Jumat, 19 Maret 2010

“Bahavior-isme Ayam dan Wanita”

(Catatan lepas Mahmud Syaltut Usfa)

Jenis-jenis ilmu sangat beragam. Ada ilmu yang membahas tentang tubuh manusia, hubungan antar manusia, kesehatan manusia, alam semesta, komunikasi antara individu, tumbuhan, binatang, spiritual, dan lain-lain. Kesemuanya memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Dalam ilmu psikologi sendiri sudah pasti mempelajari ilmu perilaku (behavior).

Menariknya adalah kaitan yang erat antara ilmu tentang perilaku hewan (animal behavior) dan perilaku manusia (human behavior). Karena di dalam diri manusia ada sifat-sifat hewan yang kerap muncul. Kita pasti sering mendegar istilah-istilah perilaku manusia yang dikaitkan dengan hewan. Misalnya, “Jinak-Jinak Merpati” bermakna orang yang jatuh cinta tapi menunjukkan sikap malu-malu. Ada juga istilah untuk lelaki penggoda wanita dengan sikap gombalnya, yaitu “Buaya Darat”.

Bahkan pernah ada hasil penelitian, bahwa, harimau untuk membatasi area kekuasaannya dengan cara mengencingi area tersebut. Ternyata cara seperti itu juga sama yang dilakukan para gangster di perkotaan. Hanya bedanya, para gangster tidak dengan mengencingi, tapi dengan mencoret-coret dinding di sekitarnya (graffiti).

Istilah tak kalah sangat popular adalah bagi orang-orang yang sangat rakus. Mereka digambarkan seperti “Monyet”. Sedangkan bagi para pengutil, koruptor, dan sejenisnya disamakan dengan “Tikus”. Banyak istilah-istilah lain dari sikap manusia yang disamakan dengan binatang. Ini menjukkan kalau dalam diri manusia memiliki “nafsu” hewani.

Wah, jadi serius nih nulisnya. Padahal ingin nulis sederhana-sederhana saja. Nah, ada lagi istilah yang sangat menarik. Yaitu “Ayam”. Biasanya istilah ini dikhususkan bagi ‘perempuan-perempuan nakal’. Bisa diboking, pereks, dan sejenisnya. Kenapa ya? Saya kurang bisa menjelaskan secara rinci.

Tapi saya jadi teringat ketika masih kecil, saat di kampung. Sangat hobi memelihara ayam. Saking senangnya, setiap hari memperhatikan perilaku-perilakunya. Ada perilaku yang menarik. Sering sekali apabila ayam mau berhubungan seks, si jantan selalu mengejar si betina. Saat itu saya berpikir “kok maksa sekali”. Bahkan, tak jarang saya pukul si jantan karena kasihan si betina seperti mau diperkosa saja. Eh….ternyata pikiran saya meleset jauh.

Buktinya, setelah kejar-kejaran pasti si betina lari ke semak-semak atau ke tempat sepi. Setelah menemukan tempat yang nyaman si betina langsung nungging dengan pasrahnya. “Busyet” pikirku. Ternyata lari bukan tidak mau, tapi mencari tempat sepi.

Setelah banyak membaca buku-buku psikologi saya bisa mengkajinya. Hipotesa saat ini, berarti perempuan saat mengatakan “tidak” kepada laki-laki untuk diajak kencan, bukan berarti “kata mati”. Bisa saja karena belum menemukan tempat yang cocok. Si laki-laki berarti harus mengerti untuk berusaha menggiring ke tempat-tempat romantis. Setelah tempatnya cocok, sepertinya tidak usah bersusah payah lagi, tunggu saja reaksi si wanita. (Maaf saya tidak berani mengatakan si wanita akan nungging).

Hipotesa ini sangat beralasan. Sudah banyak kasus-kasus perselingkuhan. Bahkan, dilakukan terang-terangan kepada mereka yang sudah berkeluarga. Wah…sangat banyak kasus, panjang ceritanya jika diulas di sini. Apakah karena itu ‘perempuan nakal’ diistilahkan “Ayam”? Pastinya, jika tidak ingin disebut “Ayam” jaga kemuliaan diri.




Tidak ada komentar: