Kamis, 29 April 2010

Syair Ibu - Mahmud Syaltut Usfa

(Bukan serimonial hari ibu)
Hati berdetak saat cinta berhembus dari sudut langit
Para malaikat di atas kepalaku hening dengan zikir
Gema cinta itu begitu dahsyat mengalir di urat nadi
Membuat para bidadari tersenyum mengelus rohku

Cinta ibu….
Mengalir tiada henti ke hulu nurani sekalipun roh itu berbaring damai
Aku hanya mampu menatap dari mata batin saat engkau tersenyum
Tapi aku merasakan engkau terus mendekap erat menjaga keteduhan qalbu

Saat rindu tertegun, cinta itu hadir bagai dihantar para malaikat
Saat gelisah terbangun, rasa sayang itu mengalir bagai sentuhan bidadari

Aku mampu berdiri kokoh dari tiang-tiang kasih sayang ibu
Aku mengenal cinta sejak dalam dekapan rahim ibu
Hingga saat ini keduanya terus mengalir di nadi jiwa
Walau aku tak bisa menatapnya lagi

Para bidadari…
Engkau pemilik nurani keibuan
Bertemanlah atas nama kaum hawa
Kasih sayang ibu secantik parasmu
Engkau hanya memiliki paras cantik
Namun, tak memiliki cinta dan sayang setulus ibu
Belajarlah dari ibuku sebelum engkau menemani lelaki


Selanjutnya......

Sabtu, 24 April 2010

Menempatkan Konsisten di Jalan Bijak

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa

“Seorang pemimpin harus konsisten.” Kalimat seperti itu sering kita dengar. Sebab katanya, pemimpin yang tidak konsisten berarti plin-plan. Apa benar? Terus terang kalimat itu malah mengusik pemikiran saya. Karena konsisten kerap disalah artikan, sehingga penerapannya malah kaku. Bahkan membuat situasi menjadi kacau.


Coba kita pikir, Nabi Adam dikeluarkan dari surga bukan karena tidak konsisten. Tapi disebabkan tidak mampu bersikap bijak kepada istrinya, Hawa. Ketika Adam merasa kesepian, dia meminta teman. Kemudian Allah menciptakan Hawa yang diambil dari tulang rusuknya. Ini sebagai isyarat bagi Adam agar dirinya bijak kepada wanita. Atau dengan kata lain, menjadi pemimpin itu harus bijak.

Kala itu, Adam konsisten dengan pendiriannya untuk tidak makan buah khuldi. Tapi di sisi lain Hawa juga konsisten ingin memakannya. Karena Adam tidak bijak, maka terjadilah pelanggaran.

Begitu juga dengan setan. Diusir dari surga bukan karena tidak konsisten kepada Allah, melainkan disebabkan tidak bijak kepada Allah. Sehingga dirinya termakan kesombongan. Ketika disuruh sujud kepada Adam, setan berkata “Pantaskah aku sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah? Aku lebih baik dari Adam, karena aku diciptakan dari api dan dia dari tanah.” Betapa tidak bijaknya setan sehingga mengeluarkan kata-kata sombong seperti itu. Sampai sekarang setan konsisten, karena dia tidak bisa bijak. Akibatnya, kita malah jadi korban konsistennya setan.

Lain lagi dengan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Ketika Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih putranya (hanya lewat mimpi) dia bersikap sangat bijak. Disampaikan dengan cara dialog kepada Ismail. Di situlah bapak dan anak ini kecerdasan emosionalnya sangat matang. Ismail begitu bijak menyikapi perintah Allah. Bijak, telah mengantarkan sikap konsisten keduanya. Triggernya adalah keimanan.

Konsisten jika tidak diikuti dengan jalan bijak akan membuat situasi morat-marit, kaku, bahkan menjadi lelucon. Saya jadi teringat dengan ponaan yang masih berumur dua tahun. Jika ditanya, “Berapa usianya?” dengan tegas dia bilang “Ua (Dua)” jawabnya dengan lidah cedal. Tentu dia tidak tahu dari mana angka ‘dua’ didapat. Saya jadi berpikir, kalau dia konsisten sampai tahun depan bisa-bisa menjadi lelucon.

Sama seperti cerita seorang sufi bernama Nasruddin, ketika ditanya, “Berapa usia kamu sekarang?” Dengan tegas Nasruddin menjawab, “Usiaku 40 tahun.” Si penanya malah bingung, “Lho tahun kemarin kamu menjawab 40 tahun, kok sekarang tetap sama?” tanyanya heran. Nasruddin malah menjawab “Iya, sebab aku konsisten.” Ujarnya enteng.

Dalam menempatkan konsisten yang menjadi pengendalinya adalah ‘bijak’. Tanamkan rasa bijak terlebih dahulu, baru terapkan secara konsisten. Dengan ‘bijak’ maka konsisten bisa berjalan lentur. Seorang atasan yang hanya berbekal konsisten namun tidak bijak, hanya akan membuat anak buahnya kendor motivasinya. Bisa dirasakan, betapa ‘sumpeknya’ anak buah jika melihat atasan marah-marah karena alasan konsisten dengan keputusannya.

Lantas, bijak itu seperti apa? Saya tidak akan mendefinisikan. Pasti Anda lebih tahu jawabannya. Tapi, saya jadi teringat ketika masih kecil, sering melihat ibuku yang membuat dodol. Saat itu, ibuku tidak mau beranjak dari dapur karena harus menunggui dodol yang dimasak di tungku api.

“Lho, kenapa gak ditinggal saja?” pikirku saat itu. Saya sampai kasihan dengan ibuku jika mengingatnya. Karena sebentar mengaduk, sebentar dibiarkan. Hal itu terus dilakukan sampai dodol matang. Ternyata, setelah saya dewasa baru tahu kalau membuat dodol itu harus ‘bijak’. Karena jika terus diaduk, maka dodol akan lengket menyatu seperti bubur. Tapi apabila kurang ngaduknya, pasti dodol akan banyak tutul-tutulnya karena kurang matang.

Saya jadi berpikir, coba saja saat itu ibuku konsisten mengaduknya, pasti dodolnya menjadi bubur. Tapi sebaliknya, jika konsisten dibiarkan, pasti dodolnya berkerak. Mudah-mudan saya bisa menempatkan konsisten di atas jalan bijak.

Selanjutnya......

Silaturahmi Malaikat

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa

Pada Hari Senin, 26 Des 2009 lalu teman saya di tempat kerja ada yang resign. Pada Hari Senin, 4 Januari 2010 diadakan perpisahan. Sebagai teman, tentu saya ingin memberi kenang-kenangan seperti teman-teman lainnya. Karena perempuan, maka dipilihnya buku sebagai kado perpisahan kepada temanku itu. Buku yang saya pilih tentu yang berhubungan dengan perempuan. Saya cari ke toko buku, maka didapat buku yang menurut saya bagus sebagai kenang-kenangan. Judulnya 'Menjadi Wanita Paling Bahagia'.

Buku itu bersama La Tahzan merupakan buku Best Seller di berbagai negara. Di Indonesia, buku itu telah terjual ratusan ribu eksemplar. Tak mengherankan, jika karya fenomenal tersebut melambungkan nama penulisnya, Dr. 'Aidh al-Qarni.

Saat itu saya sangat penasaran ingin membacanya. Tapi tidak mungkin saya buka bungkus plastiknya. Sempat juga ingin membelinya, tapi rasanya kurang cocok karena buku tersebut lebih khusus untuk perempuan. Apalagi waktu itu stoknya tinggal satu. Setelah dibungkus rapi, hari itu juga saya kasih ke temanku.

Namun, saya masih diliputi penasaran akan isi buku itu. Kok sepertinya menarik. Daripada penasaran, besoknya saya ke toko buku Gramedia, bermaksud ingin membacanya saja tapi tidak untuk membeli. “Untuk apa membeli, kan buku itu untuk perempuan.” Begitu yang terlintas di pikiran.

Begitu sampai di Gramedia langsung ke sasaran. “Stoknya baru datang, dan ini edisi terbaru” Jawab penjaga toko ketika saya tanya judul buku yang dicari. Benar, bukunya baru semua. Tentu saja masih dibungkus plastik. Dan tak mungkin bisa dibaca isinya. Akhirnya saya pulang dengan rasa penasaran.

Setiap ke toko buku selalu menyempatkan melihat buku tersebut. Siapa tahu sudah ada yang terbuka plastiknya. Tapi ternyata gak ada. Lama-lama capek sendiri dan rasa penasaran juga hilang pergi bersama keihlasan. Saya sudah tidak memikirkan lagi.

Tapi rupanya takdir tidak sejalan dengan pikiran saya. Setelah sekian lama, dan ketika itu saya baru selesai menyelesaikan tugas di luar. Seperti biasa, bermaksud istirahat di kantin untuk sekadar minum. Ternyata, di meja yang saya tempati, tepat di depan mata ada buku “Menjadi Wanita Paling Bahagia” punya teman yang sedang diletakkan di meja usai dibacanya. Alhamdulillah, begitu gampangnya terjadi kalau sudah takdirnya.

Subhanallah, do’a dari mana sehingga keinginan dikabulkan semudah itu. Padahal sudah tidak ada komunikasi lagi dengan teman saya. Mungkin jawaban paling tepat dari pertanyaan itu adalah “Silaturahmi Malaikat”. Bisa saja karena keihlasan rasa terima kasih dari teman saya, walau dengan kalimat sederhana “Trims bukunya pak! Jazakallah khairal jaza!”. Atau mungkin dari keihlasan memberi. Sehingga mampu menjembatani silaturahmi antar malaikat.

Karena, ketika kita menjalin silaturahmi dengan orang lain, maka akan mempertemukan dua mailakat yang akan saling mendo’akan. Insya Allah !! Di antara golongan orang yang berbahagia dengan permohonan ampun dan do'a para malaikat adalah orang yang dido'akan saudaranya dari kejauhan. Begitu pun dengan orang yang mendo'akannya.

Diantara dalilnya:
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ibnu 'Abdillah bin Shofwan, ia mengatakan, "aku pergi ke negeri Syam dan mengunjungi Abu Darda' di kediamannya, namun ia tidak berada di rumahnya. Hanya Ummu Darda' yang ada, ia berkata, "Apakah tahun ini engkau akan pergi haji?", "ya" jawabku.

Dia kembali berkata, "Do'akanlah kebaikan bagi kami, sebab Nabi SAW bersabda, "Do'a seorang muslim bagi saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido'akannya adalah do'a yang terkabul. Di atas kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo'a bagi saudaranya dengan satu kebaikan, maka malaikat tersebut mengucapkan: 'Aamin dan engkau pun mendapatkan apa yang diperolehnya' " (shahih muslim).

Al-Qodhi 'Iyadh mengatakan: "Apabila generasi salaf hendak berdo'a untuk dirinya sendiri, mereka pun berdo'a bagi saudaranya sesama muslim. Sebab, do'a tersebut adalah do'a yang terkabul dan ia pun akan mendapatkan apa yang didapatkan oleh saudaranya sesama muslim".

Al-hafizh Adzdzahabi mengisahkan dari Ummu Darda' bahwasannya Abu Darda' mempunyai 360 orang yang dia cintai di jalan Allah yang selalu dia do'akan dalam sholatnya. Ketika Ummu Darda' mempertanyakan hal itu, ia pun menjawab: "Apakah aku tidak boleh senang apabila para malaikat mendo'akan diriku?" (siyar a'laamin nubalaa').

Merekalah orang-orang yang gigih dalam meraih shalawat para malaikat. Mereka semua sangat bersemangat dalam mendo'akan saudara-saudara mereka sesama muslim tanpa sepengetahuan saudara yang dido'akannya itu, dan perkara ini senantiasa ada.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta'ala menjadikan kita semua golongan mereka dengan karunia dan keutamaan dariNya...Amiin, yaa dza Jalaali wal Ikroom....

Teman-teman di facebook yang membaca ini jangan lupakan aku dalam do'amu. Baik engkau yang mengenalku maupun tidak.

Selanjutnya......

Otak-Otak dari Langit

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa

Beberapa minggu lalu salah satu teman di tempat kerja mau pulang ke kampung halamannya di Kijang, Pulau Bintan. Kijang sangat terkenal dengan otak-otaknya. Otak-otak adalah suatu jenis makanan yang terbuat dengan komposisi tepung, ikan laut, cabai dan bumbu-bumbu yang akan menambah kelezatan otak-otak tersebut.

Otak-otak made in Kijang rasanya sangat beda dengan yang dijual di Tanjungpinang dan daerah lainnya, termasuk di Batam. Kalau di tempat lain komposisi bahannya lebih banyak tepungnya dibanding ikannya. Padahal, kunci kenikmatan otak-otak terletak pada proporsi ikannya.

Ada beberapa teman yang pesan. Saya dengan bercanda juga ikut-ikutan pesan. Bahkan dengan kalimat bercanda saya tulis di facebook dia, isinya gini: “Horreeee....titip otak2 spesial dgn harga spesial yg satu biji harga Rp.500, pesan 100 bungkus, sy tunggu paling lambat Hari Sabtu, tgl 3 April 2010 pukul 08.00 sebelum berangkat ke Ocarina, komisi bisa diatur.” Pesan ini ditulis pada Hari Kamis, 1 April 2010.

Namanya saja bercanda, pastinya saya gak mengharap apa-apa. Tapi rupanya takdir berkata lain. Besoknya pada Hari Jum’at sore, 2 April 2010 kakak saya yang tinggal di Tanjungpinang, P. Bintan beserta keluarganya datang ke Batam. Mereka membawa oleh-oleh otak-otak ikan special asli beli di Kijang. Jumlahnya juga gak tanggung-tanggung sebanyak satu kantong kresek penuh.

Saya berpikir, kenapa do’a yang serius kadang susah dikabulkan. Tapi yang bercanda begini malah cepat terkabul. Padahal ketika itu posisi saya bukan sedang dizalimi. Apakah karena hanya otak-otak, sehingga Tuhan gampang mengabulkan?. “Ah..Tuhan kan maha kaya, mana mungkin bisa dilogikakan seperti itu !!”

Dari kejadian tersebut, saya jadi teringat kisah Nasruddin (seorang sufi yang konon beraliran sesat). Pada suatu hari Nasruddin kebelet ingin buang air besar. Karena sedang bepergian ke kota dia bingung mencari WC. Akhirnya dia menemukan jamban tua (WC umum) yang terbuat dari kayu seadanya.

Begitu selesai buang air besar, Nasruddin bingung karena sedang tidak membawa uang. Sekali menggunakan jamban harus membayar Rp.100. Dalam situasi kepepet dia berdoa “Tuhan, aku tidak punya uang untuk membayar jamban ini, tolong kirimkan aku uang Rp.100. Atau kalau tidak, robohkan saja jamban ini agar aku tidak perlu membayarnya.” Begitu do’a Nasruddin di dalam jamban.

Setelah do’nya selesai, tiba-tiba jamban tua tersebut roboh. Tapi Nasruddin malah kebingungan dan berpikir “Ternyata Tuhan sangat miskin, uang Rp.100 saja tidak punya sehingga harus merobohkan jamban ini.” Pikirnya sambil bengong. Silahkan kaji sendiri makna sufistik dari kisah Nasruddin ini.

Namun yang pasti, Allah maha tahu akan kebutuhan hambanya. Kadang Dia tidak memberi yang kita inginkan tapi mengambulkan apa yang kita butuhkan. Kata Allah, "Berdo'alah padaKu, akan Kukabulkan semua permohonanmu."

Di sisi lain, "Jika ada hambaKu bertanya padamu tentang Aku, katakanlah (hai Muhammad) Aku ini dekat." Dan, "bahwasanya jika Allah menghendaki sesuatu, cukuplah dengan firmanNya; jadilah! maka terwujudlah sesuatu itu."

Dari itu semua, mengapa pula ada kesan tentang do'a yang tidak pernah terkabul? adakah Allah telah menyalahi janji atau Allah tak mampu? Kata Rasulullah, "Allah mengabulkan do'a hambaNya melalui tiga kategori; dipercepat pengabulannya, ditunda sampai waktu yang tepat, atau diganti dengan yang lebih baik."

Di sisi lain Allah berfirman," Boleh jadi kalian membenci sesuatu tapi sesuatu itu baik bagi kalian. Boleh jadi kalian mencintai sesuatu tapi itu buruk bagi kalian. Allah Maha Tahu, sedang kalian tidak!"

Kewajiban hamba adalah berdo'a dan hak hamba adalah dikabulkanNya do'a. Tapi haruskah semuanya mutlak sama dengan yang kita mau? tidak! pemahaman kita terlalu kerdil untuk menerima yang Allah berikan.

Misteri do'a sangat dalam, jika ternyata Allah hendak menunjukkan kasihNya dengan memberi alternatif lain, selain menuruti ketergesaan kita, kenapa kita harus menolak? Jika ternyata setelah kegelisahan kita malah lebih dekat denganNya, kenapa kita harus sungkan dan memilih kufur dengan cara mengumpat-ngumpat kedunguan? Nauzubillah


Selanjutnya......

Selasa, 06 April 2010

Syair Sufistik Mahmud Syaltut Usfa

Guru Berbicara Angin

Seorang guru menerangkan tentang ahlak ke murid-muridnya di kelas
Sang murid tersenyum
Mulut membisu hatinya berkata:
Kata-kata angin
Berhembuslah ke samudera kemunafikan
Lemparkan lidah manis itu ke jahannam
Rebuslah dalam apinya yang membara

Sang guru terus mengoceh tentang ahlak
Sang murid tersiksa menahan kencing



Kebisingan Hati

Betapa akal terus tersiksa menyanggah kebisingan hati
Hati terus menyeret nafsu berbicara kefanaan dunia
“Diamlah..!! Aku malu menatap tubuh ini.” Sergah akal

Hati terdiam dalam belenggu detik
Namun tak lama menyeret nafsu kembali

Akal hanya mampu berkata dalam hening:
Diamlah..!!
Diam..!!
Dia..!!
Aku malu menatap tubuh ini..!!




Cepat Kejar Sang Waktu

Cepat pergi ke ujung waktu
Berlari saja hingga mampu menyambutmu
Dia akan mengembalikan separuh tubuhmu

Peluklah dengan erat saat bertemu
Hempaskan rasa rindu masa lalumu
Sebelum masa lalu terhapus oleh zaman

Bicarakanlah tentang hari ini
Sebelum berganti menjadi masa lalu

Sadarkah kamu,
Sang waktu akan terus berdiri kokoh
Hingga separuh tubuhmu tak bisa dikembalikan lagi




Selanjutnya......

Menyingkap Jalan Ideal Pendidikan Anak TK

Opini Batam Pos (Written by Mahmud Syaltut Usfa S.Psi , Monday, 05 April 2010)

(Penulis adalah Psikolog dan Praktisi Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

Definsi serta penerapan anak Taman Kanak-kanak diberikan pekerjaan rumah (PR) masih sering terjadi perbincangan serius. Bahkan perdebatan antara wali murid dengan orangtua siswa. Alasannya sangat klise, anak TK tidak boleh ‘dibebani’ dengan PR. Arugumennya, karena belajar di TK masih sebatas bermain dan bukan belajar formal.

Kita sudah tahu, pandangan selama ini Taman Kanak-kanak didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan di Taman Kanak-kanak pun hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat bermain edukatif. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat Taman Kanak-kanak. Kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu pun dilakukan setelah anak-anak memasuki TK B.

Bahkan ada pandangan lebih ekstrim lagi, anak TK belum saatnya diajari membaca, menulis dan berhitung (Calistung). Karena akan membebani otaknya. Akibatnya, anak menjadi ‘alergi’ dengan pelajaran setelah duduk di bangku SD. Sebenarnya, biang persoalannya adalah perbedaan dalam mendefinisikan ‘arti belajar’. Belajar kerap diistilahkan mewakili kegiatan yang begitu serius, menguras pikiran dan konsentrasi.

Memberikan PR kepada anak TK dengan alasan sebagai upaya menciptakan kesadaran sah-sah saja. Tidak hanya itu, anak juga merasa memiliki tanggung jawab, bahkan punya eksistensi kalau dirinya sudah sekolah TK. Contoh, di sekolah keponakan saya (salah satu sekolah favorit di Pinang) setiap minggu diterapkan PR satu mata pelajaran.

Dia sama sekali tidak terbebani. Justru ketika diajak jalan-jalan masih sempat bilang “Tunggu dulu mau mengerjakan PR sebentar.” Bukan beban yang dirasakan, justru tertanam rasa tanggung jawab. Bahkan rasa bangga karena sudah sekolah. Jangan-jangan justru orangtua yang merasa terbebani?

Hanya yang menjadi persoalan adalah metodenya. Jika PR diberikan setiap hari, apalagi dengan target-target tertentu, pasti akan menjadi beban bagi anak. PR cukup sebagai tugas, bukan sebagai beban. Apalagi sampai diberi punishment (hukuman), jika tidak mengerjakan PR maka harus berdiri di depan kelas, misalnya.

Sebenarnya, yang menjadikan rujukan utama kurikulum TK dan bahkan pendidikan secara umum adalah Teori psikologi perkembangan Jean Peaget. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun.

Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, di mana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur. Sehingga dipandang tidak cocok diajarkan kepada anak-anak TK.

Piaget khawatir otak anak-anak akan terbebani jika pelajaran calistung diajarkan pada anak-anak di bawah 7 tahun. Jangankan ingin mencerdaskan anak, akhirnya malah memiliki persepsi yang buruk tentang belajar dan menjadi benci dengan kegiatan belajar setelah mereka masuk SD.

Namun, model belajar konvensional di TK malah menjadi persoalan sendiri bagi orangtua saat ini. Karena untuk masuk sekolah di SD favorit harus melalui tes seleksi. Standarisasi tesnya pun sudah harus bisa membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan, tes kemampuan bahasa inggris. Bayangkan, bagi anak yang ketika di TK belum dipelajari calistung, pasti tidak bisa mengerjakan tes.

Di sekolah kami misalnya, ada beberapa orangtua yang anaknya tidak lulus tes masuk mempertanyakan alasannya. Setelah kami jelaskan, mereka balik mempertanyakan, “Kenapa standarisasinya tinggi, bukankah wajar kalau anak baru lulus TK belum bisa membaca, menulis, dan berhitung?”.

Persoalan ini menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Awalnya memang pelajaran baca tulis mulai diajarkan pada tingkat pendidikan SD. pada perkembangan terakhir, hal itu menimbulkan sedikit masalah. Ini sangat realitistis, karena ternyata pelajaran di kelas satu sekolah dasar sulit diikuti jika asumsinya anak-anak lulusan TK belum mendapat pelajaran calistung.

Rata-rata materi pelajaran kelas satu sudah diajarkan soal cerita, mengarang. Juga membuat analisa sederhana dari sebuah peristiwa. Apalagi seperti di sekolah kami yang mematok target prestasi menuju sekolah Islam bertaraf internasional.

Bisa dibayangkan, bagaimana bisa mencapai target tersebut jika seleksi awal tidak memenuihi standar. Sekali pun kurikuklum dan metode belajarnya bagus, guru-gurunya berkualitas, dan infastrukturnya lengkap namun inputnya lemah, maka akan kesulitan menghasilkan output sesuai dengan standar.

Akhirnya kami bisa memahami jika muncul kekhawatiran para orang tua. Terlebih lagi, istilah-istilah “tidak naik kelas”, “tidak lulus”, kini semakin menakutkan. Sebab akan berpengaruh pada kondisi psikologis anak kalau akhirnya harus mengulang kelas.

Karena tuntutan itulah, akhirnya banyak TK yang secara mandiri mengupayakan pelajaran membaca bagi murid-muridnya. Berbagai metode mengajar dipraktikkan, dengan harapan bisa membantu anak-anak untuk menguasai keterampilan membaca dan menulis sebelum masuk sekolah dasar. Mau tak mau sekolah-sekolah TK harus berani melakukan inovasi metode belajar. Hingga akhirnya, metode belajar pakem yang konotasinya anak TK hanya belajar bernyanyi dan bermain lambat laun dinilai tidak efektif lagi.

Beberapa anak mungkin berhasil menguasainya, namun banyak pula di antaranya yang masih mengalami kesulitan. Oleh karena itu, wajar jika sekolah TK jika ingin maju harus terus berani dan cerdas melakukan pengembangan. Termasuk menerapkan PR selagi tidak dijadikan beban kepada anak.

Bagaimana jika anak yang usianya sudah memasuki wajib belajar namun belum bisa membaca?.
Jangan khawatir. Beberapa literatur menunjukan, bahwa tidak ada jaminan anak yang lebih dahulu bisa membaca akan lebih sukses di masa depan daripada mereka yang terlambat. Banyak tokoh sukses yang justru terlambat membaca. Tentu saja mereka tidak bisa menjadi patokan mutlak.

Di buku Right Brained Children in a Left Brained World disebutkan, tokoh-tokoh seperti Albert Einstein, George S. Patton, William Butler Yeats adalah mereka yang terlambat membaca. Anak-anak di Rusia misalnya, baru membaca di usia 7 tahun, tapi mereka cerdas-cerdas.

Melihat realitas seperti itu, tentu harus disikapi dengan bijak. Setiap pertemuan dengan guru dan Kepala TK pihak Dinas Pendidikan selalu mengingatkan agar tidak mengajarkan calistung. Tetapi tidak pernah melarang sekolah SD untuk melakukan tes kepada calon muridnya.

Semoga tulisan ini bisa menjadi referensi sebagai bahan kajian bagi Dinas Pendidikan dan pihak-pihak yang kompeten. ***




Selanjutnya......

Ayo Semangat Ciptakan Etos Kerja !

(Catatan Ringan Mahmud Syaltut Usfa)

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang dikala senja dengan syukur penuh dirongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesukuran terpahat di bibir senyuman
(Kahlil Gibran)


Di sebuah perusahaan diterapkan karyawan pulang harus tepat waktu. Setiap pukul 4 sore tepat para karyawan baru bisa pulang. Tapi pada suatu hari karena ada persoalan, maka manajemen memperbolehkan karyawan pulang pukul 3 sore. Maka, tepat pukul 2 siang pihak manajemen mengumumkan “Karena ada suatu hal di perusahaan, maka khusus hari ini karyawan bisa pulang pukul 3 sore”.

Mendengar ada informasi mendadak itu, ternyata ada dua kelompok karyawan yang mensikapi secara berbeda. Kelompok pertama mengatakan: “Wah…masih ada waktu satu jam untuk menyelesaikan pekerjaan saya”. Mereka terus bekerja dengan semangat mengejar waktu satu jam agar pekerjaannya selesai.

Sedangkan kelompok kedua mengatakan: “Wah…masih satu jam lagi kita baru bisa pulang”. Dan mereka pun sudah tidak memiliki semangat kerja lagi. Di pikirannya hanya menunggu pulang. Terlihat jenuh menunggu waktu satu jam.

Mereka mendapat informasi sama. Jam pulang juga tidak berbeda. Pola pikir masing-masing yang berbeda sehingga terjadi dua kelompok. Pola pikir pesimis, negatif, dan sejenisnya akan membentuk etos kerja statis. Namun sebaliknya, jika memiliki semangat kerja, maka pikiran menjadi produktif untuk berkarya. Pada akhirnya tidak mustahil dengan karya akan melahirkan prestasi.

Karyawan yang memiliki etos kerja tinggi tidak akan memposisikan dirinya sebagai bawahan terhadap bosnya. Melainkan berada di posisi bargaining. Dirinya adalah profesional, bukan anak buah. Semakin berkualitas etos kerja maka semakin tinggi nilai profesionalismenya. Semakin tinggi profesionalismenya secara otomatis semakin kuat posisi bergainingnya.

Seorang bos yang memahami profesionalisme kerja tidak akan memandang bawahannya sebagai anak buah. Melainkan dipandang sebagai mitra kerja. Sebab, dalam posisi bargaining kedudukan bos dengan karyawan di posisi sejajar. Adanya hirarki dalam suatu organisasi industri adalah sebagai strata penataan manajemen dalam pembagian tugas.

Berbicara etos kerja pikiran saya langsung ke orang-orang Jepang. Jepang selama ini kita kenal sebagai salah satu negara di dunia yang memiliki etos kerja yang hebat.Etos kerja yang baik ini menimbulkan suatu dampak kemajuan teknologi dan penguasaan teknologi, serta mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara Jepang itu sendiri.

Semangat dan pantang menyerah merupakan ciri orang Jepang, dari semboyan samurai yang menyatakan “Lebih baik mati daripada berkalang malu”, ada juga istilah MAKOTO yang artinya bekerja dengan giat semangat, jujur serta ketulusan. Belum lagi semangat dan semboyan serta falsafah lain yang dapat memacu kerja dan membentuk etos kerja para pekerja di luar negara Jepang.

Saya pernah mendengarkan pengajian KH. Miftah Faridh. Ketika dia ke Jepang ada hasil penelitian, ternyata banyak istri-istri yang tersinggung ketika suaminya pulang lebih cepat. Karena istrinya berpandangan, “Pasti suami saya tidak dipakai di perusahaan.”

Begitu tingginya etos kerja mereka sampai menyentuh harga diri. Bandingkan dengan budaya kita pada umumnya. Pulang lebih cepat sangat diharapkan. Alasannya ada saja dibuat-buat. Bahkan, belum jam pulang sudah merengek-rengek minta pulang, alasannya tidak ada kerjaan. Aneh, mana mungkin di tempat kerja tidak ada kerjaan? Minimal berpikir dan membuat perencanaan. Lebih aneh lagi, sudah datang terlambat tapi pulang paling cepat. Wajar saja kalau negara kita selalu terlambat dengan negara lain.





Selanjutnya......

Jumat, 02 April 2010

Sajak Sufistik Mahmud Syaltut Usfa

Pelayanku

Jiwa yang hakiki, keluarlah sejenak dari tubuh tuanmu
Lihatlah tarian kemunafikan
Menjijikkan bukan…?
Di situlah selama ini engkau melayaninya


Aku Ingin

Aku ingin menatap-Mu tanpa kata
Ketika perut hening tanpa nafsu
Ketika semua mata terpejam tanpa rasa
Ketika roh terangkat tanpa keluh kesah


Tiada Umpama

Asmaul husnah menjalar setiap detik di nafasku
Kupegang erat agar tak jatuh dari kebodohanku
Lidahku lelah hingga berjalan membungkuk
Tak sanggup membaca perumpamaan
Kubiarkan mengembara
Karena aku sudah menyatukannya dengan hati


Wahai Nafsu


Wahai nafsu, penjarakan segala kebaikanku
Saat ini engkau telah memiliki hatiku


Selalu Ada


Setiap amarah datang, kesabaranku selalu menyambutnya
Setiap kesabaran goyah, keihlasanku selalu memapahnya
Setiap kehinaan menghampiri, kemuliaanku selalu datang tersenyum
Setiap kesedihan datang, kebahagiaan selalu mendekapku





Selanjutnya......