Sabtu, 13 Maret 2010

Kejujuran Kunci Ketenangan Hidup

Opini Batam Pos, 5 Maret 2010

(Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW)
Oleh: Mahmud Syaltut Usfa S.Psi
(Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Bulan Februari ini bertepatan dengan bulan kelahiran Rasulullah (Maulid Nabi). Seluruh Ummat Islam menyambut suka cita. Bukan sekadar disambut dengan aktifitas seremonial. Melainkan sebagai refleksi akan kemuliaan ahlak, sifat, pribadi, dan ajarannya sebagai rahmatan lil- alamin.

Salah satu gelar terbesar Nabi Muhammad SAW adalah Al-Amin. Kenapa Nabiyullah bergelar Al-Amin? Sosok yang sangat tepercaya. Nabi Muhammad diberi predikat al-amin jauh sebelum diangkat sebagai Rasul, ketika berhasil mempersatukan elite dan kabilah Quraisy yang berselisih tatkala membangun Ka'bah. Putra Abdullah bin Abdul Muthalib itu telah menjadi figur baru yang memberikan harapan cerah bagi masyarakat Arab. Kendati sebelumnya harus berhadapan dengannya karena membawa agama baru, Islam.

Sejarah akhirnya mencatat, dengan sifat al-amin dan risalah kenabiannya, Muhammad berhasil membebaskan dan mencerahkan seluruh masyarakat di jazirah Arabia, sekaligus menjadi sosok panutan seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Nabi kekasih Tuhan ini benar-benar menjadi pribadi dan pemimpin dunia yang memancarkan uswah hasanah. Lebih dari itu, Muhammad SAW bahkan telah menorehkan Islam sebagai agama rahmatan lil-'alamin. Pembawa agama rahmat bagi semesta alam.

Kita akan menjadi sosok dipercaya apabila “berani” jujur. Maaf, sengaja ditegaskan dengan kata “berani”. Karena pada kenyataannya, banyak di antara kita yang takut jujur. Jujur kerap disalah artikan sebagai sosok yang lugu. Dan orang lugu cendrung dipresentasikan gampang ditipu. Padahal, lahirnya suatu kepercayaan dikarenakan adanya kejujuran yang ditunjukkan secara konsisten dan terus menerus.

“Aduh, kalau jujur susah cari kerja” kalimat itu sering terdengar di sekeliling kita. Padahal, justru perusahaan dan instansi banyak yang bingung mencari orang jujur untuk dijadikan karyawan. Lebih miris lagi memasyarakatnya istilah “Kalau jujur susah cari makan”. Sangat terlalu mengada-ada!!

Hiruk pikuk lingkungan dan budaya yang penuh kepalsuan, kedustaan, kemunafikan membuat orang menjadi berat menjadi jujur. Padahal kejujuran tidak hanya mencerminkan integritas kepribadian seseorang, tetapi juga menjadi pesona bagi sesama dan mengundang datangnya ketenangan bagi pelakunya.

Kejujuran adalah kunci keberhasilan. Tidak hanya itu, kejujuran merupakan kunci tetenangan hidup !! Salah satu dari sekian sifat dan moral utama seorang manusia adalah kejujuran. Karena kejujuran merupakan dasar fundamental dalam membangun pribadi dan jati diri yang kokoh.

Kejujuran yang dicontohkan Rasulullah bukan sekadar jujur secara situasional. Sudah jelas berbohong adalah dosa. Melainkan juga bagaimana memiliki mental jujur total dari berbagai aspek kehidupan yang dihadapi. Baik pada masa lalu, saat ini, dan yang akan datang.

Jika hanya kejujuran situasional rasanya gampang dilakukan selagi tidak berbuat kesalahan. Misalnya, ketika seorang pejabat ditanya megapa berambisi menjadi pejabat. Bisa saja dia berdalih “Karena ingin mengabdi untuk rakyat”. Anggap saja dia jujur, tapi apakah pada saat tidak memegang jabatan kelak bisakah jujur menerima keadaannya?.

Ketidak siapan mental tersebut yang membuat orang tidak berani jujur. Sehingga muncul kondisi-kondisi psikologis, seperti kecemasan, pos power sindrom, deperesi, stress dan sebagainya. Orang yang takut jujur tidak akan siap menerima transformasi mental. Terkait dengan hal tersebut Rasulullah mengingatkan secara tak langsung. Tak perlu terjerumus pada love of power apalagi ta'bid 'an siyasiyah: cinta kuasa dan menghambakan diri pada hasrat kuasa melebihi takaran. Bila perlu minimalisasi dan nihilkan hasrat kuasa itu hingga ke titik zero.

Tidak berani jujur membuat kehidupan orang rumit. Mentalnya merasa dihantui perasaan takut. Contoh sepele, banyak pemimpin yang merasa takut karena anak buahnya dinilai lebih pandai. Padahal, apa susahnya jujur mengatakan “Maaf, Anda dalam hal ini lebih paham dari saya”. Karena takut jujur, akhirnya sibuk jaga imej, mencari kesalahan anak buah, bahkan, niat untuk menyingkirkan. Sikap seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi.

Ada orang yang berani jujur secara situasional, tapi justru takut jujur secara mental. Misalnya tentang masa lalunya, kondisi keluarganya, dan sebagainya. Selagi tidak berani jujur, maka perasaan tersebut akan terus dibawa ke mana pun. Pikirannya selalu tidak tenang dan mental pun akan tersiksa, akibatnya akan menutup diri.

Kondisi sederhana, kita juga sering bertemu dengan orang-orang yang takut jujur dengan usianya. Ketika ditanya berapa usianya, jawabannya malah “diplomatis”. “Ah…masa gak bisa ngira-ngira, kurang lebih 30-an lah”. Lho, bukankah tanggal, bulan, tahun, bahkan detik kalahiran sudah pasti? kenapa harus menjadi rumit? Jelas karena mentalnya tidak berani jujur. Bagi yang takut jujur, siaplah-siaplah tidak tenang.

Saat kita berbohong gampang diketahui orang lain. Tetapi tidak berani jujur dengan diri sendiri, Anda lah yang lebih tahu. Dalam sebuah hadis ditegaskan: Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seorang yang selalu jujur dan mencari kejujuran akan ditulis oleh Allah sebagai orang yang jujur (shidiq). Dan jauhilah sifat bohong, karena kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahan membawa ke neraka. Orang yang selalu berbohong dan mencari-cari kebohongan, akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong (kadzdzab). (H.R. Bukhari).

Dalam siratan hadits-hadits Rasulullah SAW akan kita dapatkan petuah tentang betapa berartinya makna sebuah kejujuran. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk meninggalkan apa yang kita ragukan dan mengerjakan apa yang kita yakini. Dan bahwasanya kejujuran itu akan menimbulkan ketenangan jiwa sedangkan dusta selalu saja membuat jiwa pelakunya bimbang dan goncang.

Maka tidak aneh bila kita sering menjumpai orang yang memiliki harta benda; kekayaan yang melimpah namun sangat disayang ia tidak pernah menemui kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Hal ini boleh jadi dikarenakan harta benda yang melimpah ruah itu dihasilkan dari jalan yang tidak benar atau dari hasil ketidak-jujurannya.

Ada satu akhlaq yang sangat mendasar di dalam Islam yaitu As Siddqi (jujur), lawannya adalah al kadzibu (dusta atau bohong). Akhlaq dasar yang paling minimal yang kita miliki yang mengatakan aku beriman kepada Allah adalah jujur.

Munculnya Ego Divent Mekanisme (Pembelaan Ego) lahir dari rasa cemas. Sedangkan kecemasan itu sendiri disebabkan takut jujur pada dirinya sendiri. Rasulullah mengajarkan jujur secara total. Melalui kemuliaan ahlaknya beliau membangun nilai-niali kejujuran kepada umat manusia.

Jujur secara total bermakna menemukan titik keihlasan dari segala kondisi diri selama perjalanan hidupnya. Semoga Allah selalu membukaan pintu keihlasan dalam menerima segala perkara diri kita. Rasulullah melalui tuntutan ahlaknya membentuk kita menjadi pribadi yang jujur. ***






Selanjutnya......

Sekadar Mengusir Gelisah

WAJAH INDONESIA

Wahai jiwa-jiwa Indonesia berkumpullah
Bangsa kita sedang sekarat
Kocar-kacir diseret ambisi
Harga diri dipancung

Nasionalisme tai kucing
Kebangsaan air kencing
Demokrasi komat-kamit
Reformasi amit-amit

Berlarilah mencari kemerdekaan jiwa
Karena kemerdekaan adalah hak segala jiwa
Indonesia hanya tumpukan batu karang
Tak cocok bagi jiwa-jiwa lembut seperti kita



BUKAN PENYAIR

Para birokrat asyik bercengkrama di pentas rakyat
Pikirannya angin
Kata-katanya debu
Menebar pesona fatamorgana

Jilat saja kalimat-kalimat itu
Kami tidak butuh rangkaian kata-kata
Buanglah bersama sampah kemunafikan






Selanjutnya......

Menghitung Detik Perubahan

(Catatan Ringan Mahmud Syaltut Usfa)

“Sang waktu akan terus menyeka perjalanan detik, perjuangan adalah kisah mengisi detik kehidupan. Nikmati kebahagiaan itu sebelum detik berlalu ke ujung risau”

Dari pandangan filsafat berpendapat “Dalam kehidupan tidak ada yang abadi, kecuali perubahan”. Tepat sekali, hidup adalah gerak perubahan. Eksistensi kita akan mati tanpa adanya perubahan. Benturan masalah membuat hati kita tegar menerima perubahan. Kadang berubah maju, tapi juga bisa bergerak pada kemunduran.

Kita berdiri di tubuh dunia dalam lingkaran perubahan. Baik perubahan dalam wujud aktifitas, maupun perubahan pikiran serta perasaan. Belum lagi yang berkaitan dengan hati, sangat cepat perubahan itu datang.

“Gelisah dalam detik
Detik dalam tubuh gelisah
Merangkak meraih ketenangan
Bersimpuh menatap harapan
Meratap pada masa lalu”

Dalam kehidupan kita setiap detik hanya menghitung perubahan. Pengendalinya adalah perasaan. Pada detik ini merasa bahagia, tapi pada detik berikutunya bisa saja merasa sakit hati. Saat ini hati merasakan jatuh cinta, namun, pada saat selanjutnya cinta sudah pergi. Begitu terus berputar sampai saatnya semuanya sirna ditelan usia.

Jangan harap kita bisa menggenggam perasaan bahagia selamanya. Dalam hitungan detik perasaan sendiri yang merenggutnya. Perputaran poros bumi mengubah poros kehidupan kita. Di dalamnya ada nilai takdir mewarnainya. Terkadang takdir ada di titik posesif. Padahal, eksistensinya sudah begitu tegas dalam kendali di titik Arasy.

“Kita berdiri di lingkaran takdir
Bergerak di antara kubangan nasib

Berjalan menuju yang terhapus
Tinggalkan jejak menjemput fatamorgana baru”

Detik ini di manakah lingkaran perasaan kita berada? Suka atau duka? Biarlah berjalan seiring dengan porosnya. Hati akan lebih tenang jika menyambut dengan ihlas setiap perputaran rasa.






Selanjutnya......

Kata-Kata tak Terbelenggu

Esai Mahmud Syaltut Usfa (Telah dimuat di Batam Pos, Minggu 8 Februari 2010)

“Aku berdiri atas nama kata-kata
Berbaris di garis depan nurani
Berteriak pada hati
Memeras kegelisahan
Sekali pun tirani menyeret lidahku”

Sepenggal syair yang saya buat di atas hanyalah salah satu luapan ekspresi jiwa, betapa mendalam kata-kata memaknai suara hati.

Sungguh luar biasa kekuatan kata-kata dalam suatu syair. Lembut tapi deras mengalir bagai air, menyebar bagai debu yang siap menerjang ke seantero jagad publik. Pada zaman Orde Baru penyair masih dipandang sebagai “duri” yang banyak mengkritik pemerintah. Banyak penyair yang dibungkam karya-karyanya. Bahkan, mereka harus siap dijebloskan ke penjara. Tak heran kalau akhirnya muncul penyair-penyair idealis, berani, dan bersuara jujur dari hati nuraninya. Bagi yang tidak berani, harus ihlas mengubur karya-karyanya.

Kekuatan tulisan mereka lahir dari hati nurani, bukan sekadar berlandaskan emosional. Juga bukan lahir dari sebuah konspirasi untuk menzalimi penguasa. Idealis kokohnya bersumber pada keteguhan hati. Syair memang subjektif namun objektif dalam memotret realitas.

Penguasa yang merasa “diusik” sangat geram, karena para penyair idealis dinilai terlalu lancang dan banyak mulut. Berbagai cara dilakukan untuk membungkam “celotehan” syairnya. Misalnya menawarkan harta serta kedudukan. Jika bergaining tidak mempan, ujungnya adalah rekayasa pembunuhan.

Praktik pembunuhan kepada para panyair sering kita dengar. Misalnya, pada masa Orde Baru menimpa penyair Wiji Thukul dari Solo yang hilang tak tentu rimbanya. Almarhum WS Rendra juga langganan berurusan dengan tirani penguasa.

Teror terhadap para penulis dan penyair memperlihatkan kekuatan kata yang tidak bisa diremehkan. Kata dalam kehidupan yang oleh Napoleon Bonaparte pernah disebut sebagai lebih berbahaya daripada bedil. Tidak hanya di Indonesia, praktek begini pun juga terjadi di berbagai negara. Misalnya, penikaman di tengah siang bolong terhadap sastrawan Naguib Mahfouzdi di sebuah jalan Kairo ketika sedang kembali ke rumahnya.

Kekuatan sastra dan kata juga kembali menampakkan diri ketika misi delapan penulis ke daerah otonom ditahan oleh pemerintah Israel. Ketika pengarang Portugis, Saramago, yang turut dalam delegasi tersebut membandingkan Ramallah dengan Auschwitz, pernyataan yang kemudian dikenal dengan "Peristiwa Saramago".

Kekuatan kata dan sastra ini pun nampak dari pembunuhan Cak Durasim, pemain ludruk dari Surabaya oleh pemerintah militerisme Jepang pada masa Perang Dunia II karena ucapan seniman ludruk itu:
"pagupon umahe doro/melu nippon tambah sengsoro". (Ikut Jepang tambah sengsara)

Kejadian-kejadian di atas menunjukkan besarnya pengaruh kata dan sastra. Pada saat ini hampir tidak pernah terdengar kekuatan syair yang “menggigit kuping” pemerintah. Sejak terbukanya pintu reformasi terkesan kritikan penyair sudah tumpul. “Kalau hanya mengkritik pemerintah tak perlu suara penyair, tukang becak saja berani” begitu sindiran masyarakat saat ini.

Kelahiran reformasi membuat para penyair ibarat burung perkutut yang dilepas dari sangkarnya. Ketika masih dalam kandang suaranya dipuji habis-habisan. Sangkarnya terjaga, tubuhnya dirawat, dan makanannya diperhatikan. Tidak perlu susah-susah cari makan, hanya modal suara merdu dijamin dieluk-elukkan, dimanjakan sang majikan.

Tapi begitu pintu kebebasan dibuka lebar-lebar, suaranya sudah tak semerdu dulu lagi. Sama saja dengan burung-burung lainnya. Tidak ada yang menyanjung, tepukan gempita sudah tak terdengar lagi. Jangan harap makanan akan dihantar, silahkan cari sendiri di tengah luasnya hutan.

Sekarang rangkaian kata-kata hanya sebuah seni. Pejabat yang dulu sering dikritik, malah sekarang juga asyik membuat syair tentang keadilan. Era sudah berubah !! Begitu pandangan yang paling tepat saat ini. Para penyair perlu mengorganisasi diri, agar syair menjadi lebih efektif lagi dalam menciptakan pendapat umum yang bebas. Dari sini kita perlu melihat peranan seniman yang berdaulat di hadapan kekuasaan mana pun.

Kita tentu sangat sepakat “Syair bukan hanya soal kritik”. Namun, sebagai seniman pastinya memiliki kepakaan dalam memotret realitas kehidupan. Juga tidak hanya memotret kebijakan pemerintah yang salah kaprah, tapi juga memotret tentang cinta, jiwa, serta seluk beluk hati manusia.

Syair bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Ada kekuatan yang bersumber dari kesucian hati. Kejujuran adalah modal pokok. Syair tetaplah kata-kata dahsyat. Tidak akan lenyap dari peredaran zaman apa pun. ***







Selanjutnya......

Teguran Tanda Perhatian

(Catatan Muhasabah Mahmud Syaltut Usfa)

Setiap shalat jum’at saya memiliki kebiasaan berinfaq melalui kotak amal. Hari Jum’at kemarin (12 Februari 2010) agak berbeda. Uang di dompet paling kecil nominal Rp. 20.000. Wah, pada saat itu rasanya berat mengeluarkan nilai segitu. Karena memang lagi dibutuhkan. Tapi karena gak ada lagi, akhirnya dipaksakan ihlas.


Jujur, agak berat dalam keadaan butuh harus berinfaq dengan nila agak besar. Maunya jumlah kecil tapi ihlas. Harapannya lagi, biar kecil asal bisa ke surga. Ah…Itu sih sudah jadi lelucon basi. Karena terdesak akhirnya berlaku juga sebagi pembelaan diri saya.

Sudah dipaksakan agar ihlas ! ihlas ! dan ihlas ! Begitu kotak infaq sampai pada giliran saya langsung uang Rp. 20.000 diceburkan ‘plung !!’ “Hah…lega, toh nanti Allah akan mengganti berlipat ganda kok!!” pikirku.

Usai shalat jum’at langsung ke tempat kerja. Di situlah cikal bakal duitku harus melorot secara estafet. Pertama, begitu sampai di kantor, teman langsung menyodorkan celana Levis 501 minta tolong agar dibeli. Harganya Rp. 650.000. Gila !! untuk apa saya membeli celana harga mahal seperti itu. Apalagi saya gak begitu ‘nafsu’ pada mode. Dalam hal berpakaian saya termasuk laki-laki yang suka berpakaian simple-simple dan sederhana saja. Apa adanya, yang penting nyaman dipakai badan sudah cukup !! Tapi, karena teman minta tolong, akhirnya saya beli juga.

Pulang dari kantor, di tengah perjalanan tiba-tiba ban motor saya bocor. Dibawa ke bengkel dan ditambal. Alhamdulillah selamat bisa pulang. Tapi, selang satu hari ban motor bocor lagi. Setelah dibawa ke tambal ban ternyata yang baru ditambal kemarin bocor parah. Gara-garanya, tukang tambal di bengkel kemarin salah bahan tambalannya. Tarpaksa harus ganti ban baru. Sorenya, saya cuci motor ke tempat cucian langganan. Begitu selesai, langsung saya bayar harga biasa Rp. 6000. Ternyata harganya sudah naik menjadi Rp. 7000.

“Hah…saya kan sudah berinfaq lebih, kok ada saja yang membuat duit keluar, pasti Allah ada maksud lain untuk kebaikan saya.” Begitu yang terus menerus saya pikirkan.

Pada Hari Senin (15 Februari 2010) saya masuk kerja seperti biasa. Pakaian agak kusut karena dari siang hingga tengah malam disimpan di jok motor. Saya biasa mencuci pakain di tempat adik di Batam Center. Pakaian yang sudah kering langsung dibawa pulang. Biasanya disimpan di jok motor. Tak heran, begitu sampai di rumah menjadi kusut. Apalagi pada Malam Senin itu saya manggung (main band) mulai siang hingga malam.

Pagi-pagi pakaian tersebut harus dipakai. Benar-benar terlihat kusut. Untung teman-teman kerja sangat perhatian dan sangat baik pada saya. Mereka sudah sangat akrab, karena saya selalu berusaha tidak membuat jarak. Salah satu dari teman memanggil saya. “Pak, maaf pakaiannya kok kusut, gak disetrika ya..?” tanyanya dengan pandangan perhatian. “Oo…kusut ya? Dari siang sampai malam pakaian ini disimpan di jok motor, malam-malam baru nyampai rumah jadi gak memperhatikan.” Jawabu dengan nada berterima kasih.

Begitu sampai rumah, pakaian-pakaian yang sudah rapi saya setrika lagi. Sekarang seluruh pakaian-pakaian di lemari sangat rapi, licin, dan tidak kusut lagi. Insya Allah saya akan terus lebih memperhatikan.

Alhamdulillah, ternyata teguran teman tersebut merupakan bentuk perhatian untuk kebaikan saya. Teguran membuat makin sadar dan berubah ke arah lebih baik lagi. “Terima kasih atas perhatiannya.” Ucapku sambail senyum-senyum.

Akhirnya saya berpikir, mungkin Allah juga menegur karena merasa sayang. Agar saat berinfaq harus lebih ihlas lagi. Dengan berbagai rentetan kejadian yang harus mengeluarkan duit, bisa saja bermakna merapikan hati saya dari rasa ihlas. Siapa tahu hati saya sekarang sudah tidak kusut, sudah rapi, serta licin seperti pakaian di lamari, insya Allah.





Selanjutnya......

Ketika Sang Malam Menyandarkan Cinta

(Catatan Hati Mahmud Syaltut Usfa)

Cinta mengisahkan sejuta suka. Tapi, sejuta luka juga kerap mengiris hati. Tatapan cinta seruncing busur panah Rahwana, dan setajam pedang Sayyidina Ali Bin Abi Thalib. Bila kebahagiaan menghampiri membuat jiwa mabuk kepayang. Terkadang diri harus disingkirkan. Sebaliknya, ketika hati terluka, diri terasa hina bagai sampah terbuang di mata dunia.

“Datanglah untuk tidak terbuang
Malang hati di ambang sengsara
Tak elok membuang rasa saat hati teriris
Cinta memuliakan diri, bukan menistakan”

Banyak kisah cinta yang sudah melegenda di dunia. Sebut saja kisah Qais dan Laila, Sampek Engtay, Romeo & Juliet, dan seabrek kisah romantis lainnya. Belum lagi yang datang pada zaman berbeda. Semua kisahnya adalah legenda lara hati dalam perjalanannya. Sementara yang berujung bahagia kadang luput dari legenda zaman.

Cinta tak akan binasa sekalipun zaman berubah warna. Kesetiaan adalah kunci hidupnya cinta. Allah yang mendatangkan cinta sebagai mawaddah werahmah. Kita sebagai hamba wajib menjaga keluhuran cinta.

“Wahai yang Maha Pengasih
Raja Diraja Para Pecinta
Engkau yang menganugerahkan cinta
Aku hanya mohon kepada-Mu satu hal saja “Tinggikanlah cintaku sedemikian rupa, sehingga, sekali pun aku binasa, cintaku dan kekasihku tetap hidup.”

Cinta adalah proses. Butuh ketegasan mengungkapkannya. Berbelit-belitnya cinta karena kuatnya unsur subjektif. Sekalipun tanda-tanda sudah sangat jelas, tetap saja hati risau mengungkapkan dengan kata tegas. Apa sih susahnya mengatakan “Aku cinta padamu”. Kita hanya menunggu jawaban “Iya” atau “Tidak” maka semua akan selesai. Karena cinta adalah kesepakatan. Tapi nyatanya tak semudah itu!! Justru prosesnya yang membuat perjalanan cinta menjadi indah, walau harus rumit.

“Saat cinta datang siapkan pedang di sayapnya agar bisa menghunus kegelisahan”

Dimulai dari rasa. Bisa pandangan, sikap, rasa simpati, pertemanan, atau bermula secara kebetulan. Bermacam latar belakang bisa melahirkan rasa cinta. Selanjutnya muncul getaran hati. Kadang mata tak melihat tapi hatinya menatap. Telinga bagai tak mendengar tapi hatinya menyimak.

“Getaran itu bukan nada hati biasa
Menjalar guncangkan rasa
Hati berdetak teramat dahsyat
Lidah membisu terkunci perasaan
Hanya hati yang berjalan menuntun gelisah”

Cinta ada manakala kejujuran tersadar. Saat hadir serahkan pada logika untuk meluruskan perasaan. Jika tidak segera diluruskan, siap-siaplah kehilangan kesempatan. Cinta butuh ketegasan, tidak bisa terus menerus menyimpannya dalam terangnya hati. Bisa-bisa semua yang terang akan kembali ke ruang gelap.

Betapa berat memulai jika perasaan terus menerus menghitung logika. Terbukalah!! tak perlu menjaga gengsi siapa yang harus memulai. Bermain kata-kata hanya akan menghambarkan perasaan cinta. Apalagi hanya berharap dari permainan kata.

“Saat kata-kata berbaring di antara tumpukan harapan
Hati tak henti-hentinya mengelus kesabaran

Syairku sudah berlabuh di ujung do’a
Mungkin saja sudah terhempas diterjang risau

Entah di mana nadanya
Mungkin saja pergi bersama gelisah”

Apalah artinya cinta itu hadir jika harus disembunyikan di ruang kegelapan. Padahal di ruang hati sangat benderang menyambut datangnya kebahagiaan. Kegelisahan dan menyembunyikan kejujuran adalah sebuah penyiksaan hati. Takdir terkadang harus disalahkan karena dipandang tak berpihak pada hati. Padahal, jika hasrat tak mampu ditundukkan hati, akan menjadikan lupa akan hakikat hidup kita sendiri.

“Pada detik ini lidahku tak mampu mengucapkan “Aku jatuh cinta padamu” tapi pada detik kemarin qalbuku berulang-ulang berucap “Aku jatuh cinta padamu”.

Aku bukan Qais yang mampu menjadikanmu Laila. Aku bukan Romeo yang sanggup mewujudkanmu Juliet. Aku hanya laki-laki yang punya hati. Cinta bisa datang dan pergi kapan saja walau tak dikehendaki. Aku bukan Qais, juga bukan Romeo, tapi perasaan cintaku setahta dengan sang legenda cinta itu.






Selanjutnya......

Senin, 08 Februari 2010

Sajak Sufistik - Mahmud Syaltut Usfa

KABAR UNTUK HATI

Apa kabar hati…?
Sudah lama aku tidak memikirkanmu
Masihkah kau gelisah seperti dulu…?
Aku sudah menemukan sang sandaranmu
Dia akan menyeka keringat kegelisahanmu
Menampa air matamu agar tak tersentuh debu

Jangan takut menerima kejujurannya
Dia berjalan di atas garis siratal mustaqim
Sekalipun seribu duri menusuk mata batinnya

Ya azza wajallah….
Letakkan takdir itu di pundakku sebagai amanat
Akan kupapah sampai ke garis lauhil mahfuz
Akan kupertanggung jawabkan hingga ke hulu Ars-Mu

Wahai hati…
Bersiaplah menyambut seribu satu kisah perjalanan takdir
Tak perlu menghitung kesempurnaan dari yang sudah sempurna
Dekaplah kebahagiaan dengan erat
Agar tak lepas direnggut perasaan risau





WAJAH ITU

Aku melihat wajah itu
Dari balik jendela hati

Masih seperti dulu
Pikirannya bercengkrama dengan angin
Detak langkahnya diusik kegelisahan
Menyimpan luka yang terus dibisukan

Takut, terus ditakuti ketakutan
Bayang menghalang terus membayang

Kebenaran tak memiliki makna benar lagi
Hanya mampu berteriak pada bayangan
Padahal kebenaran semanis senyumnya









Selanjutnya......