Minggu, 02 Mei 2010

Sajak-sajak Sufistik Mahmud Syaltut Usfa

Batam Pos, Minggu 2 Mei 2010
(Penulis dan Penyair kelahiran Pulau Bawean Jawa Timur bermukim di Batam)

Sampah Kata-kata

Telah kubuang logika semu ke ujung zaman
Hingga mata batin tak menatapnya lagi
Kini, pikiran itu bertelanjang
Menunggu nurani mendekapnya

Lihat itu….!!
Pikiran-pikiran angin menari di ujung pena
Semua disalahkan oleh pikirannya
Tersenyum bagai pahlawan
Membalik kata di simpang gelisah

Aku berdiri di antara kata yang terbuang
Tidak segagah sang penyair, budayawan, dan intelektual

Pikiranku masih bertelanjang
Tetap bertahan menunggu nurani mendekapnya
Sambil tersenyum memungut sampah kata-kata



Sang Pelayan

Jiwa yang hakiki, keluarlah sejenak dari tubuh tuanmu
Lihatlah tarian kemunafikan
Menjijikkan bukan…?
Di situlah selama ini engkau melayaninya




Mentuhankan Nafsu

Tubuh ini berjalan tertatih di setiap jengkal nafas
Berat menahan gelisah di sepanjang ruang hidup
Lidah nafsu begitu liar
Bercengkrama di lorong-lorong hati

Jenguklah nafsu itu
Mungkin saja sudah pergi
Tak perlu diikat dengan kata-kata
Agar tak mengundang keinginan

Nafsu bisa menjelma bagai tuhan
Segala jiwa bersujud lusuh padanya
Anehnya,
Tubuh merasa riang membungkuk sebagai budak
Menjilat rakus hempaskan harga diri

Nafsu dituhankan
Tuhan diburamkan nafsu
Kecuali engkau berjalan di garis tauhid
Di situlah hatimu mampu menatap tuhan yang hakiki



Kebisingan Hati

Betapa akal terus tersiksa menyanggah kebisingan hati
Hati terus menyeret nafsu berbicara kefanaan dunia
“Diamlah..!! Aku malu menatap tubuh ini.” Sergah akal

Hati terdiam dalam belenggu detik
Namun tak lama menyeret nafsu kembali

Akal hanya mampu berkata dalam hening:
Diamlah..!!
Diam..!!
Dia..!!
Aku malu menatap tubuh ini..!!



Cepat Kejar Sang Waktu

Cepat pergi ke ujung waktu
Berlari saja hingga mampu menyambutmu
Dia akan mengembalikan separuh tubuhmu

Peluklah dengan erat saat bertemu
Hempaskan rasa rindu masa lalumu
Sebelum masa lalu terhapus oleh zaman

Bicarakanlah tentang hari ini
Sebelum berganti menjadi masa lalu

Sadarkah kamu,
Sang waktu akan terus berdiri kokoh
Hingga separuh tubuhmu tak bisa dikembalikan lagi



(Terima kasih Batam Pos yang telah mempercayakan syair-syair saya untuk dimuat di halaman minggu koran ini)


Tidak ada komentar: