Selasa, 07 April 2009

Abunawas Syndrome, Antara Refleksi Diri dan Kecemasan

By: Mahmud Syaltut Usfa

Ketika Abunawas mengikuti shalat jenazah dia berada di shaf paling depan, dengan khusuknya Abunawas mengikutinya. Tapi ada yang janggal apa yang dilakukan oleh Abunawas. Yang semestinya shalat jenazah hanya dilakukan dengan posisi berdiri saja atau tidak usah memakai sujud, rukuk, tahayyatul akhir layaknya shalat lima waktu umumnya, eh....malah Abunawas melakukannya.

Entah disengaja atau tidak atau barangkali karena memang ketololan Abunawas. Tapi yang jelas itu mengundang pertanyaan bagi jemaah yang lain "Kenapa engkau memakai sujud dan rukuk hai Abu..? kan mestinya cukup berdiri saja..?" tanya seseorang disebelahnya. Dasar Abunawas, dengan otak cerdiknya dia menjawab enteng "Orang yang mati ini banyak memiliki dosa, sehingga harus memakai rukuk dan sujud,".

Abunawas yang hidup pada zaman kerajaan Harun Ar-rasyid di Baghdat memang sangat terkenal memiliki otak cerdik dan tolol tapi dengan ketololannya itulah sang raja sering dibuat bulan-bulanan olehnya. Setiap orang yang mendengar atau membaca kisah-kisah Abunawas akan dibuat tertawa. Padahal, sebenarnya kisah-kisah ketololnnya adalah merupakan kisah perjalanan ketololan diri kita sendiri.

Orang yang menertawai si Abunawas layaknya proyeksi menertawakan ketololan diri kita sendiri. Apalagi hidup pada zaman yang serba harus berpacu dengan cepat untuk mendapatkan posisi, jabatan, dan lain-lain. Terkadang harus ada pemaksaan-pemaksaan diri yang sebenarnya diluar kompetensi kita. Semakin banyaknya keberhasilan-keberhasilan dan semakin tingginya kedudukan kita maka akan semakin kuat terhadap munculnya rasa gengsi,takut, malu yang terkadang menjadi tidak rasional.

Mengacu pada teori psikoanalisa Sigmund Freud, dimana dalam dinamika diri manusia memiliki "Ego Devent Mekanisme" yang sangat kuat untuk mampu memberikan alasan-alasan demi untuk membela "egonya". Kondisi seperti ini dimiliki oleh semua manusia tanpa terkecuali termasuk dari berbagai usia anak-anak, dewasa atau orang tua.

Hanya yang paling rentan dan kerap menghantui untuk melakukan Ego Devent Mekanisme adalah dari kalangan-kalangan yang memiliki posisi, power atau jabatan. Karena mereka sangat rentan sekali untuk mendapat kritikan-kritikan bahkan ketakutan untuk dijatuhkan dari kursi empuknya.

Mereka harus memiliki senjata ampuh yaitu silat lidah dan seribu alasan layaknya Abunawas walau terkadang harus rela menjadi "lelucon publik" karena dipandangnya suatu ketololan dan sangat-sangat tidak masuk akal.

Seorang Abunawas hanyalah rakyat kecil yang tidak akan banyak memberikan pengaruh publik terhadap reputasinya walau terkadang selalau merepotkan sang raja. Berbeda apabila seorang raja yang selalu berpikir cerdik dan tolol untuk membela diri dengan argument-argument cerdiknya. Tentu akan menggoyangkan jabatan sang raja karena sudah berkurang reputasinya dimata rakyat.

Dalam teori psikoanalisa, Ego merupakan kesatuan inti manusia, maka ancaman terhadap ego ini merupakan ancaman pula terhadap eksistensi manusia. Karena itu, setiap individu perlahan-lahan telah belajar memakai berbagai Mekanisme pembelaan egonya. Apabila dialaminya suatu keadaan yang mengancam keutuhan integritas pribadinya. Mekanisme itu sangat penting sebab berfungsi untuk memperlunak kegagalan, menghilangkan kecemasan, mengurangi perasaan yang menyakitkan karena pengalaman yang tidak mengenakkan dan juga untuk mempertahankan perasaan layak dan harga diri.

Ego Devent Mekanisme merupakan kondisi jiwa yang normal, kecuali sudah terjadi sedemikian keras dan kebiasaan yang sudah tidak mampu untuk dikontrol. Sehingga bukan lagi membantu tetapi malah menganggu integritas pada pribadinya. Ego Devent Mekanisme ini sendiri sebenarnya tidak realistis dan mengandung unsur penipuan diri sendiri serta distorsi realitas. Karena itu ini mempunyai kelemahan dan dapat mempunyai akibat yang tidak baik. Dan sebagian Mekanisme ini bekerja dengan tidak disadarinya, sehingga memang sukar untuk dinilai dan dievaluai secara sadar.

Dari sekian banyak bentuk pembelaan ego ada beberapa bentuk pembelaan ego yang sering dilakukan oleh kita, yaitu Rasionalisasi, adalah berusaha untuk membuktikan bahwa perbuatan yang ia lakukan yang sebenarnya kurang baik adalah dirasionalkan adanya, dapat dibenarkan dan dapat diterima adanya. Misalnya, ketika sorang murid mengajukan pertanyaan kepada gurunya,akan tetapi karena guru tersebut tidak tahu jawabannya maka dengan enteng dia menjawab "badan kurang enak" atau "pertanyaan itu terlalau mudah", padahal intinya ada rasa ketakutan, gengsi yang ditimbulkan karena tidak bisa menjawab atau barangkali takut jawabnnya salah. Contoh lagi jawaban-jawaban pembenaran lainnya seperti "Bukan korupsi, hanya uang jasa" atau "toh tidak diminta" dan sebagainya. Rasional menurut dia tapi terkadang akan menjadi lelucon bagi orang lain.

Ada tanda-tanda bahwa ada rasionalisasi pada pernyataan orang tersebut seperti: Mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatan atau kepercayaannya, kedua tidak sanggup mengenal hal-hal yang tetap atau bertentangan dan menjadi bingung atau malah marah bila alasannya diragukan orang. Sepertinya banyak dari kita yang telah belajar dari "lelucon" Abunawas hanya terkadang kita tidak tahu apa itu namanya, bahkan betapa kuatnya pembelaan ego kita apabila apa yang diyakininya sangat tidak rasional diterima oleh akal terlebih dari pandangan publik tetapi diri kita mengatakan "rasional dan mereka yang tolol".

Kita terkadang memang harus banyak belajar dari Abunawas sebagai referensi ego untuk mengoreksi diri kita. Apa yang kita pandang benar terkadang merupakan ketololan bagi orang lain. Kita sudah terlalu asyik menertawakan orang lain padahal pada hakekatnya kitalah yang semestinya terlebihdahulu harus ditertawakan.

Mungkin kita harus segera banyak-banyak mengoreksi diri dengan sedikit meluangkan waktu untuk berpikir bening, jujur pada segenap keterbatasan kita, kesahajaan serta tidak larut dalam kebohongan-kebohongan yang sebenarnya kita sendiri yang menciptakannya.

Semakin kuatnya rasa "anarki absolut" pada diri kita terlebih karena adanya kekuasaan, jabatan, dan tidak adanya rasa "Qanaah" maka akan melahirkan rasa ketakutan yang selalu menghantui diri kita, disitulah "Abunawas Syndrome" akan menjadi komuditas pembenaran bagi diri kita sampai melampaui batas sekala logika.

Nampaknya kita harus siap menertawakan diri kita sendiri bahkan seorang pemimpin sekalipun harus siap ditertawakan anak kecil apabila memunculkan kecerdikan, lelucon atau ketololan seperti layaknya Abunawas yang siap ditertawakan siapaun juga dalam kisah-kisah leluconnya.





Tidak ada komentar: