Selasa, 06 April 2010

Ayo Semangat Ciptakan Etos Kerja !

(Catatan Ringan Mahmud Syaltut Usfa)

Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta
Pulang dikala senja dengan syukur penuh dirongga dada
Kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
Dan sebuah nyanyian kesukuran terpahat di bibir senyuman
(Kahlil Gibran)


Di sebuah perusahaan diterapkan karyawan pulang harus tepat waktu. Setiap pukul 4 sore tepat para karyawan baru bisa pulang. Tapi pada suatu hari karena ada persoalan, maka manajemen memperbolehkan karyawan pulang pukul 3 sore. Maka, tepat pukul 2 siang pihak manajemen mengumumkan “Karena ada suatu hal di perusahaan, maka khusus hari ini karyawan bisa pulang pukul 3 sore”.

Mendengar ada informasi mendadak itu, ternyata ada dua kelompok karyawan yang mensikapi secara berbeda. Kelompok pertama mengatakan: “Wah…masih ada waktu satu jam untuk menyelesaikan pekerjaan saya”. Mereka terus bekerja dengan semangat mengejar waktu satu jam agar pekerjaannya selesai.

Sedangkan kelompok kedua mengatakan: “Wah…masih satu jam lagi kita baru bisa pulang”. Dan mereka pun sudah tidak memiliki semangat kerja lagi. Di pikirannya hanya menunggu pulang. Terlihat jenuh menunggu waktu satu jam.

Mereka mendapat informasi sama. Jam pulang juga tidak berbeda. Pola pikir masing-masing yang berbeda sehingga terjadi dua kelompok. Pola pikir pesimis, negatif, dan sejenisnya akan membentuk etos kerja statis. Namun sebaliknya, jika memiliki semangat kerja, maka pikiran menjadi produktif untuk berkarya. Pada akhirnya tidak mustahil dengan karya akan melahirkan prestasi.

Karyawan yang memiliki etos kerja tinggi tidak akan memposisikan dirinya sebagai bawahan terhadap bosnya. Melainkan berada di posisi bargaining. Dirinya adalah profesional, bukan anak buah. Semakin berkualitas etos kerja maka semakin tinggi nilai profesionalismenya. Semakin tinggi profesionalismenya secara otomatis semakin kuat posisi bergainingnya.

Seorang bos yang memahami profesionalisme kerja tidak akan memandang bawahannya sebagai anak buah. Melainkan dipandang sebagai mitra kerja. Sebab, dalam posisi bargaining kedudukan bos dengan karyawan di posisi sejajar. Adanya hirarki dalam suatu organisasi industri adalah sebagai strata penataan manajemen dalam pembagian tugas.

Berbicara etos kerja pikiran saya langsung ke orang-orang Jepang. Jepang selama ini kita kenal sebagai salah satu negara di dunia yang memiliki etos kerja yang hebat.Etos kerja yang baik ini menimbulkan suatu dampak kemajuan teknologi dan penguasaan teknologi, serta mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara Jepang itu sendiri.

Semangat dan pantang menyerah merupakan ciri orang Jepang, dari semboyan samurai yang menyatakan “Lebih baik mati daripada berkalang malu”, ada juga istilah MAKOTO yang artinya bekerja dengan giat semangat, jujur serta ketulusan. Belum lagi semangat dan semboyan serta falsafah lain yang dapat memacu kerja dan membentuk etos kerja para pekerja di luar negara Jepang.

Saya pernah mendengarkan pengajian KH. Miftah Faridh. Ketika dia ke Jepang ada hasil penelitian, ternyata banyak istri-istri yang tersinggung ketika suaminya pulang lebih cepat. Karena istrinya berpandangan, “Pasti suami saya tidak dipakai di perusahaan.”

Begitu tingginya etos kerja mereka sampai menyentuh harga diri. Bandingkan dengan budaya kita pada umumnya. Pulang lebih cepat sangat diharapkan. Alasannya ada saja dibuat-buat. Bahkan, belum jam pulang sudah merengek-rengek minta pulang, alasannya tidak ada kerjaan. Aneh, mana mungkin di tempat kerja tidak ada kerjaan? Minimal berpikir dan membuat perencanaan. Lebih aneh lagi, sudah datang terlambat tapi pulang paling cepat. Wajar saja kalau negara kita selalu terlambat dengan negara lain.





Tidak ada komentar: