Sabtu, 24 April 2010

Otak-Otak dari Langit

Catatan Lepas Mahmud Syaltut Usfa

Beberapa minggu lalu salah satu teman di tempat kerja mau pulang ke kampung halamannya di Kijang, Pulau Bintan. Kijang sangat terkenal dengan otak-otaknya. Otak-otak adalah suatu jenis makanan yang terbuat dengan komposisi tepung, ikan laut, cabai dan bumbu-bumbu yang akan menambah kelezatan otak-otak tersebut.

Otak-otak made in Kijang rasanya sangat beda dengan yang dijual di Tanjungpinang dan daerah lainnya, termasuk di Batam. Kalau di tempat lain komposisi bahannya lebih banyak tepungnya dibanding ikannya. Padahal, kunci kenikmatan otak-otak terletak pada proporsi ikannya.

Ada beberapa teman yang pesan. Saya dengan bercanda juga ikut-ikutan pesan. Bahkan dengan kalimat bercanda saya tulis di facebook dia, isinya gini: “Horreeee....titip otak2 spesial dgn harga spesial yg satu biji harga Rp.500, pesan 100 bungkus, sy tunggu paling lambat Hari Sabtu, tgl 3 April 2010 pukul 08.00 sebelum berangkat ke Ocarina, komisi bisa diatur.” Pesan ini ditulis pada Hari Kamis, 1 April 2010.

Namanya saja bercanda, pastinya saya gak mengharap apa-apa. Tapi rupanya takdir berkata lain. Besoknya pada Hari Jum’at sore, 2 April 2010 kakak saya yang tinggal di Tanjungpinang, P. Bintan beserta keluarganya datang ke Batam. Mereka membawa oleh-oleh otak-otak ikan special asli beli di Kijang. Jumlahnya juga gak tanggung-tanggung sebanyak satu kantong kresek penuh.

Saya berpikir, kenapa do’a yang serius kadang susah dikabulkan. Tapi yang bercanda begini malah cepat terkabul. Padahal ketika itu posisi saya bukan sedang dizalimi. Apakah karena hanya otak-otak, sehingga Tuhan gampang mengabulkan?. “Ah..Tuhan kan maha kaya, mana mungkin bisa dilogikakan seperti itu !!”

Dari kejadian tersebut, saya jadi teringat kisah Nasruddin (seorang sufi yang konon beraliran sesat). Pada suatu hari Nasruddin kebelet ingin buang air besar. Karena sedang bepergian ke kota dia bingung mencari WC. Akhirnya dia menemukan jamban tua (WC umum) yang terbuat dari kayu seadanya.

Begitu selesai buang air besar, Nasruddin bingung karena sedang tidak membawa uang. Sekali menggunakan jamban harus membayar Rp.100. Dalam situasi kepepet dia berdoa “Tuhan, aku tidak punya uang untuk membayar jamban ini, tolong kirimkan aku uang Rp.100. Atau kalau tidak, robohkan saja jamban ini agar aku tidak perlu membayarnya.” Begitu do’a Nasruddin di dalam jamban.

Setelah do’nya selesai, tiba-tiba jamban tua tersebut roboh. Tapi Nasruddin malah kebingungan dan berpikir “Ternyata Tuhan sangat miskin, uang Rp.100 saja tidak punya sehingga harus merobohkan jamban ini.” Pikirnya sambil bengong. Silahkan kaji sendiri makna sufistik dari kisah Nasruddin ini.

Namun yang pasti, Allah maha tahu akan kebutuhan hambanya. Kadang Dia tidak memberi yang kita inginkan tapi mengambulkan apa yang kita butuhkan. Kata Allah, "Berdo'alah padaKu, akan Kukabulkan semua permohonanmu."

Di sisi lain, "Jika ada hambaKu bertanya padamu tentang Aku, katakanlah (hai Muhammad) Aku ini dekat." Dan, "bahwasanya jika Allah menghendaki sesuatu, cukuplah dengan firmanNya; jadilah! maka terwujudlah sesuatu itu."

Dari itu semua, mengapa pula ada kesan tentang do'a yang tidak pernah terkabul? adakah Allah telah menyalahi janji atau Allah tak mampu? Kata Rasulullah, "Allah mengabulkan do'a hambaNya melalui tiga kategori; dipercepat pengabulannya, ditunda sampai waktu yang tepat, atau diganti dengan yang lebih baik."

Di sisi lain Allah berfirman," Boleh jadi kalian membenci sesuatu tapi sesuatu itu baik bagi kalian. Boleh jadi kalian mencintai sesuatu tapi itu buruk bagi kalian. Allah Maha Tahu, sedang kalian tidak!"

Kewajiban hamba adalah berdo'a dan hak hamba adalah dikabulkanNya do'a. Tapi haruskah semuanya mutlak sama dengan yang kita mau? tidak! pemahaman kita terlalu kerdil untuk menerima yang Allah berikan.

Misteri do'a sangat dalam, jika ternyata Allah hendak menunjukkan kasihNya dengan memberi alternatif lain, selain menuruti ketergesaan kita, kenapa kita harus menolak? Jika ternyata setelah kegelisahan kita malah lebih dekat denganNya, kenapa kita harus sungkan dan memilih kufur dengan cara mengumpat-ngumpat kedunguan? Nauzubillah


Tidak ada komentar: