dengan posisi berdiri (tidak harus memakai sujud, rukuk dan seterusnya layaknya shalat lima waktu) malah Abunawas melakukannya.

Sikap Abunawas ini mengundang pertanyaan bagi jamaah. ”Kenapa engkau memakai sujud dan rukuk hai Abu? kan mestinya cukup berdiri saja?” tanya seseorang di sebelahnya. Dasar Abunawas, dengan otak cerdiknya dia menjawab enteng “Orang yang mati ini banyak dosanya, sehingga harus memakai rukuk dan sujud,”.

Mengacu pada teori psikoanalisa Sigmund Freud, dalam dinamika diri manusia memiliki Ego Devent Mekanisme. Ini sangat kuat memberikan alasan-alasan demi untuk membela egonya. Kondisi seperti ini dimiliki oleh semua manusia tanpa terkecuali. Apalagi para caleg yang gagal.

Dalam teori psikoanalisa, ego merupakan kesatuan inti manusia. Maka ancaman terhadap ego ini merupakan ancaman pula terhadap eksistensi manusia. Kondisi ini terjadi manakala keadaan mengancam keutuhan integritas pribadinya. Ego Devent Mekanisme ini sendiri sebenarnya tidak realistis dan mengandung unsur penipuan diri sendiri serta distorsi realitas.

Mekanisme itu sangat penting. Sebab berfungsi untuk memperlunak kegagalan, menghilangkan kecemasan, mengurangi perasaan yang menyakitkan karena pengalaman yang tidak mengenakkan. Dan juga untuk mempertahankan perasaan layak dan harga diri. Abunawas ahli dalam melakukan ini!

Dari sekian banyak bentuk pembelaan ego ada beberapa bentuk pembelaan ego yang sering dilakukan oleh kita, seperti Rasionalisasi. Ini adalah berusaha untuk membuktikan bahwa perbuatan yang ia lakukan yang sebenarnya kurang baik, namun dirasionalkan adanya, dapat dibenarkan dan dapat diterima adanya.

Misalnya, ketika caleg ditanya kenapa sampai gagal, caleg tersebut dengan enteng akan menjawab “Sebenarnya yang memilih saya banyak cuma kurang beruntung saja”, padahal intinya ada rasa gengsi mengakui kekalahannya. Rasional menurut dia tapi terkadang akan menjadi lelucon bagi orang lain.

Bentuk ego devent mekanisme lainnya adalah Reaksi Formasi. Yaitu, mengalihkan kegagalannya agar bisa diterima oleh orang lain. Seperti kisah seekor ruba yang tidak bisa meraih anggur, padahal sudah berusaha keras. Akhirnya si ruba mengumumkan pada hewan-hewan lainnya ”Jangan diambil anggur itu, rasanya pahit makanya aku gak mau mengambilnya.”

Caleg yang gagal rentan menggunakan ego devent mekanisme model ini. Mengetahui dirinya gagal maka akan berkoar-koar ”Jadi anggota dewan gak enak, banyak kasus, untung aku gak jadi.” atau akan berkata ”Saya siap kalah demi memberi kesempatan pada yang lain aja kok.”

Bentuk ego devent mekanisme yang juga sering dijadikan andalan caleg gagal adalah Regresi. Bentuk pembelaan ego yang ditandai sikap kemunduran, merajuk layaknya anak kecil. Karena gagal, kecewa akhirnya pindah ke parpol lain. Sepertinya banyak dari kita yang telah belajar dari lelucon Abunawas.

Kita harus banyak mengoreksi diri dengan sedikit meluangkan waktu berpikir bening, jujur pada segenap keterbatasan. Bersikaplah sahaja, tidak larut dalam kebohongan-kebohongan yang sebenarnya kita sendiri yang menciptakannya.

Semakin kuat rasa anarki absolut pada diri kita, terlebih demi kekuasaan, jabatan, dan tidak adanya rasa qanaah. Maka akan melahirkan rasa ketakutan yang selalu menghantui diri kita. Di situlah Abunawas Sindrom akan menjadi komuditas pembenaran sampai melampaui batas sekala logika. ***


Selanjutnya......

Minggu, 19 April 2009

Kekuatan Sastra Al-Qur'an Menata Moral Jahiliah

BatamPos, Minggu, 19 April 2009

Oleh: Mahmud Syaltut Usfa (Penulis dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Ketika pertama kali al-Qur'an diturunkan, dalam hati masyarakat Arab ketika itu ada dua perasaan yang tidak bisa ditutupi. Pertama, harus mengingkari (gengsi) kalau al-Qur'an adalah firman Allah. Kedua, mereka tidak percaya bagaimana mungkin Nabi Muhammad bisa membuat syair seindah itu.

Sebagaimana dicatat oleh sejarah beliau seorang ”ummi” yang tidak bisa membaca, dan menulis. Tapi kemudian Allah SWT menganugerahkan kepada beliau sebuah keistimewaan yang tidak diberikan kepada siapa pun, yaitu kemampuan otomatis membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur'an.

Kekuatan al-Qur'an bukan hanya dari keindahan ayat-ayatnya, melainkan juga makna yang teramat dalam namun gampang dicerna. Ketakjuban mereka pada al-Qur'an muncul karena adanya semacam gairah terhadap kesusastraan. Tolak ukur ilmiah sebuah syair saat itu adalah sastra. Oleh karena itu, ketika mereka menerima al-Qur'an pun senantiasa diuji dengan sastra, terutama keindahan bahasa, retorika, dan gayanya.

Sangat banyak ayat-ayat al-Qur'an yang mengisahkan tentang kehidupan para nabi dan rasul. Kisah-kisah tersebut terdapat muatan puisi dan prosa maha tinggi. Silahkan baca kisah nabi Adam dan Hawa. Bagaimana Adam ketika di syurga merasa kesepian. Adam memohon kepada Allah agar diberi teman. Maka, Allah ciptakan Hawa dari tulang rusuknya.

Di situlah Adam harus belajar memahami hati, perasaan dan jiwa seorang wanita yang tercipta dari tulang rusuknya. Sangat sulit bagi Adam, karena harus hati-hati, apabila terlalu dikerasi akan patah, namun apabila dibiarkan akan bengkok selamanya. Sehingga kisah berikutnya sampai Adam memakan buah khuldi, dan akhirnya diturunkan ke dunia dan berlanjut pada kisah anak-anaknya. Sungguh kisah yang menakjubkan bukan?

Begitu juga kisah nabi Musa, Isa, Yusuf, Sulaiman, Daud, dan cerita kaum Ad dan Thamud, cerita Ashabul Kahfi, Ashabul Fil, Isra'-Mi'raj, semua itu merupakan kisah-kisah dalam bentuk prosa dan puisi.

Hasil penelitian Shahnon Ahmad (1977) dari Malaysia menunjukkan ada sebanyak 227 surat Alqur’an yang merujuk para penyair, terutama penyair jahiliyah. Dalam surat-surat Makkiyah (surat yang turun di Mekah), terutama yang pendek-pendek, struktur stilistik (gaya) dan bahasa sangat bertumpu pada struktur puisi. Kata alif, lam, mim, ya, ain, shod, menunjukkan stilistik yang sama dengan puisi.

Rasulullah membawa agama Islam merupakan berkah bagi umat manusia sedunia. Pada saat itu bangsa Arab hidup dalam kehidupan jahiliah. Di situlah Rasulullah membawa misi memberantas akar kebodohan dalam masyarakat, yakni syirik kepada Allah.

Pada masa itu, akhlak atau moral sama sekali tidak tertata. Mereka melakukan berbagai perbuatan keji tanpa merasa takut dan bersalah. Seperti mengubur bayi perempuan hidup-hidup, minum-minuman keras, berzina, membunuh, dan lain sebagainya sudah menjadi kebiasaan mereka.

Padahal bangsa jahiliah bukan bangsa bodoh. Bahkan, tingkat kesusastraan mereka sudah sangat tinggi. Ketika itu sastra dan syair berkembang dengan pesat di kalangan mereka. Setiap tahun diadakan festival-festival pembacaan puisi dan syair. Sehingga kekuatan sastra dalam al-Qur'an mampu menundukkan hati kaum jahiliah dan menata moral mereka.

Sudah banyak riwayat diceritakan bagaimana pesona keindahan bahasa dan stilistika al-Qur'an yang mampu menggugah orang bahkan terpengaruh olehnya. Kisah masuk Islamnya pujangga al-Walid bin al-Mughirah yang diutus oleh suku Quraisy untuk berdialog dengan nabi Muhammad.

Atau kisah terpesonanya Umar bin al-Khattab terhadap al-Qur'an hingga ia masuk Islam. Umar bin Khattab terkenal berhati baja dan kehidupannya terpola dengan arus jahiliah, harus mengendap-ngendap agar bisa mendengarkan ayat-ayat al-Qur'an yang dilantunkan putrinya. Hati Umar sangat luluh dengan keindahan bahasa dan gaya dalam al-Qur'an.

Teramat luas apabila mengkaji nilai-nilai sastra dalam al-Qur'an. Namun, intinya belajar sastra bisa dijadikan pijakan untuk mengkaji kehidupan. Allah maha tahu terhadap apa yang sampaikan melalui ayat-ayatNya dengan nilai-nilai sastra maha dahsyat.

Allah Maha Indah, maka sudah tentu firmannya juga sangat indah. Sehingga memahami al-Qur'an yang indah disyaratkan dengan pendekatan yang mampu menguak tabir keindahannya. Dan ini sangat mungkin dilakukan dengan kajian sastra, Insya Allah.

Sastra memuat nilai-nilai akhlak, moral, filsafat, budaya, politik, sosial dan pendidikan. Sangat tepat kalau Sayidinah Umar Bin Khathatab berpesan “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu agar mereka berani.” Karena sastra tidak hanya melembutkan hati tapi juga menumbuhkan rasa cinta kasih, motivator hidup, dan rasa cinta kepada sang pencipta.

Jadi sangat beralasan yang diterapkan di negara-negara maju, salah satu untuk membendung moralitas anak-anak muda adalah dengan sastra. Mungkin karena kekuatan sastra yang merasuk pada hati pelajar, sehingga moralitas mereka bisa tertata.

Sudah terbukti, di negara-negara maju tidak banyak siswa sekolah yang berperilaku barbarian seperti mencorat-coret baju seragamnya setelah dinyatakan lulus. Atau, tidak ada kasus perkelahian antar pelajar, karena hampir semua siswa di sekolah sudah memiliki etika dan budi pekerti yang diserapnya dari karya-karya sastra yang dibacanya.

Ini luar biasa, sastra mampu menata etika mereka. Padahal remaja yang hidup di negara-negara maju memiliki kebebasan tinggi. Ini mungkin salah satu rahasia Allah menurunkan al-Qur'an dengan nilai-nilai sastra maha dahsyat. Tak heran apabila masyarakat Arab yang dikenal jahiliah bisa ditaklukkan jiwanya dan bergetar hatinya mendengar ayat-ayat Allah. Pastinya, masyarakat jahiliah modern dewasa ini akan tertata ahlak dan moralnya jika terus menggali nilai-nilai al-Qur'an. ****



Selanjutnya......

Selasa, 07 April 2009

Abunawas Syndrome, Antara Refleksi Diri dan Kecemasan

By: Mahmud Syaltut Usfa

Ketika Abunawas mengikuti shalat jenazah dia berada di shaf paling depan, dengan khusuknya Abunawas mengikutinya. Tapi ada yang janggal apa yang dilakukan oleh Abunawas. Yang semestinya shalat jenazah hanya dilakukan dengan posisi berdiri saja atau tidak usah memakai sujud, rukuk, tahayyatul akhir layaknya shalat lima waktu umumnya, eh....malah Abunawas melakukannya.

Entah disengaja atau tidak atau barangkali karena memang ketololan Abunawas. Tapi yang jelas itu mengundang pertanyaan bagi jemaah yang lain "Kenapa engkau memakai sujud dan rukuk hai Abu..? kan mestinya cukup berdiri saja..?" tanya seseorang disebelahnya. Dasar Abunawas, dengan otak cerdiknya dia menjawab enteng "Orang yang mati ini banyak memiliki dosa, sehingga harus memakai rukuk dan sujud,".

Abunawas yang hidup pada zaman kerajaan Harun Ar-rasyid di Baghdat memang sangat terkenal memiliki otak cerdik dan tolol tapi dengan ketololannya itulah sang raja sering dibuat bulan-bulanan olehnya. Setiap orang yang mendengar atau membaca kisah-kisah Abunawas akan dibuat tertawa. Padahal, sebenarnya kisah-kisah ketololnnya adalah merupakan kisah perjalanan ketololan diri kita sendiri.

Orang yang menertawai si Abunawas layaknya proyeksi menertawakan ketololan diri kita sendiri. Apalagi hidup pada zaman yang serba harus berpacu dengan cepat untuk mendapatkan posisi, jabatan, dan lain-lain. Terkadang harus ada pemaksaan-pemaksaan diri yang sebenarnya diluar kompetensi kita. Semakin banyaknya keberhasilan-keberhasilan dan semakin tingginya kedudukan kita maka akan semakin kuat terhadap munculnya rasa gengsi,takut, malu yang terkadang menjadi tidak rasional.

Mengacu pada teori psikoanalisa Sigmund Freud, dimana dalam dinamika diri manusia memiliki "Ego Devent Mekanisme" yang sangat kuat untuk mampu memberikan alasan-alasan demi untuk membela "egonya". Kondisi seperti ini dimiliki oleh semua manusia tanpa terkecuali termasuk dari berbagai usia anak-anak, dewasa atau orang tua.

Hanya yang paling rentan dan kerap menghantui untuk melakukan Ego Devent Mekanisme adalah dari kalangan-kalangan yang memiliki posisi, power atau jabatan. Karena mereka sangat rentan sekali untuk mendapat kritikan-kritikan bahkan ketakutan untuk dijatuhkan dari kursi empuknya.

Mereka harus memiliki senjata ampuh yaitu silat lidah dan seribu alasan layaknya Abunawas walau terkadang harus rela menjadi "lelucon publik" karena dipandangnya suatu ketololan dan sangat-sangat tidak masuk akal.

Seorang Abunawas hanyalah rakyat kecil yang tidak akan banyak memberikan pengaruh publik terhadap reputasinya walau terkadang selalau merepotkan sang raja. Berbeda apabila seorang raja yang selalu berpikir cerdik dan tolol untuk membela diri dengan argument-argument cerdiknya. Tentu akan menggoyangkan jabatan sang raja karena sudah berkurang reputasinya dimata rakyat.

Dalam teori psikoanalisa, Ego merupakan kesatuan inti manusia, maka ancaman terhadap ego ini merupakan ancaman pula terhadap eksistensi manusia. Karena itu, setiap individu perlahan-lahan telah belajar memakai berbagai Mekanisme pembelaan egonya. Apabila dialaminya suatu keadaan yang mengancam keutuhan integritas pribadinya. Mekanisme itu sangat penting sebab berfungsi untuk memperlunak kegagalan, menghilangkan kecemasan, mengurangi perasaan yang menyakitkan karena pengalaman yang tidak mengenakkan dan juga untuk mempertahankan perasaan layak dan harga diri.

Ego Devent Mekanisme merupakan kondisi jiwa yang normal, kecuali sudah terjadi sedemikian keras dan kebiasaan yang sudah tidak mampu untuk dikontrol. Sehingga bukan lagi membantu tetapi malah menganggu integritas pada pribadinya. Ego Devent Mekanisme ini sendiri sebenarnya tidak realistis dan mengandung unsur penipuan diri sendiri serta distorsi realitas. Karena itu ini mempunyai kelemahan dan dapat mempunyai akibat yang tidak baik. Dan sebagian Mekanisme ini bekerja dengan tidak disadarinya, sehingga memang sukar untuk dinilai dan dievaluai secara sadar.

Dari sekian banyak bentuk pembelaan ego ada beberapa bentuk pembelaan ego yang sering dilakukan oleh kita, yaitu Rasionalisasi, adalah berusaha untuk membuktikan bahwa perbuatan yang ia lakukan yang sebenarnya kurang baik adalah dirasionalkan adanya, dapat dibenarkan dan dapat diterima adanya. Misalnya, ketika sorang murid mengajukan pertanyaan kepada gurunya,akan tetapi karena guru tersebut tidak tahu jawabannya maka dengan enteng dia menjawab "badan kurang enak" atau "pertanyaan itu terlalau mudah", padahal intinya ada rasa ketakutan, gengsi yang ditimbulkan karena tidak bisa menjawab atau barangkali takut jawabnnya salah. Contoh lagi jawaban-jawaban pembenaran lainnya seperti "Bukan korupsi, hanya uang jasa" atau "toh tidak diminta" dan sebagainya. Rasional menurut dia tapi terkadang akan menjadi lelucon bagi orang lain.

Ada tanda-tanda bahwa ada rasionalisasi pada pernyataan orang tersebut seperti: Mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatan atau kepercayaannya, kedua tidak sanggup mengenal hal-hal yang tetap atau bertentangan dan menjadi bingung atau malah marah bila alasannya diragukan orang. Sepertinya banyak dari kita yang telah belajar dari "lelucon" Abunawas hanya terkadang kita tidak tahu apa itu namanya, bahkan betapa kuatnya pembelaan ego kita apabila apa yang diyakininya sangat tidak rasional diterima oleh akal terlebih dari pandangan publik tetapi diri kita mengatakan "rasional dan mereka yang tolol".

Kita terkadang memang harus banyak belajar dari Abunawas sebagai referensi ego untuk mengoreksi diri kita. Apa yang kita pandang benar terkadang merupakan ketololan bagi orang lain. Kita sudah terlalu asyik menertawakan orang lain padahal pada hakekatnya kitalah yang semestinya terlebihdahulu harus ditertawakan.

Mungkin kita harus segera banyak-banyak mengoreksi diri dengan sedikit meluangkan waktu untuk berpikir bening, jujur pada segenap keterbatasan kita, kesahajaan serta tidak larut dalam kebohongan-kebohongan yang sebenarnya kita sendiri yang menciptakannya.

Semakin kuatnya rasa "anarki absolut" pada diri kita terlebih karena adanya kekuasaan, jabatan, dan tidak adanya rasa "Qanaah" maka akan melahirkan rasa ketakutan yang selalu menghantui diri kita, disitulah "Abunawas Syndrome" akan menjadi komuditas pembenaran bagi diri kita sampai melampaui batas sekala logika.

Nampaknya kita harus siap menertawakan diri kita sendiri bahkan seorang pemimpin sekalipun harus siap ditertawakan anak kecil apabila memunculkan kecerdikan, lelucon atau ketololan seperti layaknya Abunawas yang siap ditertawakan siapaun juga dalam kisah-kisah leluconnya.





Selanjutnya......

Sabtu, 14 Maret 2009

Menengok Wajah Otonomi Pendidikan Kita

Batam Pos, Selasa, 23 Desember 2008

Oleh : Mahmud Syaltut Usfa S.Psi
(Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Membicarakan wajah pendidikan di Indonesia secara umum dan daerah secara khusus selalu menarik. Pendidikan adalah jantung terhadap kemajuan bangsa ke depan. Yang diharapkan tentu saja perubahan. Baik perubahan sikap, perilaku, mental, serta pola pikir.

Untuk mencapai perubahan tersebut dibutuhkan tekat kuat dari segenap elemen yang terkait dalam dunia pendidikan. Otonomi sekolah akhir-akhir ini menjadi pembicaraan luas. Karena ada harapan yang sangat prospektif apabila otonomi pendidikan betul-betul berjalan mulus.

Lahirnya otonomi pendidikan diharapkan setiap sekolah mampu memberikan kualitas pada proses belajar mengajar bagi anak didik. Kesempatan ini bukan hanya sebagai tantangan, melainkan bisa menjadi pemicu (trigger) serta terbukanya kesempatan luas bagi setiap sekolah untuk terus berkompetesi. Dalam arti, terus mengembangkan potensi demi menciptakan iklim dunia pendidikan yang bermutu.

Harus disadari, dalam otonomi pendidikan, terbuka peluang yang cukup besar untuk membuat pendidikan di daerah menjadi lebih berkualitas. Hal ini terjadi, karena kepala daerah dewasa ini, memiliki kewenangan penuh dalam menentukan kualitas sekolah di daerahnya masing-masing melalui Sistem Rekruitmen Guru, Rekruitmen Siswa, Pembinaan Profesionalisme Guru, Rekruitmen Kepala Sekolah, Penentuan Sistem Evaluasi, dan sebagainya.

Jadi, dalam era otonomi berbicara dengan kualitas pendidikan dasar dan menengah tingggal bergantung bagaimana keinginan daerah. Jika kita meminjamkan terminologi School Based Manajemen, kualitas pendidikan untuk masa yang akan datang lebih bergantung pada komitmen daerah untuk merumuskan visi dan misi di daerahnya masing-masing.

Jujur saja, jika daerah cukup visioner, pengembangan sektor pendidikan memiliki peluang yang besar untuk dapat memenuhi standar kualitas sesuai dengan harapan steackholder.

Jika pemerintah daerah memiliki political will yang kuat dan kemudian disertai dengan kebijakan yang mengkedepankan arti penting pendidikan sebagai upaya human investment di daerah. Maka, dapat dipastikan pendidikan di daerah akan memiliki praksis yang baik. Dengan demikian kualitas pendidikan akan bisa ditegakkan.

Sebenarnya kalau mampu diterapkan dengan maksimal, kurikulum berbasis tingkat satuan pendidikan adalah angin segar dan pencerahan bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Karena, penerapan KTSP memberi ruang kepada para pendidik untuk menggodok kurikulum sendiri seiring dengan otonomi daerah.

Tentu saja, sesuai dengan budaya, iklim lingkungan, serta serasi dengan kondisi sosial budaya masyarakat. KTSP juga memberi ruang kepada sekolah untuk menerapkan program unggulan serta karakteristik sekolah itu sendiri. Baik keunggulan dari sisi sains, religius, dan sebagainya.

KTSP mememiliki beberapa kelebihan. Pertama: Memberi ruang atau mendorong terwujudnya kemandirian atau otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. Kegagalan pendidikan yang selama ini terjadi di Indonesia salah satunya karena adanya penyeragaman kurikulum.

Sehingga yang terjadi, tidak adanya mengharagai potensi lokal. Dengan kata lain kurikulum terdahulu memaksakan kualitas pendidikan yang sama antara di daerah (hinterland) dengan perkotaan. Atau dengan kata lain, terjadinya penyeragaman di berbagai daerah berbeda. Misalnya, antara masyarakat nelayan, pertanian. Sehingga, potensi di daerah tidak terserap guna memberi input bagi anak.

Kedua: Mendorong setiap sekolah untuk menitik beratkan pengembangan terhadap mata pelajaran unggulan yang sesuai bagi kebutuhan itu sendiri di tengah masyarakatnya.

Ketiga: Mendorong para kepala sekolah, guru serta pihak manajemen sekolah untuk semakin kreatif dalam meningkatkan program-program pendidikan.

Keempat: Adanya kompetensi positif bagi penyelenggara pendidikan dalam memberi nilai-nilai postif.
Kelima: Memberi peluang kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan.

Model pendidikan holistik ini adalah pendidikan yang secara eksplisit ditujukan untuk mengembangkan seluruh dimensi manusia. Yaitu, aspek akademik (kognitif), emosi (afektif), sosial, spiritual, motorik, dan kreatifitas.
Sebenarnya, konsep pendidikan ini sudah menjadi trend pembaruan sistem pendidikan yang dianggap cocok untuk abad ke 21. Tentu saja, ini menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan kita yang harus dijawab dengan bukti dan kerja keras untuk terus melakukan pembenahan.

Reformasi pendidikan di Jepang misalnya, ada tiga kalimat kunci yang sering disebut, yaitu kokoro-no-kyoiku (pendidikan untuk hati, jiwa, atau kedirian manusia), sogogakushyu (pembelajaran holistik), dan tokushyoku, koseika (keunikan masing-masing sekolah dan masing-masing individu).

Contoh lain yang tidak keliru kalau harus menjadi komparasi kita. Ministry of Education of British Columbia, Canada. Pada tahun 2000 juga mencanangkan tujuan pendidikan untuk mengembangkan aspek estetika dan kesenian, emosi dan sosial, intelektual, fisik dan kesehatan, serta aspek tanggung jawab sosial.

Ternyata, perubahan ini telah membawa iklim perubahan baik dari segi manajemen sekolah (otonomi penuh), maupun kurikulum dan metode pembelajaran di kelas.

Lantas, bagaimana dengan wajah pendidikan kita, khususnya di Batam? Lagi-lagi kita harus menjawab dengan berpikir dan terus menganalisa dari kacamata logik dan objektif.

Kita tidak harus terlalu muluk-muluk melakukan revolusi pendidikan. Namun harus jujur, dalam melaksanakan perubahan memang dibutuhkan sebuah revolusi paradigma pendidikan. Karena memerlukan berbagai metode, strategi, dan teknik pembelajaran yang berbeda dengan sistem pendidikan sebelumnya.

Contoh ringan saja, dengan masih banyaknya sekolah-sekolah yang menerapkan metode klasik. Dengan kondisi kelas yang sunyi, anak duduk dengan pasif dan hanya menyimak serta mencatat. Padahal, kalau kita mau jujur, suasana proses belajar mengajar seperti itu sangat-sangat tidak efektif.

Menurut Vigotsky, proses belajar yang dapat meningkatkan semangat siswa adalah dengan berdiskusi, banyak bertanya, bereksplorasi, dan bermain (fun learning). Sehingga kemampuan verbal dan motoriknya berkembang, termasuk juga kemampuan berpikir kritisnya (higher order thinking).

Nah, inilah masalah yang sering kita hadapai ketika mengikutsertakan pelatihan para guru untuk mengubah metode pembelajaran di kelas. Yaitu berupa ketakutan dan keengganan para guru untuk memperbaiki metode pembelajaran di kelas agar sesuai dengan teori-teori yang berlaku. ***


Selanjutnya......