Jumat, 20 November 2009

Sajak Sufistik Mahmud Syaltut Usfa

"Ini Aku"

Ke sini…
Hantarkan jiwa itu padaku
Akan kupapah sampai ke tiang kematian

Tak perlu kau sentuh nafasku
Aku sedang mendekap luka
Aku masih berlari menjunjung hina

Sebaiknya kita satukan angan
Berlari menjauh dari luka meradang
Menerjang jiwa-jiwa yang pongah

Aku mohon,
Hantarkan jiwa itu padaku
Akan kudekap sampai ke titik keteduhan
Nyawaku sudah sampai di ujung langit
Jiwaku rindu berpetualang hingga tak tersentuh umur




"Mata Hati yang Memelas"

Catatan hati Mahmud Syaltut Usfa

Entah kenapa hari ini perasaanku meleleh
Sempat tercecer di sudut-sudut hati
Padahal lubang hati sudah tertutup cinta
Mata batin terasa sembab menangisi pujaan hati

Mata hatinya tajam karena selalu menatap mata tuhan
Air matanya tasbih, tahmid dan takbir
Sekujur pribadinya berselimut arrahman dan arrahim
Kata-katanya kalam ilahiyah

Keangkuhanku bergetar kencang
Menatap karisma di sudut matanya
Lidahku terkulai tak berdaya
Mendengar bait-bait suara batinnya

Kita bermula satu dalam senyawa jiwa
Bagai langit dan bumi dalam lingkaran Ars
Sang jiwa langit menunggu ketegasan akal
Berdoa mengurai harapan ke celah-celah takdir

Berdiri saja di sini
Terus saja
Tak perlu berlari
Istiqomah saja
Tak perlu berpikir
Menatap saja

Jangan gusar dengan liku-liku perjalanan hati
Cinta diciptakan untuk gelisah
Ihlaskan saja manakala batinku menatap
Agar kebahagiaan tersenyum menunggu ketegasan takdir




Selanjutnya......

Sabtu, 14 November 2009

Optimis Si Tokek Budek

Opini Batam Pos, Sabtu 30 Oktober 2009

Mahmud Syaltut Usfa S.Psi
(Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Sekadar ilustrasi, pada suatu ketika di negeri binatang diadakan lomba panjat pinang khusus para tokek. Batang pinang dilumuri getah salah satu pohon yang licin. Lomba tersebut tak ubahnya ketika memperingati HUT RI.

Hanya bedanya, peraturannya para tokek tidak boleh bekerja sama ketika memanjat. Hadiah yang ditawarkan tak tanggung-tanggung yaitu sebuah rumah dan berbagai hadiah hiburan lainnya. Siapa yang duluan sampai ke puncak maka dialah pemenangnya. Jumlah peserta diikuti 25 ekor tokek yang datang dari segala penjuru negeri.

Ketika juri mulai meniup peluit sebagai tanda lomba dimulai. Ke 25 ekor tokek ini langsung berebut naik. Baru berlangsung beberapa menit, sudah beberapa tokek yang tergelincir jatuh. Penonton juga mulai meneriaki dengan nada-nada pesimis dan cemoohan.

Nah, pada saat itu para peserta sudah mulai ciut hatinya. Rasa semangatnya sudah mulai luntur. Banyak yang putus asa karena tak tahan mendengar cemoohoan bernada pesimis. Hanya beberapa penonton saja yang memotivasi, Namu lebih banyak yang mencerca dan sok mengatur. Biasa, dalam posisi ini penonton jauh lebih hebat dari pemain sendiri.

Waktu terus berjalan. Sudah banyak peserta tereleminasi karena sudah jatuh bangun sebanyak tiga kali. Akhirnya tinggal enam tokek yang masih berjuang menuju puncak. Anehnya, penonton bukan memotivasi, malah sebaliknya meneriaki dengan kata-kata yang menciutkan hati para peserta. “Mana mungkin bisa mencapai puncak, sudah lah menyerah saja.” demikian rata-rata teriakan para penonton.

Ada juga yang meneriaki “Sudahlah turun saja, jangan gara-gara iming-iming rumah kau korbankan sesuatu yang tak mungkin.” Bahkan, ada tokek senior juga ikut-ikutan berkomentar sinis “Alah....buang-buang waktu saja, dulu saya saja gak berhasil.” ujarnya setengah berteriak.

Mendengar teriakan-teriakan yang bernada miring tersebut, satu persatu motivasi si tokek runtuh. Daya juang mereka semakin melorot. Dan akhirnya, satu persatu tereleminasi. Melihat kondisi demikian, penonton makin lantang berteriak. Tapi perlombaan belum selesai. Dari enam peserta, sebanyak lima tokek harus gugur.

Tinggal satu tokek yang masih memanjat dengan mantap. Melihat hal itu, penonton kembali bersorak dan mencemooh si tokek. ”Alah sok pahlawan, turun saja gak mungkin bisa kau bodoh.” teriak penonton saling bersahutan.

Namun, semua kata-kata penonton tidak digubris oleh si tokek. Dia tetap memanjat dengan tenang. Si tokek terus naik menuju puncak. Hingga para penonton terdiam melihat semangat dan ketenangan si tokek memanjat mencapai puncak. Terus memanjat dengan konstan hingga akhirnya mencapai puncak...!!

Spontan para penonton bersorak dengan gegap gempita melihat sesuatu yang dipandang tidak mungkin menjadi mungkin. Termasuk teman-temannya yang sudah tereleminasi terlebih dahulu ikut menangis haru. Setelah diturunkan dengan tali khusus, beberapa penonton dan petinggi negeri binatang berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan si tokek bisa mencapai puncak. Betapa kagetnya mereka, setelah diperiksa si tokek pemenang itu ternyata tidak bisa mendengar alias budek.

Cerita tersebut sebagai gambaran betapa pentingnya memiliki pola pikir positif. Mendengarkan kata-kata negatif hanya akan membuat diri kita terjerumus pada ketidak suksesan. Banyak orang-orang yang potensinya terbengkalai hanya karena gampang menerima pemikiran-pemikiran negatif dari orang lain. Padahal, orang yang mencomooh kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Saat ini bermunculan buku-buku motivasi. Para motivator sangat ditunggu-tunggu pemikirannya dalam memberikan pencerahan. Batam Pos sendiri setiap hari ada kolom oase. Para pembaca mulai menggemari karena isinya memotivasi.

Motivasi pada dasarnya adalah memberi kesadaran agar orang senang terhadap potensinya. Bukan memaksa orang dengan cara menggurui. Bukan pula memarahi atau menyinggung perasaannya. Lebih-lebih menyudutkan potensi orang lain. Oleh karena itu banyak orang menyukai sajian motivasi karena muncul kesadaran kalau dirinya memiliki potensi.

Lantas kenapa motivasi begitu dubutuhkan? Apakah orang-orang di zaman sekarang sudah kering dengan motivasi? Bisa jadi seperti itu alasannya. Tapi motivasi tidak akan kering. Karena sumbernya ada dalam diri kita. Sedangkan setiap orang pasti memiliki potensi.

Menggali potensi ibarat menggali sumur. Kalau menggalinya dangkal maka air tidak akan keluar. Begitu juga jika menggalinya setengah-setengah maka air yang keluar akan keruh. Namun, apabila menggalinya sampai dalam maka akan banyak menemukan sumber air. Terus mengalir makin dalam makin jernih.

Salah satu penyebab keringnya motivasi karena derasnya informasi negatif yang masuk ke dalam dirinya. Sehingga segala potensi yang dimiliki lambat laun melemah. Sifat manusia yang kerap mewarnai pergaulan adalah karena lebih senang menceritakan hal-hal negatif. Akibatnya, muncul rasa tidak percaya diri. Ini disebabkan karena mempersepsikan orang lain lebih hebat dibanding diri sendiri.

Pandangan-pandangan bernada negatif akan membuat nyali seseorang menciut. Sehingga dalam dirinya tertanam pola pikir pesimis. Apa-apa yang dikerjakan seolah-olah tidak akan membawa hasil.

Berbeda dengan orang yang selalu memiliki pola pikir positif, hidupnya selalu optimis. Setiap langkah yang dikerjakan adalah poin potensi diri. Tak ayal, tipe orang-orang seperti itu selalu dekat dengan keberhasilan.

Seberat apapun masalah dan tantangannya selalu disikapi optimis. Di situlah pentingnya trigger atau pemicu yang memberikan pencerahan. ”Kalau orang lain bisa kenapa saya tidak?” Para motivator sangat paham akan kebutuhan jiwa tersebut.

Kadang, ada orang yang bersikap manis dengan segala bentuk nasihat dan bujukan, tetapi niatnya justru menginginkan kita gagal, bahkan hancur!. “Sudahlah…kamu kan sudah bekerja keras, lebih baik menyerah saja saingannya berat.” begitu biasanya kalimat yang muncul. Atau kalimat lebih halus lagi “Saya senang kamu berhasil, tapi tidak perlu ngoyo memang apa sih yang kamu cari?”

Makanya, hati-hati terhadap segala rongrongan yang membentuk pola pikir kita menjadi negatif. Apalagi hidup di zaman sangat ketat dengan persaingan sekarang ini. Bisikan-bisikan yang menciutkan hati kita selalu terdengar.

Berbagai bisikan negatif bisa muncul dari penjuru mana pun. Bisa dari atasan, bawahan, teman, keluarga dan lain-lain. Apabila rongrongan datang semakin berat, bersikap tidak mendengar (istiqomah) dengan pola pikir positif sudah sebagai motivasi.

Dalam kehidupan pasti ada sisi negatif dan positif. Tetapi seharusnya cukup melihat yang negatif namun menekankan yang positif. Makanya, jangan heran apabila banyak orang-orang sukses karena tidak peduli dengan segala macam celotehan negatif. Mereka tetap istiqomah dengan pola pikir positifnya. Selalu berpandangan positif dalam melangkah.

Kebiasaan dan rasa senang mendengarkan isu-isu miring tidak akan membuat diri kita maju. Bahkan, perasaan minder dan tidak percaya diri akan menggerogoti diri kita. Lebih baik tutup telinga rapat-rapat dan melangkahlah dengan pola pikir seoptimis mungkin. Pasti berhasil....!!!





Selanjutnya......

Selasa, 27 Oktober 2009

Aduh Miyabi...

(Catatan lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Rencana kedatangan artis spesialis film-film bokep “Miyabi” ke Indonesia benar-benar membuat geram para pemuka agama. Artis asal Jepang blasteran Kanada tersebut rencananya membintangi film “Menculik Miyabi”. Walah dalah….ada-ada saja orang-orang film kita membuat sensasi.

Aditiya sang penulis naskah dengan tegas berkelit kalau Miyabi sama sekali tidak akan berakting buka-bukaan. Mulai buka mulut, buka dada....dan buka lainnya...Husstt tahan berpikir ngeres!!.

Sontak saja, rencana kedatangan artis hot tersebut ditantang habis-habisan. Majelis ulama Indonesia paling depan menantang. Begitu juga Front Pembela Islam juga lantang bersuara menolak!! Terakhir dari berbagai ormas agama juga menentang keras dengan alasan moral. ”Bukan akting di film tersebut, tapi Miyabi adalah simbol porno, lantas di mana wajah moral bangsa kita...??” begitu rata-rata komentar mereka yang menantang.

Tak ayal, berbagai argumen dan pro kontra pun terus mengalir saling bersahutan. Ustad Yusuf Mansyur juga sempat berkomentar “Kalau seandainya gw yang jadi presiden akan gw panggil Miyabi ke Cikeas, terus diceramahi agar bertobat, kalau gak mau tobat disuruh pulang aja ke Jepang.” ujar sang ustad.

Yang tak kalah hebohnya munculnya komentar agar Miyabi disarankan memaki jilbab kalau mau ke Indoensia. Bahkan, di berbagai internet bermunculan foto-foto Miyabi memakai jilbab.

“Aduh....Miyabi...jadi kelakukan gini deh, ruarrrr....biasa...” Bisa saja anjuran tersebut himbauan agar dia bertobat. Tapi bisa saja berupa sindiran. Lho...kok gitu...? Kenapa tidak! bukankah umat Islam di Indonesia terlalu lembek dan cepat luluh hatinya apabila mendengar ada orang insaf.

Atau...jangan-jangan juga cemoohan kepada FPI yang terlalu vokal dan kerap mengkedepankan tindakan kasar. Lihat saja contohnya, ketika terjadi gempa di Jogjakarta sampai muncul anekdot “Jogja gempa karena Nyi Roro Kidul marah gara-gara disuruh memakai jilbab oleh Ust. Habid Rizieq sang komandan FPI.” Ya....silahkan saja adu argumen. Gelontorkan berbagai alasan demi terjaganya moral bangsa.

Ketika bola panas mulai menjalar di masyarakat, obrolan pro kontra juga berkumandang di berbagai sudut jalanan. Seorang yang memakai peci hitam terlihat geram. Dia berapi-api berkomentar keras menolak Miyabi datang ke Idonesia.

Di salah satu warung pojok jalanan dia komat-kamit. “Darah Miyabi halal untuk dibunuh, saya akan membunuhnya kalau dia sampai datang ke Indoensia, dia perusak moral !!!. ujar lelaki tersebut geram. Dia terus mengoceh tiada hentinya mengumpat Miyabi. Sampai-sampai orang-orang di sebelahnya merasa terganggu.

Karena tak sabar, salah seorang menegor dengan suara pelan. “Sudah lah pak kan sudah ditinjau ulang agar batal.” ujarnya santai, tapi orang yang berjenggut tersebut malah makin naik darah. “Pokoknya harus batal, dia perusak moral, dia artis porno...”sahutnya sambil menggebrak meja. Karena merasa geram, akhirnya orang di sebelahnya mencoba memancing “Maaf pak, Miyabi itu bukan artis porno...dia artis biasa tapi dalam ukuran di Indonesia terbilang porno.” katanya dengan suara agak tinggi.

Namun, lagi-lagi komentarnya disambut dengan suara melengking “Kamu tahu gak sih...dia itu artis porno...kok kamu gak ngerti ya...?!!” semprotnya makin geram. “Baik pak, ujar orang di sebelahnya...kalau betul begitu mana buktinya??.” ujarnya memancing.

“Oke kalau mau bukti sekarang juga saya akan ambil VCD porno Miyabi...di rumah saya banyak.” ujarnya sambil berdiri dari tempat duduknya. Tak lama kemudian dia datang dengan membawa beberapa VCD porno Miyabi. “Nih buktinya....saya hampir setiap malam nonton, mau bukti apa lagi, dia perusak moral, jelas kan...!!” hardiknya masih dengan nada emosi.

Kontan saja orang-orang di sebelahnya cengar-cengir....”Lho....j
adi bapak penggemar Miyabi ya...?? kalau begitu moral siapa yang rusak pak heheheeeeee.” ujar mereka sambil tertawa. Tentu saja wajahnya langsung memerah. Dengan sedikit menahan malu dan nada suara terbata-bata dia berkelit “Emmm....i..i..itu bukan punya saya tapi pinjam ke tetangga.” ucapnya sambil menundukkan kepala.


Selanjutnya......

Selasa, 25 Agustus 2009

Pandanglah Bakat Anak sebagai Potensi Hebat

Batam Pos, Selasa, 25 Agustus 2009

Mahmud Syaltut Usfa S.Psi (Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Tahun pelajaran baru sudah dimulai. Siswa-siswi sudah memulai kegiatan belajar di sekolahnya masing-masing. Para orangtua pasti telah memilih sekolah yang terbaik bagi putra-putrinya. Di mana pun sekolah pilihannya, pasti sudah dipertimbangkan dengan matang.

Awal tahun pelajaran baru merupakan masa transformasi bagi anak yang baru selesai sekolah di Taman Kanak-Kanak (TK). Dalam penyesuaian ini belum terlihat prestasi anak secara menonjol. Para orangtua juga belum disibukkan dengan hitung-hitungan nilai anaknya.

Setelah masa belajar satu semester, para orangtua sudah berpikir nilai akademis. Dan pertanyaan yang sering dilontarkan adalah “Ranking berapa anak saya?” Sebuah pertanyaan yang umum tentunya. Tapi sangat jarang orangtua, bahkan hampir tidak sempat bertanya kepada gurunya “Apakah bakat anak saya sudah berkembang?” atau minimal bertanya “Bakat apa yang dimiliki anak saya?”.

Mungkin saja karena berpikiran kalau bakat tidak begitu penting dibanding hasil prestasi belajar anak. Atau mungkin saja hasil prestasi belajar anak dipandang sebagai kualitas intelegensinya. Akibatnya bakat anak kerap terabaikan.

Pemikiran seperti itu hendaknya dihilangkan. Minimal, cobalah berpikir bahwa kedudukan bakat dan intelegensi seimbang dalam meraih keberhasilan masa depan anak. Bakat memiliki sumbangsih besar terhadap perkembangan intelegensi anak. Sementara faktor intelegensi tidak memberi pengaruh signifikan terhadap bakat.

Contoh sederhana, anak yang berbakat musik akan menjadi kreatif, inovatif, dan berpikir kontruktif, sehingga intelegensinya terasah. Sebaliknya, sekalipun anak tersebut intelegensinya tinggi tapi tidak memiliki bakat musik tetap saja tidak akan bisa bermain musik.

Maaf, bukan mengesampingkan faktor intelegensi. Melainkan menegaskan keterkaitan antara keduanya yang harus kita nilai seimbang sebagai potensi anak. Bakat lahir bersama genetikal anak. Hebatnya lagi, setiap anak pasti memiliki bakat. Dan yang unik, sekalipun bakatnya sama namun karakteristik kreatifitasnya bisa berbeda.

Tidak hanya itu, bakat sangat erat dengan kegiatan yang dapat menstimulasi otak kanan anak. Jika otak kiri diidentikkan dengan kecerdasan analitik seperti kemampuan matematis dan berpikir secara sistematis. Maka otak kanan biasa dikaitkan dengan kreativitas, misalnya kemampuan berkomunikasi dan seni.

Jika selama ini banyak orangtua yang memasukkan anak-anaknya untuk mengikuti kegiatan ekstra kulikuler yang “berat” seperti bahasa Inggris, matematika. Ada baiknya juga memikirkan alternatif kegiatan yang dapat menstimulasi otak kanannya. Kadang satu minggu penuh mengikuti berbagai les, tanpa sekalipun mengikuti les pengembangan bakat.

Banyak orang-orang hebat di dunia yang berhasil karena dominasi bakatnya. Leonardo Da Vinci misalnya, dia anak jadah dari pengacara Florentina dengan gadis petani. Dia lahir pada tanggal 15 April 1452 di kota kecil yang bernama Vinci di dekat kota Florence. Bakatnya di bidang seni berkembang saat dia menjadi murid Andrea del Verrocchio yang merupakan pematung dan pelukis terkenal di Florence pada saat itu.

Begitu juga orangtua Shakesphere hanyalah penduduk biasa di kota Stratford-upon-Avon, Warwickshire. Ayahnya yang bernama John Shakesphere hanyalah seorang pedagang lokal, tapi Shakesphere sendiri mampu menjadi salah satu penulis drama dan penyair paling terkenal di dunia dan belum tertandingi sampai saat ini.

Dia menggunakan puisi dalam sejarah, tragedi, dan drama komedinya serta menulis 154 soneta. Ayah Ronald Reagen hanyalah seorang salesman sepatu yang tidak lulus SMU dan seorang pemabuk berat. Keberuntungan Reagen berubah saat dia mendapat beasiswa untuk sekolah di Eureka College karena kemampuan berolahraganya, biarpun dia harus bekerja mencuci piring agar tetap bisa makan. Ronald Reagen memulai karirnya bukan sebagai politikus tapi sebagai aktor Hollywood.

Ada salah satu contoh orang yang sangat berbakat, tapi dia berasal dari keturunan yang sangat jauh berbeda Dia adalah Srinivasa Ramanujan. Dia berasal dari India dari keluarga miskin di Madras dengan tubuh pendek dan gemuk.

Di sekolah, dia sangat pintar belajar aritmatika, tapi dia tidak berhasil masuk ke perguruan tinggi hanya karena dia gagal dalam ujian bahasa Inggris. Meskipun demikian, dia mampu mengeksplorasi matematika sendirian hanya dengan mempelajari teks matematika yang merangkum bidang inti ilmu matematika.

Berutunglah orangtua yang mensekolahkan putra-putrinya di sekolah yang memberikan beberapa alternatif kegiatan ekskul pengembangan bakat. Karena potensi otak kanan bisa berkembang maksimal. Apalagi bagian otak kiri sudah banyak didapat anak dari pelajaran umum di sekolah.

Siswa-siswi yang hanya “dicecoki” dengan berbagai pelajaran di sekolah sangat sulit menjadi anak kreatif. Apalagi orangtua hanya sibuk menilai prestasi anak dari tingkat ranking. Akibatnya perkembangan otak kanan menjadi mandul. Sedangkan otak kiri terus menerus “di-push” dengan berbagai les-les berat dengan harapan meraih ranking, ranking dan lagi-lagi hanya ranking!!

Bisa saja, karena sekolah dan orangtua lebih mementingkan otak kiri inilah membuat negara kita tidak banyak memiliki anak-anak yang kreatif. Ini disebabkan otak kanan kurang dikembangkan secara optimal.

Di sinilah pentingnya peran sekolah dan orangtua memberi wadah kepada anak untuk perkembangan bakatnya. Marilah kita lihat potensi anak secara bijak. Sekecil apa pun bakat anak tetaplah sebagai potensi yang harus dihargai. Berilah mereka kesempatan seluas-luasnya agar segenap potensinya terus terasah, berkembang dan berprestasi. ***




Selanjutnya......

Minggu, 12 Juli 2009

Membangun Sastra Melalui Esai di Batam Pos

Batam Pos, Minggu 12 Juli 2009

Oleh: Mahmud Syaltut Usfa
(Penulis dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Adanya halaman sastra dan budaya di Batam Pos merupakan langkah sangat positif. Dalam jagad penulisan, esai sastra merupakan salah satu bentuk karya tulis yang marak diciptakan. Berbagai gaya penulisan terus mengalir setiap minggunya. Dan terbukti, di Batam Pos muncul penulis-penulis lokal yang produktif. Ini menunjukkan pamor esai sastra sudah cukup kuat.

Berbagai sudut pandang sastra menjadi kupasan menarik. Ini suatu bukti perhatian publik sastra sangat antusias. Selanjutnya yang diharapkan adalah esai dari pengkaji, sastrawan, pembaca, dan tentunya para penulis pemula.

Munculnya daya tarik tersebut tidak terlepas dari adanya keunikan esai sastra. Walaupun sebagai karangan subjektif, namun tetap memiliki karakteristik sangat menarik. Tentunya yang diharapkan adalah menjawab tantangan yang sudah tersedia ini. Karena, pada akhirnya tidak hanya pembaca yang pandai namun lebih khusus lagi para penulisnya.

Sangat diharapkan akan muncul para penulis kreatif yang mengulas sastra di jagad negeri ini. Lebih diharapkan lagi menggali sastra di bumi melayu sebagai “tanah air” sastra di Indonesia.

Sebab, bisa saja ada kemungkinan seorang penulis esai tidak paham pengertian esai sastra. Menulis esai memang dibutuhkan referensi yang kuat. Namun, yang menjadi dasar adalah pemahaman terlebih dahulu menganai esai itu sendiri. Karena ada beberapa pandangan dari para ahli di bidangnya.

Dalam tulisan ini akan sedikit dihadirkan beberapa pendapat para pakar tersebut. Diharapkan ini lebih memudahkan bagi para penulis, lebih khusus pemula yang tertarik menulis esai sastra. Ini hanya sekadar meneguhkan lagi bagi para penulis.

Pandangan yang pertama saya angkat dari Sang Paus Sastra H.B. Jassin. Menurutnya, esai adalah uraian yang membicarakan bermacam ragam, tidak tersusun secara teratur tetapi seperti dipetik dari bermacam jalan pikiran. Pengertian di atas lebih tegas lagi bahwa penulisan esai sangat luas, fleksibel. Kuncinya adalah fondasi referensi untuk mengokohkan jalan pikiran penulis.

Tak heran jika banyak bermunculan karya esai sederhana namun gampang dicerna. Karena dalam esai terlihat keinginan, sikap terhadap soal yang dibicarakan, kadang-kadang terhadap kehidupan secara universal.

Kontrol yang mungkin perlu dijaga adalah mengemas antara keinginan penulis dan kebutuhan pembaca. Sebab, jika mengikuti arah keinginan penulis bisa-bisa pembahasannya melebar. Sebaiknya pahami dulu kebutuhan pembaca. Ini disebabkan penulisan esai memang gamblang.

Sebagaimana pandangan Arief Budiman, pengertian esai sebagai karangan yang sedang panjangnya, yang membahas persoalan secara mudah dan sepintas lalu dalam bentuk prosa.

Sementara itu pendapat dari Soetomo menyebut bahwa esai adalah sebagai karangan pendek mengenai suatu masalah yang kebetulan menarik perhatian untuk diselidiki dan dibahas. Pengarang mengemukakan pendiriannya, pikirannya, cita-citanya, atau sikapnya terhadap suatu persoalan yang disajikan.

Esai lebih mengarah pada penulisan yang sedang menarik perhatian, dibahas secara datar, dan bukan bersifat kritik. Sebab kritik sudah memiliki penilaian baik-buruk, benar-salah. Kritik sastra juga lebih sistematis dibanding esai, oleh karena itu kritik sastra harus diurai panjang lebar, dan secara otomatis harus objektif.

Perbedaan dengan esai adalah sifat penulisannya subjektif. Uraiannya cukup pendek karena hanya menerangkan. Juga tidak teratur sistematikanya layaknya opini. Sepertinya ini sering rancu, karena penulis sering ”terlanjur” mengarah ke kritik. Hal ini disebabkan penulis sangat kokoh pada pemikirannya, sehingga tersandung pada ego dalam mengemukakannya.

Esai bisa diartikan sebagai karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dengan pendirian, pikiran, cita-cita, sikap penulisnya yang diutarakan secara tidak teratur. Tak heran, jika esai dikupas secara sederhana namun memiliki dasar pemikiran yang kokoh.

Pendapat yang lainnya muncul dari F.X. Surana yang menerangkan esai sebagai kupasan suatu ciptaan, tentang suatu soal, masalah pendapat, ideologi, dengan panjang lebar. Kupasan ini berdasarkan pandangan penulisnya dan diutarakan secara tidak teratur. Adakalanya esai terkesan menyajikan pemikiran-pemikiran yang liar.

Dari berbagai pandangan tersebut, bisa dikategorikan kalau tulisan esai memiliki ciri-ciri: Tulisan pendek, berbentuk prosa, bersifat subjektif, bersifat menerangkan saja, tidak teratur dibanding kritik.

Dari uraian di atas tak heran apabila esai bermunculan. Terlebih sastra dan budaya memiliki ruang lingkup sangat luas. Batam Pos sudah memberi ruang bagi para penulis. Suatu bentuk apresiasi yang sangat bagus dalam meningkatkan pemahaman sastra dan budaya.

Langkah ini merupakan membangun media edukatif bagi perkembangan sastra dan budaya di Kepri. Batam Pos sudah memiliki kepedulian yang tinggi. Dari halaman ini kita bisa belajar. Tidak sekadar belajar dari membaca, namun juga menuangkan pemikiran-pemikiran kita dalam tulisan. ***





Selanjutnya......

Dahsyatnya Sentuhan Meluluhkan Jiwa Anak

Batam Pos, Sabtu, 11 Juli 2009
Mahmud Syaltut Usfa S.Psi
(Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Tindak kekerasan guru terhadap siswa sering mewarnai lembar pendidikan kita. Termasuk di tingkat pendidikan dasar (SD). Banyak guru tidak sabar menghadapi ulah anak didiknya. Padahal, semua guru pasti ingin mendidik siswa-siswinya dengan baik. Tetapi menghadapi sikap, perilaku, dan kepribadian anak berbeda-beda membutuhkan kesabaran tinggi.

Kondisi yang merepotkan guru adalah ketika menghadapi anak kurang disiplin. Tapi mau ditegaskan malah tersandung dengan persepsi yang sudah melekat di pikiran kita “namanya saja anak-anak”. Pandangan seperti itu terkadang menjadi sebuah “toleransi” ketika akan menegakkan aturan kepada anak-anak. Akibatnya, sikap dan perilaku anak malah dalam posisi salah bentuk.

Terlebih menghadapi anak yang dicap sebagai “si nakal” di sekolah. Adakalanya orangtua serta guru serba salah ketika harus memberi sanksi atau hukuman. Karena khawatir mengarah kepada tindak kekerasan. Tapi jika secara lembut malah tidak membuat perilaku anak berubah.

Dalam mengendalikan perilaku anak ada dua figur penting yang mempengaruhi. Yaitu, figur orangtua dan guru. Keduanya saling mendukung dalam memberi energi postif terhadap emosi dan kognisi anak. Hal mendasar adalah menciptakan kepercayaan (trust) pada pribadi anak.

Cara yang paling sederhana membentuk kepercayaan adalah dengan sentuhan fisik. Ini sangat halus, lembut, sederhana tapi membutuhkan keihlasan. Melalui sentuhan akan tercipta ikatan emosional, sehingga terbentuklah trust. Dari kepercayaan akan timbul kelekatan emosional (attachment).

Orangtua sangat penting membiasakan sentuhan, minimal sebelum anak berangkat sekolah. Bersalaman kemudian memberi ciuman (kecupan) merupakan pembiasaan yang sangat bermakna.

Ada hasil penelitian yang spektakuler mengenai pengaruh ciuman seorang ibu. Seorang anak yang diberangkatkan ke sekolah oleh sang ibu dengan kecupan sayang, ternyata memberi dampak luar biasa terhadap prestasinya. Kecupan tersebut mampu meredam kemarahan untuk berkelahi di sekolah daripada mereka yang diberangkatkan oleh baby sitter (pembantu).

Sangat disayangkan apabila orangtua tidak sempat melakukan itu dengan alasan tidak ada waktu. Apalagi semuanya diserahkan kepada pembantu, dan di sekolah dipandang hanya menjadi tanggung jawab guru.

Begitu juga sebaliknya, guru harus intens memberi sentuhan kepada anak didiknya. Mulai menyambut dengan salaman ketika anak tiba di sekolah. Satu persatu kepada siswa. Bukan sebaliknya, siswa yang menyambut guru kerena sang guru datangnya terlambat. Anak pasti sangat senang menyambut guru tapi akan lebih bangga lagi apabila disambut guru dengan salaman.

Sentuhan akan mengalirkan ikatan emosional. Apabila setiap hari dilakukan, maka akan menyambungkan ikatan kepercayaan. Model sentuhan lain yang juga sangat sederhana tapi memiliki makna dalam adalah dengan mengelus-elus punggung anak. Sentuhan ini mampu memberi rasa percaya diri, tanggung jawab, ketenangan serta semangat ke anak.

Cara lain adalah dengan membelai kepala. Dengan melakukan belaian membuat anak merasa dihargai, mendapat kepercayaan dan tidak merasa dipersalahkan. Sentuhan yang juga sangat sederhana dilakukan ke anak adalah mendekap kepalanya ke dada sebelah kiri. Ketika anak merasa bersalah, menangis dan down, dekaplah erat-erat sampai merasakan dengup jantung. Seketika anak akan “bernostalgia” saat berada di dalam rahim ibunya. Akan merasa tenang dan aman. Sehingga mampu menghilangkan rasa cemas, takut dan marah.

Tidak musthail, jika sentuhan sederhana tersebut diterapkan mampu meredam tindak kekerasan guru terhadap siswa. Kekuatan sentuhan sangat dahsyat. Sudah banyak hasil penelitian membuktikan pengaruhnya.

Seorang psikolog Eropa pernah melakukan penelitan terhadap dua simpanse. Simpanse yang satu tidak penah dilus-elus, dibelai dan diajak berkomunikasi. Sedang satunya setiap hari dibelai, dielus-elus, diberi sentuhan fisik dan diajak ‘bicara”. Hasilnya, ada perbedaan sangat mencolok. Simpanse yang tidak pernah diberi sentuhan fisik menjadi liar, garang dan ganas. Tapi sebaliknya, yang diberi sentuhan dan kasih sayang menjadi sangat penurut dan patuh kepada pemiliknya.

Seorang Australia memiliki pengalaman lain yang cukup unik. Katanya, sapi yang diperah susunya dengan menggunakan tangan si peternak (diperah secara manual) lebih banyak mengeluarkan susu daripada sapi yang diperah dengan mesin pemerah.

Begitu dahsyatnya pengaruh sentuhan ini. Jangankan terhadap manusia yang memiliki elemen psikologis sempurna, kepada hewan saja pengaruhnya luar biasa!. Rasa percaya anak yang sangat besar membuat mereka gampang diarahkan.

Sekalipun diberi sanksi saat melakukan kesalahan tetap tidak akan menyalahkan guru. Dalam dirinya tidak akan muncul rasa benci, takut (trauma) kepada guru. Melainkan timbul kesadaran bahwa dirinya diberi sanksi karena kesalahannya, bukan karena guru membenci dirinya!.

Sangat berbeda dengan guru yang tidak memiliki ikatan emosional kepada anak didiknya. Kepercayaan sangat rapuh. Apabila guru memarahi akan dinilai sebagai guru yang galak. Jangan heran jika akhirnya anak menjadi bandel, selalu melawan. Bahkan, jika dimarahi akan mengulang lagi perbuatannya.

Ketika guru malarang anak dengan kalimat ”jangan” justru ditanggapi sebagai tantangan. Kalimat ”jangan” dijadikan kesempatan untuk mendapat perhatian. Contoh, ketika anak dilarang naik pohon ”jangan naiki pohon itu!” anak bukan turun, malah naik lebih tinggi lagi.

Di sinilah pentingnya membangun”trus” terlebih dahulu dengan fondasi ikatan emosional, selanjutnya baru diberi teguran atau sanksi apabila melakukan kesalahan agar perilakunya terarah.

Dalam membangun attachment tak perlu mengganggu pekerjaan di sekolah. Cukup dengan memanfaatkan sebaik mungkin waktu luang yang ada bersama anak didik. Memberi sentuhan bisa dilakukan setiap saat. Guru, yang tidak mau menyempatkan memberi sentuhan akan menciptakan jarak emosional. Apalagi jika anak dibuat merasa segan bertemu guru sama halnya menjauhkan rasa kepercayaan.

Sentuhan fisik adalah bahasa cinta yang paling mudah digunakan tanpa syarat, sebab orangtua atau guru tidak perlu mencari kesempatan khusus ataupun alasan apabila hendak melakukan kontak fisik. Bahasa sentuhan tidak terbatas pada pelukan dan ciuman saja, tetapi segala jenis kontak jasmani. Semoga bermanfaat.***


Selanjutnya......

Minggu, 28 Juni 2009

Jangan Malu Belajar Do'a ke Anak

(Catatan lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Orangtua mana yang tidak senang anaknya pandai ilmu agama. Walaupun dia sendiri sangat dangkal tentang agama, tapi anaknya harus pandai. Mantap….!! memang orangtua harus berpikir gitu kok!. Akhirnya anaknya disekolahkan di salah satu SD Islam favorit di Batam.

Kurikulum agama Islamnya termasuk di atas standar. Semenjak kelas I (semester awal) sudah harus mengikuti berbagai pelajaran agama. Tidak hanya teori tapi juga praktek, atau lebih akrab dengan istilah pembiasaan.

Mulai pembiasaan bahasa Arab sampai membaca do’a - do’a pilihan. Apalagi praktek shalat, pembiasaan membaca al-qur’an dan hadis-hadis pilihan sudah menjadi keseharian mereka. Sampai-sampai orangtuanya sendiri kewalahan mengimbangi kemampuan ilmu agama anaknya.

Sehingga lama-lama kondisinya terbalik. Anak yang harus mengajari orangtuanya. Bahkan, saat ada tugas agama dari sekolah anak mulai malas bertanya ke orangtuanya. Alasannya, papa dan mama pasti gak ngerti. Akibatnya pada diri anak mulai muncul rasa kurang percaya ke orangtuanya. “Ah…percuma tanya, paling papa dan mama gak bisa jawab juga.” Begitu yang ada di pikiran anaknya.

Mau tak mau, orangtua harus (dituntut) untuk belajar berbagai pelajaran agama anaknya yang masih duduk di bangku kelas I SD. Kalau perlu harus lebih pandai. Akhirnya, setiap hari selalu membaca pelajaran agama di buku paket dan catatan anaknya. Hasilnya positif, orangtua jadi makin ngerti akan ilmu agama. Khususnya bagi sang ibu yang harus mengajari anaknya, menjadi persoalan serius.

Untuk pelajaran agama secara umum tidak ada masalah. Tapi ketika pelajaran bahasa Arab, tajwid, menulis Arab sangat menjadi kendala. Yang lebih merepotkan lagi pelajaran hafalan surat-surat pendek, hadis-hadis pilihan dan do’a – do’a pilihan. “Wah....mana mungkin bisa menghafal semuanya.” pikir ibunya. Apalagi kemampuan menghafalnya tidak setajam anak-anak. Tapi kalau bertanya ke anaknya langsung kuatir anaknya malah menertawakan. “Kok papa dan mama tidak tau sih...!!”

Nyerah...pasrah...akhirnya memutuskan “Saya harus belajar ke anak!!” Tapi sayangnya tidak mau terang-terangan, alias harus sembunyi-sembunyi. Caranya, setiap hari harus menyuruh anaknya membaca pembiasaan-pembiasaan tersebut. Misalnya, niat wudu’ dan doa setelah wudu’ sang ibu harus mendampingi anaknya yang lagi wudu’ dengan pura-pura membimbingnya. Padahal mulutnya sambil komat-kamit menirukan anaknya yang sedang baca do’a.

Seabrek hafalan do’a –do’a harus dihafalkan. Rasanya memori otak ibunya sudah penuh. Entah kenapa, untuk menghafal do’a sebelum makan kok terasa susah. “Wah...do’a – do’a dan hadis masih belum hafal ditambah lagi do’a sebelum makan.” pikirnya.

Makanya setiap anaknya mau makan sang ibu harus pasang kuping mendengarkan do’a anaknya. Tapi anaknya kadang malas-malasan membaca do’a. Pada suatu hari anak makan di ruang makan dan tidak mau diganggu ibunya. Sang ibu harus rela nguping sambil duduk di ruang tamu.

Sayang sekali, sang ibu tidak mendengar anaknya membaca do’a. Dengan penasaran dia menanyakan. “Apakah sudah membaca do’a?” tanyanya. Dengan suara enteng anaknya menjawab “Sudah membaca di dalam hati.” sahutnya. “Aduh...repot nih jadi gak kedengaran.” pikir ibunya, sambil melontarkan kalimat “Membaca do’a itu harus nyaring supaya kedengaran malaikat.” ujar ibunya setengah berteriak.

Akhirnya anaknya membaca do’a dengan keras. Sang ibu senang sambil menirukan. Tapi, sial....lagi-lagi masih belum hafal juga. Akhirnya menyuruh anaknya membaca lagi. “Ayo dibaca lagi yang keras.” Suruhnya. “Kan sudah mama.....” jawab anaknya. “Dibaca lagi yang keras supaya setannya lari gak ikut makan.” alasannya dengan suara agak keras.

Si anak menurut sambil mengulang bacaan do’a sebelum makan. Ibunya senang karena bisa menirukan. Tapi, lagi-lagi gak nyantol ke memorinya. Do’a yang sudah dihafalnya hilang lagi. Membacanya juga terbalaik-balik.

“Wah...harus menyuruh anak saya lagi nih.” Ucapnya dalam hati. “Ayo...do’a sebelum makannya diulang lagi, kayaknya setannya belum lari tuh...” suruhnya lagi. Dengan sedikit jengkel si anak menjawab “Aduh mama......kan makannya sudah selesai, kok disuruh membaca do’a sebelum makan terus sih....sekarang aku membaca do’a setelah makan ya ma...” sahut anaknya polos. “Ihhhh......do’a sebelum makan aja belum hafal malah ditambah do’a setelah makan.” ujar sang ibu agak sewot.

Belajar kepada anak kenapa harus gengsi. Apalagi untuk kebaikan anak dan diri sendiri. Gak ada salahnya terus terang, tapi terus berusaha belajar. Daripada ditahan-tahan malah hasilnya tak karuan tuh...!!



Selanjutnya......