Selasa, 10 Maret 2009

Jangan Nilai Anak Hanya dari Ranking

Batam Pos, Selasa, 13 Januari 2009

Oleh: mahmud syaltut usfa s.psi
(Psikologi dan Praktis Pendidikan di Hang Nadim Malay School Batam)

”Aduh…anak saya cuma ranking sepuluh, bingung nih. Kalau anak ibu ranking berapa? Tanya seorang ibu kepada temannya. “Wah kalau anak saya hebat, dari dulu ranking satu terus,” jawabnya dengan rasa bangga.

Dialog seperti di atas sudah menjadi pemandangan rutin saat pembagiaan rapor seperti sekarang ini. Orangtua selalu menjadikan ranking sebagai patokan keberhasilan anak. Bahkan, cendrung menilai tingkat intelegensi anak hanya dari ranking. Lebih ironis lagi, ada orangtua yang merasa malu mengambil rapor bersama orangtua siswa lainnya. Alasannya, minder saat menyadari anaknya hanya akan mendapat ranking terakhir.

Ranking kadang menjadi momok yang mencemaskan orangtua. Saat pembagian rapor seharusnya anak merasa bangga dengan hasil belajarnya, bukan merasa tertekan. Akibatnya anak ada perasaan takut kalau tidak mendapat ranking satu atau masuk lima besar. Sebaiknya, orangtua menghargai dulu hasil jerih payah anak selama belajar. Apapun hasil yang diterima, itulah potensi yang harus dikembangkan.

Orangtua harus sangat bijak dalam hal ini. Jangan sampai membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Akan lebih bijak apabila membandingkan anaknya dengan anak itu sendiri. Misalnya dengan mengatakan, ”nilai semester ini lebih rendah dari semester sebelumnya, coba berusaha lagi pasti bisa lebih bagus.”


Anak akan lebih enak mendengarnya. Karena tidak ada tekanan untuk melampaui target. Minimal anak akan berpikir ”o iya...kalau semester lalu saya bisa meraih nilai bagus, kenapa sekarang tidak!” Sangat berbeda situasi jiwa anak apabila orangtua membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain. ”Lihat tuh si Budi selalu ranking satu, kamu lima besar saja gak dapat.”. Tentu saja situasi jiwa anak akan muncul rasa cemas dan kurang percaya diri.

Orangtua tentunya bisa mengukur potensi anaknya. Silakan saja memberi motivasi dengan melihat ranking. Tapi jangan sampai menjadi patokan mutlak dalam mengukur potensi intelegensi dan pribadi anak. Lebih ironis lagi, apabila orangtua memberi label ”si bodoh” kepada anaknya hanya karena anaknya tidak meraih ranking yang diharapkan.

Memang dari hasil survei di salah satu sekolah banyak orangtua setuju sistem non ranking. Kenapa akhirnya sekolah setuju tidak memberi ranking yang ditulis resmi di rapor? Jelas, dari 150 murid dalam satu tingkatan kelas, tentu cuma 30-50 murid yang masuk 10 besar kan? Mayoritas adalah yang di luar 10 besar itu. Benar tidak?

Persepsi orangtua yang keliru soal ranking ini akan berdampak negatif bagi perkembangan prestasi anak. Anak menjadi stress, dikejar-kejar orangtua yang cuma berambisi menjadikan anaknya mendapat ranking. Jadi cuma mengejar nilai, kadang dengan cara yang salah: mencari bocoran bahan ujian. Mestinya, sekolah itu yang paling penting adalah mendidik anak supaya mengerti, memahami makna pelajaran, bukan tingkatan ranking yang utama.

Sekadar perbandingan, sekolah di Singapura juga mengenal ranking. Ini untuk memudahkan sistem penyaringan masuk ke jenjang sekolah berikutnya. Uniknya, makin bagus makin kecil total nilainya, mereka berhak mendapatkan sekolah lanjutannya dalam ranking yang tinggi juga.

Sekolah di sana diberi ranking sesuai prestasi murid-muridnya. Bisa berubah setiap saat sesuai hasil ujian akhir para muridnya. Jadi murid-murid dan guru-gurunya bersaing untuk menjadi paling baik.

Sistem mereka membuat nilai yang makin kecil justru makin baik. Tapi, kalau anak-anak Anda mendapat nilai bagus, jangan kuatir untuk melanjutkan sekolah di Singapura. Semua sekolah saling terhubung. Jadi begitu nama anak Anda nilainya bagus, otomatis sekolah yang lain tahu. Mereka berlomba-lomba menawarkan anak Anda untuk gabung di sekolahnya, misal dari SD ke SMP, SMP ke SMA.

Sistem bersaing sesama sekolah begini dilakukan dengan fair, bukan dengan cara ‘katrol’ nilai supaya bisa membanggakan sekolahnya. Beasiswa juga diberikan kepada siswa dengan nilai bagus, tidak peduli berlatar belakang ekonomi rendah atau tinggi.

Ranking memang tidak bisa dipungkiri sebagai salah satu tolak ukur prestasi siswa di kelas. Tapi, ada aspek kecerdasan anak yang perlu dipahami orangtua. Hal ini sekolah harus meramu dengan cerdas bagaimana mengoptimalkan potensi anak. Yaitu, dengan cara bagaimana membuat anak mengerti dan orangtua paham serta proses pendidikan mendukung.

Kolaborasi ketiga aspek ini, akan mampu menghasilkan pendidikan yang baik.Sekolah harus mengedepankan inovasi dan kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikannya. Dalam belajar, anak tidak dibebani tetapi diajari untuk mengerti potensi yang dimilikinya.

Bentuk penghargaan terhadap potensi anak didik bukanlah hanya membuat peringkat (ranking) seperti yang dikenal di sekolah-sekolah selama ini Tiap musim terima rapor, orangtua selalu bertanya anaknya juara/peringkat berapa. Setelah itu tidak jarang orangtua memberi target-target juara/peringkat yang harus diperoleh anak pada semester selanjutnya. Akan lebih baik apabila tidak ada peringkat yang dinilai secara umum dalam satu kelas, melainkan tiap anak dihargai berdasarkan hasil karyanya.

Guru dan orangtua perlu menilai anak-anak berdasarkan delapan aspek kecerdasan yang terdiri atas cerdas matematika, cerdas cara (logis) bahasa, cerdas spasial/gambar, cerdas musikal, cerdas cinta alam, cerdas gerak atau fisik, kemampuan untuk mengerti orang lain/intrapersonal dan kecerdasan interpersonal/emosi. Tiap anak memiliki potensi berbeda.

Dari penilaian ini tiap anak dan orangtua akan mengerti kelebihan atau potensi/kecerdasan yang dimilikinya. Jelas di sini, kecerdasan anak tidak bisa dipatok dari rangking. Karena, sekalipun anak tersebut memperoleh rangking satu, tapi belum tentu memiliki potensi seperti temannya yang ranking terakhir sekalipun.

Sehingga, setiap penerimaan rapor akhir semester, sebenarnya anak mendapat predikat yang berbeda-beda sesuai potensinya. Seharusnya, potensi anak yang perlu diperhatikan. Sekecil apapun harus dihargai, karena potensi tetaplah potensi!

Dengan melihat potensi dan kecenderungan anak, maka akan memudahkan orangtua memahami kelebihan anak. Dengan demikian bisa diketahui pendidikan apa yang tepat buatnya kelak. Hal itu akan dapat meminimalisir kesalahan pemilihan pendidikan lebih lanjut demi masa depan anak-anak.

Saat penerimaan rapor, orangtua harus menjadi teman yang baik dalam memberi pemahaman dan motivasi. Jangan sampai sebaliknya, anak ditatar atau bahkan dimarahi karena gagal meraih ranking sesuai harapannya. Terlebih orangtua merasa malu. Akan lebih baik apabila orangtua memberi kejutan kecil usai menerima rapor, sekalipun anaknya tidak rangking satu atau masuk lima besar.

Kenapa memberi penghargaan jerih payah belajar anak hanya menunggu ranking? Justru motivasi terbaik adalah ketika anak mendapat kejutan. Anak akan merasa aman karena tidak dicekoki ranking lagi.

Orangtua harus bisa menjadi teman, guru, dan menjadi orangtua bagi anak-anaknya. Orangtua harus tahu menempatkan diri, kapan menjadi salah satu peran itu. Nah, di saat-saat usai penerimaan rapor ini anak sangat membutuhkannya.

Kapan ia menjadi teman bagi anak, kapan menjadi gurunya dan kapan menjadi orangtua. Jika tiga peran ini mampu dijalankan dengan baik, maka bersiaplah mendapatkan generasi masa depan yang berkualitas.

Saat ini, bagi orangtua tua yang sudah menerima hasil evaluasi belajar (rapor) anaknya perhatikan dengan seksama per-mata pelajaran. Kemudian bandingkan dengan hasil semester sebelumnya. Mungkin ada beberapa mata pelajaran yang turun atau naik. Diskusikan kepada anak dengan suasana santai.

Kesampingkan dulu mengenai posisi ranking. Selanjutnya, kalau ada nilai yang tetap atau turun coba tanyakan apa kendalanya. Apabila nilainya lebih tinggi dari semester sebelumnya beri penghargaan, sekalipun hanya berupa senyuman atau menepuk pundaknya.

Seterusnya setiap penerimaan rapor semester lakukan seperti itu, anak akan lebih leluasa dalam belajar di sekolah. Dan tidak mustahil prestasi demi prestasi akan diraih. Begitu juga potensinya akan bisa berkembang tanpa adanya tekanan atau target dari orangtua.

Cara seperti ini merupakan apresiasi yang bagus dalam meberi motivasi anak, ketimbang sibuk dengan mengukur ranking. Tidak ada yang salah pada anak apabila tidak meraih ranking satu.

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh orangtua adalah pengembangan diri anak. Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah.

Kegiatan pengembangan diri merupakan upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling. Berkenaan dengan masalah pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, serta kegiatan ekstra kurikuler.

Di samping itu, untuk satuan pendidikan kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan konseling ditujukan guna pengembangan kreativitas dan karir.

Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, kondisi dan perkembangan peserta didik, dengan memperhatikan kondisi sekolah.

Ada landasan filosofis dalam pembelajaran, yang sekarang menjadi landasan model pembelajaran tematik. Yaitu, tiga aliran filsafat: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme.

Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.

Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya.

Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.

Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
Pengembangan model belajar seperti itu merupakan upaya memberdayakan potensi anak. Maka, sangat tidak adil apabila orangtua hanya melihat ranking dalam menilai prestasi belajar dan potensi anaknya. ***


3 komentar:

Unknown mengatakan...

Tapi bagaimana jika ada anak yang berprestasi dalam artian selalu mendapat ranking satu dikelas, karena tidak ada ranking dia menjadi malas belajar karena berfikir untuk apa belajar semua siswa dikelas sama saja. Terlebih ada seorang guru yang mematahkan semangat belajarnya karena bilang: Nilai itu tidak penting! Dan anak itu seolah2 berpikir ada pengumuman ranking satu walau tidak dirapot tapi merasa tidak dihargai karena ucapan guru diatas tadi. Apa yang salah? Apa yang seharusnya dilakukan anak itu?

Unknown mengatakan...

Merasa tidak dihargai padahal dia sudah belajar keras tapi ucapan guru itu membuatnya patah semangat dan minder walau dia mendapat ranking satu saat diumumkan oleh guru walau tidak ditulis dirapot, gara-gara ucapan "Nilai itu tidak penting, Ranking itu Tidak Menjamin!"

🙏 mengatakan...

Prestasi diukur dari peringkat karena nilainya paling tinggi di kelasnya? Padahal nilainya jauh dari peringkat 10 di kelas atau sekolah yang berbeda, karena kualitasnya memang berbeda, Prestasi diukur dari pencapaian kompetensi yang telah ditentukan dalam kurikulum,masalahnya ada orang tua tidak tahu kompetensi yang harus yang harus dikuasai oleh anaknya,lebih parah hanya melihat peringkat selesai .... karena tolak ukur satu-satunya
teman di kelasnya si anak, itu berarti bahwa anak saya lebih dari temannya dan pintar🤫 hati2,(sebaiknya kebaikan bercermin dengan melihat diri sendiri , bukan pada kekurangan orang lain sehingga tidak merasa paling ... atau bangga setelah merasa lebih baik dari orang lain,) pendidikan karakter lebih penting, di perguruan tinggi dari nilai yang diperoleh dia mengetahui kompetensi yang yang dicapai kurang, sedang atau tuntas. Atau dia sudah mengusai kompetensi yang di tempuh sehingga bisa mengambil kompetensi yang lebih tinggi lagi, itu baru namanya prestasi guru atau orang tua harus bisa mengubah mindset anak, bahwa prestasi dicapai setelah mampu menguasai suatu kompetensi, karena masing2 mempunyai kelebihan dan kekurangan.والله أعلم لالصواب🙏